Fake Love

Fake Love
Keinginan Bumil


__ADS_3

Perasaan sedih dan rasa penyesalan kini Bara rasakan. Andai saja ia langsung mengikuti Mama Mariska ketika wanita itu keluar dari rumahnya dengan perasaan kecewa. Mungkin saja kejadian naas itu tidak akan pernah terjadi.


Pagi ini, menaburkan bunga di atas gunakan tanah menjadi hal terakhir yang bisa Bara lakukan. Meski tugas seorang anak tidak putus sampai di situ saja. Ia tetap mempunyai kewajiban mendoakan mamanya hingga tak bisa lagi bernapas.


“Sudahlah, ini telah menjadi jalan hidupnya! Meski sangat disayangkan keinginannya berubah menjadi lebih baik tak sempat dilakukan.” Tuan Wijaya menepuk pelan bahu Bara.


“Bara,” panggil Ayah Wira, ayah kandung Bara. Beliau turut hadir saat mendapat kabar meninggalnya mantan istrinya itu.


“Ayah!” Bara langung memeluk erat tubuh pria yang menghampirinya itu.


“Maafkan semua kesalahan mama padamu!"


“Ayah sudah memaafkannya dari dulu!” balas Ayah Wira seraya meregangkan pelukannya.


“Ayah turut berduka, betul apa kata Tuan Wijaya.” Ayah Wira menoleh ke arah Tuan Wijaya sesaat. Kemudian kembali menatap Bara. “Ini sudah suratan takdir yang harus mama-mu terima! Ayah juga sudah mengikhlaskan semuanya. Kamu harus kuat demi keluargamu dan Kartika. Adik yang satu darah denganmu masih butuh kamu untuk menguatkannya,” ucap Ayah Wira menenangkan kegalauan Bara.


Setiap manusia sudah memiliki jalan takdirnya sendiri. Harus hidup seperti apa dan mati dalam keadaan apa. Kita sebagai manusia hanya mengikuti tapi ketentuannya bisa saja berubah saat kita teguh dan benar-benar mengambil arah yang benar.


Seperti Nyonya Mariska hingga akhir hayatnya mati pun dalam keadaan terbunuh, karena setiap yang kita lakukan semasa hidup itulah yang akan kita petik di akhir kehidupan. Beruntung beliau masih sempat bertemu dengan orang yang pernah di sakitinya. Sehingga kata maaf bisa ia ucapkan, ketenangan ketika ajak menjemput membuat kepergian Nyonya Mariska menutup mata dengan tenang dan damai.


Satu persatu orang-orang yang ikut ke pemakaman bubar. Termasuk Aline, Galen, Oma Ratih dan Tuan Wijaya.


Tinggalah Sandra, Bara dan beberapa anak buah Bara yang berada di sana.


Sandra meraih tangan Bara. Mengajak suaminya untuk orang bersama.


“Mas, kita pulang!” ajak Sandra.


Bara melirik sekilas ke arah Sandra kemudian mengangguk pelan. “Ya.”


Sebelumnya pergi, Bara berjongkok di hadapan pusaran sang Mama.


Sandra dengan sabar menunggunya.


“Mah, maaf! Bara tidak bisa menolong mama kemarin. Semoga mama tenang di alam sana. Maaf... Bara bertindak kejam sama mama, bukan tidak mau menuruti kemauan mama, semua kulakukan karena Bara sayang sama mama. Bara ingin mama berubah tapi harapan Bara tidak sesuai dengan kenyataan. Bara janji akan selalu mengunjungi tempat ini. Terima kasih atas telah memberikan kehidupan layak pada Bara!” ucap Bara sedih. Usapan lembut dan menenangkan ia rasakan dari wanita yang setia menunggunya.


“Mama sudah tenang, Mas! Tugas kita selanjutnya cukup mendoakannya saja. Kita pulang! cuacanya sudah mendung!” ajak Sandra seraya menatap langit yang mulai menggelap.


Bara mengangguk lemah. Ia kecup perut istrinya yang membuncit itu. Kemudian berdiri, kecupan kembali ia daratkan di kening Sandra.


Bara dan Sandra pun melangkah pelan meninggalkan pusara.

__ADS_1


Tepat di saat pasangan itu sampai di dalam mobil, langit gelap menurunkan hujannya. Kembali menyirami tanah merah yang di tutupi banyak bunga itu.


Tatapan Bara tetap mengarah pada pusara sang mama. Meskipun kelakuan mama-nya tidak patut di benarkan. Tapi dia tetaplah orang yang berjasa dalam hidup Bara.


Bara bisa merasakan hidup layak sampai saat ini pun berkat mama-nya meski Nyonya Mariska salah dalam menggapainya.


“Kamu harus ikhlas, Mas!” ucap Sandra pelan sentuhan lembut kembali ia berikan.


Bara hanya membalas dengan anggukan pelan dan


Sandra paham dengan perasaan Bara saat ini. Siapa pun pasti akan membenci kelakuan Nyonya Mariska. Tapi bagi Bara seburuk apapun perilaku sang Mama dia tetaplah orang yang selalu ada untuk Bara.


.


.


Dua minggu telah berlalu. Kehidupan harus terus dijalani. Bara kembali dengan aktivitasnya. Sandra semakin terlihat cantik dengan kehamilannya. Kondisi tubuh ibu hamil di trimester ke dua ini semakin kuat begitu juga dengan kandungannya.


Tidak ada morning sickness lagi yang Sandra rasakan. Ibu hamil di usia kehamilannya yang ke enam bulan ini malah semakin banyak.


Banyak yang Sandra minta dari Bara. Suaminya dengan senang hati mengabulkan setiap permintaan dari istrinya itu.


Seperti malam ini. Saat sedang bersantai bersama di kamar. Tiba-tiba saja Sandra ingin menginap di kediaman Wijaya. Ia ingin bertemu dengan Kartika.


Mendapat sentuhan lembut seperti itu konsentrasi Bara buyar. Aliran-aliran yang bertumpu pada satu titik itu membuat Bara tidak kuasa menahannya.


Sandra lekas bangun dari tidurnya. Tidur yang beralaskan lengan kekar Bara.


“Kita menginap di sana, Yuk!?”


ajak Sandra tiba-tiba saja mengajak pergi ke sana.


Ibu hamil itu terlihat sangat bersemangat sekali dengan wajah yang berbinar bahagia.


“Nanti kita mampir ke warung soto ayah Zaki dulu, Mas! Kayaknya enak deh makan soto bening di sana?” ucap Sandra sembari membayangkan sedang menikmati soto kuah bening di Warung Soto Bang Zaki. Begitu nikmat rasanya, Sandra pun menelan ludahnya sedikit karena bayangannya.


Bara yang sudah terlanjur terangsang oleh sentuhan Sandra tadi berusaha menahannya.


“Ini sudah malam, Sayang! Kita tidur di rumah saja, ya! Lagian malam-malam begini pasti sudah habis sotonya, kamu tahu sendiri kalau warung soto itu selalu ramai.” Bara berusaha menahan keinginan Sandra.


Wajah Sandra langsung berubah sedih.

__ADS_1


“Kita ‘kan belum ke sana, jadi gak tahu masih ada atau tidak. Tapi aku rasa sih masih ada. Sekarang baru jam 7 malam Mas!” ucap Sandra dengan raut wajah yang begitu sedih.


Melihat kesedihan di wajah Istrinya. Bara membuang napas berat. Ia harus menahan keinginan untuk bertempur manja dengan istrinya.


Jika keinginannya itu tidak kesampaian bisa dua hari bahkan lebih Sandra akan mendiamkannya. Ia tidak mau itu terjadi lagi.


Sebab bisa jadi itu adalah keinginan bayinya, Bara mencoba memahami semua tingkah ibu hamil itu. Seperti ucapan Oma Ratih. Turuti saja keinginan istri yang sesungguhnya hamil selagi suami masih bisa memenuhinya. Meski harus menahan rasa sesak yang mendesak di bawah sana.


Bara pun bangun dari tidurannya. Hendak mengganti piyama tidur dengan baju santainya. Ia tidak mau harus puasa selama seminggu ini. Sebab baru tadi pagi ia pulang dari luar kota setelah tiga hari tidak bercampur dengan sang istri.


“Mas mau ke mana?”


“Ganti baju!”


“Ngapain?” Sandra terlihat bingung.


Bara kembali mendekati Sandra yang duduk tegak sambil bersila di tempat tidur. Sandra yang hanya mengenakan penutup baju bagian atas dan celana pendek menampilkan perut buncitnya. Begitu seksi menurut Bara.


“Katanya mau ke rumah Papa?” ucap Bara sembari ikut duduk di samping istrinya.


Sandra langsung tersenyum mendengar ucapan Bara.


“Mas mau antar aku ke sana?” tanya Sandra, Bara pun mengangguk.


“Yey...” Sandra langsung memeluk Bara begitu saja. Merasa bahagia ketika keinginannya terpenuhi.


“Terima kasih, Mas! Muach...” ciuman mendarat sempurna di pipi Bara.


Andai saja saat ini ia boleh egois, Bara ingin sekali menerkam Sandra dalam pelukan.


‘Sabar... Sabar... Turuti dulu keinginan bumil ini, kita petik hasilnya nanti di sana!’


Pikir Bara yang sudah membayangkan hal menyenangkan bersama istrinya.


.


.


...Bersambung


...

__ADS_1


Semoga benar dengan bayangannya Bara. Jangan sampai terjadi dalam angan saja.


__ADS_2