Fake Love

Fake Love
Visum


__ADS_3

"Sayang....!" teriak Galen dengan mata yang membulat. Ia sangat terkejut melihat kondisi Aline.


Hal pertama yang Galen lakukan adalah mematikan kran shower yang masih menyala. Lalu bergegas mendekati Aline. Tubuh kekasihnya itu terkulai lemas di lantai kamar mandi. Aline sudah tidak sadarkan diri.


Bu Winda dan Ayah Zaki ikut masuk ke dalam kamar mandi. Ibu dari Aline itu menutup mulutnya dengan mata yang membulat melihat kondisi putrinya. Tubuh Bu Winda ikut lemas tak bertenaga, beruntung Ayah Zaki berada tepat di sampingnya. suaminya itu merangkul tubuh Bu Winda agar tidak jatuh.


"Bu...," lirih Ayah Zaki saat memberikan topangan untuk Bu Winda.


Dengan sigap Galen melepaskan jas yang ia pakai untuk menutupi tubuh Aline. Mata pria itu sudah memerah, hatinya ikut teriris oleh benda tak kasat mata. Begitu perih, di rasa.


Satu tetes air mata akhirnya meluncur tak terbendung di mata Galen. Tanpa banyak bicara Galen mengangkat tubuh Aline yang masih basah itu, membuat pakaian ia kenakan ikut basah.


Begitu hancur hati Galen. Sebegitu parahnya trauma akibat kejadian semalam kepada calon istrinya itu.


"Nab, tolong bantu Galen, saya tuntun Winda dulu!" pinta Ayah Zaki kepada Zainab.


Zainab mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Galen menuju brankar. Di baringkannya tubuh Aline di sana.Kulitnya dingin, saking lamanya ia terguyur air.


Galen membelai wajah dingin sang kekasih. Pucat dengan bibir yang membiru. Satu kecupan di kening ia berikan untuk Aline. Galen menggosok tangannya sendiri lalu menempelkannya di pipi Aline agar sedikit menghangat.


"Aline harus mengganti pakaiannya! klau juga, Gal. Pakaianmu basah," ucap Zainab.


Ayah Zaki memapah istrinya keluar dari kamar mandi dengan pelan, karena tubuh Bu Winda begitu lemah. Ibu mana yang tahan melihat kondisi anaknya seperti Aline saat ini.


"Putri kita, Yah! kenapa jadi begini? apa salah kita?" lirih Bu Winda.


"Jangan seperti ini, Bu! kamu harus kuat."


Bu Winda menggeleng kepala pelan. Tidak tega melihat keadaan tubuh Aline.


Tuan Wijaya terlihat masuk kembali ke dalam ruangan perawatan bersama beberapa perawat, tak ada dokter di sana. Kebetulan dokter jaga sedang ada pasien.


Zainab meminta salah satu perawat mengganti alas tidur karena basah oleh Aline. Ia juga meminta di bawakan pakaian ganti, tak lupa Zainab meminta para pria untuk keluar sementara. Ia akan mengganti pakaian Aline.


"Sebaiknya kamu keluar dulu, Gal! Tante mau ganti pakaian Aline dulu." titah Aline, Galen pun mengangguk pasrah.


Perawat yang tadi di mintai pertolongan datang kembali dengan membawa barang yang di minta Zainab.

__ADS_1


...***...


Kini, Aline telah berganti pakaian. Perawat pun sudah mengganti alas tidur brankar tersebut. Dokter Riyanti juga sudah memeriksa kondisi Aline.


Dengan persetujuan Bu Winda dan Ayah Zaki. Sama seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya dengan mereka berdua. Hari Ini dokter memberikan sedikit obat bius agar Aline bisa melakukan visum.


Dokter terpaksa membius Aline karena gadis itu tidak bisa melakukannya saat sadar. Pihak kepolisian sudah menunggu hasil visum dari keluarga Aline.


Aline hanya di temani Bu Winda dan Galen sebagai saksi pertama yang melihat kondisi Aline saat itu.


Galen selalu berada di samping Aline, tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan kekasihnya itu.


Ruangan Dokter Forsnsik menjadi tempat pemeriksaan yang dilakukan Aline. Dokter memeriksa seluruh kondisi tubuh Aline. begitu juga dengan alat kelamin gadis tersebut. Di haruskan karena itu salah satu hal yang perlu dilakukan agar mengetahui, apa telah terjadi pemerkosaan atau tidak.


Saat pemeriksaan di bagian inti, Galen keluar sebentar dari ruangan tersebut. Setelah selesai Bu Winda kembali memanggilnya.


"Hasilnya akan keluar besok pagi dan akan diambil langsung oleh pihak kepolisian." Dokter itu menjelaskan.


"Apa tidak bisa dipercepat hasilnya?" tanya Galen.


Bu Winda yang masih terlihat lemah berusaha sekuat tenaga untuk menyegarkan dirinya.


"Tak apa, Nak! yang penting semua berkas yang di minta pihak kepolisian sudah selesai." ucap Bu Winda.


Mereka berdua mengangguk paham. Aline pun di bawa kembali ke ruangannya, dibantu beberapa perawat yang mendorong brankar tersebut.


Ayah Zaki, Tuan Wijaya dan Zainab yang menanti kehadiran mereka terlihat cemas.


"Bagaimana Bu?" tanya Ayah Zaki saat istrinya dan Galen kembali ke ruangan.


"Hasilnya besok pagi, dan pihak kepolisian yang akan mengambil hasilnya." tutur Bu Winda.


Drtt... Drttt...


Ponsel milik Galen bergetar dalam kantung celananya.


Galen menyadarinya, lalu pamit kepada semuanya untuk menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Kenapa, Do?" sapa Galen kepada Aldo setelah menggeser tombol hijau.


"Tuan, Ferdi telah di tangkap. Sekarang penjahat itu sedang dalam perjalanan ke Jakarta, di bawa oleh anak buah Tuan Bara."


Galen sedikit mengernyit mendengar nama Bara.


"Dimana bajingan itu sekarang?"


"Anak buah Tuan Bara Menangkapnya di kota Garut, Tuan!"


"Anak buah Bara?" ucapnya Galen dalam hati.


"Kerja anak buat kita apa? sampai orang lain yang harus turun tangan, Do" hardik Galen tapi ada rasa syukur dalam kekesalannya.


"Maaf, Tuan!"


"Bawa dia ke tempat biasa," titah Galen tegas.


"Siap."


Sambungan telpon terputus. Galen segera kembali ke dalam ruangan.


Melihat Bu Winda dengan wajah sedihnya di samping Aline. Galen merasa makin bersalah.


"Maafkan, Galen. Andai saja aku tidak memaksa untuk bertemu, semua tidak akan terjadi. Sayang... maafkan aku!" lirih Galen dalam hati.


Tangannya mengepal kuat, ia ingin segera bertemu bajingan itu untuk memberi pelajaran.


.


.


.


.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2