Fake Love

Fake Love
Menyalahkan Sandra


__ADS_3

Bantu beri rating bintang untuk karya ini ya ⭐⭐⭐⭐⭐


Nyonya Mariska menepati janjinya kepada Seno. Servis ranjang yang memuaskan ia berikan untuk pria itu. Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.


Nyonya Mariska terkapar di atas tubuh kekar Seno. Setelah ia memegang kendali permainan indah itu. Goyangan indah yang Nyonya Mariska berikan nyatanya tidak bisa mengalahkan kelegitan goa sempit milik Melanie.


Seno dan Nyonya Mariska sama-sama terkapar di atas peraduan.


Getaran ponsel Seni yang sengaja ia ubah mode getar lekas membuat Pria yang sesungguhnya dipeluk oleh Nyonya Mariska langsung bangun seketika saat melihat ponsel miliknya.


“Aku angkat telepon dulu, sebentar!” Seno beranjak dari tempat tidur membuat Nyonya Mariska mengerutkan alis menatapnya. Tidak biasanya Seno pergi saat menerima telepon. Biasanya pria itu selalu terbuka di depannya.


“Mungkin penting!” gumam Nyonya Mariska. Wanita itu lekas menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Tak lama Seno kembali. Pria itu mendekati Nyonya Mariska.


“Beb, kamu tidur lagi?” tanya Seno.


“Hmm... Kenapa?” Nyonya Mariska bangun dari tidurnya.


“Kamu bisa kirimkan aku uang dua ratus juta? Ada beberapa perlengkapan untuk toko kita akan datang, besok! Aku sudah memesannya tapi saldo ATM ku kosong!” ucap Seno ragu. Ia takut akan ada banyak pertanyaan dari Nyonya Mariska. Sebab baru seminggu yang lalu wanita itu mengirimkan uang dalam jumlah yang besar kepadanya.


Nyonya Mariska terdiam sesaat berpikir apakah bisa ia kembali mengirimkan uang buat Seno. Pasalnya kondisi keuangannya juga sama. Nyonya Mariska sudah tidak ada saldo uang di rekeningnya. Bahkan jatah dari Bara pun sekarang ini berkurang.


“Bagaimana, Beb?” desak Seno.


“Besok pagi saja aku kirimkan uangnya. Mungkin Kartika bisa membantu. Saat ini keuangan ku juga kurang baik.” Nyonya Mariska sedikit berpikir toko perhiasan berlian sudah sebulan beroperasi. Seharusnya sudah ada pendapatan. Tetapi Seno belum menunjukkan hasilnya kepada dirinya.


“Sayang!” panggil Nyonya Mariska kepada Seno.


“Hm.”


“Bagaimana pendapatan toko perhiasan berlian kita, harusnya ada catatan pendapatannya ‘kan?” tanya Nyonya Mariska.


Seni langsung gelagapan mendengarnya. Pasalnya sebagian besar pendapatan ia gunakan untuk bersenang-senang dengan Melanie.


Kekasih simpanannya itu banyak meminta barang mewah.


“Itu... Em...” Seno bingung harus menjawab apa.


“Kenapa? Kamu pasti sibuk sendiri ya? Kalau begitu mulai besok aku akan bantu untuk pembukuannya,” ucap Nyonya Mariska dan itu semakin membuat Seno ketar ketir, ia takut makin cepat ketahuan kalau dia tengah bermain curang.

__ADS_1


“Ya, sangat sibuk, jadi pembukuan keuangan baru separuhnya aku catat tapi kamu tenang saja, Beb! Semua bukti transaksi jual beli, aku simpan kok,” ucap Seno bohong.


‘Sepertinya aku harus mempercepat pemindahan surat kepemilikan toko itu, dan segera menyingkirkan wanita ini.’


Batin Seno dengan rencana jahatnya.


Keesokan harinya Mariska mengirimkan uang yang ia dapat dari Kartika, beralasan untuk menambah modal usaha tas branded-nya yang selama ini memang ia jalankan.


Pengiriman uang dari rekening Kartika telapak oleh Tuan Wijaya. Papa dari Kartika itu merasa heran, dan mencari tahu rekam jejak dari nomer rekening milik putrinya itu.


Awalnya ia acuh dengan bukti transaksi dari pengeluaran keuangan Nyonya Mariska tapi ada hal yang membuatnya curiga. Semua keuangan terkirim ke rekening atas nama Seno.


Tuan Wijaya berpikir, ia tidak mau putrinya diperas oleh mamanya sendiri.


Tuan Wijaya memerintahkan Tomy untuk menyelidiki semuanya.


Seminggu telah berlalu. Nyonya Mariska berulang kali menghubungi Bara tapi tidak bisa tersambung. Ia marah, sebab jatah bulanan miliknya semakin berkurang.


Hari ini ia sengaja datang ke rumah Bara. Ingin memberikan protes kepada anaknya itu, Nyonya Mariska mengira semua pasti karena Sandra sebab setelah menikah dengan Sandra, Bara menjadi tidak peduli kepadanya.


Nyonya Mariska lupa kalau hari ini dia sudah ada janji dengan Kartika. Sebab hanya hari ini waktu mereka bisa bersama, besok Kartika akan kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.


“Sandra keluar!” teriak Nyonya Mariska ketika ia tiba di rumah Bara.


Satpam yang berjaga di depan rumah sudah melarang Nyonya Mariska untuk masuk, itu pun atas perintah Bara.


Mendapat perlakuan tidak baik di rumah anaknya sendiri menambah kemurkaan Nyonya Mariska kepada Sandra. Padahal menantunya itu sama sekali tidak mengetahui perintah suaminya kepada para pekerja di rumahnya.


Bara hanya ingin Sandra nyaman menjalani kehamilannya. Sebab usia kandungannya sudah melewati trimester pertama. Saat ini perubahan nafsu makan ibu hamil itu sudah semakin membaik, morning sickness pun sudah jarang terjadi.


“Nyonya besar tolong jangan berteriak! Nyonya Sandra sedang istirahat!” ucap Bu Mirna yang telah bekerja menjadi asisten rumah tangga di rumah Sandra. Ia berjalan cepat mencoba menghadang Nyonya Mariska.


Tidak peduli dengan ucapan Bu Mirna, Nyonya Mariska terus berteriak.


“SANDRA... KELUAR! Dasar menantu ******... Sudah berhasil menguasai putraku sekarang kamu berusaha mengurangi uang yang biasa Bara berikan untukku! Keluar kamu, Sandra!” teriak Nyonya Mariska lagi.


Bu Mirna terlihat panik dengan apa yang dilakukan Nyonya Mariska. Ia berlari ke Paviliun untuk meminta tolong pada suaminya karena baru beberapa menit yang lalu suaminya itu berjalan ke arah Paviliun untuk melaksanakan salat ashar.


Di dalam kamar, Sandra yang baru saja memejamkan mata merasa terusik dengan kebisingan teriakan yang menyebut namanya.


“Kenapa berisik sekali? Apa Mas Bara sudah pulang?” Sandra melirik jam di atas nakas. “Masih jam tiga, satu jam lagi Mas Bara pulang!” Sandra lekas bangun dari tidurnya. Dengan pelan dan sangat hati-hati sebab kehamilan Sandra sudah mulai terlihat. Usia kandungannya menginjak usia 5 bulan.

__ADS_1


Teriakan kembali terdengar oleh Sandra.


“Itu 'kan suara Mama!” Sandra mengambil ikat rambut terlebih dulu untuk mengikat rambut panjangnya.


Penampilannya saat ini sangat berbeda. Aura terpancar dari Sandra semakin membuat wanita itu semakin cantik, pakaian yang ia pakai pun berbeda. Dress berbahan lembut jenis maxmara itu semakin membuat penampilan Sandra terlihat elegan padahal ia hanya memakai dress rumahan.


Perut buncitnya pun semakin terlihat mengemaskan.


Satpam yang berjaga di luar tadi segera menghubungi Bara, mengabari kedatangan Nyonya Mariska. Bara sudah memastikan itu, pasti mamanya akan datang untuk meminta penjelasan. Bara tidak mengira mama-nya itu akan datang ke rumah tidak ke kantor. Yang biasanya Nyonya Mariska akan langsung datang ke bagian akuntansi untuk meminta dikirimkan uang kepadanya.


“Aku harus segera pulang! Mama pasti menyalahkan Sandra!” pikir Bara yang langsung bergegas pulang ke rumah.


Ia memerintahkan Rio untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.


Bara lekas tancap gas menuju rumahnya. Ia khawatir mamanya akan berbuat sesuatu kepada Sandra.


***


Di apartemen Nyonya Mariska. Kartika yang mengabari mamanya sudah sampai di lobi apartemen harus kembali mendapat kekecewaan dari Nyonya Mariska. Sebab gadis itu mendapat kabar bahwa mamanya sedang tidak ada di tempat. Nyonya Mariska meminta putrinya untuk menunggu di apartemennya.


Kode akses untuk masuk apartemen pun sudah diberikan agar Kartika bisa menunggu di dalam sana.


“Syukur deh kalau Mama enggak sama pria brengsek itu! Awas aja kalau sama dia. Aku gak akan mau ketemu mama lagi!” gerutu Kartika kemudian berjalan masuk ke dalam apartemen. Menunggu Nyonya Mariska datang.


Gadis itu tidak tahu kalau ia sedang mengantarkan dirinya sendiri dalam bahaya


.


.


.


...Bersambung...


Tak bosan bosan Author mengajakmu.


💃💃💃


Tak bosan bosan Author promosi melulu 💃💃💃


Jangan lupa melimpir ke karya baru ku

__ADS_1


Kasih rating bintang juga di sana. tambah Favorit juga..😘😘


__ADS_2