
Saat di perjalanan setelah dari tempat Zaki, Tomy menyerahkan bukti yang sudah ia kumpulan. Bukti perbuatan Mariska yang diam-diam menyedot dana perusahaan ke rekening pribadinya serta bukti yang menunjukan bahwa Istrinya itu selalu menyuruh seseorang untuk membeli obat pelemah saraf dan perusak stamina. Obat itu yang ia tukarkan dengan vitamin yang bisa Tuan Wijaya minum selama ini.
Semenjak berhubungan dengan Seno, Mariska mulai berpikir akan meninggalkan Tuan Wijaya dan membuat kesehatan suaminya terus menurun seakan menderita penyakit kemudian kehilangan nyawanya.
Semua di luar rencana Seno dan Mariska sebelum semua terjadi perselingkuhan dan perbuatannya lebih dulu terbongkar oleh Tuan Wijaya.
"Pantas saja kesehatanku semakin menurun, ternyata ulah wanita jahat itu!" Tuan Wijaya semakin murka melihat semua bukti yang di dapatnya dari Tomy.
Awalnya Tuan Wijaya hanya meminta Tomy mengumpulkan bukti perselingkuhan Istrinya, tapi ternyata banyak kejahatan yang sudah wanita itu lakukan.
Sampai di rumah, Tuan Wijaya harus menahan emosinya demi Kartika. Ia tidak mau putrinya terkejut karena kedatangannya diliputi emosi. Tidak tahan ingin membuat perhitungan dengan Mariska, setelah bertegur sapa dengan Kartika yang bermanja padanya. Beliau segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan meninggalkan Kartika yang terus menatapnya.
Kartika hanya melongo melihat sikap Papanya yang penuh dengan amarah itu.
Brakk..
Pintu kamar dibuka secara paksa oleh Tuan Wijaya. Nyonya Mariska yang duduk di meja riasnya pun terkejut di buatnya.
Kartika mengikuti diam-diam langkah Tuan Wijaya dan mendengarkan semua percakapan orang tuanya di dalam kamar itu.
"Mas, apa-apa sih? tidak bisakah pelan sedikit membuka pintunya?" Nyonya Mariska berdiri lalu menghampiri suaminya. Berharap mendapatkan maaf kali ini. Ia mencoba merayu suaminya.
Nyonya Mariska berjalan pelan menyambut kedatangan suaminya. "Mas ..., maafkan kesalahanku kemarin. Aku juga wanita, Mas! yang butuh perhatian dan kebutuhan batin darimu. Selama ini Aku setia padamu, tapi Kamu tak pernah mau menyentuhku, Mas. Kali ini maafkanlah kekhilafanku, Mas!" Mariska mendekat ke arah Tuan Wijaya lalu memainkan jemarinya pada kerah baju milik Tuan Wijaya. Berusaha merayu suaminya.
Rahang yang di tumbuhi bulu halus dengan wajah yang terukir tampan sempurna meski umur tak muda lagi, itulah yang membuat Mariska begitu memujanya. Sayangnya haus akan belaian seorang lelaki membuat dirinya berpaling mencari kehangatan dari lelaki lain sedangkan Tuan Wijaya hanya sesuka hatinya mau menyentuh Mariska.
"Aww...," jerit Mariska saat tubuhnya di dorong kasar hingga ia tersungkur di atas tempat tidur di belakangnya.
"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu!" bentak Tuan Wijaya dengan tatapan bencinya seraya melemparkan bukti kejahatan yang Mariska lakukan selama ini.
__ADS_1
Nyonya Mariska terkejut dengan tindakan Tuan Wijaya. Lantas ia meraih map kecil yang di lempar ke arahnya hingga melukai pelipisnya. Map yang berisi semua kejahatannya. Dengan tangan gemetar ia buka satu persatu bukti yang ada di sana. Wanita itu mengelengkan kepala, menyanggah semua perbuatannya.
Perasaan takut kini menyelimuti Nyonya Mariska. Nyalinya menciut saat melihat luaoan kemarahan dari raut wajah suaminya.
"Ini fitnah, Mas! bukan Aku yang melakukannya," sanggah Nyonya Mariska dengan nada ketakutan.
"Lalu siapa yang melakukannya? orang suruhanmu?" pekik Tuan Wijaya.
Nyonya Mariska diam tak bisa menyanggah lagi. Wajahnya terlihat bingung dan tak bisa harus apa.
"Kamu bilang ingin mendapatkan kehangatan dariku, tapi diam-diam kamu mau melenyapkanku." Tuan Wijaya mendekati Mariska yang beringsut duduk di tepi tempat tidur.
Tuan Wijaya mencengram leher wanita yang kini tengah dilanda ketakutan karena semua perbuatannya mulai terbongkar.
Nyonya Mariska sekuat tenaga menahan tangan Tuan Wijaya agar lepas dari lehernya. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan pria yang kini tengah berkabut emosi.
"Kamu dalang dari kesalahpahaman Aku, Indira dan Zaki. Kamu juga memperdaya aku agar menidurimu. Dan sekarang Kamu sengaja ingin membuat aku mati perlahan, agar bisa menguasai semua hartaku dengan selingkuhan mu itu 'kan!" Tuan Wijaya semakain geram, ia mengeratkan gigi dan semakin kuat mencekik Nyonya Mariska.
"Selama ini Aku bertahan karena Kartika, kali ini Aku tak akan sudi hidup denganmu! harusnya kamu bersyukur, Aku sudah menerima anak lelakimu dan Aku didik hingga Aku wariskan perusahaan untuknya, tapi kamu tak berperasaan Mariska! sampai kamu tega membuat cerita kalau Indira mengkhianatiku. Kamu wanita tak tau Terima kasih," ujar Tuan Wijaya, ia makin mengeratkan cengkramannya pada leher Mariska dengan kuat.
Kartika yang sedari tadi mendengar percakapan mereka merasa terpukul. Tidak menyangka Mama yang selama ini ia hormati berbuat sejahat itu di masa lalu. Ia juga merasa sedih harus ada di dunia ini karena kesalahan. Meskipun kesalahan Mamanya tidak bisa diampuni, bagaimanapun Ia tetap Mama kandungnya. Ia tidak tega melihatnya merasa kesakitan seperti yang dilihatnya saat ini.
"Papa ..., lepaskan Mama!" Kartika memasuki kamar melihat kemarahan Papanya pada Wanita yang sudah melahirkannya.
Tuan Wijaya sama sekali tidak mendengar ocehan putrinya. Beliau terus aja mencekik leher Mariska.
Kartika memohon dengan bersimpuh di kaki Papanya seraya berusaha melepaskan tangan yang mencekik leher mamanya.
"Kartika mohon Pah?" Kartika menangis tersedu di kaki papahnya.
__ADS_1
Melihat Kartika menangis dan memohon sambil memeluk kakinya. Hatinya sedikit luluh. Perlahan ia lepaskan tanganya dari leher Mariska, membuat wanita itu terbatuk-batuk dan sulit bernapas.
Tuan Wijaya kembali menghempaskan tubuh Mariska seakan tak puas karena Kartika memohon kepadanya dengan tangis sendunya. Kartika membantu Mamanya yang masih berusaha mengatur napas.
"Mama tidak pa-pa," Nyonya Mariska menggeleng lemah. Kartika mengelus pelan pundak dan memberi air minum yang ia ambil di atas nakas untuk Mamanya.
Tuan Wijaya membelakangi mereka berdua. "Kamu masih bisa selamat dari tanganku kali ini. Kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini. Jangan pernah berani muncul di hadapanku. Ingat jangan pernah ada drama lagi untuk perceraian kali ini. Saya beri kamu waktu lima belas menit setelah itu tinggalkan tempat ini!" Tuan Wijaya meninggalkan kamar itu dengan tangan mengepal.
"Mas ... apa tidak ada sedikit pun perasaanmu padaku! Dua puluh lima tahun kita berumah tangga. Apa cinta itu tidak tumbuh untukku, Mas!" teriak Nyoyna Mariska tapi tak di dengar oleh Tuan Wijaya.
Kartika membantu mamanya minum secara perlahan, lalu berdiri seraya meletakkan gelas bekas minum itu di atas nakas.
"Kartika tidak menyangka, Mama akan berbuat sekejam itu kepada Papa!" ucap Kartika dengan nada kecewa.
Nyonya Mariska tersenyumggetir mendengarnya. Semua usahanya selama bertahun-tahun sia-sia. Tapi ia juga tidak akan menyerah.
"Diam kamu! bukannya membela Mama, malah menyudutkan," bentaknya pada Kartika.
.
.
.
Mohon dukungannya ya.
untuk yang sudah mampir jangan lupa like, komen dan votenya.
Kehadiran kalian sangat berarti untukku. jadi tinggalkan jejak kalian ok
__ADS_1
cintah. ๐๐๐,