Fake Love

Fake Love
Sifat Jahilnya telah Kembali


__ADS_3

Keduanya diam sesaat. Galen masih memandangi lalu membelai foto wanita yang berada dalam liontin tersebut. Sedangakan Aline berharap ingatan Galen cepat kembali.


"Gal," panggil Aline pelan.


Galen menoleh ke arah Aline dengan senyum yang mengembang. Ia tutup kembali liontin tersebut lalu memakaikannya kepada Aline. sontak membuat Aline mengerutkan alis.


"Gal, Aku kan mengembalikan ini padamu. Kenapa di serahkan lagi?" tanya Aline penuh selidik.


"Meski Aku tidak mengingat kejadian yang sudah lalu, tapi Aku yakin Kamu memanglah pilihan terbaik untukku. Buktinya Aku rela menyerahkan benda yang paling berarti untukku padamu. Itu artinya kamu pun sangat berarti untukku." Galen berucap sungguh-sungguh membuat Aline terharu di buatnya.


Gadis itu menghamburkan tubuhnya memeluk Galen dengan posisi duduk di atas brankar. meluapkan rasa bahagia yang di rasa saat ini.


"Aku sempat berpikir, kamu akan menolakku, Tidak menginginkan keberadaan ku dan akan mengacuhkanku. Aku merasa lega, semua yang kubayangkan tak terjadi." Aline berucap ke telinga Galen.


Galen melepas pelukan Aline lalu meraih kedua bahu gadis itu menatap dirinya. "Ingatanku mungkin tidak ingat semua tentangmu. Tapi perasaan ini akan selalu sama. Kamu tau rasa gelisah dan kekosongan yang kurasakan beberapa hari ini seakan hilang begitu saja saat Aku melihat dirimu. Dan yang paling menyakinkan Aku adalah ini." Galen meraih liontin yang menggantung di kalung yang Ia pakaikan kembali pada Aline.


"Selama ini, kalung ini tidak pernah berpindah tangan kepada siapapun.Jika kamu menerimanya dariku itu sama artinya kamu adalah pilihan terbaik untukku. Kita akan buat kenangan indah di ingatanku yang baru, Aku harap kamu akan bersabar untuk itu."


Aline mengangguk pelan. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. "Tak apa deh ingatan mu tak kembali, juga!" celetuk Aline.


"Loh, bukannya kamu ingin Aku mengingat semua tentangmu?"


"Iya, tapi bukanlah kita akan membuat kenangan yang baru?" Aline menyengir menunjukan senyum manis andalan dengan lesung pipinya.


"Aww ..., sakit Gal!" Aline memegangi hidung yang di cubit gemas oleh Galen.


"Kamu bisa aja, gimana kalau sikapku berubah acuh sama kamu?"


"Jangan!" refleks Aline dengan suara meninggi.


"Sstttt" Jari telunjuk Galen menempel pada bibirnya seraya menengok ke arah Kartika yang sedikit terusik karena obrolan mereka.


Aline malah menunduk sedih. Membuat Galen merasa bersalah saat melihat wajah ceria itu tiba-tiba berubah murung.


"Kenapa ko malah sedih?" Galen meraih dagu Aline untuk menatapnya.


"Aku takut, apa yang kamu ucapkan barusan benar terjadi? kamu akan mengacuhkanku. dan bisa saja saat ini kamu sedang memberikan harapan palsu padaku."


"Hei, ko mikirnya kejauhan. Gak akan Aku seperti itu pol...!"


Aline terkejut dengan panggilan yang dulu biasa Galen ucapkan untuknya.

__ADS_1


"Gal! kamu memanggilku dengan panggilan yang biasa kamu ucapkan?"


"Hah.. apa iya?"Galen sedikit berpikir akan ucapannya barusan.


" Betul, Pol ... kamu sering mengganti namaku dengan sebutan Cepol!"


"Kenapa Cepol, jelek sekali!" cebik Galen. ia ingin menjahili Aline lagi.


"Ish.. itu sebutan dari kamu, bukan Aku!" Aline memanyunkan bibirnya lalu membuang muka ke samping.


"Nanti mau ku ganti. Panggilan yang sedikit manis, jangan cepol!" usul Galen membuat Aline mencibir ke arahnya.


"Terserah, toh kamu juga yang kasih nama itu," cibir Aline.


Sikap sedihnya berubah seketika karena kejahilan Galen kepadanya. Membuat Gadis yang ada di hadapannya itu semakin cemberut dibuatnya.


Sikapnya itu malah semakin membuat Galen gemas. Selain lesung pipi yang ia suka, ternyata Galen senang melihat wajah cemberut Aline dengan bibir sedikit mengerucut karena marah.


"Hahaha..." Galen tertawa renyah, membuat Aline mendelik kearahnya sinis.


"Jangan tertawa!" Aline semakin sebal melihat Galen mentertawakannya. Tapi dalam hatinya ia merasa bahagia, Sifat jahil dan sering membuatnya cemberut sudah kembali. Aline berharap sedikit demi sedikit semua sikap dan ingatkan akan cepat kembali.


Aline melayangkan cubitan kecil di perut Galen. membuat pria yang sedang tertawa itu terhenti. "Sakit... Yank!" nanti kalau bekas operasinya tambah sakit gimana?" keluh Galen.


Galen tertawa menanggapinya. Kejahilannya sudah kembali. Dulu sewaktu belum hilang ingatan. Setiap kebersamaan mereka saat berdua, ada saja kkejahilan Galen ang membuat Aline marah padanya. kadang sampai menangis di buatnya. tapi itu semua menjadi kebiasaan yang unik bagi mereka berdua.


Di sela kemarahannya Aline menarik sudut bibirnya. Sekilas senyum terukir di wajahnya.


"Galen ku perlahan akan kembali," batin Aline.


*


*


*


Beberapa jam telah berlalu. Setelah beristirahat dan Dokter visit sudah memberikan kabar baik kepada Galen. Bahwa Dia sudah di ijinkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan di rumah saja.


Menurut dokter, luka operasi sudah mulai mengering jadi jika ada keluhan baru bisa melakukan kontrol kembali. Dokter hanya mengingatkan untuk tidak terlalu banyak berpikir dan perbanyak istirahat.


Dokter juga memberi semangat kepada Galen agar bersabar jika ingin ingatannya kembali, jangan memaksa berpikir tapi berada di tempat dan bersama orang-orang yang hilang dalam ingatannya perlahan akan membantu ingatan itu kembali.

__ADS_1


Oma Ratih yang sedang asik duduk santai di sofa mendapat kabar dari Aline mengenai Galen merasa sangat bersyukur. Ternyata Aline adalah keajaiban untuk Galen. Setiap dekat dan bersama gadis itu ada kabar baik selalu di terima tentang kondisi Galen.


"Kita harus segera ke rumah sakit, San!" titah Sandra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Apa terjadi sesuatu pada Tuan Galen, Oma?" tanya Sandra khawatir.


"Cucu Oma sudah diijinkan pulang. Oma senang sekali, sebelumnya Oma yakin. kedatangan Aline ke sini akan memberikan perkembangan bagus untuk Galen." Wajah Oma berbinar bahagia mengucapkannya. Wanita itu terlihat bersemangat kembali ke rumah sakit untuk menjemput Galen.


"Dan kamu Sandra sudah di bilang sebut Galen aja, tidak usah pake Tuan! risih oma dengernya, kaya para pengawal dari Papanya Galen saja." cibir Oma Ratih.


"Tapi terdengar tidak sopan Oma. Saya biasa menyebut majikan dengan sebutan Nyonya dan Tuan," sahut Sandra.


"Kami bukan majikan kamu, san. Jadi biasa saja. Anggap kami keluarga dan panggil Galen dan Oma Ratih saja," tegas Oma.


Sandra mengangguk paham. "Oma ... terima kasih banyak. Tuan, eh Galen dan Oma sudah baik sekali mengijikan Sandra ikut sementara bersama kalian. Beberapa hari ini juga banyak yang Oma ajarkan kepadaku. Sandra malu dengan perbuatan yang sudah dilakukan sampai Gaeln harus mengeluarkan uang untuk menebus kesalahan Sandra.


Oma Ratih lekas melambaikan tangannya kepada Sandra menyuruh gadis itu mendekat kepadanya.


Sandra mendekat kemudian ikut bergabung duduk di sofa bersama Oma Ratih.


"Oma tau kamu melakukan itu karena terpaksa. Mendengar ceritamu, Oma yakin sebenarnya kamu anak baik, hanya keadaan yang memaksa kamu berbuat seperti itu." Oma Ratih mengelus pelan pundak Sandra.


Sandra begitu tersentuh mendapat perlakuan hangat dari Oma.


"Terima kasih, Oma!"


"Sama-sama."


.


.


.


.


Mohon maaf kemarin enggak up. banyak yang harus di kerjakan mau lebaran. banyak persiapan juga.


Marhaban ya Ramadhan buat semuanya..


lebaran sebentar lagi.....

__ADS_1


mau mudik kita......


__ADS_2