Fake Love

Fake Love
Rujak Sambel Kacang


__ADS_3

Seminggu setelah pemotretan berlalu. Hari ini tabloit yang mencetak berita tentang pengusaha muda tampan telah terbit.


Nama G. Alexander makin dikenal dikalangan pengusaha. Sepak terjangnya dalam berbisnis cukup jadi acuan bagi para investor yang ingin berinvestasi kepada perusahaannya.


Aksara grup makin di kenal. Perusahaan itu makin sukses berada di tangan Galen.


Prestasi yang cukup membanggakan. Kali ini para pemegang saham tersenyum puas akan kepemimpinan putra dari Tuan Wijaya itu. Tegas dan inovatif dalam bekerja tidak jauh berbeda dengan papanya.


Semakin sukses perusahaan semakin sibuk juga untuk Galen. Meskipun waktunya hampir ia habiskan di kantor karena ada proyek besar yang sedang dipersiapkan saat ini Galen tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk Aline. Keduanya saling bergantian meluangkan waktunya.


Seperti sekarang ini, semenjak pembongkaran ruangan terealisasikan, Aline semakin sering menemani Galen dikantor.


Setelah menemani Oma Ratih terapi di rumah sakit, Aline meminta supir untuk menurunkannya di depan kantor suaminya.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gedung Aksara grup. Aline sudah menghubungi Galen saat perjalanannya menuju kantor. Dan Galen mengatakan akan menjemput Aline ke lantai dasar jika ia sudah berada di depan kantor.


"Oma beneran tidak ma ikut sama aku?" tanya Aline sebelum ia turun dari mobil.


"Tidak, Nak! Oma mau langsung pulang saja, rasanya cape," ujar oma Ratih.


"Pak, tolong berhenti di depan gerbang saja!" titahnya kepada pak supir.


"Kenapa berhenti di sini, Sayang!" tanya Oma Ratih lagi.


"Mas Galen minta di belikan rujak sambel kacang yang ada di seberang sana, Oma!" ujar Aline sambil menunjuk penjual rujak yang ada di seberang jalan tepat di depan gedung perusahaan cucunya.


"Anak itu, ada-ada saja permintaannya. Dari kemarin Oma rasa tingkahnya sedikit aneh. Masa tengah malam minta dibelikan Kerak telor, mana pas datang makanannya hanya dimakan sedikit saja." Oma Ratih menggelengkan kepalanya pelan. Lalu sesaat terdiam dengan pemikirannya.


"Apa kamu sudah menstruasi bulan ini?" tanya Oma Ratih membuat Aline ragu untuk menjawabnya.


"Sudah, Oma! Minggu lalu Aline baru saja mengalami flek, hanya berlangsung dua hari saja," jawab Aline sendu. Ia tahu Oma Ratih sangat mengharapkan dirinya hamil. Tapi keberuntungan masih belum berpihak kepada pasangan yang sudah beberapa bukan menikah itu.


"Maaf... Oma!" Aline menunduk sedih.


"Tidak apa-apa, Sayang! Mungkin kalian harus lebih bersabar lagi. Maaf Oma menanyakan hal itu, karena Oma pikir, bisa jadi kamu hamil dan Galen yang mengalami ngidamnya." Oma Ratih beralibi.


Aline tersenyum miris, ia pun sangat berharap kali ini ada janin di dalam tubuhnya. Tapi Aline tidak mau terlalu berharap Ia takut kecewa untuk kesekian kalinya. Karena bulan kemarin saja, Aline mendapatkan kenyataan bahwa hasil test nya masih menunjukan garis satu. Jadi Aline tidak mau terburu-buru.


"Ya sudah, Oma. Aline turun dulu!" Aline meraih tangan Oma Ratih lalu menciumnya dengan takzim.


"Hati-hati, Nak! Oma pulang, sampaikan sama Galen jaga kesehatannya, akhir-akhir ini dia kurang istirahat," sahut Oma Ratih.


"Iya, Oma, Pak supir... Hati-hati ya bawa mobilnya," ucap Aline kepada pak supir.


"Siap, Nyonya. Apa saya harus balik lagi ke sini, Nyah?" tanya Pak supir.


"Ya, sekitar pukul dua siang ya, Pak!" ujar Aline membuat Oma Ratih menatapnya.


"Loh, nggak sekalian saja pulang bareng sama Galen?" Oma Ratih menyahuti.


"Mas Galen ada meeting nanti sore Oma jadi tidak bisa pulang cepat, makanya sekarang Aline ke sini."

__ADS_1


Oma Ratih mengangguk pelan.


Aline melambaikan tangan saat mobil yang membawa Oma Ratih meninggalkannya di depan gedung perkantoran.


Security yang sedang berdiri di dekat gerbang melihat istri dari bosnya hendak menyebrang jalan. Security itu pun berlari kecil mendekatinya.


"Selamat siang Nyonya," panggil security membuat Aline tidak jadi menyebrang jalan.


"Siang, Pak!" Balas Alin ramah.


"Maaf, kenapa Bu Aline ada di sini?" tanya security sopan seraya sedikit menundukkan kepalanya.


"Oh, itu saya mau beli rujak di sana?" Aline menunjuk tukang rujak yang ada di sebrang jalan, security itu pun mengangguk paham.


"Biar saya yang belikan, Bu! siang ini mataharinya cukup terik. Bu Aline bisa tunggu di pos saja biar nggak kepanasan!" Security itu menawarkan diri.


"Apa tidak merepotkan Anda, Pak?"


"Sama sekali tidak Bu!"


Kemudian Aline mengeluarkan uang seratus ribu kepada security yang menawarkan diri kepadanya. Aline juga meminta pria berseragam itu membeli jajanan yang ada di dekat tukang rujak.


"Sekalian sama cilok terus batagor juga ya, Pak!" pinta Aline.


Pria berseragam mengangguk pelan, kemudian pria itu pun sedikit berlari ke arah pendagang tukang rujak untuk membelikan rujak sambel kacang sesuai perintah Aline. Tak lupa dengan makanan lain yang di minta istri bos nya itu.


"Sayang...," panggil Galen yang berlari dari arah pintu keluar gedung perusahaan menuju pos penjagaan.


"Mas... " Aline berdiri dari duduknya, lekas ia meraih tangan Galen lalu menyalaminya. kecupan di kening, Aline dapatkan dari Galen. Hal yang tak pernah terlewatkan oleh Galen setelah Aline menyalaminya.


"Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya Galen merangkul Aline lalu membawanya sedikit masuk ke dalam pos tunggu. "Di sini, panas!" lanjutnya karena cuaca matahari sangat terasa terik sampai Galen harus menyipitkan mata untuk melihat security yang di perintahkan Aline membeli beberapa makanan.


"Tadi mas bilang mau rujak, aku ingat di depan kantor ini ada tukang rujak juga. Jadi sebelum menemui kamu, mending aku beli dulu rujaknya. Meski security yang jalan." Aline menyengir sambil melirik ke arah dimana security yang ia sebut sedang membeli rujak untuknya.


"Kamu bisa menyuruh OB nanti. Di sini, panas, Yang!" ujar Galen sambil mecubit pelan pipi Aline yang semakin cuby.


"Sekalian aja Mas..." sela Aline.


"Sekalian beli jajanan yang ngga jelas! Jangan terlalu sering makan jajanan seperti itu, Yang! Makan yang sehat lebih bagus loh."


Aline mengerucutkan bibir mendengar ucapan Galen. "Itu makanan jelas ko, Mas! aku bosan dengan makanan yang di anjurkan Dokter Mira. Nggak apa-apa ya, Mas? Tidak setiap hari kok?" rayu Aline dengan wajah memohon.


Aline dan Galen memang mengikuti program kehamilan. Semua anjuran dari Dokter Mira, dokter kandungan yang menemani program kehamilan yang di jalani Aline sangat menganjurkan agar makan makanan yang bergizi.


"Gimana gak boleh, orang udah di beli juga." Galen melihat security menghampiri mereka dengan beberapa bungkus makanan di tangannya.


Aline tersenyum malu karena ketahuan sudah membeli makanan itu lebih dulu.


"Boleh, ya, Mas!"


"Apa sih, yang enggak buat istriku. Asal kamu senang, Mas juga senang." Galen merangkup wajah Aline lalu mencium sekilas bibir nya. Membuat Aline melotot tajam kepada Galen.

__ADS_1


"Mas, ini depan umum, loh?" omel Aline dan Galen menanggapinya dengan sikap cuek dan biasa saja. Aline menggelengkan kepala dan mulai terbiasa dengan sikap suaminya.


"Permisi, Bu! Ini pesanan yang ibu minta tadi," ucap security seraya menyodorkan bungkusan makanan itu kepada Aline. Lalu menunduk sopan ke arah Galen.


"Terima kasih, Pak!" balas Aline.


"Ayo... sekarang kita masuk!" ajak Galen. "Pak, ada payung?"


"Ada pak!"


"Tolong ambilkan!"


Security itu langsung masuk ke dalam pos jaga mengambil barang yang di minta bisa pemilik perusahaan itu.


Aline tersenyum mendapar perlakuan manis dari Galen. Orang yang melihat Galen pasti mengira ia bucin tapi bagi Aline itu adalah bentuk perhatiannya seorang suami kepada istri. Galen begitu memperlakukan Aline dengan penuh kasih sayang. Padahal kondisi tubuhnga saat ini kurang fit.


Galen membuka payung yang di berikan security kepadanya. Lalu meraih bungkusan yang Aline pegang. Lekas ia mengajak Aline untuk berjalan beriringan dengannya masuk ke dalam gedung perusahaan.


Dengan tangan yang di genggam suaminya, mereka berdua berjalan sambil melempar senyum kebahagiaan menuju pintu masuk gedung tersebut.


Para karyawan yang berada didekat mereka tersenyum tersenyum saat Aline dan Galen sampai di lobi perusahaan.


Galen menyerahkan payung kepada security yang berjaga. Kemudian kembali merangkul Aline berjalan masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Karyawan wanita yang berada di sekitar mereka berdua menyapa hormat kepada keduanya.


Seperti biasa Galen hanya memasang wajah dingin sementara Aline tersenyum ramah membalas sapaan mereka.


"Oh... So Sweet banget, bos kita. Masih ada stok cowok kaya gitu gak sih!" ucap salah satu karyawan baru yang melihat keromantisan Galen kepada Aline.


"Langka, kayaknya dia satu-satunya makhluk pria yang berwajah dingin tapi romantis sama pasangannya," balas Fitria, resepsionis yang kenal dekat dengan Aline.


"Kamu dekat ya sama bos kita itu? bisa gak ya aku dekati, kali aja bisa jadi yang kedua." ucap Moli salah satu karyawan baru yang menemani Fitira menjadi resepsionis.


"Deket sih, enggak! Siapa yang tidak tahu sih sama Bu Aline. Dia istri Pak Galen yang baiknya luar biasa, dan jangan coba-coba cari muka sama perhatian Pak presdir, deh!" ucap Fitria pelan takut terdengar orang.


"Emang kenapa?" tanya Moli penasaran.


"Bakalan di tolak mentah-mentah sama Pak Galen, bahkan di ceramahin juga. Tak pandang tempat loh bos kita kalu sedang marah. Sama seperti Wulan, karyawan bagian perlengkapan yang jelas-jelas sengaja menggoda Pak Galen. Dia langsung kena damprat karena tingkah dan pakaiannya. Pak Galen Memberi pilihan dipecat atau mengganti gaya pakaiannya yang tidak pantas dipakai saat bekerja. bos kita tuh setia sama satu wanita, banyak yang coba mendekati tapi sikap Pak Galen malah seperti gunung es yang sulit di cairkan." Fitria bercerita singkat.


"Ooh... Wah galak juga ya, tapi smaa istrinya so sweet banget dia." Mira mendengarkan dengan serius ucapan Fitria sambil berucap kagum mengenai Galen.


Beberapa minggu lalu Wulan karyawan yang selalu berpakaian seksi dan genit, terkena damprat oleh Pak Galen. Wulan sengaja menabrakkan dirinya yang membawa minuman dingin sehingga pakaian Galen dan Wulan basah karena tumpahan minuman itu.


Bukannya membantu, Galen malah memperingati Wulan agar bekerja baik dengan memerintahkan berpakaian sopan. Galen juga memberi pilihan kepada Wulan jika masih mau bekerja di perusahaan agar merubah gaya pakaian yang biasa ia pakai. karena Galen merasa risih melihatnya.


Andai saja Aline yang berpakaian seperti itu bisa dikurung seharian di ruangannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya...


__ADS_2