
Kehidupan Derald setelah Chyntia wafat.
"Owekk... Owek ...."
Tangisan bayi yang terdengar memenuhi kamar akan menjadi tangisan terakhir di kediaman Tuan Baskoro.
Hari ini keputusan Derald sudah bulat. Ia akan membawa bayinya yang berumur tepat enam bulan hari ini keluar dari hunian mewah itu. Ia tidak mau putri kecilnya selalu jadi pelampiasan kekesalan kakeknya sendiri.
"Cup... cup... Sayang, kamu ikut ayah, ya. Kita akan pindah ke tempat tinggal yang baru!" ucap Derald sambil menggendong tubuh bayi yang semakin montok dan menggemaskan itu.
Derald begitu cekatan saat menenangkan putrinya. Perlengkapan bayi yang sudah ia siapkan sebelumnya sudah ia letakkan di atas kasur. Tak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian bayi dan susu saja untuk kebutuhan pokoknya.
Selama ini Derald bertahan di rumah Tuan Baskoro karena Zara masih membutuhkan bantuan pengobatan dengan biaya yang cukup besar. Karena jantungnya belum liat benar, kelahiran yang prematur yang mengakibatkan semua ini terjadi kepadanya.
Tapi selama ikut tinggal di sana, Derald sama sekali tidak diperlakukan dengan baik. Tuan Baskoro kerap kali menyebutnya sebagai benalu. Padahal Derald sudah membantu papa mertuanya itu di perusahaan miliknya.
Setelah mengetahui keadaan Zara sudah semakin baik dengan keadaan jantungnya yang stabil, Derald semakin ingin keluar dan tidak bergantung kepada Tuan Baskoro. Untuk biaya hidupnya telah ia persiapkan dengan baik.
Semenjak kepergian Chyntia Derald bertekad menyisihkan sedikit dari penghasilannya agar sewaktu-waktu ia keluar dari rumah mewah itu, Derald punya sedikit tabungan.
Derald berencana akan tinggal kembali bersama ibunya dan Siska. Bu Leli yang sudah sakit-sakitan hanya bisa diam dan duduk dikursi roda. Beruntung ada Siska yang menemainya.
Sudah hampir setengah jam Zara masih menagis. Bayi itu seakan tahu bahwa ia akan di bawa pergi oleh sang Ayah.
"Biar aku yang menenangkan Zara, Mas!" ucap Jasmin yang baru saja datang.
Jasmin baru saja sampai rumah, di ruang tengah gadis itu mendengar suara tangisan keponakannya. Sampai jasmin tiba di depan kamar Almarhum kakaknya, ia melihat Derald, kakak iparnya masih berusaha menenangkan Zara.
"Tidak biasanya Zara sulit di tenangkan," ujar Derald. Zara termasuk bayi yang tidak rewel dan anteng. Entah kenapa hari ini, bayi itu sangat sulit ditenangkan.
"Sini, Sayang! Sama Tante... "
bayi mungil itu langsung menggerakan tangannya ke arah Jasmin.
"Mamama..." celoteh Zara.
Jasmin tersenyum sambil menciumi pipi gembul Zara.
"Tante Jasmin, Sayang!" Derald sedikit berbisik depada Zara yang terus menggerakan tangannya seakan ingin segera di gendong oleh Jasmin.
Jasmin adalah adik kandung dari Chyntia. sifat dan sikap mereka sangat berbeda. Tuan Baskoro kurang dekat dengan Jasmin, karena ia adalah putri bungsunya yang susah diatur oleh papanya. Tidak seperti Chyntia yang sangat penurut kepada Beliau.
"Biarkan saja, Mas! kosatakta anak kecil masih sangat sedikit. Apalagi Zara, dia masih bayi. Pasti kata itu yang jadi celotehan pertamanya. Sini sama Tante!" Jasmin meraih Zara dari gendongan Derald.
Mendengar Zara berceloteh mama kepada Jasmin, ada rasa perih di hati Derlad. Chyntia bahkan belum sempat melihat putri kecilnya itu. Putri yang terlahit cacat karena kebodohan mereka.
__ADS_1
Mata Derald berembun seakan ingin meneteskan air matanya, tapi segera ia memalingkan wajahnya agar Jasmin tidak melihat ia mengusap air matanya.
Dulu pertama kali kenal dengan Derald Jasmin sangat tidak menyukainya. Menurut Jasmin Derald tipe cowok yang terlalu manut sama istri, tidak tegas dan terlalu menggantungkan hidupnya kepada kak Chyntia.
Tapi pemahamannya perlahan berubah, setelah kepergian Chyntia. Derald berperan baik sebagai seorang ayah dan menggantikan posisi seorang ibu. Sikap nya pun berbeda.
Itu yang Jasmin tangkap dari perubahan sikap Derald. Saat Derald bekerja, akan ada pengasuh yang menjaga Zara. Dan ketika pulang Derald lah yang memegang semua kebutuhan Zara dari mandi dan membuatkannya susu, bahkan sampai tidur pun Zara tidak lepas dari Derald, ayahnya.
Berada di dalam gendongan Jasmin, Zara malah tertidur. Jasmin melirik sesaat ke arah Derald, pria itu sedang sibuk mengepak beberapa perlengkapan Zara ke dalam tas lain.
"Apa kamu yakin, akan bawa Zara keluar dari rumah ini, Mas!" tanya Jasmin pelan, badannya sedikit bergoyang karena menimang Zara yang sudah tertidur.
"Ya, aku yakin." Deral berbalik setelah mengusap air matanya.
Jasmin tahu kalau Derald sedang bersedih. Ia melihat mata merahnya Derald seperti menahan tangis.
"Aku tidak mau kami jadi beban untuk keluarga ini. Zara adalah tanggung jawabku, memang benar aku adalah benalu selama ini dalam keluarga ini. Mengharapkan bantuan untuk Zara. Aku hanya menunggu waktu sampai saatnya Zara bisaku bawa keluar," ucap Derald yakin.
"Apa papa sudah setuju dengan keputusanmu?"
"Aku rasa tanpa persetujuannya pun, aku akan tetap bawa dia pergi." Derald menatap putri kecilnya yang sedang tertidur lelap dalam gendongan Jasmin.
Bayi kecil itu dengan lucunya tidur sambil memasukan ibu jari ke dalam mulutnya.
"Jika dia berada di sini, bukankah akan membuat Papa malu akan kehadirannya. Kasian Zara jika terus di sini, kehadiran dia pun sama sekali tidak merubah sikap Papamu, bahkan sekalipun tak pernah dia mau melihat Zara." lirih Derald.
Tuan Baskoro memang sangat keras kepala. Papanya juga memaksa dirinya untuk menikah dengan anak teman bisnisnya agar perusahaan semakin berkembang. Tapi Jasmin adalah tipe anak yang keras kepala dan mampu melawan ia tidak mau hidupnya di atur oleh Tuan Baskoro seperti kakaknya Chyntia.
"Aku bakalan kangen sama Zara," ucap Jasmin pelan sambil memandangai wajah polos tak berdosa itu.
"Kamu bebas untuk datang ke rumah kami, nanti."
Jasmin tersenyum kepada Derald lalu mengangguk pelan.
Derald kembali pada kesibukannya merapikan baju miliknya dan Zara. ia tidak mau berlama-lama lagi di rumah itu. Bu mirna, mamma mertuanya sudah satu bulan ini berasa di Singapore. Wanita yang selama ini membantu merawat Zara itu terkena sakit di bagian kepala jadi ia di haruskan dirawat di sana.
Hubungan Derald dan Jasmin semakin membaik. Jasmin tidak bersikap judes dan galak lagi seperti pertama kali Derald menikah dengan kakaknya. Saat itu sangat jelas terlihat kalau Derald begitu memanfaatkan Chyntia dan takut kepada Almarhumah istrinya itu.
Tapi semenjak kejadian demi kejadian yang ia alami apalagi setelah kepergian Chyntia. Sikap Derald benar-benar berubah. Dari situlah Jasmin kadang membantunya merawat Zara. Sehingga Zara semakin dekat dengan Adik dari Chyntia.
"Aku titip Zara sebentar!"
"Mau kemana, Mas?"
"Masukin arang-barang ini ke mobil." Derald menunjukan dua tas yang ia pegang dengan tatapannya.
__ADS_1
"Oh. Ya." Jasmin kembali menimbang Zara.
"Tante pasti akan rindu sama kamu, gadis kecil.Semoga kamu berlimpah kebahagiaan di tempat baru.Maaf, Tante tidak bisa ikut menjagamu, cantik. Andai saja Tante sudah lulus kuliah, Tante mau kok jagain kamu," gumam Jasmin sambil terus menggoyangkan badannya.
Pipi cubby Zara yang menggemaskan jadi sasaran Jasmin. Ia menciumi pipi cubby itu berulang kali membuat si pemiliknya merasa terganggu. Zara menggerakkan badannya, bibirnya melengking hendak mengeluarkan tangis, tapi mata bayi itu masih terpejam.
"Owekk ... Owek ..." Zara menagis kencang karena guyelan dari Jasmin.
"E-eh.... ko nangis. Maafin Tante, Sayang! cup... cup... anak baik, solehah, cantik, bobo lagi, ya!" Jasmin refleks menimang-nimbang Zara lagi.
Tak lupa sambil bersolawat Jasmin menenangkan Zara yang sedang menangis kencang.
"Ya Nabi salam alaika... Ya Rosul salam alaika... Ya Habib salam alaika... Solawatullah alaika... " Jasmin terus mengulang solawatan sampai Zara berhenti menangis.
Derald yang mendengar suara tangan dari Zara dengan cepat bergegas ke arah kamarnya, takut terjadi sesuatu dengan putri kecilnya. Setelah sampai di depan pintu, langkahnua terhenti saat melihat Jasmin begitu lembut dan keibuan sedang menenangkan Zara. Putri kecilnya itu begitu cepat terlelap kembali.
Padahal Jasmin dan Zara jarang bertemu. Jasmin hanya pulang seminggu sekali atau bahkan bisa dua minggu sekali. Karena ia lebih memilih ngekos daripada tinggal di rumah.
Saat ada Chyntia, Jasmin sama sekali tidak pernah betah ada di rumahnya. Tuan Baskoro pasti terus membandingkannya dengan Almarhum kakaknya itu.
Jasmin lebih suka mandiri.
Derald tersenyum melihat pendangan di hadapannya. "Kasihan sekali putri kecil Ayah, kami sama sekali tidak pernah bertemu ibumu, bahkan merasakan asi nya pun tidak!" lirih Derald.
Kepergian Chyntia serta semua kejadian dan beberapa hal yang dialami Derald telah membuat Derald berubah.
Hinaan dan perlakuan baik yang ia terima dari papa mertua ia anggap sebagai karma untuknya.
Ucapan Jasmin telah membuat hatinya terbuka sesaat setelah kematian Chyntia.
Darisanalah Derald bertekad untuk merubah pribadinya menjadi lebih baik.
Mendapat maaf dari orang yang dulu selalu ia hina dan ia manfaatkan membuat perasaannya lega. Aline sudah memaafkannya. Derald juga berusaha meminta maaf kepada Ayah Zaki dan Bu Winda, ia menagis di hadapan keduanya.
Derald sengaja mendatangi rumah Ayah Zaki khusus untuk meminta maaf kepada keduanya.
Nasehat yang di berikan Ayah Zaki menjadi pegangan untuk dirinya menjalani kehidupan bersama putri kecilnya Zahera Zara.
Doa baik dan semangat pun Ayah Zaki berikan kepada Derlad.
Sekarang hubungan mereka kembali baik. Derald memang sangat membutuhkan bimbingan dan wejangan dari seorang Ayah, sebab itulah Derlad sering berkunjung ke kedai soto Ayah Zaki untuk bertukar pikiran tanpa Aline tahu.
.
.
__ADS_1
Baca kelanjutan ceritanya ya....