
"Awww... " Jerit Aline sangat keras saat tubuhnya di tangkap oleh seseorang dari belakang. "Hmmp..." Mulutnya langsung di bungkam oleh orang tersebut karena takut suara Aline akan terdengar oleh orang lain.
Aline seperti devaju dengan kondisi saat ini, pernah merasakan di bekap seseorang laku ia tidak sadarkan diri, hingga tak sadar ia refleks menggerakan tangannya ke perut orang yang ada di belakangnya. Aline belum melihat siapa orang itu.
Bugh... bugh...
"Aw... Yang, ampun ini aku!" ucap Galen merintih menahan sakit di bagian perut akibat terkena sikutan dari Aline.
Aline lekas menoleh ke belakang. Matanya membuat melihat suaminya memegangi perutnya.
"Mas... Maaf! Aku kira siapa, aku takut kalau itu bukan kamu. Makanya langsung aku sikut pake tenaga," ucap Aline merasa bersalah. Handuk yang menutupi rambut basahnya sampai terlepas begitu saja membuat rambut bergelombang Aline terurai menutupi pundak mulusnya. Sedangkan handuk yang melekat di tubuhnya masih terpasang sempurna.
Aline membantu Galen berdiri, memapahnya pelan. Lalu Aline menarik bangku yang ada di bawah meja rias. Bangku yang ia biasa gunakan saat berhias dalam walk in closet.
"Sakit, ya? Maaf!" Aline terlihat khawatir.
Padahal itu hanya akal-akalan Galen saja. Sikutan dari Aline sama sekali tidak berasa untuknya.
Galen mengangguk lemah, seakan ia tersiksa oleh rasa sakit.
"Sebentar aku pakai baju dulu, nanti ku ambilkan salep pereda nyeri buat Mas!" Aline hendak pergi meninggalkan Galen dengan cepat Galen mencegahnya.
"Yang, tunggu!" Galen berdiri dari duduknya sambil berpura-pura memegangi perut agar membuat Aline mendekatinya lagi.
"Mas mau ngapain? aku bilang tunggu, nanti ku obati!" Aline kembali mendekati Galen.
Alibe menjadi penahan tubuh Galen padahal Galen sama sekali tidak limbung. Ia malah berdiri kekar dan tegap sambil menatap Aline.
"Loh, Mas tadi kesakitan kenapa sekarang tidak?" Aline mulai curiga kepada Galen. "Mas bohong ya kalah sikutan ku tadi sakit! Ih... " Aline malah benar memberi cubitan mautnya di perut Galen membuat suaminya mengaduh ke sakitan. Setelah itu Aline melipat tangan di depan dadanya. Bibirnya cemberut karena kesal.
"Ampun, Yang! Beneran yang sekarang mah sakit betulan, sakit banget cubitannya." Galen meringis sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Rasain, siapa suruh bohong." Aline masih cemberut. "Mas tau tidak, perasaan aku tadi saat mas bekap mulutku. Aku seperti devaju teringat dengan kejadian penculikan itu!" ucap Aline sedih. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Sayang! Maaf... aku gak bermaksud seperti itu, aku cuma mau mengagetkanmu saja, eh malah teriak. aku bekap karena suaramu melengking banget!"
Galen meraih tubuh Aline ke dalam pelukannya.
Galen merasa bersalah dengan kejahilan yang membuat istrinya teringat kembali kepada peristiwa yang sempat membuatnya trauma.
"Maafkan aku, Sayang!" Galen melepas pelukannya lalu merangkup wajah Aline dengan kedua tangannya.
Melihat istrinya menagis makin membuat Galen merasa bersalah.
"Kamu boleh cubit dan pukul aku semau kamu, asal kamu tidak sedih lagi." Galen mundur perlahan lalu memasang tubuhnya seakan memberi ijin kepada Aline untuk melakukan sesuatu kepadanya. Dicubit atau dipukul pun Gaken rela.
Aline menggeleng pelan kemudian menunduk meletakkan tangan di dada dengan meremas handuk yang masih melekat di tubuhnya.
"Hei, kamu kenapa?" Galen malah semakin khawatir dengan sikap Aline yang menundukkan pandangannya.
"Jangan seperti itu lagi, Mas! aku takut!" tutur Aline dengan sedikit gemetar.
Galen membalas pelukan Aline, semakin erat bahkan tubuh Aline sedikit basah akibat tetesan air dari rambutnya yang basah terasa dingin di kulit putih Aline.
"Maaf, Sayang! Mas janji tidak akan seperti itu lagi, maaf jika sifat jahil Mas telah membuatmu takut," balas Galen dengan lembut.
Aline mendongak menatap Galen. baru kali ini ia mendengar Galen menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Mas seperti saat Aline memanggilnya kemudian Aline tersenyum sambil menatap Galen dalam.
Tatapan mereka saling terkunci perlahan Galen memiringkan kepala, maju perlahan mendekati wajah cantik yang tengah menatap dalam padanya.
Aline yang perlahan memejamkan matanya memberikan kode kepada Galen kalau ia siap menyambut sentuhan lebih dari Galen.
"Mas... " Aline terkejut saat tubuhnya diangkat lalu di dudukan di atas meja rias. Tanpa melepas pandangan, Galen terus menatap Aline. Tatapan mendamba yang terpancar sangat Aline kenali.
__ADS_1
Galen lekas membungkam bibir Aline. Bibir keduanya saling berpaut, saling menghisap, saling memainkan daging tak bertulang yang pandai memutar lincah dalam mulut Aline. Decakan permainan bibir yang minta lebih.
Galen melepaskan pangutan bibirnya. Terus merambat mengecup telinga, menggigitnya pelan kembali menyusuri leher jenjang yang menggeliat semakin memberi keleluasan Galen untuk terus memberikan kecupan-kecupan yang menyalurkan sejuta senasi yang membakar jiwa.
Galen menghentikan sejenak penelusurannya. Melihat handuk masih melekat di tubuh Aline, lekas ia membuka selipan handuk tersebut.
Pemandangan indah yang membuat gelora jiwanya semakin ingin meraupnya.
Dua gunung kembar yang sangat indah. apalagi dua pucuk merah muda yang ukurannya sedikit membesar. Ukuran kedua gunung itupun kini berkembang.
Tidak sia-sia usaha Galen selama ini yang sudah memberinya pijatan lembut agar berkembang.
"Ukurannya semakin membuat Aku tergoda," bisiknya pada Aline.
Aline hanya tersenyum menanggapinya, ia langsung terbuat oleh gerakan lembut yang di berikan Galen. Satu tangan meraih satu gunung dan satu lagi masuk ke dalam gua bergigi yang memberikan permainan hisapan yang membuat Aline mengeluarkan suara merdu yang sangat Galen rindukan.
"Ssh... Mas... Akh!"
Suara merdu itu membuat si benjhon terbangun. Tubuh dingin tanpa sehelai kain pun menjadi hangat karena sentuhan Galen.
Perlahan tapi pasti pakaian yang masih melekat di tubuh Galen dilepasnya dengan cepat, Kini mereka sama- sama bermain polos.
Kali ini Benjhon dan Vivi melakukan permainan yang berbeda. Aline berada di atas meja rias. Dengan kedua kaki yang menekuk dan di tekan sampai ke dada. membuat Galen leluasa bergerak.
Tubuh kekar itu menari maju mundur menghujam Vivi dengan hentakan perlahan yang memabukkan.
Erangan dan suara indah kembali lolos. Keduanya berpacu mencapai kenikmatan dunia pagi hari.
Pagi ini menjadi sarapan yang akan menjadi bekal indah untuk Galen mengawali pekerjaannya.
Baca kelanjutan ceritanya ya..
__ADS_1
Malam jum'at ni... waktunya ibadah mengoda suami sendiri.. 🥰🥰