
Galen dan Aline akhirnya hanya berpamitan kepada Rima. Gadis manis lugu calon dari Aldo. Galen menegaskan agar Bu Rahma segera di bawa ke rumah sakit. Aldo pun mendapat tugas khusus untuk itu.
Saat mobil yang dikendarai Galen hendak keluar pagar. Mobil itu berhenti sejenak agak jauh jaraknya tapi berhadapan dengan Aldo dan Rima.
"Kamu ngapain masih di sini! Cepat pulang jangan sampai ada orang ketiga bersama kalian." tegurnya pada Aldo dengan sedikit berteriak karena jarak Aldo dan Rima sedikit jauh.
"Mas...," cegah Aline tapi tak dihiraukan oleh Galen.
"Baik, Tuan. Saya juga mau pulang!" balas Aldo tegas dan lantang. Sangat terdengar oleh Galen dan Aline.
Cubitan kecil diberikan oleh Aline di tangan Galen. Membuat suaminya sedikit meringis. "Awww ...sakit, Yang!"
"Lagian, Mas ganggu mereka aja, barangkali ada yang sedang mereka bicarakan, penting." Aline merasa sebal dengan sikap Galen. "Kayak sendirinya mau aja kalau di ganggu orang!" Aline makin cemberut saat berbicara.
Galen menggaruk lehernya yang tidak gatal, mendengar omelan istrinya. Entah senang atau kesal kepada Aldo. Mengetahui asistennya itu akan secepatnya melamar Rima dan segera menikah, ia tidak mau tersaingi, terutama di dahului saat merasakan malam pertama. Karena Galen harus bersabar menanti malam pertamanya dengan Aline. Entah kapan itu terjadi.
Galen enggan beranjak dari sana sebelum melihat Aldo ikut pulang bersamanya. Meskipun mereka berbeda kendaraan.
Terlihat Aldo sedang berbicara dengan Rima. Gadis itu hanya tertunduk malu sambil mengangguk pelan menanggapi ucapan Aldo. Sepertinya ada hal yang penting yang diucapkan Aldo.
"Apa sih yang mereka bicarakan? lama sekali?" gerutu Galen. Tidak biasanya seorang Galen menunggu seseorang. Biasanya Aldo yang menunggu dirinya selama apapun itu, Aldo akan sabar menunggunya sampai selesai. Kini terbalik bos yang menunggu asistennya. Sungguh hal yang tak pernah dilakukannya.
Aline memutar bola matanya, jengah melihat Galen. posesif tidak hanya kepada dirinya tetapi kepada asistennya.
"Mas, kamu cemburu sama Rima? karena Aldo kini dekat sama dia?" tanya Aline curiga.
"Hah ... Aku?" Galen menunjuk dirinya sendiri.
"Hm" Aline menatapnya penuh curiga.
Galen menggeleng cepat. "Ada-ada saja kami, Yang! Kalau Aldo dekat dengan kamu baru aku cemburu!" ujar Aldo
"Abisnya, Mas kayak yang gak rela mereka berdua gitu." lanjut Aline.
"Yang, Aku tuh ingin menyelamatkan Aldo dari teman ketiga yaitu setan. Bagaimana kalau kita tidak ada kita, mereka tidak akan sadar kalau berdua. Apalagi asmara sedang membara. Makanya ingin cepat menikah." Galen curiga.
Plak...
"Awww ... Yang, sakit!" kali ini Galen mendapat pukulan di tangannya. Di elusnya bagian yang sedikit sakit itu, sambil meringis.
"Itu sih kamu, Mas, yang punya pikiran jelek sama mereka. Bukankah lebih cepat lebih baik untuk niatan menikah. Kalau Aldo aku percaya mas dia tidak akan berbuat macam-macam apalagi kepada gadis sebaik Rima. Tapi kalau, Mas." Aline mendekik ke arah Galen tatapan nya sedikit menghujam. "Aku tidak yakin kalau itu, Mas."
Galen malah tertawa renyah mendapat tatapan seperti itu dari Aline. "Hahaha... Itu hanya sama kami, Yang!" akunya.
"Heh, gak percaya!"
"Loh, kok gak percaya?"
"Mas gak inget punya mantan yang segitu seksinya siap itu namanya, Bella. Ya, Bella namanya." hardik Aline.
"Sudah... ah, jadi gak asik gini. itu sudah berlalu, Yang! buat Mas, kamu lah satu-satunya yang Mas mau saat ini. Mas sangat menderita menahannya." Galen merebahkan kepalanya di bahu Aline.
"Mas, ih... Sana deh, risih!" Aline menyingkirkan kepala Galen.
__ADS_1
Sikap Aline menjadi lebih sensitif karena gejala menstruasi nya saat ini. Banyak perubahan mood yang ia alami. Emosinya tidak stabil. Begitulah menurut orang-orang, wanita yang sedang datang bulan, perasaannya tidak menentu.
Galen menarik napas berat. Bebannya juga terasa begitu berat. Harus menahan gairah yang menggeloa sekarang ia juga harus menahan sikap agar lebih mengerti sikap istrinya.
"Mas, itu Aldo udah mau pulang!" tunjuk Aline dengan pandangannya.
"Ya sudah, kita juga pulang saja," ajak Galen lesu dan tak bersemangat.
Sebelum berpisah dengan Aldo. Galen kembali memperingati asistennya itu, untuk urusan Bu Rahma. Galen ingin Aldo segera membawanya ke rumah sakit.
Kemudian mereka berpisah arah untuk pulang ke kediamannya masing-masing.
Perjalanan terasa begitu lama. Tak ada percakapan diantara mereka. Aline sesekali menatap Galen. Ia merasa suaminya berbeda. Aline jadi merasa bersalah terhadapnya. Ia juga tidak mengerti kenapa sikap nya berubah-ibah seperti itu. Tersenggol dikit saja rasanya langsung emosi.
"Mas ...," panggil Aline dengan suara pelan sambil menatap wajah sang suami.
"Kenapa?" Galen menoleh sesaat lalu kembali fokus ke jalanan karena ia tengah mengemudikan mobil.
"Kita pulang ke rumah ayah saja, boleh tidak?" pinta Aline lalu menundu, ia takut suaminya menolak karena tadi Galen begitu bersemangat untuk menginap di sana.
Aline tahu suaminya mengajak menginap di apartement karena ingin berdua dengannya.
Untuk sekarang percuma berada di sana kalai dirinya sedang datang bulan, pikir Aline. Tapi ada rasa syukur karena tak bisa dibohongi Aline masih sediki takut saat Aline menyentuhnya, sekuat tenaga ia bertahan agar Galen tidak kecewa karena dirinya.
"Baiklah, kita pulang ke sana!" Galen pun memutar arah kembali ke jalanan menuju rumah Ayah Zaki.
Aline juga mencoba menghubungi ayahnya memberi kabar kalau dirinya dan Galen tidak jadi menginap.
Setibanya di rumah Ayah Zaki. Aline dan Galen sudah di tunggu Ayah Zaki dan Bu Winda di teras rumah padahal waktu sudah hampir tengah malam saat ini.
"Tidak pa-pa, Nak! lagian kamu tidak perlu ijin kepada Ayah kalau mau mengajak Aline pergi. Dia sudah menjadi istrimu, jadi kamu berhak membawanya kemanapun kamu mau!" tutur Ayah Zaki sambil merangkulnya mengajak masuk ke dalam rumah.
Begitu juga Aline.Putrinya itu di gandeng Bu Winda pergi ke kamarnya. "Kita ke kamar mu saja, ada yang mau ini bicarakan sama kamu." Aline mengangguk lalu ia berpamitan kepada Galen lebih dulu.
"Mas ... Aku ke kamar duluan ya?" pamitnya kepada Galen, lalu beralih kepada Ayah Zaki. "Aline masuk kamar dulu, Yah!"
Ayah mengangguk sambil merentangkan satu tangan mempersilakan Aline untuk melanjutkan langkahnya.
Bu Winda menatap Ayah Zaki. Kedua orang tua itu sepertinya sudah bisa menebak apa yang terjadi diantara Aline dan Galen. Keduanya sepakat untuk memberi tahu keadaan Aline tentang hasil Visum kepada Galen lebih dulu. Agar ia tahu keadaan dan kondisi istrinya saat ini.
Sedangkan kepada Aline, ia pasti bisa membedakan perbedaannya nanti setelah dirinya sudah menerima sentuhan lebih dari Galen.
Bu Winda tidak mau mengungkit kembali kejadian kelam malam itu kepada Aline. Takut Akine kembali histeris. Meskipun seharusnya dan sebaiknya Aline tahu kondisi nya sendiri. Bu Winda tidak mau ambil resiko.
Perubahan besar yang Aline alami dua hari ini sudah sangat ia syukuri.
Bu Winda menunggu Aline membersihkan diri dan berganti pakaiannya. Ingin mengajak putrinya bertukar pikiran sebentar sebelum mereka beristirahat.
Sedangkan Ayah Zaki mengajak Galen duduk di ruang keluarga, di tengah rumah. Ia menyuruh Galen menunggunya sebentar. Ada sesuatu yang ingin Ayah Zaki tunjukkan kepadanya.
"Nak Galen," panggil Ayah Zaki. Galen lekas menatap Ayah Zaki yang langsung menyodorkan amplop putih kepadanya.
Galen mengerutkan alis, tapi tangannya terulur untuk menerima amplop tersebut.
__ADS_1
"Bukalah," titah Ayah Zaki. "Baca pelan-pelan." titahnya lagi
Galen lekas membuka amplop itu lalu mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Perlahan ia baca kata demi kata yang tertulis dalam kertas tersebut.
"Itu adalah hasil Visum dari rumah sakit. Maaf Ayah baru bisa memberi tahu mu sekarang."
Tak ada tanggapan dari Galen. Menantunya itu sedang serius membaca setiap kalimat yang membuatnya merasa lega.
Setelah selesai membaca, Galen kembali menatap Ayah Zaki. "Jadi, kehormatan istriku masih terjaga, Yah?"
Ayah Akan mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Aline msih suci. Dan itu juga membuat Ayah lega." ujar Ayah Zaki.
"Apa Aline sudah tahu tentang ini?" tanya Galen.
"Belum, jadi kamu harus bersabar terhadapnya, Ya! Apalagi yang Ayah tahu sekarang Aline sedang datang bulan. Ayah harap kami mengerti kondisi wanita kalau si tamu itu sedang singgah." ungkap Ayah Zaki.
Galen masih belum paham ucapan Ayah Zaki mengenai tamu yang singgah.
"Kalau tamu bulanan mereka sedang datang atau menstruasi. Sikap wanita tidak bisa di tebak. Kadang marah, tiba-tiba sedih. kesenggol dikit aja emosi. hal itu sering dan kerao kali terjadi pada setiap wanita. Ayah belajar memahami itu kalau Ibu sedang dapat tamu bulanan."
Galen mengangguk pelan sambil terus mendengarkan ucapan Ayah Zaki.
"Aline pasti mengalami itu 'kan?"
"Benar, Yah. Aku sempat bingung karena sikapnya yang berubah-ubah."
"Ayah sudah menduganya. Karena Aline sama dengan ibunya pasti bersikap seperti itu kalau sedang datang bulan. Jadi kita sebagai suami belajarlah memahami perubahan mood istri saat keadaan itu. Biasanya istri minta di manja tapi tak mau bilang. Itulah wanita, ingin kita mengerti sendiri. Padahal lelaki ada yang peka dan tidak terhadap keinginannya."
Keduanya melanjutkan obrolan tentang hasil Visum. Ada rasa senang di hati Galen. Ia akan menjadi orang pertama untuk Aline. kehormatannya tetap terjaga meski pernah terjadi pelecehan terhadap istrinya itu.
Beruntung Ia kembali ke rumah Ayah Zaki. Jadi ada teman mengobrol melewati malam ini. Obrolan bersama mertua terus berlanjut. Sebagai sesama suami, Galen mengeluhkan kondisi saat ini. Mau kembali ke kamar tapi takut hasratnya kembali datang. Tidak balik ke kamar takut Akine tambah kesal kepadanya.
"Kamu pasti pusing ya, menahan sesuatu yang harus tertunda," oceh Ayah Zaki seraya tertawa kecil.
Galen bingung harus menjawab apa tapi memang benar yang dikatakan mertuanya itu.
"Banyak jalan menuju roma. Akh ... Ayah tebak kamu pasti belum paham tentang itu. Nanti seiring berjalannya waktu kami pasti pintar mengatasi keinginan si Benjhon mu itu,"
"Bhenjon?" Galen mengerutkan alis.
"Hahaha..... menantu Ayah ternyata masih polos... " Ayah Zaki kembali tertawa melihat wajah Galen yang bingung akan ucapannya.
.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣 Kamu pasti mengerti kalainsidah merasakannya Gal. Sabar ye.. masih dalam ujian dirimu. hati-hati kalah start sama Aldo. 🤣🤣🤣