
"Segera bersihkan dirimu. Sebentar lagi Aldo akan kesini mengantarkan pakaian. Setelah itu pergi dari sini. Aku sangat kecewa sama kamu, Sand. Aku berterima kasih kamu sudah menolongku semalam. Dan mulai besok, posisi kerjamu pindah. Tanyakan kepada Aldo nanti," pekik Galen dengan nada ketus dan galak lalu berjalan menuju kamarnya.
Sandra diam tidak membalas sepatah katapun. Ia sedikit mendongak menatap kepergian Galen menuju kamarnya.
Sandra pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di dalam kamar mandi, Sandra menumpahkan tangisnya. Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Bodoh... bodoh sekali dirimu. Hidupmu sudah hina, sekarang harga dirimu ikut hina dengan kejadian ini. Harusnya kamu malu dengan Galen yang berbesar hati membantumu, dari memberikanmu pekerjaan, membantu membiayai pengobatan Ibu. Ini balasan mu terhadap kebaikannya.
Sandra menggelengkan kepala di hadapan cermin itu, bayangan dirinya yang ada dicermin itu seakan tengah memperingatinya. Tapi sebuah bisikan selalu berkata agar Sandra terus mempertahankan perasaanya. Agar kehidupan dia dan ibunya terjamin jika Sandra mampu menjadi istri ataupun simpanan Galen.
"Tidak... Tidak... aku harus menghindar. Kamu harus ingat apa yang dialami Ibumu, Sandra!" Gumam Sandra memperingati dirinya sendiri.
*Tuhan... tolong aku jangan biarkan aku jadi penghancur hubungan rumah tangga Galen dan Aline. Cukup ibu dan aku yang merasakan kehancuran akibat wanita iblis. jangan biarkan aku menjadi iblis itu. Maafkan Aku Galen....
Aku yang seperti ini karena mendambakan kasih sayang tulus yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
Tuhan... tidak pantaskah aku mendapatkan pria baik, aku pun ingin bahagia*...
Sandra kembali terisak di kamar mandi. Tak mau membuang waktu, ia berniat tidak sampai menunggu Aldi datang untuk mengantarkan pakaian. Sandra sengaja hanya membersihkan bagian yang terkena muntahan dari Galen. Tidak disangka saat membersihkan sedikit muntahan sambil melamun baju yang sedang ia pegang jatuh ke lantai sehingga membuat baju itu basah semua. Kemudian ja berpikir akan menunggu Aldo saja daripada harus pulang dalam keadaan baju yang basah.
Sandra membuang napas berat, kenapa sangat sulit sekali hidupnya.
Mendengar seseorang masuk ke dalam apartement itu, Sandra berpikir itu Aldo. karena suaranya tidak jelas terhalang suara gemericik air dari kran air. Lekas Sandra memakai handuk kimono yang memang selalu tersedia di setiap kamar mandi.
Di dalam kamar.
Galen sangat jelas mendengar suara seorang wanita memanggilnya. ia sangat hapal dengan suara itu. Galen baru memasuki kamar mandi di dalam kamarnya segera berbalik keluar padahal ia hanya menggunakan celana boxer tanpa baju ataupun kaos oblong.
"Itu kan Aline." Galen segera meraih handuk kecil untuk mengusap wajahnya yang basah. Galen pun berjalan cepat keluar kamar.
Ceklek...
Ceklek...
Pintu kamar dan pintu kamar mandi terbuka bersamaan.
Sandra keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah.
Sedangkan Galen keluar kamar hanya menggunakan celana boxer.
Aline menatap keduanya bergantian. Tak sadar paper bag yang ia pegang lepas begitu saja dari genggamannya.
__ADS_1
Pertama ia menatap Sandra penuh curiga. Wanita itu meremas kimono bagian depan dadanya, sambil menggigit bibir karena takut akan tatapan Aline yang begitu tajam kepadanya.
Kemudian beralih kepada Galen, suaminya. Aline tersenyum kecewa kepada sang suami.
"Kalian---," ucap Aline terpotong karena Galen lebih dulu mendekatinya.
"Sayang.... Dengarkan aku! Ini tidak seperti yang kamu lihat, Sayang!" Galen berusaha meraih tangan Alin tapi dengan cepat Aline menepisnya.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanmu semalam, Mas!"
"Sayang dengarkan semalam aku--" Galen terlihat bingung saat menjawab karena dia juga tidak sempat membalasnya. Karena semalam pusing dan mual yang begitu hebat ia rasakan. Perpaduan antara perut kosong yang di isi dengan minuman beralkohol makin membuat rasa gejolak perut yang tidak kuasa Ia tahan.
"Jawab pertanyaan ku, Mas!"
"Semalam Galen mabuk ditambah Keadaanya kurang fit, jadi saya---"
"Apa aku meminta jawaban darimu, SANDRA?" tanya Aline dengan nada tinggi kepada Sandra yang berani menjawab pertanyaan Aline untuk Galen.
"Oh... Aku tau, Mas. Dari awal kamu memang sengaja tidak memberitahu ku soal kepergianmu bersama Sandra. Kamu memang ingin berdua dengan nya?" Aline menunjuk Sandra dengan telunjuknya.
"Bukan begitu, Sayang. Aku salah, aku minta maaf...! Aku tidak memberitahumu karena kamu pasti khawatir dan tidak bisa tenang setelah kamu tahu aku pergi bersamaku Sandra."
"Aku lebih khawatir dan curiga kalau kejadiannya seperti ini, Mas! Seorang wanita single dengan seorang pria berada dalam satu tempat. Tidak ada yang tahu kalain berbuat apa semalam!" ucap Aline dengan suara gemeter menahan sesak dan kecewa. Tapi ia mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata. Sekuat tenaga ia akan menahannya.
Dengan kedua matanya sendiri ia melihat suami dan wanita lain kelaur bersamaan dari dua tempat yang berbeda. Ditambah keadaan keduanya yang minim busana. Siapapun pasti berpikir negatif saat melihatnya.
"Jangan sentuh, Aku!" sentak Aline sambil menatap tajam ke arah Galen.
Aline berjalan mendekati Sandra.
"Kamu... " Aline meraih dagu Sandra yang tertunduk agar menatapnya. "Cantik... Kamu bisa mendapatkan pria yang masih sendiri tapi kenapa kamu mau berduaan dengan pria yang jelas-jelas sudah beristri, apa kamu lupa itu?"
Sandra menggeleng kepala pelan.
"Maaf... Aline, kamu jangan salah paham. dengarkan dulu penjelasan suamimu dan aku. Kami di sini tidak berbuat apapun. Aku bisa jamin itu." Sandra mencoba menjelaskan.
Aline tersenyum sinis."Apa jaminan mu kepadaku? hah... Aku tahu perasaanmu yang begitu besar untuk Galen. rasa cintamu, rasa kagummu. Lalu apa yang bisa menjamin bahwa kamu memang tidak menikmati kebersamaan dengan suamiku, Sandra. Sampai tanda ini bisa ada di sini!" Aline menunjuk satu tanda merah yang masih baru di bawah leher Sandra."
Hati Aline hancur saat ia mendekati Sandra dan melihat tanda itu di sana.
Galen selalu melakukan itu kepada Aline meski dalam keadaan tertidur. Dan itu sudah jadi kebiasaan baginya.
Pemikiran negatif itu datang begitu saja. Hancur rasanya hati Aline.
__ADS_1
"Sayang... Tolong jangan seperti ini. Kamu tidak percaya sama, Mas!" Galen mencoba berbicara lembut kepada Aline yang masih terbakar amarah dan kecewa. "Mas akan menunjukkan CCTV di ruangan ini. Kamu lupa di apartement ini ada CCTV nya."
Aline membalas dengan senyuman kecewa. "Apa kamu lupa juga, Mas kalau di kamar itu, tidak terekam di sana. Tidak ada bukti kalau kalian tidak berbuat apa-apa di sana!" hardik Aline.
Aline dan Galen saling menatap. Ada rasa kekecewaan yang besar di mata Aline.
Skak mat, Galen terdiam karena ucapan Aline memang benar. Meskipun setiap ruangan ada CCTV-nya tapi untuk di kamar ia tidak memasang nya karena itu adalah area pribadi.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Sayang! Mas mohon... jangan salah paham dulu! kita bicara baik-baik."
Sandra terdiam sesaat. Kenapa bisa ada tanda kismark di lehernya. Ia bahkan tidak merasakan Galen menyentuhnya.
"Apa kamu bisa jelaskan secara jelas Sandra Febriani," tanya Aline dengan suara tegas ke arah Sandra yang diam dengan pemikirannya
"I-iya, A-aku akan ceritakan semuanya," balas Sandra terbata. Ia gugup karena Aline menatapnya tajam menunggu penjelasan darinya.
Aline mencoba bertahan. Ia berusaha tegar. Padahal dalam hati Aline ia tidak sanggup mendengarkan apa yang telah terjadi. Hatinya pasti akan sangat hancur.
"Sayang...! Biar aku yang menjelaskan, ya? Aku tidak mau kamu kenapa-napa!"
"Kenapa apanya, Mas. Kamu takut aku sakit hati? Heh..." Aline tersenyum miris, kemudian ia berjalan menuju sofa duduk dengan anggun di sana, menopang satu kaki di atas kaki satunya dengan pembawaan yang tenang. Padahal Aline menyembunyikan tangannya yang terus gemetar.
"Kamu tenang saja, Mas. Kamu lupa aku pernah merasakan sakit hati yang sama. di khianati orang yang aku cintai dulu!" lanjut Aline membuat Galen semakin merasa bersalah.
Galen menatap penuh emosi kepada Sandra. "Cepat jelaskan kepadanya. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai ku kehilangan Aline!" hardik Galen kepada Sandra.
"Jangan mengancamnya, Mas! Biarkan dia tenang menjelaskan kisah indah kalian semalam." Aline begitu sakit mengucapkannya. Ia harus bersiap mendengar apa yang terjadi sebenarnya. Ia tidak ingin masalah semakin berlarut.
.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...
Semakin panas.....
Masuk konflik tegang...
Woi... Aldo lama amat nyampenya, kemana dulu mang... datang lah....
__ADS_1
Yang punya banyak poin bagi-bagilah hadiah nya. Sekuntum bunga atau kopi ๐
Udah pada tau kan caranya kirim ke karya ini ๐๐๐ ngarep