
Malam ini tak ada kegiatan apapun di kamar itu. Suasana malam hari di Ora Beach Resort sangat indah dan tenang.
Hanya suara jangkrik, sebagai alunan musik yang menemani malam indah itu.
Aline sangat menyayangkan malam ini, ia tidak bisa berjalan-jalan. Selain tak ada pakaian yang cocok untuk ia kenakan, Aline juga masih merasakan ngilu pada bagian intinya.
Padahal di pesisir pantai, Aline bisa melihat dari jendela kaca. Para pengunjung lain mendirikan tenda. Ada yang beberapa diantaranya yang membakar api unggun. Pastinya akan seru jika bisa ikut bergabung ke sana.
"Kita di sini dulu saja ya, untuk malam ini! Besok setelah si Vivi sudah mendingan kita jalan-jalan kemanapun kamu mau!" ucap Galen sedikit melirik pada bagian bawah Aline sambil mengangkat alisnya.
Cubitan kecil Aline daratkan di perut Galen.
"Mas, ih... Kenapa harus manggilnya Vivi sih!" omel Aline pelan tapi wajahnya menunjukan rasa malu dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Ia geli mendengar Galen menyebut goa miliknya dengan sebutan Vivi.
Cubitan kecil itu sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit malah terasa geli oleh Galen. Pria yang berbaring itu terkekeh pelan. Lalu meraih tangan Aline yang sedang memainkan jemarinya di atas dada suaminya menyusuri perut Galen yang seperti roti sobek dengan sedikit bulu halus di bagian tengah dada.
Aline jadi teringat akan sensasi yang dirasakan akibat bergesekan dengan bulu halus itu. Senyum mengembang di wajah Aline saat mengingatnya.
Dengan tidur beralaskan Tangan Galen. Aline lebih leluasa bermain jemari pada bulu halus yang semakin menggoda imannya.
"Biar Benjhon ada temennya. Si Vivi kan sudah kenal dengan Benjhon. Bahkan mereka sudah bermain bersama beberapa kali. Sampai-sampai Benjhon punya ku ketagihan bermain sama Vivi!" Galen mendaratkan kecupan di kening Aline.
"Ada-ada saja kamu ini, Mas!" Aline terkekeh kecil mendengarnya.
Malam ini tawa canda kembali terdengar di dalam kamar itu, sungguh tempat ternyaman untuk para pengantin baru seperti mereka. Tak ada yang mengganggu, lebih leluasa mengekspresikan suara dan gaya.
Rumah panggung yang berada di tengah laut di apit pegunungan dan pulau yang membuat suasana malam ini semakin sunyi dan tenang. Hanya lampu-lampu kecil yang terlihat menghiasi penginapan tersebut.
Rumah panggung yang Galen dan Aline tempati merupakan rumah yang paling istimewa. Selain luas, rumah itu juga paling besar di antara yang lainnya.
Jembatan penghubung dengan sisi pantai pun hanya menuju ke rumah itu saja.
Rumah menginap kelas VVIP yang Aline dan Galen tempati saat ini.
__ADS_1
***
Matahari masih malu untuk memancarkan cahayanya. Masih terlalu pagi untuk nya memulai bekerja menyinari bumi.
Udara dingin di pagi hari ini, menelusuk masuk ke dalam kamar membuat Sepasang pengantin yang tidur sambil berpelukan itu merasakan dingin yang menusuk kulit mereka. Aline menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia semakin merapatkan tubuh kepada Galen yang juga masih terlelap sambil memeluknya.
Selimut tebal yang mereka pakai tak mampu menghalangi udara dingin yang menyerobot masuk ke dalamnya.
"Ssshhh... " desis Aline, tubuhnya bergidik merasakan rasa dingin yang menerpa kulit.
Tanpa AC suhu udara di sini bisa melebihi alat pendingin ruangan jika pagi hari. Malah yang ada di sisi kamar terdapat alat penghangat ruangan.
Galen membuka mata, ia merasakan gerakan Aline yang terus menempel pada tubuhnya. Lekas Galen merangkul tubuh Aline agar tubuh mereka sama-sama hangat jika saling bersentuhan dna berpelukan. Suhu tubuh akan mengeluarkan kehangatan jika saling bersentuhan.
Aline terus saja bergerak tak jelas sambil memejamkan matanya, Ia mencari kenyamanan di pada kehangatan tubuh Galen.
"Yang..." panggil Galen pelan. ia mulai merasa sesak dalam tubuhnya.
Naluri sebagai seorang laki-laki yang mendapatkan gesekan demi gesekan mulai ber-reaksi.
Sebenarnya Aline sudah bangun tapi malas untuk membuka mata. Hangat tubuh Galen membuat Aline semakin ingin mendekat padanya. Ia tak tahu suaminya menahan sesak karena tingkahnya.
Aline hanya ingin berlama-lama dalam pelukan hangat Galen.
"Jangan banyak bergerak," ucap Galen dengan suara sesak dan tertahan. Gelora panas membara semakin terasa pada tubuhnya. Bahkan rasa sesak itu semakin terasa pada celana pendek ia pakai saat ini.
Benjhon yang ikut terbangun semakin meminta untuk di keluarkan dari sangkarnya. Sepertinya Ia sangat ingin bertemu dengan teman bermainnya Vivi.
Melihat wajah istrinya yang cantik saat terpejam. Bibir seksi nya yang sedikit menganga seakan memanggil Galen untuk menyergapnya. Di tambah baju seksi bagian atas itu menampilan dua buah gunung putih bersih yang menyembul. Galen semakin sesak di buatnya.
Tanpa meminta ijin pemilik bibir mangap yang masih memejamkan matanya itu.
"Aku rindu panggilan seksimu, Yang!" Galen langsung membungkam bibir Aline. Tak peduli dengan aroma mulut sedap-sedap bau yang menguar pada mulut keduanya.
Aline langsung membuka matanya. Tengah asyik merasakan kehangatan malah mendapat serangan dadakan.
__ADS_1
Baju lingerie yang Aline kenakan tak luput dari serangan Galen. Tangan Galen menarik tali yang berbentuk pita pada kedua bahu Aline. Melorot sudah lingerie yang membungkus tubuh putih Aline. Sangat terlihat jelas, jejak kepemilikan sang suami.
Akitivas itu seakan menuntut lebih. Tak akan lama lagi waktunya Benjhon dan Vivi bertemu.
"Ahhh ... Mas ... Ssshhh ... " Suara manja yang membangkitkan jiwa lelaki Galen itu lolos begitu saja dari mulut Aline.
Galen semakin bersemangat untuk bermain lebih. Gunung kembar yang indah di depan matanya tak luput dari serangan Galen. Sesuatu berbentuk bulat bagaikan buah ceri di atas gunung kembar langsung masuk ke dalam mulut Galen. Hisapan pelan lalu memainkannya dengan lidah, membuat tubuh istrinya makin berdesir dan merasakan sensasi hebat. Tangan Galen berinisiatif bermain di atas gunung satunya yang menunggu giliran untuk di hisap.
Sentuhan lembut disertai pijatan gemas pada gunung kembar milik Aline, kembali meloloskan suara seksinya.
"Aku suka suara seksi mu, Yang," ucap Galen melepas hisapannya sejenak, mendongakkan kepala sedikit. Melihat wajah istrinya yang terpejam sambil menengadah kan kepalanya ke atas. Merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan Galen yang terus membuatnya terhanyut dal buaian kenikmatan.
Lekas ia menyergap bibir yang terus meronta mengeluarkan desah an. lalu berbisik. "Masih sakit?" tanya Galen lembut lalu mendapat gelengan kepala dari Aline.
Senyum cerah dengan penuh gairah terpancar dari wajah Galen setelah mendapat jawaban dari Aline. "Setelah ini tidak akan ada rasa sakit." Dalam satu gerakan lembut dan pasti. Meski tak melihat posisi. Si Benjhon akhirnya bisa bertemu Vivi. Vivi tersenyum di sela benang hitam yang menutupinya. Seakan memanggil Benjhon agar segera masuk untuk bertamu.
"Akhhh ...," Aline menutup mulut dengan kedua satu tangannya saat Benjhon mencoba memasuki wilayah Vivi. Sangat pelan dan hati-hati agar Vivi merasakan kelembutan saat Benjhon yang ukurannya sangat luar biasa menggoda mulai masuk bertamu.
Galen menyingkirkan tangan Aline agar tidak menutupi bibirnya. "Keluarkan suara indahmu, Yang! Jangan di tahan," bisik Galen. Ia ingin Aline bebas bersuara. Suara merdu yang akan membuat Galen memacu tenaganya untuk berkerja ekstra dalam proses produksinya.
Galen mulai menggerakan pinggulnya. Benjhon mulai bermain maju mundur dengan Vivi.
Pagi itu, udara dingin berselimut kabut mendadak berubah suasana menjadi hawa panas. Lagi-lagi sentuhan dari pria bertubuh kekar itu mampu membawa Aline seakan terbang melayang ke dunia kenikmatan merasakam pagi pertama di Ora Beach Resort yang bergelora.
.
.
.
Baca terus kelanjutannya ya....
Skip aja kalau terlalu ekhmm.....
tapi jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1
Komen juga jangan lupa ye....