
Sore itu menjadi sore yang membuat Galen terus mengembangkan senyum. Bahkan senyum itu terlihat jahil saat menatap Aline. Secara Benjhon nya sudah punya pawang sendiri untuk bersolo. Lain kali setelah lancar jaya, membajak hutan sampai masuk ke goa berumput. Galen akan terus mencoba hal baru untuk si Benjhon pusakanya.
Sedari tadi, Kedua pengantin baru itu terlihat terus menempel. Mereka berdua duduk lesehan di atas karpet bulu di kamar Aline. Terasa nyaman untuk bersantai bahkan bermanja-manja di sana.
Apalagi ditemani pasangan yang sangat dicintai. Mereka bersantai ria sambil menonton film kesukaan yang berbeda genre. Banyak perbedaan di antara mereka. Galen sangat suka dengan film yang berbau perkelahian seperti mafia dan kungfu. Sedangkan Aline lebih suka pada sinema drakor. Film yang dianggap lebay oleh suaminya.
"Pantas saja dulu saat bertemu dan kenal sama, Mas. penampilannya kaya preman gitu! Tontonannya juga kaya gini!" Aline mengomentari serial drama kesukaan Galen.
Galen diam saja tak menanggapi, pria itu sangat serius melihat adegan demi adegan saat idola nya menembakkan pistolnya ke arah sasaran.
"Jiwa lebih tertantang melihat aksi seperti ini, Sayang!" Galen menarik Aline agar lebih dekat denganya. Tak ada penolakan. Aline mengalah untuk ikut menonton film itu.
"Awas, itu... Cepat lari, di belakangmu ada musuh. Ikh.... O on banget sih tokoh utamanya. kalau dia seperti itu bisa tertembak nantinya." oceh Aline mengomentari adegan yang berlangsung dalam penanyangan film tersebut.
Galen tertawa terbahak menatap Aline. Mengacak rambutnya sesaat. "Seru 'kan? Kita jadi lebih tertantang nontonnya." Galen kembali fokus mentap layar persegi panjang yang menyala itu.
Keseruan dari dua orang yang begitu betah di dalam kamar, Sampai akhirnya film pun selesai.
Aline dan Galen kembali tiduran santai. Saling bercerita, merancang masa depan mereka berdua. Tertawa dan bercanda, kadang jerit kegelian Aline terdengar karena Galen kembali menjahilinya. Situasi yang sangat menyenangkan. Bebas, tidak ada yang menganggu dan tidak ada yang melarang karena mereka berdua sudah sah dan halal untuk berdua, berbuat lebih juga tidak akan ada yang menghalangi.
Untung saja di rumah sore itu hanya ada Bi Kesih. Jadi Bi Kesih hanya senyum-senyum sendiri saat mendengar Aline berteriak dari lantai dua. sedikit demi sedikit Bi Kesih hapal karakter suami dari Aline itu. Kejahilannya kadang membuat Aline menangis dan kesal.
Bu Winda dan Ayah Zaki seperti biasa berada di kedai soto sampai habis waktu maghrib karena karyawan yang akan melanjutkan berjaga sampai soto yang di jual habis. Itupun tergantung mood dari Ayah Zaki dan Bu Winda. Mereka datang ke kedai hanya memantau dan mengawasi saja. Mengecek persedian daging dan bahan-bahan lain yang kurang, serta tetap mengecek apa rasa yang di buat sesuai racikannya.
Matahari beranjak dari peraduannya. Bulan pun datang menggantikan tugasnya saat ini. Sinar malam bertemani bintang - bintang semakin menambah suasana malam hari ini, begitu indah menyelaraskan dengan suasana hati Galen yang begitu bahagia. Pasalnya ia seakan leluasa menyentuh bahkan beberapa kali bergulat lidah dengan Aline, tak pernah ada penolakan dari istrinya itu, rasa trauma yang selama ini menghinggapi jiwa Aline seakan sirna sudah berganti rasa candu yang mereka rasakan.
Tak bosan Aline dan Galen berada di kamar sampai malam hari, Sampai akhirnya Aline harus melepas diri dari Galen yang selalu menempel padanya seperti perangko.
"Lepas dulu, Mas. Kalau kamu nempel terus begini kapan aku bantuin Bi Kesih masak. Kasihan loh, bentar lagi Ibu dan Ayah pulang! Pasti mereka cape ingin istirahat dan makan." Aline mencoba beranjak dari duduk lesehannya, tapi tetap saja, Galen masih betah tidur berbantalkan paha Aline.
Aline sedikit membungkuk, wajahnya mendekati wajah suaminya yang memejamkan mata, entah berpura-pura atau benar tertidur.
Ciuman singkat awalnya, tapi Galen malah menekan tengkuk Aline. Agar istrinya itu tidak kabur melepaskan diri. Sesaat pungutan bibir kembali terjadi, rasanya tak pernah bosan Galen meminta lagi dan lagi kegiatan itu. Andai saja si tamu telah berlalu mungkin saja perang desah an sudah terdengar dalam kamar itu.
"Sudah, Ya! Aku bantuin Bibi dulu!" ucap Aline saat bibir mereka terlepas.
Aline dengan lembut mengelus bibir Galen yang basah karena ulahnya. Ya, Aline semakin pintar bermain bibir. Saat Galen merenggut buah semangka yang ada dalam kunyahan mulut Aline pun jadi permainan mereka. Seharian berada di kamar, menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk pasangan pengantin ini.
"Hmm ..." jawab Galen dengan deheman.
Matanya langsung terpejam seraya meraih guling panjang lalu merebahkan kepalanya di sana sambil memeluknya erat. Seakan guling itu Aline.
Bukan di atas tempat tidur, tapi tidur beralaskan kasur tipis berbahan bulu halus lembut yang menenangkan.
Aline tersenyum melihat suaminya. Ia meninggalkan Galen yang kembali tertidur sambil memeluk guling menuju dapur guna mempersiapkan makanan untuk orang tuanya yang sebentar lagi tiba di rumah.
__ADS_1
Selang setengah jam berlalu. Benar saja bu Winda dan Ayah Zaki sampai di rumah sehabis maghrib. Masakan sudah tersedia di meja makan.
Bi Winda dan Ayah Zaki pamit untuk membersihkan diri terlebih dulu. Setelah selesai membersihkan diri mereka kembali bersama menuju meja makan, di sana sudah tersaji beberapa masakan yang di persiapkan Aline dan Bi Kesih.
Sebelumnya Aline mengajak Bu Winda untuk solat berjamaah tapi ternyata mereka sudah solat lebih dulu di perjalanan tadi.
"Kamu sudah selesai menstruasi?" tanya Bu Winda saat mendaratkan bokongnya di kursi.
"Sudah, Bu! Baru tadi Aline membersihkan diri dan bersuci," balas Aline.
"Syukurlah!" celetuk Bu Winda. Seakan merasa bersyukur dengan bersihnya Aline dari hadas itu.
"Loh, kenapa, Bu?" Aline menatap curiga pada ibunya.
"Gak kenapa-napa, jadi kamu bisa solat berjamaah bareng suamimu. Dari pertama nikah kamu belum pernah melaksanakan solat berjamaah dengan suamimu 'kan?" ucap Bu Winda dan Aline mengangguk membenarkan.
"Ya sudah, aku mau bareng Mas Galen saja! Ibu sama Ayah kalau mau makan duluan, aja. Aline mau panggil Mas Galen dulu!" ujar Aline.
"Kami tunggu suamimu saja!" seru Ayah Zaki.
"Oh, ok deh. Bentar Ya, maaf... akan membuat Ayah dan Ibu menunggu sebentar."
"Tak apa, cepat waktu solat sebentar loh," Bu Winda menimpali.
***
"Mas sudah solat duluan. kok gak nungguin aku?" ucap Aline tepat setelah melihat Galen melipat sajadahnya.
"Bukannya kamu masih, kedatangan tamu?" Galen menerima uluran tangan Aline yang menciumi tangannya untuk salim.
"Sudah, selesai." jawabnya pelan.
"Alhamdulillah ...," Galen merangkup wajah Aline. "Sungguh aku merasa sangat bahagia sekali, Yang!" ungkap Galen. Ia merasa bersyukur akan kebahagiaan atas pernikahannya saat ini.
Aline tersenyum manis kepada suaminya. "
Kamu turun duluan ya, Mas. Nanti aku nyusul." Di tepuknya pelan wajahnya suaminya itu.
Galen pun mengangguk. Lalu meninggalkan Aline di kamar untuk melaksanakan kewajibannya. Pria itu ikut bergabung dengan Ibu dan Ayah mertuanya. Mengobrol sebentar sambil menunggu Aline. Galen juga meminta ijin kepada kedua mertuanya itu untuk pergi berlibur. Sebelum pergi Galen dan Aline ingin menyempatkan berkunjung lebih dulu ke rumahnya untuk menemui Oma Ratih.
"Kapan rencananya kalian berangkat?" tanya Ayah Zaki kepada Galen. Pria tua itu tersenyum hangat kepada Bu Winda saat istrinya mengambil yang ada di hadapan suaminya untuk di isi. Bu Winda pun membalas dengan senyum juga.
Aline terlihat menuruni anak tangga, kemudian ia langsing bergabung dengan suami dan kedua orang tuanya di meja makan.
Bu Winda lekas menyendokkan nasi ke dalam piring untuk Ayah Zaki, sekaligus beberapa lauk dan sayur ke dalam piring tersebut. Tak lupa juga untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mungkin lusa, Yah! Besok Aline mau cek up dulu ke Dokter Fitri." balas Galen sambil melirik kepada Aline yang berdiri di sampingnya, mengambilkan nasi dan lauk seperti yang di lakukan Bu Winda. Aline juga ingin melayani suaminya.
"Maaf, Ya kalian menunggu lama." ucap Aline di sela gerakannya. "Mas... mau pake sambel gak?" tanyanya kemudian kepada Galen.
"Sedikit saja." Aline menyendokkan sambel sesuai keinginan suaminya.
"Gak kerasa ya, Yah. Putri kita yang dulu selalu ramai minta di ambilkan lauk ini Bu, tambah sayurnya, Bu. Sekarang berganti melayani suaminya." ucap Bu Winda di sela kegiatan makannya.
Aline tersenyum mendengarnya begitu juga dengan Ayah Zaki dan Galen.
"Semua ada masanya Bu, kita doakan saja kehidupan rumah tangga mereka selalu di berkahi kebahagiaan dan ridho dari Yang Maha Kuasa. Semoga cepet-cepet juga kasih kita cucu, kangen banget Ayah gak denger tangisan bayi dan jeritannya di rumah ini." Ayah Zaki ikut berucap, ia kembali melanjutkan suapan demi suapan makanan yang ada di piring ke dalam mulutnya.
"Amin," jawab Galen dan Aline pelan.
"Apa kamu harus cek up lagi ke psikiater itu?" tanya Bu Winda kepada Aline, lalu beralih menatap Galen. "Apa dia masih sering ketakutan kalau tertidur, Nak?" tanyanya pada Galen.
"Sudah tidak, Bu! tapi sesekali terbangun kaget saja, tapi lekas tertidur lagi karena aku selalu ada bersamanya." Galen meraih tangan Aline lalu menggenggam erat. Keduanya saling menatap lalu tersenyum.
"Syukurlah ... Ibu kira, Aline masih histeris saat tertidur." Bu Winda merasa lega mendengarnya.
Makan malam saat ini terasa berbeda dari sebelumnya. Usai makan mereka masih betah berada di tempat itu. Saling mengobrol santai, Galen pun mengungkapkan keinginannya untuk tinggal berdua dengan Aline semantara waktu di apartement miliknya setelah pulang liburan. Padahal Oma Ratih sudah mewati-wanti untuk menempati rumahnya. Rumah besar milik Oma itu akan beralih kepada Galen, karena kepada siapa lagi Oma Ratih memberikannya. Hanya dialah cucu satu-satunya.
Untuk kediaman Wijaya masih ada Papa nya yang menempati. Kartika juga akan menjadi pewaris selain dirinya. Bara, jelas bukanlah keturunan Wijaya. Tapi anak sambung dari Papa Wijaya dan Nyonya Mariska. Ia telah mendapatkan bagiannya. Bisa di bilang cukup bahkan lebih dari cukup. Harta kekayaan Tuan Wijaya tidak akan habis sampai tujuh turunan bahkan lebih.
Itulah sebabnya, Nyonya Mariska masih terus berusaha mencari cara agar ia bisa kembali lagi diterima oleh Tuan Wijaya. Mama dari Kartika merasa tidak Terima saat mendengar Tuan Wijaya bersimpati pada seorang Janda. Ketertarikan Tuan Wijaya dan Zainab, ia ketahui dari Kartika. yang menceritakan sikap Papanya yang banyak berubah setelah mengenal wanita itu.
Setelah diusir dari kediaman Wijaya.
Nyonya Mariska memang tinggal bersama Seno, pria yang selama ini menjadi pemuas batinnya. Tapi sayangnya pria itu hanyalah parasit yang menggantungkan hidupnya pada wanita yang kini uang dan harta bendanya sudah mulai menipis itu.
Nyonya Mariska berencana kembali mengambil hati Tuan Wijaya dengan alasan Kartika yang memintanya.
.
.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1