Fake Love

Fake Love
Melepas Kepergianmu


__ADS_3

Melihat beberapa orang keluar dari pintu rumahnya, Sandra mematung tak bisa berkata. Hanya mata yang bisa mewakilinya. Kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Ibu...," ucap Sandra lirih, napasnya tercekat. Ia berusaha menyingkirkan hal buruk dalam pikirannya. Namun kakinya melangkah sesuai naluri hatinya.


Sandra menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, ibu pasti baik-baik saja," ucap Sandra sambil terus melangkah meninggalkan Bara yang terlihat bingung menatapnya.


Bara mengikuti langkah Sandra yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah yang dipenuhi para pelayat.


"Kamu kemana saja Sand? Dari pagi ibu telepon ponselmu tidak aktif," ucap salah seorang wanita tua yang mendekati Sandra.


Sandra diam mematung seraya menatap tubuh yang berbaring kaku dengan wajah yang tertutupi kain putih menerawang itu.


Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, ingin menangis tapi air matanya serasa kering. Beberapa orang di sekitar jasad Bu Sarah sedang mengajikannya.


Sandra mengedarkan pandangan. Dilihatnya Pak Budi mendekat padanya.


"Pak, mana Ibu? Bukankan aku meminta Bapak mengantarkan Ibu lebih dulu kalau aku belum pulang. Lusa dia operasi dan aku sudah bawa uangnya?" cecar Sandra kepada Pak Budi sambil menggoyangkan pelan tangan pria tua itu. Pria yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Sebab kepada Pak Budi Sandra sering meminta bantuannya.


Bu Marni, istri Pak Budi menahan tubuh Sandra yang meronta meminta penjelasan kepada Pak Budi.


Sandra masih belum terima jika tubuh yang terbujur kaku itu adalah ibunya. Ia dituntun Bu Mirna agar duduk di bangku.


"Duduk dulu tenangkan dirimu!" titah Pak Budi yang ikut duduk di samping Sandra.


"Kamu harus ikhlas, lebih baik jenazah ibumu segera di makamkan. Lebih cepat lebih baik, mengingat kamu sudah hadir dan tahu kondisi Ibumu. Dan... Erma... Bibimu juga sudah mengetahuinya. Jadi---,"


"Bi Erma ke sini? Kapan pak?" serobot Sandra dengan pertanyaannya.


Pak Budi mengangguk. "Sebelum kami berangkat ke rumah sakit." Pak Budi pun menceritakan singkat kejadian yang dialami Bu Sarah.


Bu Sarah itu mengalami syok yang mengakibatkan serangan jantung.


Bi erma datang saat Bu Sarah dan Oak Budi akan berangkat ke rumah sakit. Adik dari Bu Sarah itu memaksa Bu Sarah membantunya. Bi Erma sedang di kejar seseorang yang di dampingi polisi saat mengejarnya. Ternyata Bi erma terlibat kasus penipuan, Wanita itupun di borgol polisi dan Bu Sarah sempat menolongnya, mengejar Bi Erma yang di borgol oleh pria berseragam itu. Kejadiannya begitu singkat, Pak Budi berusaha menolong dan hendak membawanya ke klinik terdekat tapi nyawa Bu Sarah sudah tidak tertolong lagi.


Sandra melipat kedua tangan di atas lutut menyembunyikan wajahnya di sana. Tidak bisa menahan lagi sesak di dada. Air matanya tumpah tanpa bisa di cegah. Sandra menagis tersedu-sedu. Meluapkan rasa sedih yang ia rasakan.


Bu Mirna hanya bisa mengusap punggung Sandra.


"Saya sudah membawa uang untuk operasi Ibu, Pak! Ibu sangat bahagia semalam. Dia juga sangat bersemangat untuk sembuh. Aku mendengar suaranya semalam, Pak!" lirih Sandra tanpa mengangkat wajahnya. Bahunya naik turun seiring derai air mata yang ia luapkan.


Bara ingin mendekati Sandra tapi melihat kondisi wanita itu, ia memilih membantu para warga mengurusi jenazah Bu Sarah.


Para warga menyingkir saat beberapa pengawal meminta mereka memberi jalan kepada beberapa orang yang terlihat berjalan pelan menuju rumah duka itu.

__ADS_1


"Oma," ucap Bara saat melihat Oma Ratih berjalan pelan dengan bantuan tongkat di tangannya.


Bara pun segera menghampiri mereka.


Mengalami Oma Ratih lalu menyapa Galen dan Aline yang ikut melayat ke sana.


Mereka lekas menghampiri Sandra untuk mengucapkan bela sungkawa.


Bagaimanapun Mereka kenal dengan Sandra terutama Oma Ratih. Wanita tua itu sangat senang jika Sandra datang menemuinya, sikap Sandra yang banyak bicara membuat Oma Ratih merindukan kedatangannya. Semenjak kejadian yang membuat harga diri Sandra seakan tidak berharga. Ia malu untuk bertemu Oma Ratih terutama Aline.


****


Di atas gundukan tanah yang masih merah dan basah dengan bertaburan berbagai macam bunga diatasnya adalah tempat peristirahatan terakhir untuk Bu Sarah.


Pak Budi, Bu Mirna dan warga yang lain satu persatu meninggalkan pemakaman umum yang tidak jauh dari kampung Senduruk, tempat dimana Sandra tinggal.


Sandra masih diam meratapi kepergian ibunya. Hanya ada Bara, Galen dan Aline yang tersisa menemani Sandra di sana. Oma Ratih menungu di dalam mobil. Wanita paruh baya itu tidak kuat jika harus berlama-lama berdiri.


Tatapan kosong Sandra berpusat pada pusara Bu Sarah. Sandra teringat dengan permintaan Almarhumah ibunya itu, Beliau selalu berpesan untuk mencari keberadaan ayahnya. Perih, sakit serta sesak jika ingat semua kenangan buruk yang mereka alami berdua. Berharap ayahnya datang kembali untuk membawanya pada kebahagiaan tapi selama dua puluh tahun ini, ayahnya sama sekali tidak menampakkan diri.


Bu... Saat ini engkau telah berada di tempat terindah.


Maafkan aku jika tidak bisa mengabulkan terakhirmu, terlalu sakit jika aku harus bertemu dengan ayah yang sama sekali tidak mengingat keberadaan kita tidak ingat dengan kesakitan ibu.


Rasanya hampa, Bu. Kemana aku harus mengadu keluh kesah ku. Pada siapa aku akan bermanja.


Aku ingin ikut bersamamu, Bu..


Sandra kembali terisak. Derai air mata kembali membasahi pipinga. Rasanya semangat hidup ikut terkubur bersama jasad sang ibu.


"Sand!" panggil Aline yang berdiri di samping Sandra. Istri dari Galen itu menyodorkan sapu tangan ke arahnya.


"Terima kasih," Sandra lekas menggunakan sapu tangan itu untuk mengusap air matanya.


"Ibumu sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah bahagia di tempat barunya. Sebaiknya kita pulang," ucap Aline seraya merangkul pundak Sandra lalu memberikan elusan pelan untuk menenangkannya.


Aline melirik sekilas, anggukan pelan ia berikan kepada Sandra.


Mereka ber-iringan meninggalkan area pemakaman. Rasanya berat untuk Sandra meninggalkan tempat itu. ia kembali menoleh ke arah pusara ibunya.


Aline kembali menggandengnya.


mengajaknya melanjutkan langkah.

__ADS_1


"Oma ingin menemuimu." Aline berbisik seraya menatap mobil hitam di depannya.


Oma Ratih keluar di bantu oleh pengawal yang menemaninya selama Galen dan Aline berada di pemakaman.


Melihat wanita paruh baya itu, Sandra ikut berjalan menghampirinya.


Sandra langsung memeluk Oma, Ia kembali menangis di pelukan wanita paruh baya yang sangat ia rindukan nasehatnya.


Oma Ratih tau semua perih yang Sandra rasakan. Hanya kepada dia Sandra pernah bercerita keperihan hidupnya.


"Aku gagal membuat ibuku tersenyum, Oma!" ucap Sandra lirih.


Oma Ratih memberikan tepukan hangat dan menenangkan pada baju Sandra.


.


"Kamu belum gagal, Nak! Ibu mu akan tersenyum bila melihat kamu bangkit dari keterpurukan. Jangan ratapi kepergiannya dengan kesedihan. Bersedihlah sesaat, tapi bangkitlah untuk bahagia. Kamu berhak bahagia. Saat ini saatnya kamu memikirkan kehidupanmu!" Oma kembali memberikan nasehat yang menenangkan hati Sandra.


"Aku sendiri, Oma! Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." lirih Sandra di sela pelukannya.


Rapuh memang saat ini jiwanya sedang rapuh dan sedih.


Orang yang selama ini ia perjuangan hidupnya telah pergi meninggalkannya. Sandra merasa sendiri.


"Ada Oma di sini yang menemanimu." Oma Ratih meregangkan pelukan mereka. Diusapnya pipi Sandra yang basah karena air mata." Mana Sandra yang Oma kenal wanita kuat dan tegar. Wanita cerewet dan banyak bertingkah." Sandra tersenyum mendengar ucapan Oma.


"Buat ibumu tersenyum melihat keceriaanmu dari sana." Oma Ratih menatap langit, Sandra pun mengikutinya.


Sandra mengangguk pelan. Berbicara dengan Oma memang selalu membuat hatinya tenang.


Aline tersenyum melihat seulas senyuman kembali terbesit di wajah Sandra yang sedari tadi selalu dihiasi kesedihan. Ia memeluk Galen yang berada di sisinya.


Sama halnya dengan Aline. Bara yang baru mengenal sisi lain dari Sandra merasa sedih akan musibah yang menimpanya.


Entah perasaan iba atau perasaan lain yang membuatnya ingin melindungi wanita itu. Wanita yang pernah melalui malam indah berdua dengannya.


.


.


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya..

__ADS_1


__ADS_2