
Kediaman Tuan Baskoro
"Kamu bikin malu Papa saja!" bentak Pak Baskoro saat Chyntia baru saja duduk di sofa bersama Ibu Marni.
Chyntia hanya bisa menangis sambil terisak, sepanjang penjemputannya di kepolisian oleh Papa dan Mamanya. Gadis yang baru saja bebas dari tuntutan Tuan Wijaya itu bisa bebas bersyarat. Harus melakukan lapor wajib seminggu sekali ke kantor polisi.
Pak Baskoro terus memarahinya sepanjang perjalanan pulang ke rumah mewah miliknya. Chyntia tak diijinkan lagi tinggal di apartemen miliknya. Dari dulu wanita itu terbilang bebas dengan kehidupannya dari kuliah hingga menjadi artis terkenal.
"Sudahlah, Pah! cukup! dari tadi kamu tak berhenti memarahinya. Ini juga salah Papa, terlalu membebaskannya, yang penting buat kamu Chyntia bisa membuat bangga akan prestasinya sebagai artis agar namamu juga ikut terangkat karenanya," cetus Bu Marni sambil menangkan Chyntia.
"Apa gunanya dia jadi artis kalau tidak ada prestasinya, masuk ke perusahaan Papa pun tak ada gunanya! otaknya tak sepintar Jasmin, Chyntia sudah pas menjadi artis karena fisiknya," sambung Pak Baskoro.
Jasmin yang baru saja pulang kuliah semester akhir mendekati dia orang yang masih berdebat masalah Chyntia. Gadis ini sangat bertolak belakang dengan sifat kakaknya Chyntia.
Jasmin mempunyai pribadi jutek, tak banyak bicara dan acuh. Meski begitu, gadis itu tetap menghormati kedua orang tuanya. Didekatnya Mama dan Papanya yang masih berdebat. Kemudian menyaliminya lalu ijin pamit ke kamar tak ingin ikut campur urusan sangat kakak.
"Lihatlah anakmu yang satu lagi. Tak peduli sekali dengan nasib saudara kandungnya!" seru Pak baskoro.
Jasmin menghentikan langkahnya mendengar Papanya berbicara tentangnya.
"Menurut Papa, Jasmin harus bersikap seperti apa terhadap Kak Chyntia? ikutan nangis? atau membantunya balas dendam?" Jasmin berbicara seraya memeluk buku yang berada didekapanya.
"Heh ... mau menang tuh harus berani bersaing secara sehat, jangan pakai cara licik." Jasmin mengarahkan pandangannya ke wajah Chyntia yang terlihat pucat pasi.
"Maaf, Pah! Aku tak bisa bersimpati kepada orang yang bersikap licik seperti Kakak," ucap Jasmin membuat Chyntia mendongak ke arahnya.
"Kamu memang tak pernah sayang sama Kakak, dek!" balas Chyntia.
"Kakak tidak bisa mengukur rasa sayang Aku dengan membela kelicikan Kakak. Aku tidak suka sifat Kak Chyntia yang seperti ini, kita semua akan berada pada kejayaan dan ketenaran sesuai porsi yang kita dapat. Kakak harus terima itu."
"Mah, Pah! maaf! Jasmin ke kamar dulu, masih banyak tugas skripsi yang harus diselesaikan." Jasmin melangkah pergi ke lantai dua di mana kamarnya berada. gadis itu paling malas harus berdebat dengan Papanya.
Mendengar perdebatan Papa, Mama serta ucapan Jasmin, adiknya yang sangat mengena di hati Chyntia membuat wanita itu tiba-tiba merasa pusing.
__ADS_1
"Mah! Chyntia pusing!" ucap Chyntia seraya memegangi kepalanya dengan satu tangan. Wajahnya sudah terlihat pucat pasi sedari tadi.
Baru saja akan membalas ucapan Chyntia. Bu Mirna terkejut melihat Chyntia tiba-tiba tak sadarkan diri. Beliau lekas berdiri dan mendekati anak perempuan pertamanya itu.
"Papa sih, marahin Chyntia kelewatan." Bu Marni malah menyalahkan Pak Baskoro.
"Heh... paling dia kecapean, dia bilang tidak bisa tidur di dalam tahanan. Mana bisa anak itu hidup tanpa kemewahan, apalagi seminggu berada di sana," ucap Pak Baskoro.
"Mana, pacar anak kamu yang selalu tampil berdua dengannya. Sampai sekarang, Papa belum bertemu dengannya, Heh.. pria itu numpang tenar doang!" efeknya.
"Win... tolong panggilkan Dokter Ridwan, sekarang!" titah Pak Baskoro kepada Wina asisten rumah tangganya.
Meski terlihat cuek tapi Lak Baskoro tetap memberi sedikit perhatian kepada Chyntia. Karena hanya gadis itu yang mau menuruti semua perintahnya di bandingkan Jasmin adiknya.
Bu Winda terlihat cemas mendapati Chyntia yang berwajah pucat pasi. Meskipun sikap anaknya itu sudah melewati batas, tapi Mamanya itu hanya bisa mengelus dada.
Bu Winda selalu menghubungi Chyntia di kala kesibukan gadis itu di lokasi syuting. Entah apa yang membuat anak sulungnya itu memilih hidup sendiri setelah Karier keartisannya merangkak naik. nasihat dan wejangan dari mamanya hanya sebatas anggukkan saja oleh Chyntia.
๐๐๐
Bu Winda menemani pemeriksaan terhadap Chyntia. Sedangakan Pak Baskoro memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dulu. Merasa pusing dengan keterlibatan Chyntia akan kecelakaan yang menimpa Akine dan Galen.
Pak Baskoro terpaksa mengancam Tuan Wijaya untuk kebebasan putrinya. Beliau khawatir kedepannya akan terus berlanjut jika berhadapan dengn orang yang paling berpengaruh di dunia bisnis itu. Tidak mungkin Tuan Wijaya menerima ancaman Pak Baskoro secara sukarela. Pasti akan ada balasan yang akan diterimanya.
"Apakah anak Ibu sudah menikah?" tanya Dokter Ridwan kepada Bu Winda.
Bu Winda menggeleng pelan, merasa bingung dengan pertanyaan Dokter langganan keluarganya itu. Sedangkan Dokter Ridwan yang sudah lama tidak bertemu Chyntia mengira bahwa gadis itu telah menikah.
Tanpa memperhatikan gerakan Bu Winda, Dokter Ridwan terus memeriksa keadaan Chyntia melalui denyut nadinya.
"Anak Bu Winda sedang hamil muda, jadi diawal kehamilan memang sering mengalami pusing akibat kelelahan."
Duaaarrrrrr...
__ADS_1
Ucapan Dokter Ridwan berhasil membuat Bu Winda diam membeku, seakan jantungnya berhenti saat itu juga.
"Apa? anak saya hamil dok?" tanya Bu Mirna dengan nada gemetar merasa syok mendengar penjelasan Dokter Ridwan.
"Iya, Bu. Ini obat penguat kandungan dan vitamin untuk anak ibu. Awal kehamilan harus sangat berhati-hati." Dokter Ridwan terlihat merapihkan stetoskop ke dalam tas kerjanya. Lalu mengeluarkan beberapa obat untuk Chyntia.
Tanpa banyak bicara Bu Mirna menerima obat tersebut, lalu mengantarkan Dokter Ridwan hanya sampai luar kamar saja.
"Terimakasih, Dok! maaf saya tidak bisa mengantar anda sampai ke luar."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa sendiri. Semoga putri Ibu segera pulih. Selamat Anda akan segera menjadi Nenek!" ucap Dokter Ridwan lalu melangkah perlahan menuruni tangga.
Bu Marni tersenyum kikuk mendengarnya. Beliau kembali ke dalam kamar putrinya. Melihat keadaannya yang masih tak sadarkan diri.
"Anak itu, kenapa tidak berhenti membuat masalah. Baru saja keluar dari tahanan. sekarang hamil di luar nikah! bikin malu Papa saja," ucap Pak Baskoro marah saat menghampiri Bu Mirna yang duduk di sisi tempat tidur menemani Chyntia.
"Sudahlah, Pah! jangan marah-marah terus! semua sudah terjadi. Bagaimanapun Chyntia sedang mengandung cucu kita saat ini. Biarkan dia istirahat, setelah sadar kita akan bertanya, siapa ayah dari janin yang ia kandung?" Bu Mirna mengolesi tubuh Chyntia dengan minyak kayu putih agar sedikit menghangat. Lalu mengarahkannya ke hidung anaknya agar bisa tercium aroma terapi dari minyak angin tersebut.
"Siapa lagi kalau bukan Pria yang selalu bersamanya itu? Papa sudah menyuruh orang untuk menyeretnya ke sini. Jangan sampai berita kehamilan Chyntia bocor, Kita harus segera menikahkan mereka terlebih dulu."
"Bikin malu saja." Pak Baskoro menutup pintu kamar keras, membuat Bu Marni mengelus dada sembari menggelengkan kepalanya.
.
.
.
.
bersambung...
Gimana makin seru enggak.. bakal ada banyak konflik loh....
__ADS_1
Dukung terus ya karyaku. ๐๐๐๐