Fake Love

Fake Love
Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

Di tengah perjalanan, saat mobil yang Tuan Wijaya tumpangi berhenti karena lampu merah. Kedua matanya menangkap sosok yang ia kenal. Gadis yang memakai celana jeans dan kaos serta topi yang menutupi rambut hitam lebatnya sedang duduk diantara tiga orang anak jalanan.


Terlihat keceriaan Aline bersama mereka. Seulas senyum terukir pada wajah Tuan Wijaya. Ia tidak menyangka Aline yang notabene seorang artis yang banyak di kenal orang tanpa malu dan canggung berada di tempat keramaian, panas dan berbaur dengan anak jalanan.


"Apa kita berhenti dulu, Tuan?" tanya Tomy saat lampu merah berganti hijau. Ia tahu Tuannya itu sedang memperhatikan gadis yang duduk di ujung taman bersama anak jalanan.


"Tidak usah, lanjutkan saja perjalanannya!" titahnya.


Mobil pun melaju menuju Kedai di mana diperkirakan Ayah Zaki berada. Kedua tempat usaha yang sudah di cek oleh anak buahnya tak nampak keberadaan Ayah Zaki. Jadi Tuan Wijaya memutuskan agar mendatangi Kedai yang terakhir berharap orang yang ingin ia temui ada di sana.


Kini, di depan bangunan permanen yang penuh pengunjung itu Tuan Wijaya berada. Ia nampak terdiam sejenak memperhatikan dari kejauhan suasana Warung Soto Kang Zaki yang pemiliknya. Ia melihat sosok yang dicarinya. Zaki sahabat lamanya yang sudah ia fitnah dn ia buat sengsara sampai tak bisa mencari pekerjaan karena akses yang ia tutup di semua perusahan.


Rasa sesal kembali menyulimuti hatinya. Tatkala mengingat ucapan mendiang istrinya, Indira Pratiwi ketika detik terakhir hidupnya masih berusaha menjelaskan bahwa Zaki tidak bersalah.


Setetes air mata lolos begitu saja melewati pipinya.


"Apa masih pantas Aku mendapatkan maaf darimu, Zak? setelah kekejaman yang Aku lakukan dulu, di tambahan hinaan yang terlontar dari mulut ini untuk putrimu!" batin Tuan Wijaya sedih.


Semangat menggebu ingin meluruska permasalahannya menciut begitu saja, melihat Zaki dari kejauhan bersikap ramah melayani pengunjung di warung soto miliknya.


Meskipun ia pemilik warung soto itu, tapi dirinya mau membantu para pekerja dalam melayani pengunjung.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aline mempunyai sikap dermawan dan ramah seperti ayahnya!" ucap Tuan Wijaya Lirih.

__ADS_1


Tomy yang mendengarnya hanya mengangguk menanggapinya. Tuan Wijaya masih betah di dalam mobilnya. Tomy yang menemainya hanya menunggu perintah dari bosnya itu, apakah akan turun menuntaskan tujuan yang semula di rencanakan. Ataukah kembali tanpa penyeselesaian masalah.


"Maaf, Tuan! kita akan turun menemui Tuan Zaki atau kembali saja ke rumah?" Tomy memberanikam diri untuk bertanya karena hampir satu jam mereka berdiam diri di dalam mobil.


Dua pasang mata memperhatikan mobil yang daritadi tidak ada pergerakan penumpang dan pengemudinya. Ia sudah memperhatikan kedatangan mobil yang terparkir tak jauh dari warung soto miliknya saat ia membantu melayani pengunjung. Beliau kembali ke ruangannya di lantai dua. Dan terus memperhatikan untuk apa sahabatnya itu datang ke tempat usahanya, tapi tak kunjung menemuinya.


Ayah Zaki mengenali mobil itu dari plat mobil nya. Meskipun berganti type mobil keluaran terbaru. Tapi plat yang di pakai untuk mobil yang ia pakai hanya ada sath nomer yang ia pakai. WI 74 YA adalah plat nomer yang sudah menjadi hal paten Tuan Wijaya dari dulu.


"Ternyata kamu datang juga menemuiku, Wijaya! apakah keberanian mu hilang sampai kamu tak berani turun untuk berhadapan denganku!" gumam Ayah Zaki seraya memperhatikan mobil Tuan Wijaya dari ruangannya yang letaknya berada di atas warung sotonya.


Ayah Zaki kembali turun ke lantai dasar di mana para pelayan sedang ibuk melayani pembeli. Warung soto miliknya sangat terkenal di kota J, sehingga tak pernah sekalipun sepi pengunjung.


"Don, kemari!" panggil Ayah Zaki kepada Doni salah satu pegawainya.


"Tolong beritahu orang yang ada di dalam mobil itu," Ayah Zaki menunjuk dengan dagunya. "Suruh orang yang bernama Wijaya menemui Saya di teras belakang, beritahu dia Saya menunggunya di sana! " titahnya pada Doni.


Ayah Zaki melangkah menuju teras santai yang berada di belakang warung soto miliknya. Tempat itu digunakan oleh Aline, Bu Winda, dan dirinya kerap kali menghabiskan waktu saat Aline libur dari syuting dan pemotretan. Waktu yang sangat jarang di temui ketika Aline masih sangat aktif di dunia modeling dan syuting.


Kali ini berbeda, semenjak Aline perlahan vacum dari pekerjaan. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama di rumah.


Tuk tuk


Suara ketukan kaca dari luar mobil membuyarkan lamunan Tuan Wijaya.

__ADS_1


Tomh membuka kaca jendelanya.


"Permisi Tuan, apakah diantara Anda ada yang bernama Wijaya," tanya Doni sopan.


"Ada perlu apa kamu menanyakan bos Saya?" Tomy balik bertanya.


"Maaf, Saya hanya mau menyampaikan kalau Pak Zaki menunggu orang yang bernama Wijaya di teras belakang warung ini!" sahut Doni.


"Kamu tidak sopan! apa kamu siapa Tuan Wijaya, beraninya kamu menyebutnya tanpa sebutan Tuan di depannya?" bentak Tomy.


Tuan Wijaya menepuk pundak Tomy agar tidak mempermasalahkan itu.


"Tapi Tuan-"


"Biarkan saja," ucapnya pada Tomy. "Saya yang bernama Wijaya! terima kasih sudah memberi tahu, bilang pada Pak Zaki, Saya akan menemuinya." Tuan Wijaya akhirnya bersedia untuk menemui Ayah Zaki.


"Tuan, apa Anda yakin?"


"Saya harus menebus kesalahan, Tom. Saya akan terima apapun konsekuensi nya asal Zaki bisa memaafkan Saya. Semoga dia mengijinkan anaknya untuk menemui Galen. Yang terpenting saat ini adalah kehidupan anak-anak Saya, Tom. Galen dan Kartika." lirih Tuan Wijaya. Ia kemudian bersiap keluar dari mobil untuk menemuk Ayah Zaki dan memerintahkan Tomy agar tidak mengikutinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2