
"Yah, kenapa tidak menginap saja di sini Kak Aline? Besok pagi 'kan kita bisa main lagi," protes Naima salah satu anak asuh yang berusia sekitar tujuh tahun saat Galen mengajak Aline untuk pulang.
"Iya Kak, Besok hari libur kita jalan pagi ke taman kota, pasti seru kalau berangkat bareng," Zizi menimpali.
"Iya... iya... Ayo, Kak Aline nginep aja di sini!" Raine juga ikut membujukmembujuk agar Aline menginap di Rumah Asuh.
Aline hanya tersenyum menanggapi permintaan mereka.
"Nanti Kak Aline main lagi ke sini, janji deh!" Aline mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Benar ya? Janji?"
"Janji," Sambil menautkan jari telunjuk dengan ibu jari.
Sudah lama Aline dan Galen tidak berkunjung lagi ke tempat itu. Sekarang mereka datang dengan status sudah menikah. Dulu pertama ke tempat itu, Aline dan Galen sering sekali berseteru. Seperti biasa kejahilan Galen terus mendominasi.
Aline sangat suka dengan anak-anak karena dia merupakan anak tunggal dirumah. Oleh karena itu sangatlah mudah untuknya berinteraksi dengan anak kecil, membuat setiap anak yang dekat dengannya tak rela jika mereka berpisah.
Galen yang memperhatikan tingkah istrinya dari jauh pun ikut tersenyum melihat keceriaan Aline dan anak-anak. Ia sedang bersama Ustad Arifin berbincang di gazebo tak jauh dari tempat Aline berada.
"Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair. (Semoga Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan)" ucap Ustadz Arifin memberika doa untuk pasangan pengantin baru itu.
Galen kembali menatap Ustad Arifin. "Aamin ... Terima kasih doanya, Pak Ustadz. Doakan saya agar selalu amanah menjalankan tugas saya sebagai suami yang baik untuknya, Ustadz!"
"InsyaAllah, saya akan selalu mendoakan orang baik sepertimu, Nak!"
Obrolan pun berlanjut sampai akhirnya Aline menghampiri keduanya.
Hampir dua jam Aline bermain dengan anak-anak di dalam ruang belajar mereka. dan Galen mengobrol dengan ustadz Arifin di gazebo belakang.
Ajakan Galen untuk berkunjung ke Rumah Asuh malam ini ternyata membuat keceriaan dan senyum Aline kembali.
Galen mengajak istrinya ke sana karena percuma di apartement tidak bisa berbuat apa, di saat Aline sudah bisa menerima sentuhan darinya ada saja yang menghalanginya.
"Senang bisa bermain bersama mereka?" tanya Galen kepada Aline saat istrinya itu tiba di dekatnya.
Aline mengantuk sambil tersenyum. "Sayangnya kita datang malam hari, coba kalau siang. Pasti banyak waktu." Aline ikut duduk di samping Galen.
Galen menyentuh pucuk kepala istinya lalu mengelusnya pelan. "Lain kali kita datang pagi, biar ajak mereka ke taman kota atau ke tempat bermain."
"Benar Mas," Aline menatap suaminya.
Galen mengangguk yakin.
"Apa bisa, setelah cuti Mas selesai mungkin saja Mas akan sibuk dengan pekerjaan di kantor?" tanya Aline ragu.
"Sesibuknya aku di kantor. Waktu untuk istriku ini akan selalu ada, kapanpun kamu membutuhkannya." ucap Galen manis kepada Aline.
Aline tersenyum senang. "Terima kasih, Mas."
"Kita pulang?" ajak Galen.
"Mas sudah selesai ngobrol nya dengan Pak Ustad." tanya Aline beralih menatap Ustadz Arifin lalu tersenyum kaku, merasa tidak enak mengganggu obrolannya dengan Galen.
"Tidak akan cukup waktu untuk berbicara dengan Beliau, banyak ilmu dalam setiap obrolan dengannya. Pasti akan butuh waktu panjang untukku belajar padanya." tutur Galen membuat Ustadz Arifin tersenyum kepadanya.
Ustad Arifin selalu memberikan nasehat bijak kepada Galen. Tidak salah kalau Galen menempatkan dirinya di Rumah Asuh untuk membimbing anak-anak jalanan agar mendapatkan ilmu agama untuk bekal kehidupannya kelak. Karena mereka tidak punya orang tua lagi.
__ADS_1
Galen tidak mau mereka kembali terjerumus jatuh ke tangan orang yang hanya memanfaatkan hasil kerja mereka saja seperti Ferdi. Tidak bisa di pastikan di jalanan sudah bebas dari para pemalak seperti bajingan itu.
Dari kejadian itu Galen mendirikan Rumah asuh untuk anak-anak jalanan. Membiayai pendidikan dan memberikan kehidupan yang kayak juga untuk mereka.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya begitulah sifat Galen yang tak jauh berbeda dengan Tuan Wijaya. Jika Galen menyalurkan rejeki yang ia punya kepada sesama manusia, beda hal dengan Tuan Wijaya. Beliau mengalihkan rejekinya untuk membangun masjid di beberapa desa terutama di daerah terpencil.
Ustadz Arifin mengulas senyum melihat sikap penyayang Galen dan lembutnya ucapan pria itu. Ternyata Pria yang ia kenal sebagai seorang preman di jalanan itu mempunyai sikap lembut dan penyanyang terhadap orang yang ia cintai. Galen akan bersikap keras dan garang saat melihat kejahatan dan ketidak adilan seperti yang anak-anak alami dan dirinya dulu.
"Ustadz ..., Terima kasih atas nasehat dan doa yang sudah di berikan kepada saya. Sudah malam, kami pamit pulang?" ucap Galen.
Mereka bertiga turun dari gazebo.
"Kalian tidak menginap?" tanya Ustadz Arifin.
"Anak-anak juga tadi ngajak nginep sih?" ujar Aline.
"Kamu mau nginep, Yang?" Galen ikut bertanya.
Aline menggeleng pelan. Padahal bukannya tidak mau, tapi Aline merasa risih karena sedang menstruasi. Tidak nyaman rasanya kalau tidur ditempat orang lain. Takut kalau malam hari tembus ke sprei yang ia tiduri.
Galen dan Aline akhirnya pamit. Ustad Arifin memanggil istrinya sebentar yang sedang berada di kamar. Istri ustad Arifin kebetulan sedang kurang enak badan, jadi ia tidak bisa menemani Aline bermain dengan anak-anak.
"Maaf Nak Aline, ibu tidak bisa menemani kalian dari tadi." ucap Bu Rahma saat tiba di hadapan Aline dan Galen. "Uhuk... uhuk... "Bu Rahma terus terbatuk sampai membuat napasnya sesak.
Aline mendekati Bu Rahma yang datang kondisi wajah pucat, dengan syal yang menutupi lehernya. Benar-benar kondisinya saat ini sedang sakit. "Tidak pa-pa Bu, tidak usah repot-repot sampai harus kemari. Istirahat saja di kamar. Apa sudah di periksa secara menyeluruh sakitnya Pak?" tanya Aline sambil mengelus- elus punggung Bu Rahma, agar batuknya sedikit mereda.
Aline juga membantunya untuk duduk di bangku kayu tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Sudah, kemarin! Nak Aldo yang membawa istri bapak ke Rumah Sakit Soedibyo. Kemungkinan besok akan ada pemeriksaan lebih lanjut." balas Ustadz Arifin.
"Aldo?" Aline mengerutkan alis mendengarnya. Lalu menoleh kepada Galen, Suaminya hanya mengangkat bahu.
Tak lama orang yang di pikirkan Aline datang bersama seorang wanita cantik yang berhijab. Aldo dan Rima datang dari arah pintu masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Rima yang langsung menyalami Ustad Arifin, menangkupkan tangan di dada ke pada Galen kemudian menmendekati Aline lalu menyalaminya. Beralih kepada Bu Rahma. "Ibu kenapa? sesaknya kambuh lagi ya?" tanya Rima khawatir setelah mencium tangannya dengan takzim.
"Setiap kalo batuk, sesaknya terasa," ujar Bu Rahma.
"Ini Rima sudah ambil resep yang dituliskan dokter kalau batuk nya masih ada. Tapi jika masih tarus seperti ini kita ke rumah sakit lagi ya, Bu?" bujuk Rima cemas.
Bu Rahma menggeleng pelan. "Tidak usah, minum obat juga Ibu sembuh, kok!" elaknya.
"Tuan muda... " Aldo membungkuk hormat kepada bosnya.
"Kita di luar pekerjaan, bersikap seperti biasa saja." cetus Galen.
"Saya terbiasa seperti ini! Maaf, Tuan!" Aldo masih kekeh dengan sikap hormatnya.
"Maaf, Nak Galen, Aldo. Bapak mau bawa ibu ke kamar lagi," sela Ustad Arifin.
"Oh, iya Ustadz silakan. Tapi saran saya sebaiknya Bu Rahma di bawa ke rumah sakit secepatnya untuk mendapat perawatan cepat. Biar Aldo yang urus semuanya." saran Galen.
"Iya, Terima kasih, Nak! Bapak permisi dulu, maaf tidak bisa mengantarkanmu sampai ke depan.
" Oh ... tidak pa-pa Ustadz." Balas Galen.
Ustadz Arifin pun meraih tubuh Bu Winda lalu memapahnya untuk kembali ke kamarnya. "Rim, tolong nanti cek anak-anak, di kamar. sekarang temani dulu, mereka di sini." titahnya pada Rima.
__ADS_1
"Iya, Pak." jawab Rima.
Suasana hening sesaat. Rima terdiam berada bersama orang -orang yang sangat ia hormati. Ia juga merasa canggung setelah ungkapan perasaan yang di ucapkan Aldo di perjalanan tadi.
Aldo mengungkapkan perasaannya kepada Rima. Gadis manis berumur 23 tahun. Gadis itu tidak melanjutkan sekolahnya.
Semenjak berpindah tempat tinggal ke Rumah Asuh, Rima lebih sering membantu Ibunya mengurus dan mendidik anak-anak yang dititipkan Galen kepada mereka untuk di bimbing. Setelah pulang sekolah anak-anak di berikan ilmu tambahan seperti mengaji dan membaca Al-Quran oleh Ustadz Arifin. Di bantu Rima. Sedangkan Bu Rahma membantu menyiapkan makan sehari-hari mereka.
Awalnya Aldo datang untuk mengecsk kondisi anak-anak tapi melihat keluguan dan kecantikan Rima, Aldo jadi lebih sring berkunjung ke sana denagn alasan mengirimkan untuk keperluan mereka langsung dari bosnya.
"Kemana Pram dan Wendi?" tanya Galen tegas memecah kesunyian.
"Mas Pram dan Mas Wendi biasanya pulang malam kalau dari toko. Kadang mereka jarang pulang, katanya sih, terlalu cape kalau bolak-balik ke sini. sedangkan sekarang mereka sedang kejar ujian juga." Rima memberitahu.
"Syukur lah kalau mereka masih semangat untuk kuliah. Kamu kenapa tidak melanjutkan sekolahmu?" tanyanya pada Rima.
Rina mendongak menatap Galen kemudian kembali tertunduk. "Saya membantu Bapak dan Ibu saja di sini, Pak!" jawab Rima.
"Tuan ...," panggilan Aldo.
"Hm."
"Saya akan melamar Rima!" celetuk Aldo membuat Rima, Galen dan Aline terkejut lalu menatap Aldo bersamaan.
Rima memang memberi lampu hijau kepada Aldo dengan menyuruhnya untuk berbicara langsung pada bapaknya.
Rima tidak ingin pacaran, ia ingin merasakan masa pacaran setelah menikah. Begitu juga dengan Aldo. Melihat pengalaman Tuannya, Aldo berpikir pacaran begitu rumit. Jadi ketika perasaan cinta timbul dalam diri Aldo lebih baik untuk melanjutkannya ke jenjang serius yaitu pernikahan.
Beruntung Aldo satu prinsip dengan Rima. Rima semakin tertunduk dengan ucapan Aldo kepada bosnya tersebut.
"Kamu, serius?" tanya Galen tak percaya.
Asistennya itu membuat Galen terkejut. Tak pernah terlihat dekat wanita manapun. Sekalinya dekat langsung ngajak serius. Baguslah daripada sakit hati dirinya dulu.
"Iya, Tuan. Saya sudah berbicara ini dengan Rima tinggal menyampaikannya kepada Ustadz Arifin untuk restunya.
"Wah, kalian hebat. Keputusan yang sangat bagus, Do. Aku mendukung niat baik kalian. "Aline menimpali. "Semoga niatan baiknya berjalan lancar." ucapnya pada Rima.
"Terima kasih, Kak." Rima tersenyum kemudian menoleh kepada Aldo yang memang tengah menatapnya. Rima menundukkan kembali wajahnya menyembunyikan semburat merah pada pipinya.
"Kapan resminya kamu melamar Rima?" tanya Galen lagi.
"Secepatnya, Tuan!" ucap Aldo tegas.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG>>>>>
Gak mau kalah dong pastinya di Aldo sama Galen.
__ADS_1
Hayoo, siapa duluan yang bakal ngerasain malam pertama ni. Galen keduluan gak ya sama Aldo. secara Aldo gercep tanpa mau pacaran...