
Aldo sontak berdiri lalu menunduk hormat saat Bara memasuki ruangan.
"Tuan muda ke rumah sakit, Tuan!" ucap Aldo lalu mentap tegak kembali.
"Apa benar Galen memerintahkan anak buahnya mencari tahu keberadaan penjahat itu?" tanya Bara tegas kepada Aldo.
Aldo mendongak menatap Bara, ia sedikit terkejut. Bagaimana Tuan Muda pertama bisa tahu kejadian itu.
"Kamu jangan sekaget itu, anak buahku yang melaporkannya. Anak buah kalian tidak becus mencari satu orang penjahat saja." Bara melangkah lalu duduk di kursi kebesaran Galen.
Kursi yang pernah ia tempati sementara waktu kalau Galen mengalami kecelakaan. Meski hanya beberapa bulan menggunakannya. Tapi kekuasaan Aksara Grup pernah ia rasakan. Bara tersenyum sinis, ternyata tempat ini memang bukanlah untuknya. Ia bukanlah orang yang tak tahu diri ingin menguasai segalanya dari Tuan Wijaya, papa tirinya.
Mendapat satu perusahaan yang di percayakan kepadanya membuat Bara lebih bertanggung jawab dan kali ini berkat campur tangan Tuan Wijaya pula, anak dari wanita yang pernah berbuat jahat kepada Tuan Wijaya itu bisa mengepakkan bisnisnya sendiri. Bara berbeda dengan Nyonya Mariska ibu kandungnya yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Beruntung Bara menuruni sifat dari ayah kandungnya.
"Lalu ada keperluan apa Tuan mencari Tuan Muda Alex. Jika penting saya akan memberitahu beliau perihal kedatangan Anda, Tuan," ucap Aldo masih dengan nada sopan.
Bara melirik sinis ke arah Aldo. "Apa saya tidak boleh mengunjungi adik saya sendiri?Saya telah memerintahkan anak buah saya untuk mencari tahu keberadaan orang yang sudah menyakiti Aline. Bosmu itu bisa-bisanya bisa lengah terhadap musuhnya sendiri. ingatkan dia, dunianya kini berbeda. Bukan lagi dunia bebas yang pernah ia lakukan. Dia harus tahu kedudukannya saat ini." Bara memainkan jemarinya di atas meja sambil berpikir.
Menjadi seorang pemimpin di Aksara grup memang sangatlah berat. Banyak pesaing bisnis yang akan berusaha menjatuhkan perusahaan itu. Karena kinerja dari perusahaan itu sudah sangat terkenal dengan kesuksesan dan keberhasilannya. Mereka para pesaing akan berusaha menjatuhkan pemimpinnya terlebih dulu, setelah itu dampaknya pasti akan berpengaruh pada perusahaan.
Antara Bara dan Galen selalu ada sikap acuh dan persaingan. Mereka sama-sama ingin menunjukkan kinerja terbaiknya. Karena keduanya tidak ingin dibandingkan oleh Tuan Wijaya.
Pada dasarnya meskipun sikap cuek yang ditunjukkan oleh kedua kakak beradik lain ibu itu saat bersama. Rasa perhatian dan sayang mereka berikan secara diam-diam. Keduanya merasa gengsi mengakui kalau mereka saling menyayangi. Hanya kepada Kartika mereka tak menutupi rasa sayangnya.
"Do, kabari saya kabar selanjutnya mengenai masalah Galen ini. Jangan beritahu dia kalau saya bertanya kepadamu tentang dirinya. Lalu bagaimana dengan keadaan Aline?"
Pertama Bara khawatir keadaan Galen, kedua ia juga khawatir kepada Aline. Wanita yang pernah ia suka. Mungkin saja rasa itu masih ada di hatinya. Tapi Bara selalu menekankan pada diri sendiri agar melupakan Aline.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berhak menceritakan keadaan Nona Aline kepada siapapun." ucap Aldo tegas. "Jika Anda penasaran dengan kondisi Nona Aline, Anda bisa mencari tahu kabarnya sendiri." Aldo menambahkan masih dengan ucapan yang sopan namun membuat Bara msedikit kesal tapi ia mengerti telah salah menanyai bawahannya Galen itu.
"Cih ... pelit sekali dirimu." Bara berdiri lalu beranjak dari tempat duduk. "Ingat yang aku katakan padamu tadi," ucap Bara lalu melenggang pergi dari ruangan itu.
Aldo menggelengkan kepala melihat sikap Tuan muda pertama kepada Tuan Muda kedua. Keduanya saling menyayangi tetapi gengsi untuk menunjukkannya. Kadang Galen pernah menyuruh Aldo untuk mencari tahu keadaan Bara, karena Kakak iparnya itu sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Galen merasa sedikit khawatir tidak mendengar kabar dari Kakak tirinya tersebut.
__ADS_1
"Kenapa mereka tidak saling menunjukan rasa sayang persaudaraanya. Rasanya akan lebih terasa menyenangkan daripada acuh tapi mencari tahu." gumam Aldo heran dengan kedua Tuan Muda dari keluarga Wijaya itu.
...***...
Rumah Sakit Soedibyo
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Aline. Zainab dan Tuan Wijaya masih saja saling diam. Kini mereka bertiga sudah berada di dalam lift khusus untuk para petinggi rumah sakit. Tuan Wijaya menggunakan lift tersebut karena termasuk orang penting dalam struktur kepengurusan rumah sakit itu.
Zainab mengeratkan pegangannya pada ujung rantang yang ia genggam karena situasi yang membuatnya canggung itu.
Ting...
Pintu lift terbuka. Kini mereka tiba di lantai tiga, dimana ruangan Aline berada.
Zainab keluar lebih dulu, mendahului Tuan Wijaya dan Tomy. Saat akan keluar wanita itu berpapasan dengan seorang dokter dan perawat yang akan memasuki lift. Zainab tersenyum saat melewati dokter tersebut.
Dokter yang terlihat masih muda itu menatap Zainab tanpa kedip. Memang daya tarik janda itu selalu memikat pria yang takjub melihat senyumannya.
Dokter Ridwan namanya terlihat dari tag name yang ada di jas putih yang ia kenakan. Kepala dokter tersebut sampai ikut memutar mengikuti gerak langkah Zainab.
"Apa melihat tanpa kedip juga salah satu kerjaan dokter di rumah sakit ini," sindir Tuan Wijaya dengan nada ketus.
Dokter muda itu segera menoleh ke arah suara yang menyindirnya. Ia lekas menunduk sopan melihat siapa yang berbicara. "Maaf, Tuan!" Ucap Dokter Ridwan. Semua orang yang bekerja di rumah sakit tersebut kenal betul siapa itu Tuan Wijaya. Beliau adalah pemilik Rumah sakit itu.
Tuan Wijaya juga berencana membangun rumah sakit di daerah terpencil ia ingin mewujudkan keinginan mendiang istrinya.
Tanpa banyak berkata lagi, Tuan Wijaya melewati dokter dan perawat yang masih menunduk di hadapannya.
Tomy tersenyum kecil melihat tingkah bosnya itu.
"Sepertinya benar, Tuan Wijaya mempunyai perasaan kepada Nona itu." Tomy melirik Dokter Ridwan lalu menepuk pundaknya pelan. "Bekerjalah dengan baik, dokter! permisi," ucap Tomy lalu melangkah mengikuti Tuan Wijaya.
__ADS_1
Zainab berdiri di depan ruang perawatan. ia merogoh ponsel di tas selempang yang ia kenakan. Memastikan nama ruangan yang di tempati Aline. Padahal tidak perlu diperiksa lagi karena di lantai itu hanya ada ruangan khusus tempat keluarga Wijaya mendapat perawatan.
Tuan Wijaya melihat Zainab sibuk membuka ponselnya, ia melewati wanita itu begitu saja, lalu masuk ke dalam ruangan yang berada di hadapan Zainab. Masih ada perasaan kesal di hati pria tersebut. Zainab mudah tersenyum kepada orang lain, sedangkan kepada dirinya begitu dingin. Pria itu tidak sadar, wajahnya yang selalu datar dan menakutkan membuat Zainab merasa Takut kepada Tuan Wijaya.
"Eh, emang di sini ya ruangannya? Ko Tuan Wijaya diam saja tidak memberitahuku," celetuk Zainab.
"Sialkan masuk, Nona. Benar ini ruang perawatan Nona Aline." Tomy membuka pintu yang sempat tertutup otomatis oleh Tuan Wijaya.
"Terima kasih, Mas Tomy." Zainab bedak melangkah tapi ia urungkan, sesaat ia menoleh kepada Tomy. "Bosnya Mas Tomy, ko seperti gunung es di tengah jurang, sih? Dingin dan menakutkan," ucap Zainab membuat Tomy tersenyum mendengarnya.
Zainab lekas menutup mulutnya takut Tuan Wijaya mendengar ocehannya."Sstt ... jangan bilang sama Tuan Wijaya ya, Terima kasih Mas, atas tumpangannya hari ini," sambung Zainab.
Tomy mengangguk pelan. "Berterima kasih lah kepada Tuan, Nona. Karena dia yang pertama kali melihat Anda di jalanan tadi. Tuan tidak tega melihat nona kepanasan dan duduk di pinggir jalan. Tersenyumlah agar si gunung es dalam jurang itu mencair menjadi lautan indah," ucapan Tomy.
Zainab membulatkan mata saat mendengar penuturan Tomy.
"Silakan masuk, Nona!" Tomy mempersilakan kembali Zainab untuk masuk ke dalam ruangan.
Tanpa berkata lagi, Zainab memasuki ruangan itu.
.
.
.
.
Bersambung.
Tak apa ya kita selingi kisah mereka di sini.
Soalnya Galen masih sibuk dengan pekerjaannya. Aline masih betah sama sikap diamnya. Kita cari yang anget-anget kuku dulu. ๐๐๐.
__ADS_1
.
.