Fake Love

Fake Love
Bagian Bawah Yang Bereaksi


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Ini sangat mendadak. Saya sudah mengutarakan niat saya untuk melamar Rima sama Ustad Arifin dan Bu Rahma, tapi Bu Rahma meminta agar saya langsung menikah saja."


"Lalu kenapa harus bilang sama saya soal pernikahan kalian? Kamu tahu 'kan saya sedang bukan madu?" sela Galen.


"Karena Tuan mudan dan Tuan Wijaya adalah orang yang saya harapkan berada di pernikahan saya dan Rima. Kalian adalah penyelamat hidup saya, Jika bukan Anda dan Tuan Besar yang menolong saya. Tidak akan ada kehidupan saya seperti sekarang ini. Karena itu Tuan adalah orang pertama yang saya harapkan kedatangannya. Mohon maaf jika saya terlalu menginginkan kehadiran Anda, Tuan!" lirih Aldo dari seberang telepon.


Ucapan Aldo sangat menyentuh hatinya. Ia teringat saat bertemu dengan Aldo di pinggir jalan. Pemuda yang usianya lebih tua 3 tahun dengannya itu ia temukan dalam kondisi sangat memprihatinkan saat itu. Tubuh kurus dengan wajah pucat sedang menggigil kesakitan di ujung jalan.


Galen membawanya ke rumah sakit. Dan berkat bantuan dari Galen dan Tuan Wijaya Aldo pulih. Mereka juga kembali menyekolahkan Aldo sampai dia memilih untuk tetap menemani Galen mengelola perusahaan peninggalan sang Mama yang hampir bangkrut karena ulah mama tiri Galen.


Terbukti di usia muda, Galen bisa mengangkat kembali satu perusahaan kosmetik milik almarhumah mamanya dan Sekolah sanggar milik sang mama kembali beroperasi. Semua berkat Kerja keras Galen dan Aldo, di bantu Oma Ratih yang terus mengawasi mereka.


"Siapkan helikopter untuk menjemput saya malam ini," ucap Galen memberi keputusan.


"Siap Tuan, saya akan segera mengurusnya."


"Perintahkan saja orang lain. Saya tahu kamu sedang berada di rumah sakit saat ini 'kan?"


"Benar, Tuan!"


"Apa kamu sudah menghubungi Oma dan Papa?" tanya Galen mulai berbicara santai dengan Aldo.


"Saya sudah berbicara dengan Tuan Wijaya. Tapi, saya belum bisa menghubungi Oma. Sambungan telepon milik Oma sibuk." tutur Aldo.


"Ya pasti sibuk, orang dari tadi dia menelpon ku!" ungkap Galen.


Terdengar kekehan kecil dari seberang telepon.


"Pantas saja!" ucap Aldo dengan suara pelan.


***


Aline sudah rapi dengan pakaian hangatnya. Ia sangat terkejut saat Galen mengatakan harus bersiap- siap. Sempat berpikir telah terjadi sesuatu. Tapi Aline merasa lega dan ikut berbahagia mendengar Galen ingin segera pulang untuk hadir di pernikahan Aldo.


Aline tahu Galen tidak akan membiarkan orang yang sudah membantunya selama ini, melewatkan kebahagiaan begitu saja tanpa dirinya terlebih harapan orang itu yang menginginkan Galen dan Tuan Wijaya menjadi saksi di hari kebahagiaan nya.


Selama menunggu kedatangan helikopter Galen mencoba menghubungi Oma Ratih. Ia hampir lupa dengan perintah Oma Ratih hang mengharuskan ia mengubungi Omanya itu setelah Aline bangun.

__ADS_1


Sesuai perintah Oma Ratih, Setelah Aline bangun dan membersihkan diri. Galen segera menghubungi Omanya. Memberi waktu untuk istinya dan Oma berbincang sesaat sampai akhirnya helikopter tiba di Pantai Ora.


Oma Ratih terdengar bahagia mendengar Aldo yang akan menikah. Aldo sudah memberi menghubungi Oma, hanya sekedar meminta restu. Karena acara pernikahan Aldo dan Rima cukup sederhana. Rima yang meminta seperti itu.


Galen berpikir untuk menggunakan helikopter untuk kembali ke Jakarta. Dirinya ingin segera sampai ke tanah Jawa. Ia sudah merasakan perjalanan darat yang begitu melelahkan. Apa gunanya helikopter milik pribadi jika tidak di pergunakan, pikirnya.


"Oma, helikopter nya sudah datang, Aline siap-siap dulu, ya!" ucap Aline kepada Oma yang masih asik bercengkrama dengannya melalui sambungan telepon.


"Iya, Sayang! Hati-hati. Maaf jika nanti kedatangan kalian Oma tidak bisa menyambut, pasti akan larut malam kalian berdua sampai sini!"


"Ya, Oma tidak pa-pa. Aline dan Galen pamit ya, sampai jumpa di rumah Oma!"


"Ya, semoga kalian berdua si beri kkeselamatan."


Sambungan telepon pun berakhir.


Aline dan Galen bersiap melangkah melewati jembatan kayu menuju pesisir pantai. Di mana helikopter telah menunggu mereka.


"Mas, apa tidak masalah kalau kita terbang menggunakan helikopter malam hari?" tanya Aline. Wajahnya terlihat khawatir.


Galen meraih tangan Aline lalu menggenggamnya. "Tidak masalah, pilot yang mengoperasikan helikopter ini sudah berpengalaman. Kita tidak perlu khawatir 'kan itu, Sayang!" Galen meyakini Aline.


"Sayang... Maaf, liburan kita harus berakhir dengan cepat," ucap Galen seraya meraih tangan Aline lalu mengecup punggung tanganya pelan.


"Jangan meminta maaf, Mas. Aku sudah senang sekali beberapa hari ini bersama kamu. Lagian sesuai janjimu, kita akan kembali ke tempat itu kapan pun aku mau. Jadi, kita bisa kembali lagi nanti." Aline menatap Galen meyakinkannya kalau dia tidak masalah dengan kepulangan mereka yang mendadak ini


Seharusnya masih ada waktu dua hari lagi untuk pasangan pengantin itu berlibur. Tapi rasanya Galen tidak bisa mengacuhkan permintaan Aldo. Orang yang selama ini membantunya. Sahabat, teman, dan saudara bagi Galen.


Tiba di Jakarta, Helikopter mendarat di tengah lapangan luas di belakang kediaman Wijaya. Tempat yang biasa di pergunakan untuk landasan helikopter. Tuan Wijaya terbiasa menggunakan helikopter untuk perjalanan bisnis nya. Karena mempermudah dan menghemat waktu menurut pria tua itu.


Dan sekarang, mungkin helikopter itu akan sering digunakan Galen nantinya.


Seperti apa kata Oma tadi kepada Aline. Beliau tidak bisa menyambut kedatangan cucu dan cucu menantunya itu.


Aline dan Galen tiba di kediaman Wijaya hampir tengah malam.


Keduanya berjalan pelan menuju kamar mereka.

__ADS_1


Aline masih terlihat segar karena sepanjang perjalanan ia bisa tertidur. Padahal sore sampai malam tadi ia juga sudah puas tidur. Rasa lelahnha sudah hilang. Yang Aline rasakan saat ini malah segar tak ada rasa kantuk sediktpun.


Galen yang dari tadi siang belum beristirahat langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur empuk di hadapannya. Rasanya mata dan tubuh kekarnya itu tidak kuat lagi menahan lelah dan kantuk.


"Mas, ganti baju dulu sebelum tidur!" saran Aline pada Galen. Ia lekas ke ruang ganti untuk mengambil pakaian tidur untuk suaminya itu


"Hm... Aku ngantuk banget, Yang! gak kuat!" Galen menjawab dengan suara berat dengan mata yang sangat sulit di ajak kompromi.


Tak lama dengkuran halus terdengar keluar dari mulut Galen. Ia benar-benar telah terlelap.


Aline menggelengkan kepala pelan saat melihat suaminya yang mendengkur dengan posisi tengkurap. Ia berpikir harus mengganti pakaian Galen lebih dulu, agar suaminya itu lebih nyaman saat tertidur. Di letakkannya pakaian milik suaminya. Aline hendak mengambil air untuk membasuh wajah suaminya


Air hangat dalam baskom kecil dan baju ganti untuk suaminya sudah ia siapkan. tinggal membalikkan badan suaminya yang masih berada di posisi tengkurap.


Dengan pelan dan hati-hati Aline mengganti pakaian suaminya. Meski mendapat halangan dari Galen yang selalu mengganggu upayanya mengganti dan memakaikan baju di tubuh kekar yang kini terlentang di hadapannya. Aline tetap terus berusaha.


"Yang... peluk aku!" ucap Galen dengan mata terpejam sambil meraih tubuh Aline.


Andai saja Galen tidak sedang ngantuk berat. Pasti pertempuran sudah kembali terjadi.


"Mas ... diem! Aku ganti baju nya dulu, biar Mas lebih nyaman dengan baju tidur." Aline melepaskan pelukan Galen.


"Eughh ... Berat banget sih, Mas! Akhirnya ... selesai juga."


Terakhir Aline mengelap wajah suaminya dengan handuk bersih.


"Kamu sangat lelah ya, Mas," ucap Aline lalu terdiam memandangi wajah Galen. "Terima kasih, Mas sudah memberikan kenangan dan kebahagiaan buat aku selama beberapa hari kemarin," lanjutnya masih memandangi wajah suaminya yang tampan.


Dikecupnya singkat bibir seksi Galen. Suaminya itu sama sekali tidak bereaksi saat Aline menciumi bibir, pipi dan keningnya. Tapi ada hal aneh yang Aline lihat di bagian bawah. Celana kolor longgar yang Aline pakaikan kepada Galen sedikit menonjol ke atas.


Ternyata ada yang bereaksi juga dengan sentuhan Aline. Si Bhenjon terbangun saat pemiliknya tertidur lelap.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya...


__ADS_2