Fake Love

Fake Love
Buka Puasa


__ADS_3

"Arghhh... hmmpp... " Aline lekas membungkam mulutnya sendiri takut baby Zayn terganggu oleh suaranya.


Matanya membola saat Galen menarik tubuhnya. Saat ini Aline saling berhadapan dengan Galen. Sangat jelas terlihat tatapan mendamba dari suaminya.


Aline mengulas senyum, tangannya bergerak meraba wajah suaminya yang mulai ditumbuhi bulu halus pada rahangnya. Semakin membuat Galen terlihat lebih macho. Aline merindukannya. Ya... Ia juga merindukan sentuhan lebih dari Galen. Pria yang selama dua bulan ini hanya mengajaknya bermain-main. Dan lebih memilih jalan menuju Roma andalannya.


Perlahan tapi pasti, jemari Aline bermain di wajah suaminya. Galen memejamkan mata merasakan kelembutan sentuhan itu. Jemari lembut Aline terus menyusuri mata yang terpejam, hidung mancung hingga bibir yang tebal yang selalu memberikan kecupan sayang kepadanya setiap hari.


Aline sedikit berjinjit. "Aku kangen sama kamu, Mas!" bisik Aline membuat Galen membuka mata.


Kedua netra mereka bertemu. Saling memandang dalam. Aline melempar senyuman manisnya. Tidak tahan dengan semua yang disuguhkan. Galen lekas menyambar bibir yang memberikan bisikan kerinduan kepadanya.


Aline melingkarkan tangan ke leher Galen, masih sambil berjinjit. Seakan mendapat santapan lezat Galen memperdalam penyatuan bibirnya. Bahkan menarik tengkuk Aline agar memperdalam pagutannya.


Kegiatan mereka semakin memanas seakan meminta lebih. Galen mengangkat tubuh Aline tanpa melepaskan pangutannya.


Galen perlahan menurunkan tubuh Aline dengan sangat hati-hati di sofa tantra. Sofa yang di desain khusus untuk suami istri saat melakukan pertempuran. Bentuk unik ini memudahkan suami istri untuk mencapai berbagai posisi berhubungan.


Sofa tersebut diletakkan di samping kaca besar di dalam kamarnya.



"Apa Mas boleh melakukannya?" tanya Galen dengan suara paraunya. Rasanya sudah tidak tahan menahannya tapi ia masih bisa menguasai keinginannya. Galen tidak mau Aline merasakan sakit karenanya.


"Apapun boleh Mas lakukan, Aku milik Mas seutuhnya."


Mendapat jawaban dari Aline yang menyambut keinginannya. Dengan lembut dan perlahan Galen memulai aksinya. Mengecup telinga terus menyusuri tubuh istrinya yang selama ini Galen hanya bermain di daerah itu. Gunung kembar favorit nya.


Galen mengangkat wajah lalu kembali berbisik.


"Maaf kalau ini kembali membuatmu merasakan sakit."


Tanpa menunggu jawaban dari Aline, hal yang selama ini ia rindukan selama dua bulan berpuasa setelah Aline melahirkan, akhirnya terpenuhi juga.


Sangat pelan dandan sangat hati-hati Galen melakukannya.


Pagi ini menjadi pagi yang bergelora untuk mommy dan Daddy muda ini. Rasanya seperti pertama kali Galen membobol gawang. Legit, lagi dan lagi. Itulah yang Galen lakukan. Kalau saja Baby Zayn tidak bangun mungkin kegiatan itu kembali terulang.


****


Galen terus mengembangkan senyum. Bulu halus di rahang telah bersih tak tersisa. Para karyawan merasa heran dengan sikap bosnya pagi ini.

__ADS_1


"Tumben banget si bos. Dari tadi senyum terus!" celetuk salah satu karyawan.


Karyawan yang ada di sebelahnya pun mengangguk membenarkan ucapannya.


Biasanya Galen akan datang seperti biasa bersikap dingin dan hanya mengangguk tanpa senyum saat berpapasan dengan para karyawan yang menunduk hormat kepadanya.


Langkah Galen semakin cepat rasanya ingin segera bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini. Vitamin B komplekz yang ia dapat dari Aline pagi ini sungguh membuatnya bertenaga dengan semangat 45 dalam menjalani hari.


"Do, apa agenda kita hari ini?" tanya Galen keoada Aldo yang sedang menatapnya heran.


"Meninjau beberapa tempat produksi dan satu lagi bertemu dengan pimpinan sebuah perusahaan jasa pengiriman BAZ Express. Untuk pembangunan perusahaannya yang bercabang di Surabaya. Pak Abbas El Amin meminta pertemuan dimajukan karena ia akan segera berangkat ke Surabaya," jawab Aldo tegas dan terperinci.


Galen melihat waktu di pergelangan tangannya.


Rasanya hari ini waktu pun berpihak kepadanya.


"Kabari Pak Abbas, pukul sepuluh pagi ini bertemu di temapt yang sudah di tentukan sebelumnya."


"Siap, Tuan! Ada lagi yang mau anda sampaikan?" tanya Aldo.


"Tolong pesanan saya sebuket bunga cantik untuk siang nanti. Sebab jam istirahat nanti saya akan pulang."


"Baik, Tuan. Sepertinya Anda berseri sekali hari ini!" Aldo mencoba menggoda bosnya.


Aldo menggeleng kepala melihatnya. Tapi memang benar pikir Aldo. Ia juga sama halnya dengan Galen, merasakan lega saat berbuka puasa setelah Rima melahirkan, bahkan Aldo lebih cepat dari Galen. Jika bosnya itu dua bulan baru berbuka puasa, berbeda dengan Aldo. Asistennya itu berbuka puasa setelah masa nifas 40 hari selesai.


Aldo tersenyum mengingatnya.


Di tempat lain.


Seorang wanita cantik yang gigih bekerja demi mendapatkan uang harus berpikir keras mencari kekurangan dana yang ia butuhkan.


Waktu operasi Bu Sarah tinggal dua hari lagi. Besok adalah hari terakhir ia melunasi biaya operasinya. Sandra kekurangan uang. Ia bingung harus mencari kekurangannya dari mana.


Awalnya Sandra memang berpikir untuk menemui Mamih mawar, tapi ia berpikir ulang. Sandra tidak mauberurusan dengan wanita itu, karena sekali terikat dengannya akan sulit lepas dari jeratannya. Sandra tidak mau itu terjadi.


Bi Erma entah dimana dia berada. Bibi nya itu sekaan ditelan bumi, susah sekali untuk menemukannya.


Uang pencarian jaminan kerja yang ia dapat selama beberapa bulan di perusahaan Galen ternyata cukup besar. Dari sanalah Sandra mendapatkan uang. Untuk biaya sehari-hari ia bekerja di sebuah perbelanjaan cukup besar di Jakarta.


"Kemana cari pinjaman uang dua puluh juta itu," gumam Sandra tanpa semangat seraya duduk di bangku halte.

__ADS_1


Sandra sedang menunggu angkutan umum sore itu. Ia baru saja pulang bekerja.


"Cari cewek kayak gitu dimana, bos. Mana ada yang mau nemenin pria saiko kayak gitu. Meskipun enggak nyelayanin tapi geri juga menurut gue, mana mungkin dia gak ngapa-ngapain cewek!" ucap seorang pria yang duduk di samping Sandra.


Sandra melirik sekilas ke arah pria itu.


"Apa bayaran nya mahal... Njirr... Tiga puluh juta sekali nemenin." Ucapan pria di samping Sandra membuat Ia penasaran karena mendengar nominal yang tersebut dalam percakapannya melalui telepon.


"Siap deh, gue cari dulu ceweknya. Tapi ada persen buat gue 'kan, Bang?" pria itu mengangguk mendengarkan seseorang dalam sambungan teleponnya.


"Ok siap, Bang!" sambungan telepon terputus.


"Njirr... Nyari dimana cewek yang rela nemenin pria saiko kaya gitu." pria itu terlihat bingung, ia diam sambil berpikir.


Mendengar nominal yang disebut pria disampingnya, Sandra merasa penasaran pekerjaan apa yang mendapat bayaran sebesar itu.


Sandra berpikir untuk menawarkan diri, karena nominal itu sebanding dengan uang yang ia butuhkan.


Jika aku menawarkan diri bekerja pada pria ini, apa bayarannya bisa langsung dibayar hari itu juga. Lumayan aku punya uang lebih untuk biaya operasi Ibu.


Batin Sandra, Ia harus bertanya kepada pria yang ada di sampingnya ini.


"Permisi, Mas!" pria itu menoleh ke arah Sandra.


.


.


.


Baca kelanjutan cerita nya ya.


Kalau kalian baca Satu cinta dua keyakinan pasti akan nyambung dengan beberapa tulisan di atas.


Mampir ke karya temanku yuk.


seru loh cerita nya, dijamin deh.


Mampir ya...


__ADS_1


.


.


__ADS_2