
"Oh, iya. Maaf Bu! Lain kali tidak akan seperti ini lagi." Sandra sedikit membungkuk sopan.
"Mas... kita pulang sekarang!" ajak Aline lalu mendapat anggukan pelan dari Galen.
Galen berdiri dari duduknya.
"Biar saya bantu." Sandra kembali menawarkan diri.
"Tidak perlu saya masih kuat jalan! jika ada yang apa-apa hubungi saya saja jangan hubungi Aldo," ucap Galen dan mendapat anggukan pelan dari Sandra.
"Iya, Pak!" sahut Sandra.
Sandra sudah mengetahui musibah yang menimpa Aldo, kemungkinan beberapa hari ke depan Sandra lah yang akan mengantikan Aldo lagi untuk menemani pekerjaan Galen. Satu bulan ke depan Galen akan sibuk karena ada proyek besar yang harus mereka tangani.
Aldo tetap bekerja meski dari rumah, Ia akan memberi pengarahan kepada Sandra tentang apa saja yang harus di lakukan wanita itu.
.
.
"Tuan Alex hanya kurang istirahat, saya kasih vitamin saja," ucap Dokter Wira, dokter yang biasa menangani keluarga Wijaya. Dokter tersebut sibuk mengeluarkan beberapa vitamin untuk Galen.
Aline yang berada di samping Galen terlihat khawatir. "Tidak ada keluhan lain 'kan, Mas?" tanyanya dengan nada cemas.
Aline menatap sedih Galen yang duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Tidak, Sayang! Yang Mas rasakan hanya pusing dan sedikit mual." Galen berucap sambil menahan rasa kantuk.
Dokter Wira menyuntikkan obat tidur dengan dosis rendah agar Galen bisa istirahat.
"Ini vitamin untuk Tuan Alex, sekarang biarkan ia beristirahat sejenak. Saya sudah menyuntikkan obat tidur tadi," ucap Dokter Wira pelanmempe lalu sedikit menjelaskan beberapa vitamin dengan waktu yang berbeda untuk Galen.
Aline memperhatikan ucapan Dokter Wira agar tidak salah nantinya.
Saat Dokter Wira merapikan barang miliknya ke dalam tas medis. Aline mengalihkan pandangannya ke arah Galen.
Ternyata suaminya sudah terlelap. Obat tidur yang Dokter Wira berikan pada Galen sudah bereaksi.
"Kalau begitu, saya pamit, Nyonya muda! Selamat atas pernikahan kalian. Maaf saya baru mengucapkannya sekarang, karna kita baru hari ini bisa bertemu," ucap Dokter Wira sambil sedikit menundukkan kepala.
"Terima kasih, Dokter! Biar saya antar sampai depan," balas Aline dengan gerakan yang sama.
"Tidak perlu repot- repot, Nyonya. Saya tahu jalan keluar rumah ini!" sahut Dokter dengan sedikit tawa.
"Tidak apa-apa, Dok. Mari!" Aline mempersilahkan Dokter Wira utnuk jalan terlebih dulu.
Dokter Wira keluar dari kamar itu diikuti Aline di belakangnya. Sambil mengantarkan Dokter Wira sampai depan rumah. Aline sedikit berkonsultasi soal program kehamilan kepada Dokter Wira. Ia ingin segera hamil. sudah sebulan lebih ia menikah tidak ada tanda-tanda kehamilan padanya.
"Apa bulan ini Nyonya terlambat datang bulan?" tanya Dokter Wira memastikan.
"Sepertinya iya, tapi seminggu kemarin menstruasi saya hanya flek saja dok, dan itu hanya berlangsung dua hari saja," ungkap Aline menjelaskan.
Karena bulan ini memang Aline terlambat datang bulan tapi seminggu lalu Istri dari Galen itu mengalami flek selama dua hari. Dan itu baru ia alami, biasanya Aline akan melewati silkus menstruasi paling lama seminggu dengan haid yang deras dan lancar.
"Sebaiknya Nyonya periksakan ke dokter kandungan untuk memeriksakannya. Anda dan Tuan Alex juga bisa menanyakan program kehamilan dengan jelas kepada dokter kandungan." sela Dokter Wira, karena untuk masalah kandungan dan kehamilan, beliau tidak bisa menjelaskan secara jelas dan detail.
__ADS_1
"Ya, mungkin sebaiknya begitu. Maaf... Dokter saya tidak sopan bertanya kepada Anda tentang masalah kehamilan." Aline tersenyum kikuk merasa sungkan kepada Dokter Wira, seharusnya ia berkonsultasi dengan dokter wanita.
"Tidak pa-pa Nyonya."
Sampai sudah mereka berdua di depan teras rumah. Aline dengan hormat dan berterima kasih kepada Dokter Wira.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Dokter!" ucap Aline sopan dan lembut.
"Sama- sama, Nyonya!" Dokter Wira berlalu meninggalkan kediaman Tuan Wijaya.
Nyonya muda itu sangat baik dan sopan sangat berbeda dengan Nyonya besar sebelumnya.
Dokter Wira menatap kagum kepada Aline dengan sikap yang di milikinya.
"Bagaimana keadaan Galen, Nak!" tanya Oma Ratih saat Aline baru saja masuk ke dalam rumah.
"Mas Galen hanya kecapean saja, Oma!" balas Aline sambil mendekati Oma Ratih yang berjalan dengan sangat pelan menuju sofa.
Kesehatan wanita paruh baya itu semakin membaik. Semenjak ada Aline perhatian penuh ia dapatkan. Aline sangat memperhatikan keadaan wanita tua itu. Semenjak kepergian Kartika study ke Amerika. Aline hanya berdua dengan Oma saja saat Galen pergi bekerja.
Tuan Wijaya kini sibuk dengan aktivitas barunya. Semenjak perusahaan beralih kepemimpinannya kepada Galen. Duda kaya itu kini sangat menikmati aktivitas barunya, Berkeliling melihat pembangunan majlis di daerah terpencil sambil memantau showroom mobil mewah yang ia jalani sekarang ini. Padahal meskipun tidak bekerja uang yang Tuan Wijaya miliki tidak akan habis tujuh turunan.
"Bekerja jangan di jadikan beban. Anggap saja kita sedang bermain saat menjalaninya. Jangan takut dengan saingan yang akan kita hadapi. Lebih santai saja," celetuk Tuan Wijaya yang baru saja datang dari pintu samping.
Pria yang selalu menolak tua itu baru saja selesai joging sore. Meski sudah berumur Tuan Wijaya tetap rajin berolahraga. Karena itulah tubuhnya tetap segar dan masih terlihat bugar dengan postur tubuh yang berotot. Tak jauh beda dengan Galen.
Tuan Wijaya tahu kalau Galen beberapa kali menanyakan soal para pesaing bisnis yang masih bekerja sama dengan Aksara Grup.
Para pemilik saham masih memperhitungkan kemampuan Galen dalam memimpin perusahaan. Tuan Wijaya yakin Galen bisa lebih baik darinya. Hanya saja kemapuan Galen masih belum terasah.
Berhasil membangkitkan dua perusahaan yang hampir bangkrut dalam waktu beberapa bulan saja sudah menjadi acuan untuk Tuan Wijaya agar Galen menggantikan posisinya.
"Kalian harus saling mendukung dan menyemangati. Jangan dijadikan beban saat memimpin Aksara grup. Papa akan selalu mendukung kalian. Kamu juga jangan terlalu lelah, bukankah perusahaan kosmetik itu sudah ada yang mengelola?" tanya Tuan Wijaya kepada Aline.
Aline mengangguk pelan. "Iya, Pah! Aline hanya memantau saja. Itu juga tidak setiap hari, hanya sesekali saja." jawab Aline.
"Papa harap kamu bersabar dan setia mendampingi Galen, pasti akan banyak cobaan dan rintangan untuk rumah tangga kedepanya saat Galen mengemban tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan. Tapi Papa yakinkan Galen akan selalu ada waktu untukmu. Jangan sampai yang Papa lakukan terulang oleh Galen," ucap Tuan Wijaya sendu.
Pasalnya ia teringat dengan kejadian di masa lalu di mana Tuan Wijaya harus melewatkan waktu bersama dengan almarhum istrinya Nyonya Indira demi perusahaan yang mulai meranjak pada kesuksesan.
Tuan Wijaya harus kehilangan istrinya yang sudah sabar memberi semangat kepadanya. Dan di saat tinggal menikmati hasil dari kesuksesan ia harus melewati nya dengan orang yang tidak ia cinta. Penyesalan bertahun-tahun ia rasakan.
Tuan Wijaya tidak mau Galen mengalami itu.
Tak terasa obrolan mereka bertiga terus berlanjut. Tuan Wijaya terus memberi arahan kepada Aline. Untuk selalu mengingatkan Galen agar tidak terlalu lelah bekerja. Meskipun Tuan Wijaya tahu Galen pasti sedang berusaha meyakinkan para pemegang saham kalau dia pantas menduduki posisinya saat ini.
.
.
Enam bulan telah berlalu. Selama itu pula Galen bekerja keras dengan baik. Galen menunjukkan kerja kerasnya. Perubahan demi perubahan dirasakan seluruh karyawan. Kantor cabang dan beberapa pusat produksi pun tiap minggu menunjukan perubahan yang signifikan karena Galen turun tangan sendiri melihat pengerjaannya.
Semua pekerjaan sesuai arahannya, perombakan penyusunan sistem kerja dan tahap yang Galen lakukan terbukti membuat perubahan besar dalam waktu yang singkat.
Perlahan tapi pasti Galen berhasil menujukan kinerjanya dalam perusahaan. Berkat kepemimpinannya, Aksara grup berhasil memenangkan beberapa penghargaan dan masuk ke dalam perusahaan terbaik pertama di Indonesia.
__ADS_1
Di belakang kesuksesan Galen ada Aline yang selalu memberi support dan setia mendampinginya. Aline sampai lupa dengan keinginannya yang mengharapkan kehamilan pada dirinya. Aline dan Galen kembali kalah start dari Aldo.
Usai keguguran beberapa bulan lalu, Rima kembali hamil. Kali ini usia kandungannya memasuki bulan ke empat.
Semua orang berdecak kagum kepada pemimpin muda itu. Prestasi kesuksesaanya sampai mendapat undangan dari salah satu tabloit pengusaha sukses masa kini.
Awalnya Galen malas melakukannya, tapi atas bujukan Aline akhirnya Galen menyetujuinya
"Mas... Mau ya, cuman sebentar ko, pemotretannya!" Aline merayu Galen saat suaminya itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
"Malas, Yang. Pasti ribet deh!" Seru Galen hendak bersiap-siap berangkat kerja.
"Ribet apanya sih, Gal. tinggal pasang wajahnya aja kok ribet!" Oma ikut nimbrung dalam percakapan Aline dan Galen.
"Benar, Mas! Aku nggak enak loh, sama temenku. Soalnya dia kan fotografer nya kali ini. Dulu dia juga yang bantuin aku." Aline masih merayu Galen.
Ternyata fotografer yang kali ini menangani pemotretan adalah teman yang dulu bekerja sama dengannya semasa Aline menjadi model.
Tuan Wijaya tak banyak berkomentar dan tidak mau ikut campur dengan masalah pemotretan. Karena sifat Galen sama seperti dirinya. Tidak mau ambil pusing dengan urusan seperti itu. Duda kaya itu asik menyantap sarapannya.
"Mas...," rengek Aline membuat Galen mendesah berat. Ia tidak bisa menolak permintaan istrinya.
"Ya sudah! Asal kamu ikut ke sana. Kamu juga harus ikut dalam pemotretan itu, biar semua orang tahu. Di balik kesuksesanku ada wanita hebat seperti kamu." ucap Galen membuat Aline merona sambil mengulas senyum.
Aline mengangguk pelan. "Ya sudah, tunggu aku sebentar ya, Mas. Aku ikut Mas ke kantor!"
.
.
Setelah Galen menyetujuinya. Kini, Aline dan Galen sedang melakukan pemotretan. Lokasi nya berada di kantor perusahaan Aksara grup, karena dalam tabloit tersebut akan mencantumkan beberapa lokasi dan keikutsertaan beberapa karyawannya dalam wawancara dan pemotretan.
Nama Aline kembali terkenal dan di kenal sebagai istri pengusaha sukses untuk kali ini, bukan lagi sebagai artis.
Foto keduanya begitu mesra. Dengan pakaian formal yang Galen kenakan. semakin membuat jiwa kewibawaan dan ketegasan sebagai pemimpin terpancar dalam diri Galen. Tak jauh beda penampilan anggun dan elegan yang di tampilkan Aline membuat para wanita merasa iri kepadanya.
Beberapa karyawan yang melihat penampilan mereka merasa kagum. Atas keberhasilan yang dicapainya saat ini, seluruh karyawan mendapatkan bonus karena keberhasilannya.
Rasa bahagia di rasakan semua karyawan termasuk Sandra. Wanita itu juga ikut senang karena bonus yang ia dapatkan sekarang ini bisa menambah tabungannya.
Karena pengobatan Bu Sarah di tanggung perusahaan, Sarah bisa menyisihkan hampir setengah gajinya untuk ditabung. Dengan harapan bise membeli rumah meski ukurannya kecil dari pada terus mengontrak di tempat tinggalnya yang sekarang, pikirnya.
Beberapa jam melakukan pemotretan dan wawancara Galen akhirnya bisa beristirahat diruang kerjanya. Sandra masih terlihat sibuk dengan pekerjaan. Aline pun berpapasan dengan Sandra di depan ruangan Galen.
"Siang, Bu, Pak!" Sapa Sandra kepada Aline dan Galen.
"Siang ..." balas Aline dengan ramah dan senyum. Sedangkan Galen berlalu begitu saja tanpa melirik kearah Sandra.
Aline mulai melupakan apa yang pernah ia ketahui tentang perasaan Sandra kepada Galen. Aline berharap perasaan itu sudah memudar.
Aline pernah berterus terang kepada Galen tentang apa yang ia lihat pada catatan Sandra. Karena itulah beberapa bulan ini, Galen memilih menghindar dari Sandra. Suami dari Aline itu tidak ingin istrinya berpikiran negatif karena posisinya Galen dan Sandra bekerja dalam lingkup yang setiap harinya harus bertemu.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...