
"Kenapa, Mas tidak pakai peralatan menyelam?" tanya Aline heran. Galen lah yang pertama berganti pakaian.
Galen malah sangat semangat memakaikan peretelan peralatan menyelam pada Aline. Untuk diri sendiri malah lupa.
Mendengar ucapan Aline, Galen menatap tubuhnya sendiri. Pria itu menepuk jidatnya sendiri. Saking bersemangatnya Galen lupa kalau dia belum memakai peralatan menyelamnya.
"Oh iya aku sampai lupa, Yang! Tunggu di sini sebentar! Aku akan cepat memakainya." Galen berbalik, ia kembali mengambil peralatan menyelamnya.
Dengan cepat ia memakainya. Galen memang terbiasa menyelam. Dulu ia sering melakukan setiap kali liburan. Galen memilih untuk berpetualang. Naik gunung atau menyelam. Itulah kegiatan yang sering ia lakukan semasa liburan sekolah.
Sangat berbeda dengan Bara. Kakak tirinya itu memilih untuk terjun ke dalam sekolah bisnis. Nyonya Mariska memang menginginkannya masuk sekolah itu, semua makin berjalan lancar karena keinginan yang sama dengan Bara. Kakak tiri dari Galen itu. sengaja ingin mendapatkan perhatian lebih dari Tuan Wijaya. Buktinya benar, saat kesuksesan Bara dalam mengembangkan bisnis dari Tuan Wijaya berhasil, perhatian mulai di dapatkan dari Papa tirinya itu.
Kedua pendamping, sudah menunggu Alin dan Galen di ujung jembatan kayu. Mereka akan bersama-sama menyelam.
Galen sudah siap dengan peretelan peralatan menyelam yang menempel di tubuh nya.
Segera ia mendekati Aline. Sebelum menceburkan dirinya ke dalam laut, Aline dan Galen di beri pengarahan lebih dulu oleh pendamping mereka.
Para pengunjung yang melakukan snorkeling tidak perbolehkan menyentuh binatang laut dan mengambil apapun itu dari dalam laut yang bisa merusak ekosistemnya.
Galen sudah sangat paham tentang hal itu karena ia telah berpengalaman sebagai penyelam.
Perlahan Aline dan Galen turun ke dalam laut. Galen membantu Aline agar hati-hati saat memulai penyelamannya karena di sana banyak karang yang bisa saja melukai Aline.
Mempunyai perairan yang cukup tenang membuat kegiatan snorkeling di Pantai Ora jadi lebih menyenangkan.
Yang paling seru lagi. Galen dan Aline bisa melakukan nya langsung dari kamar. Kali ini karena ia perlu pendamping untuk melakukan kegiatannya. Aline dan Galen memulainya dari jembatan yang mempunyai ujung di tepi laut. Terdapat perahu kecil di ujung sana. Perahu itu juga diperuntukkan untuk para pengunjung yang ingin berkeliling laut tenang itu.
Hanya dengan kedalaman sekitar 2-3 meter saja. Para snorkeling bisa menikmati dan melihat semua keindahan bawah laut dari Pantai Ora yang begitu menawan.
Terumbu karang, ikan kecil dan tumbuhan lain yang tumbuh di dasae laut yang begitu indah sudah dapat di liat. Sungguh sangat memanjakan matanya.
Dari manik mata Aline sangat terlihat kalau ia sangat senang dengan penyelamannya kali ini.
Sesekali Galen mengabadikan moment tersebut. Ia menggunakan kamera anti air yang bisa memotret dari dalam air.
Aline begitu menikmati pemandangan bawah laut itu. Ia terlihat bersemangat berkeliling di dalam air. Galen mengikutinya. Dan memberi isyarat kepada Aline agar berhati-hati, terumbu karang di sana sangat licin dan bisa membahayakan
Satu pendamping snorkeling menuntut Galen dan Aline agar ikut dengannya ke tempat yang paling menyenangkan. Melihat ikan nemo dan jenis ikan yang lain banyak terlihat di dalam sana.
Aline kembali menunjukkan ekspresi senangnya dengan gerakan. Tak bisa berbicara, ia hanya melambaikan tangan ke arah Galen yang terus merekam semua kegiatan mereka di dalam air.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling menikmati indahnya pandangan bawah laut. Galen mendekati Aline lalu meraih tangannya agar ikut naik ke permukaan. Sudah terlalu lama mereka di dalam air. Galen tidak mau Aline kedinginan.
Puhh... Byar....
Aline dan Galen tiba di permukaan air. menyusul ke dua pendamping mereka.
Para pendamping penyelamanan itu pun pamit kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Perlahan Aline dan Galen naik ke atas jembatan kayu. Keduanya duduk berselonjor meluruskan kaki mereka.
Aline membuka peralatan menyelam yang membungkus wajahnya. Membuka pelampung dan membuka fin yang berbentuk kaki katak itu.
Galen pun melakukan hal yang sama dengan Aline.
"Indah banget, Mas, pemandangannya. Kapan-kapan kita kesini lagi, Ya?" pinta Aline mendapat jawaban lesu dari Galen.
"Loh kenapa emang, Mas? Kamu tidak suka berlibur ke tempat ini.
"Senang kalau sudah sampai, Mah.Tapi paling membuat kesal dan melelahkan hanya perjalanannya saja." ungkap Galen.
"Tapi terbayarkan oleh keindahan ketempatnya kan, Mas!" sanggah Aline lalu mendapat anggukan dari Galen. "Setelah ini kita kemana, Mas?" tanya Aline lagi.
"Istirahat sebentar! makan siang dulu, nanti kita ke daratan!" titah Galen.
Hanya beberapa menit Aline dan Galen merilekskan tubuhnya. Keduanya berjalan kembali ke kamarnya. Membersihkan diri lalu bersiap untuk makan siang.
Saat memasuki kamar, tiga buah paper bag menyita perhatian Aline.
"Itu apa, Mas?" ucap Aline, matanya mengarah pada paper bag yang berada di atas tempat tóur. Galen mengikuti arah pandang Aline.
"Oh, itu pakaian gantimu. Tapi, aku mau setiap malam, baju dinas yang di kirim Kartika harus tetap di pakai!" titah Galen tanpa ingin di bantah.
"Dih, kenapa begitu?" Aline mendekati tempat tidur. Meraih satu paper bag lalu melihat isi dalamnya. Ada baju casual dan dress cantik di dalam paper bag itu.
"Karena itu tugas seorang istri untuk memanjakan suami. Dan tugas ku juga harus memanjakan istri," Galen melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aline. Lalu kembali meletakkan paper bag yang ada di tangan Aline.
"Sebaiknya kita mandi dulu, masih banyak tempat yang belum kita jelajahi." Galen mulai merasuk, menciumi tengkuk leher Aline dari belakang. Gelenyar yang membuat tubuh merinding nikmat tersalurkan pada tubuh Aline.
"Mas..." Suara Aline tertahan menahan gairah.
Lagi-lagi Galen membuat pertahanan Aline goyah. Sentuhan yang dilakukan suaminya selalu membuat Aline mabuk kepayang.
__ADS_1
Perlahan Galen membuka resleting baju renang yang Aline kenakan. Tangannya begitu lincah membuka seluruh pakaian yang membungkus tubuh indah dan semampai istrinya itu. Berganti dengan pakaian yang melekat pada tubuh kekarnya, ia lepas begitu saja.Bibirnya terus mengecup punggung putih milik Aline.
"Akhh... hm... Mas...!" lengkap Aline.
Galen tersenyum senang mendengar suara desah an dari Aline. Ia semakin bersemangat berbuat lebih. Keduanya kini sama sama polos.
Aline pasrah. Ia membebaskan Galen berbuat sesukanya. Aline masih dalam posisi berdiri. sedangkan Galen sedikit berjongkok di belakang Aline. Dengan cepat Galen membalikkan posisi Aline.
Hutan rimba tempat tinggal Vivi terlihat sangat indah, sampai Galen membuka mulut dan menjulurkan lidah untuk menjelajahinya dengan sentuhan lincahnya.
"Masss... Akhhh..." Aline menarik rambut Galen bukan untuk mencegah, melainkan menekannyabagar lebih dalam dan lama menyentuhnya. Sentuhan Galen pada pintu rumah Vivi membuat wanita yang sedang berdiri tak kuasa untuk mengerang hebat. Kenikmatan yang luar biasa, Sampai kedua kakinya tidak kuat menahan tubuhnya.
Muach... Galen memberikan kecupan terakhir pada Vivi, setelah daerah Vivi terasa lembab oleh ulahnya.
Aline seakan tak bertenaga. tubuhnya lemas. Tapi ini Galen belum mencapai puncaknya.
Ala bridal style, Galen membawa Aline ke sofa. Tubuh dingin akibat berendam terlalu lama, kini merasakan hangat karena penyatuan kulit yang di penuhi gelora panas.
Keduanya bermain di atas sofa. Mencari gaya baru untuk permainan mereka kali ini. Pengantin baru ini akan terus mencari berbagai macam gaya. Mumpung di tempat ini tidak akan ada yang mengganggu mereka berdua
Proses produksi harus berjalan dengan baik sesuai prosedur perkembangan biakan. agar bibit bari cepat tumbuh.
Suara erangan dan ******* kembali terdengar di kamar itu.
Posisi Aline seperti bayi yang akan merangkak, dengan posisi ini membuat aktivitas semakin memanas. Gaya seperti ini dipercaya bisa menimbulkan rasa penyaluran nikmat yang dalam dan luar biasa pada wanita.
Terbukti saat ini Aline begitu menikmati hentakan demi hentakan yang Galen berikan kepadanya. Gerakan yang membuat Aline terus bersuara semakin merdu
Seorang wanita diketahui akan mencapai puncak kenikmatan apabila berhubungan dengan posisi ini.
"Akhh...."
"Mas..."
Keduanya secara bersamaan mencapai nirwana. Galen memeluk Aline dari belakang. Tubuh keduanya runtuh, hingga posisi mereka kini berbaring menyamping dengan tubuh yang masih menempel.
"Terima kasih, Yang!" Galen terus menciumi pucuk kepala Aline. Tubuh dan dahi yang di penuhi peluh keringat karena kegiatan yang menjadi candu untuk ke sekian kalinya.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...