Fake Love

Fake Love
Pergi Dari Kediaman Keluarga Wijaya


__ADS_3

Dengan terpaksa Sandra melewati tangga darurat. Baru beberapa anak tangga ia turuni, lampu di atasnya mati.


Sandra menjerit saat kegelapan memenuhi ruangan itu.


"Tuan... tolong! Tuan di mana?" Sandra berteriak sambil memanggil Galen. Gadis itu menangis histeris seraya berjongkok lalu memeluk kedua kaki yang ia tekuk. Ternyata Sandra sangat takut akan kegelapan.


Kali ini bukan ulah Galen yang mematikan lampu. Galen mendekati Sandra yang memanggil namanya sebelumnya Ia harus mencari senter yang biasanya di tempel dekat tangga darurat.


"Mama tolong, Sandra takut!" suara Sandra terdengar sedih sambil terisak.


Galen merasa bersalah melihat Sandra yang begitu ketakutan, gadis itu seperti memiliki trauma akan kegelapan. Ia berjongkok lalu memegang bahu Sandra.


"Bangun, jangan nangis! Saya ada di sini!" Sandra mendongak ke arah Galen dengan sambil terisak.


"Tuan!" Sandra langaung memeluk Galen ketika ia melihatnya.


"Saya kira Tuan Galen ninggalin! Saya takut gelap." Sandra malah semakin erat memeluk Galen.


Galen ingin memberontak saat tubuhnya di peluk Sandra. Tapi ketika merasakan tubuh Sandra gemetaran karena takut, Galen membiarkannya. Tangan Galen malah terulur menepuk pelan pundak Sandra untuk menenangkannya.


"Lampunya sudah nyala, kita kembali ke ruangan!" ajak Galen. Ia meregangkan pelukan Sandra dari tubuhnya.


Sandra merasa canggung telah memeluk Galen. "Maaf, Tuan!" ucap Sandra seraya menunduk.


"Hm." Galen kembali menaiki beberapa anak tangga, di ikuti Sandra.


Mereka berdua memilih kembali ke ruangan perawatan melalui lift.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan, Sandra merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ada perasaan nyaman saat bersama Galen. Pelukan yang tadi ia rasakan membuat hatinya tenang. Perasaan seperti ini tak pernah ia rasakan sebelumnya.


...🌴🌴🌴...


"Jangan biarkan dia kembali ke rumah ini, beri penjagaan yang ketat agar ia tidak bisa masuk ke rumah ini lagi!" Suara Tuan Wijaya terdengar menyeramkan saat Nyonya Mariska menyeret kopernya keluar dari kediaman keluarga Wijaya. Lalu beliau memasuki rumahnya, meninggalkan Nyonya Wijaya dan Kartika di depan rumah.


Tuan Wijaya lebih baik menghindar daripada harus mengulang kekerasan kepada Mariska di hadapan Putrinya. Ia mengepalkan tangan menahan emosi. Ingin rasanya menghabisi wanita yang masih berstatus istrinya itu. Setelah mengetahui semua perbuatannya di masa lalu. Andai Ia tahu dari dulu. Tak ingin rasanya ia bertanggung jawab atas kebodohan yang sudah tidur dengan wanita itu di masa lalu.


"Mas ..., Mas Wijaya tunggu! maafkan Saya, mas," panggil Nyonya Mariska lirih. Ia enggak beranjak dari rumah yang selama ini di tempatnya. Tuan Wijaya sama sekali tidak mempedulikan panggilan dan permohonannya. Pandangannya beralih kepada putrinya, Kartika.

__ADS_1


"Kita masuk, Nak! biarkan Mamamu pergi!" Tuan Wijaya menepuk pelan pundak putrinya.


"Sayang..., bantu Mama! tolong bujuk Papamu agar mau memaafkan Mama." pinta Nyonya Mariska.


Kartika menggelengkan kepala dengan wajah sedihnya. Hatinya hancur setelah mengetahui perbuatan masa lalu mamanya sampai saat ini, ia tak mengira Mama yang selama ini sangat ia sayangi tega melakukan perbuatan sekejam itu. Kartika merasa malu telah menjadi putrinya.


"Mah, maaf! Kartika tidak bisa membela Mama kali ini. Harusnya Mama bersyukur Papa tidak menjebloskan Mama ke polisi, karena perbuatan Mama. Kartika kecewa sama Mama," ucap Kartika dengan linangan air mata.


Setelah mengutarakan kekecewaan kepada sang Mama. Kartika berbalik badan hendak meninggalkan Nyonya Wijaya. Tetapi langkahnya tertahan satu mendengar umpatan dari mulut sang Mama.


"Dasar anak tidak tau diri, Aku ini orang yang melahirkan kamu, mana balas budimu sama Mama!" Nyonya Mariska mengumpat kesal pada putrinya.


"Minggir kalian!" bentaknya pada beberapa penjaga yang di perintahkan untuk membawa keluar Nyonya Mariska dari kediaman keluarga Wijaya.


Nyonya Mariska berjalan meninggalkan rumah megah itu. Wanita itu tak berhenti mengumpat kesal kepada Suami dan putrinya.


Kartika menangis tersedu mendengar umpatan Nyonya Mariska untuk dirinya.


Masih dengan air mata berlinang, gadis itu berdiri bersandar di balik pintu yang sudah tertutup rapat.


"Sudah, Non. Jangan menangis lagi! Non Kartika berdoa saja, semoga mamanya Non bisa merubah sikap dan kelakuannya," bujuk Mbok Yem dengan sentuhan mengelus pelan pundak Kartika.


"Aku gak nyangka Mama sejahat itu mbok!" Kartika masih saja menangis.


Mbok Yem dengan penuh kasih menenangkan Kartika. gadis cantik yang ia asuh dari kecil sampai dewasa hingga tumbuh menjadi gadis cantik dan baik hati karena asuhannya. Ia membiarkan Kartika menumpahkan kesedihan dalam pelukanya.


Dari bayi, Kartika lebih banyak di asuh oleh Mbok Yem. Setelah menjadi Nyonya satu-satunya di keluarga Wijaya, hal yang sering di lakukannya hanya bersenang-senang dan menghabiskan uang.


Setelah merasa cukup tenang. Mbok Yem mengajak Kartika untuk beristirahat karena waktu sudah malam.


"Istirahat dulu, ya, Non! InsyaAllah semua akan baik-baik saja, Mbok Yem doakan yang terbaik untuk Non Kartika!" Mbok Yem melepaskan perlahan pelukannya.


"Terima kasih. Andai Mama punya hati sebaik dan selembut Mbok!" Kartika kembali memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Mbok sudah anggap Non seperti anak sendiri, loh. Jadi jangan sedih lagi, ya!" Sentuhan halus dari tangan Mbok Yem membuat Kartika tenang. Ia di antar Mbok Yem untuk beristirahat.


Suasana di luar sudah aman dan tenang. Itu menandakan Nyonya Wijaya sudah pergi dari kediaman mewah keluarga Wijaya.

__ADS_1


Di ruang kerja Tuan Wijaya.


"Blokir semua kartu debit yang ia miliki. Urus segera perceraianku dengannya. Kalau dia meminta banding, berikan pilihan kepadanya. Memilih mendekam di penjara dan perusahaan yang sedang di jalankan Bara di ambil alih Aksara grup atau segera menandatangani perceraian tanpa banding," ucap Tuan Wijaya tegas penuh amarah.


"Satu lagi, siapakan pesawat pribadi besok siang. Kita akan kembali ke Singapura bersama Aline," titahnya pada Tomy.


"Siap Bos."


Setelah menutup telponnya. Tuan Wijaya memandangi foto dalam figura besar yang masih rapi terpasang selama tiga puluh tahun itu.


Kamar yang selalu di jaga kebersihannya. Tak boleh siapapun di ijinkan oleh Tuan Wijaya selain dirinya memasuki kamar tersebut kecuali Mbok Yem. Satu-satunya aasisten rumah tangga kepercayaannya Tuan Wijaya.


Semua kenangan tentang Nyonya Indira tersimpan rapi sampai saat ini. Tuan Wijaya mendekati foto tersebut lalu membelainya perlahan.


"Ra, hari ini rasanya perasaan ini lega. Maaf... Maafkan Aku yang bodoh ini, Aku bodoh malah memasukan orang yang sudah menghancurkan rumah tangga kita ke dalam istana kita, Ra." Tuan Wijaya berbicara seraya memandangi foto Indira yang terlihat cantik di figura itu.


"Kini, kamu bisa tenang, Ra. Aku janji akan membuat anak kita bahagia. Semoga yang aku lakukan kali ini, bisa menebus rasa bersalahku selama ini, Ra. Maafkan Aku. Kamu akan selalu jadi wanita yang mengisi hati ini, selamanya ... " lirih Tuan Wijaya. Pria yang selalu bersikap Wibawa dan gagah itu, terlihat rapuh. Air matanya terus membasahi pipi.


Setelah meluapkan kesedihannya tanpa ada orang yang mengetahui. Tuan Wijaya duduk di sofa lalu menyandarkan kepala agar lebih nyaman memejamkan mata dengan satu tangan yang menutupi nya.


Sesaat ia memejamkan mata, Tuan Wijaya tersigap bangun dari posisinya karena terkejut dengan sosok bayangan dalam benaknya.


"Kenapa dia hadir dalam pikiranku?" Tuan Wijaya termenung dengan sosok wanita yang tersenyum manis kearahnya.


.


.


.


.


Yang menanti kehadiran Aline sabar ya.


habis bab ini, Author pasti akan tulis kisah Aline lagi...


Terima kasih sudah menanti Aline.

__ADS_1


Dukung terus ya... like komen dan vote nya jangan lupa.


__ADS_2