
"Bagaimana keadaamu, Nak?" sapa Ayah Zaki pada Galen yang sedikit canggung dan bingung karena lupa dengan sosok yang menyapanya.
"Baik, Om!" Galen tersenyum simpul dengan wajah bingung harus apa karena ia benar tidak ingat siapa pria dan wanita di hadapannya itu.
"Ini ayahnya Aline, Gal!" Tuan Wijaya memberitahu. "Maaf, Zak! Galen kehilangan separuh ingatannya pasca operasi itu."
"Tak apa, Jay. Aku ngerti ko, kondisinya. Mudah-mudahan semua ingatan akan kembali dengan segera." Ayah Zaki mendoakan.
"Maaf, Om!" sambung Galen yang langsung ikut duduk bergabung dengan mereka di ruang tamu.
"Gak pa-pa, keadaanmu sudah pulih saja sudah menjadi rasa syukur buat, Om! kalau bukan karena ego yang Om pertahankan, mungkin keadaanmu tidak akan separah seperti kemarin!" sesal Ayah Zaki.
"Sudahlah! yang sudah terjadi jangan di bahas lagi. Itu semua keegoisan kamu dan Aku, Zak! untuk kedepannya Aku akan mendukung hubungan Aline dan Galen." Tuan Wijaya menatap Galen. Sedangkan Ayah Zaki mengangguk menyetujuinya.
"Lalu di mana Aline?" Ayah Zaki mengedarkan pandangannya mencari sosok putrinya.
"Aline tertidur di kamar Galen, sepertinya dia lelah," sahut Oma Ratih.
Ayah Zaki langsung mengalihkan pandangannya ke arah Galen memberikan tatapan penuh selidik kepadanya.
"Aline sepertinya kecapean, Om. Aku memintanya bercerita tentang kisah kami. Om, tidak perlu khawatir Aku tidak berbuat apapun meski dalam satu ruangan dengan putri Om." Galen segera memberikan penjelasan agar mereka tidak salah paham.
"Bagus kalau begitu, Om tidak akan membiarkan putri Om, tersentuh sebelum kalian sah menjadi suami istri, Om akan mengajak Aline pulang setelah ini, kalian jangan terlalu sering berdua, harus ada yang menemani jika kalian bertemu," sambung Ayah Zaki dengan nada tegas dan tatapan penuh selidik.
Bu Winda yang berada di samping Ayah Zaki menggelengkan kepala melihat sikap suaminya yang begitu otoriter kepada putrinya itu.
"Maafkan sikap Bang Zaki, Oma!" bisik Bu Winda kepada Oma Ratih yang duduk bersebelahan dengannya.
"Kamu tenang aja, Zak. Banyak orang di sini. Tidak mungkin mereka melakukannya," Tuan Wijaya menimpali.
"Hmm ..." Deheman Galen membuat semua yang sedang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Kalau begitu, mumpung ada keluarga Aline di sini! sekalian aja, Aku ijin untuk melamar Aline hari ini," ucap Galen membuat semua orang yang yang duduk santai terkemut karena ucapannya.
"Jangan ngadi-ngadi kamu, Gal. Apa kamu yakin dengan ucapanmu? Ingatanmu belum sepenuhnya kembali," Tuan Wijaya menegaskan.
"Mau kembali atau tidak ingatanku, kalau Aku yakin akan perasaan ini apa salah?" Galen memandang Papanya dengan penuh keyakinan.
Tuan Wijaya mengangguk pelan lalu menoleh kepada Ayah Zaki dan Oma Ratih. "Menurut kalian bagaimana?" Tuan Wijaya meminta saran.
__ADS_1
"Kalau niat dan ucapanmu sudah yakin. Om tunggu di kehadiran kalian dirumah kami, untuk membahas ini. Kamu juga harus membicarakan ini dengan Aline. Karena keputusan ada di tangannya. Kali ini, Om tidak akan melarangnya. Om hanya ingin kebahagiaan untuknya sekarang ini." Ayah Zaki berbicara tegas.
"Saya yakin, Om. Terima kasih untuk dukungannya."
Mereka pun berbincang perihal rencana selanjutnya yang akan di laksanakan untuk persiapan lamaran. Meskipun ingatan Galen belum sepenuhnya kembali, tapi menurutnya sama saja. Dalam ingatan yang baru ini juga ia akan menjalaninya bersama Aline.
Ia merasa yakin terhadap Aline. Padahal hanya selang beberapa hari Aline dan Galen kembali bertemu. Tapi ikatan perasaan mereka begitu kuat, itulah yang meyakinkan Galen untuk segera meminang Aline.
Di kamar, Aline merentangkan tangan saat terbangun dari tidurnya. "Hoaam" Aline tersadar ini bukanlah kamar miliknya. Ia baru ingat sedang berada di kamar Galen.
"Duh pasti ketiduran lama, nih!" gumam Aline sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Galen lalu ia lekas bangun dari tempat tidur.
"E-eh Non, sudah bangun?" sapa Mbok Yem yang mendapat anggukan dan senyum kamu dari Aline. " Si Mbok di suruh Den Galen lihat Non Aline sudah bangun apa belum, kebetulan pas banget si Non baru bangun,"
"Galennya kemana Mbok?" tanya Aline yang merasa canggung.
"Di ruang tamu kumpul sama Tuan Besar serta ayah dan ibunya si Non!"
Aline membulatkan mata mendengar ucapan Mbok Yem. "Ayahku, Mbok?" Aline menunjuk dirinya sendiri.
Mbok Yem mengangguk lalu meraih gelas bekas jus yang ia bawakan tadi.
Suara canda tawa terdengar dari ruangal tamu berukuran besar di lantai satu. Merasa tidak enak dengan pemilik rumah mewah itu, Aline berjalan pelan menuruni anak tangga hendak ikut bergabung dengan mereka yang masih asyik mengobrol. Entah apa yang di bicarakan mereka sampai saat Aline berdiri di dekat ruang tamu tersebut, mereka tak menyadari kehadirannya.
"Kalau begitu Aku akan secepatnya melamar putrimu, agar kita bisa cepat menimang cuuc," celetuk Tuan Wijaya membuat Aline yang berdiri di dekat mereka terperangah mendengarnya.
"Eh, Aline... sini, Nak!" titah Bu Winda baru menyadari kehadiran Aline. "Sini! duduk dekat Ibu dan Oma!"
Aline yang masih bingung dengan ucapan Tuan Wijaya menurut saja perintah Ibunya. Dengan senyum kamu ia menuruti untuk duduk di antara Bu Winda dan Oma Ratih.
"Akhirnya kalian akan bersama. Tunggu kehadiran Oma dan keluarga untuk datang kerumahmu, Nak!" ucap Oma Ratih seraya mengelus pelan pundak Aline.
Aline mengerutkan alis tidak mengerti apa maksud dari Oma Ratih.
"Sepertinya Aline masih bingung dengan apa yang kita bicarakan?" seru Bu Winda.
"Galen meminta langsung kepada Ayah untuk melamarmu," sahut Ayah Zaki sontak membuat Aline mendongak menatap ayahnya.
"Ayah merestui kalian, tinggal menunggu jawabanmu untuk kelanjutannya." sambung Ayah Zaki sambil menatap balik Aline.
__ADS_1
"Kami menunggu jawabanmu, Nak! jika kamu menyetujui mungkin lusa Om akan secara resmi melamarmu untuk Galen." Tuan Wijaya ikut menimpali.
Antara senang dan bimbang. Semua terjadi secara mendadak. Aline merasa senang hubungannya dengan Galen akan berakhir di pelaminan. Tapi ia masih ragu, apa Galen yakin dengan keputusannya.
"Aku tahu kamu masih ragu dengan keputusanku," Galen akhirnya bersuara karena ia tahu kegelisahan yang di rasakan Aline. "Tapi Aku tak ragu untuk mempersuntingmu karena ku yakin akan perasaanku, meskipun ingatan ini tak kembali pun, yang pasti kedepannya Aku akan menjalaninya bersamamu." Ucapan Galen membuat hati Aline tersentuh.
Dengan senyum yang mengembang serta anggukan pelan tanda menyetujui keputusan Galen.
"Apa itu artinya kamu menerima lamaran Galen, Nak?" tanya Oma Ratih yang berada di dekat Aline menangkap anggukan Aline.
Aline menoleh ke arah Oma Ratih. "Iya, Oma"
"Alhamdulillah," ucap mereka kompak.
"Kalau begitu lamaran secara resmi kita langsungkan lusa. Hari ini anggap saja gladik resik," seru Tuan Wijaya membuat semua orang yang berada di ruang tamu itu tertawa mendengarnya.
.
.
.
.
.
Bersambung >>>
Liburan telah usai.... lebaran udahan..
waktunya kembali ke aktifitas semula.
Author maboookkk.. masuk Anghinnnnn...
berjam jam berada dalam kemacetan membuat tubuh dalam kondisi terserang kelelahan...
Sehat sehat buat semua readers.... tetap jaga kesehatan.
Salam hangat dari Author.. Mayya_zha.. ๐๐๐
__ADS_1