
Sandra termenung saat melihat wanita tua yang duduk di kursi roda tak jauh dari tempatnya bekerja. Dia adalah ibu dari Tuan Braja, pemilik perternakan tempatnya bekerja.
Seketika ia teringat dengan almarhum ibunya. Pak Budi pernah menceritakan kisah Tuan Braja kepadanya. Keberkahan dan rejeki yang lancar adalah saat Tuan Braja dengan sabar merawat dan mengobati ibunya dari uang yang halal. Otomatis niat yang ia jalankan saat bekerja untuk mengobati sang ibu dengan cara yang halal, Allah akan memberi keberkahan sekaligus kepadanya. Usaha menjadi berkah, lancar dan kondisi ibunya pun sembuh dari sakit kronis yang di deritanya.
Dari cerita itu Sandra sadar kalau selama ini ia salah. Ia tidak berpikir ke arah sana, yang terpenting mendapatkan uang dengan cepat akan ia lakukan dengan cara apapun agar Sang ibu bisa menjalani pengobatan.
Sandra sadar Tuhan mengambil Ibunya dengan cepat karena kesalahannya sendiri. Kesembuhan yang tak kunjung usai karena ia salah dalam memakai uang yang tidak berkah dan halal.
Maafkan aku ibu, aku salah. Mungkin karena aku lah Tuhan tidak mengijinkan dirimu terus diobati dari hasil keringatku yang tidak halal. Sehingga Dia mengambilmu dariku.
Batin Sandra dengan tatapan masih tertuju pada Ibu dari Tuan Braja.
Pengobatan dan operasi pertama, Sandra mendapatkan uang dari hasil menjual diri kepada seorang pria atas jalan Bi Erma. Kesucian pertama yang ia jual mendapat bayaran yang lumayan sehingga operasi pertama ibunya bisa terlaksana.
Kehidupan selanjutnya saat menjadi TKI di Singapura, ia sering mencuri berbagai benda berharga yang kemudian dijual. Hasilnya ia gunakan untuk membeli obat Bu Sarah.
Dan terakhir ia kembali mencoba menjual diri. Sudah terlanjur menurutnya, tapi ternyata tindakan yang ia lakukan salah. Tidak ada perkembangan berarti untuk ibunya.
Sandra meneteskan air mata mengingat semuanya. Penyesalan semakin ia rasakan ketika mendengar nasehat dari Pak Budi itu. Allah tidak akan memberi kelancaran kepada seorang manusia saat ia mempergunakan uang yang tidak halal.
Pak Budi menyemangati nya agar tidak larut dalam penyesalan. Benar apa yang dikatakan pria tua itu bahwa bakti seorang anak tidak sampai orang tuanya meninggal tapi sampai anak itu tiada. Selagi masih bisa bernapas kewajiban anak adalah mendoakan orang tuanya.
Aku merasa semangat hidupku kembali di tempat ini. Memperbaiki diri adalah hal sedang kujalani saat ini.
Ibu... Aku mampu melanjutkan hidup ini tanpamu. Maafkan aku yang belum sempat mengunjungi pusara mu.
Hanya doa yang bisa ku panjatkan untukmu.
Aku sadar, Tuhan telah menegurku karena kesalahan yang ku tempuh saat mengobatimu.
Batin Sandra saat teringat Bu Sarah.
Lekas ia kembali bekerja. Tak ada rasa lelah dirasa. Usai mengerjakan pekerjaannya Sandra duduk berselojor kaki untuk mengistirahatkan kakinya.
Sebenarnya tugas Sandra hanya mencatat hasil pemerahan dan mengukur hasil yang di dapat. Tetapi ia merasa ingin berbaur dengan para pekerja.
Tuan Braja merasa semenjak dibantu Sandra peternakannya semakin berkembang dalam waktu tiga minggu saja Tuan Braja mendapat tawaran kerjasama dari beberapa pabrik.
Cara Sandra memasarkan susu sapi segar miliknya berhasil. Ia terapkan ilmu yang dipelajari saat bekerja di Aksara grup.
Sandra terus mengembangkan senyum saat Ia melihat para pekerja yang mayoritas seorang wanita masih terus memerah susu sapi begitu bersemangat. Sebab hari ini mereka menerima upah kerja setiap minggunya.
"Semenjak ada kamu, upah yang kita dapat lumayan nambah, Sand!" ucap salah seorang ibu yang bernama Bu Weti, ia baru saja keluar dari ruangan Tuan Braja sambil mengintip upah kerjanya di dalam amplop putih yang dia terima.
Sandra lekas berdiri menyambut Bu Weti dan temannya saat mendekat ke arahnya.
"Iya bener, bahkan yang aku dengar Tuan Braja mau menambah gedung untuk tempat sapinya. Ini pasti berkat kamu yang memasakan susu olahan kami ke medsos, Sand!" ibu yang lain menimpali.
__ADS_1
"Kalian bisa saja Bu. Saya hanya memanfaatkan media sosial yang ada, sayang 'kan kalau tidak dipergunakan dengan baik." jawab Sandra sambil tersenyum.
Tiba-tiba keseimbangan tubuh Sandra sedikit oleng. Seorang ibu yang berada di sisi Sandra segera menahan tubuhnya.
"Kamu kenapa, Sand?" Bu Weti terlihat panik.
"Kepalaku pusing, seperti berkunang-kunang!" sahut Sandra pelan.
Tuan Braja yang melihat kejadian itu segera menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" Tuan Braja segera membantu Sandra. Baru saja pria itu akan mengangkat tubuh Sandra, akan tetapi Sandra lebih dulu tersadar.
"Tidak perlu, Tuan! Saya hanya merasa pusing berkunang saja," cegah Sandra menghindar saat Tuan Braja hendak merangkulnya.
"Wajahmu pucat, sepertinya kamu terlalu lelah bekerja. Saya sudah bilang tidak perlu membantu pekerjaan mereka, ada orang yang mengerjakan itu. Kamu tinggal catat saja hasilnya." Tuan Braja terlihat khawatir.
Sandra menangguk pelan. Ia merasa tidak enak mendapat perlakuan baik dari Tuan Braja.
"Saya hanya kurang istirahat, Tuan! Lagian saya tidak betah kalau hanya duduk. Lebih baik membantu mereka agar pekerjaan lebih cepat selesai," balas Sandra seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
Beberapa hari ini Sandra memang merasa kurang enak badan. Napsu makannya sedikit menurun, sehingga wajahnya terlihat sedikit tirus.
"Sekarang pulanglah, istirahat! Besok saya harap, kamu sudah pulih kembali dan bisa menemani saya ke Jakarta. Ada kerjasama dengan perusahaan yang akan menanamkan modal ke peternakan ini," ucap Tuan Braja membuat para ibu-ibu yang mendengar merasa senang.
"Wah, makin maju aja deh peternakan Tuan Braja ini. Dan pastinya upah kita bertambah 'kan, Tuan!" tanya salah seorang ibu yang mendengarnya.
"Doakan saja, investor ini mau menanamkan modal besar di sini. Jadi saya bisa menambah para kerja, yang saya pentingkan susu hasil perah semakin berkualitas." Tuan Braja menambahkan. "Biar saya antar pulang kamu dulu." Tuan Braja menawarkan diri.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi tidak usah ke sini dulu, Biar saya jemput kamu saja. Kita langsung berangkat ke Jakarta. Saya harap besok keadaanmu sudah membaik. Jaga kesehatan mu jangan sampai sakit mu berlanjut," ucap Tuan Braja dengan penuh perhatian yang mendapat lirikan dari Bu Weti dan ibu yang lain.
Sandra mengangguk pelan.
Bu weti merasa perhatian Tuan Braja kepada Sandra sangat berbeda. Bukan hanya sekedar atasan dan bawahan tapi ada perasaan lain.
"Baik, Tuan!" jawab Sandra pelan. Ia tidak menyangka akan kembali ke Jakarta secepat ini.
Sandra pun undur diri bersama Bu Weti dan temannya. Mereka bertiga berjalan kaki menuju rumah masing-masing. Sebab peternakan itu tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
Tuan Braja menatap kepergian Sandra dengan tatapan penuh arti.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah kontrakannya, Bu Weti meledeki Sandra.
"Tuan Braja sepertinya suka sama kamu, Sand!" ujar Bu Weti yang mendapat gelengan kepala dari Sandra.
"Udah terima saja kalau memang benar Tuan Braja menyatakan suka sama kamu, Sand! Sikap dia berubah semenjak ada kamu. Kasian tiga tahun dia hidup dalam kesendirian setelah istri dan anaknya meninggal. Dia menutup diri dari kehidupan luar. Setiap harinya sibuk dengan peternakan ini, sepertinya saat ini dia telah membuka diri." Bu Weti semakin menyudutkan Sandra kepada Tuan Braja.
Sandra sama sekali tidak menggubris ucapan Bu Weti.
__ADS_1
Ia berada di kampung ini bukan untuk mencari pendamping tapi ingin memperbaiki diri dan mencari ketenangan. Ingin menanta hidupnya agar lebih baik lagi.
Tuan Braja adalah seorang duda. Istri dan anaknya meninggal dunia karena kecelakaan yang mereka alami tiga tahun lalu. Hanya Tuan Braja yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Kecelakaan itu membuat sikap Tuan Braja menjadi dingin dan diam. Ia hanya fokus kepada pengobatan sang ibu. Sebab usahanya makin berkembang semenjak ia berfokus kepada Sang ibu saja.
Selama ini bukannya tidak ingin kembali merajut rumah tangga tapi pria berumur itu merasa trauma. Tapi semenjak kedatangan Sandra yang membawa perubahan pada peternakan yang dimilikinya, sikap dingin Tuan Braja perlahan mencair.
Pria yang umurnya berbeda sepuluh tahun dengan Sandra itu mencoba membuka hati untuk mencari pendamping baru.
Di tempat lain.
Seorang pria merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Selama tiga minggu ini Bara sangat sibuk dengan pembukaan pabrik barunya.
Pabrik yang memproduksi susu segar alami, berkualitas tinggi, higienis, dan kaya nutrisi.
Susu sapi yang didatangkan dari peternakan yang berkualitas, higienis dan terjaga kebersihannya.
Bara sedang mencari peternakan yang mau bekerjasama dengannya untuk memproduksi susu sapi berkualitas.
Melihat berita yang disebar Sandra di media sosial, salah seorang yang bekerja dengan Bara merekomendasikan peternakan yang ada di daerah Bandung itu.
"Permisi, Pak!" asisten Bara membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" jawab Bara malas. Rasanya sudah saat lelah tapi dia harus tetap profesional dalam bekerja.
Ia tidak mau usahanya sia-sia. Mendirikan perusahaan sendiri, selama ini ia menjalankan satu perusahaan pemberian Tuan Wijaya. Bara ingin saat pabrik yang ia dirikan berkembang, perusahaan yang ia dapat dari Papa tirinya itu akan ia kembalikan, jika Tuan Wijaya tidak mau menerimanya kembali. Bara akan mengalihkanya kepada Kartika.
"Besok kita kedatangan tamu dari Bandung. Pemilik peternakan Greenfils akan datang ke sini untuk menandatangani kerjasama dengan kita. Perusahaan akan memberikan investasi kepada peternakan itu untuk menambah jumlah sapi. Agar susu sapi yang di hasilkan semakin banyak dan berkualitas," ucap asisten itu dengan tegas dan jelas.
"Baguslah! Jadi kita tidak perlu mencari lagi peternakan yang mau di ajak kerja sama. Cukup satu saja dan bisa diandalkan. Siapakan poin poin yang harus mereka setujui. Atur jadwal siang hari saja, paginya saya ada perlu sebentar." ucap Bara dan mendapat anggukan dari asistennya.
"Siap, Pak! Saya akan atur waktu nya dengan Tuan Braja."
"Tuan Braja?" Bara menyatukan alis mendegarnya.
"Iya... Dia adalah pemilik peternakan yang akan bekerja sama dengan kita, Pak!"
Bara hanya mengangguk pelan.
.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya.
__ADS_1
Ada yang bilang jika sudah jodoh meskipun pergi sejauh mungkin untuk menghindar. tapi Sang Pemberi Rasa akan selalu mempertemukan nya kembali.
Siapakah yang akan mendapatkan hati Sandra kali ini?