
Rumah Sakit Soedibyo
"Mbak cantik, perlu ditungguin gak?"
"Ga usah, thanks banget ya, Kamu udah nganterin Aku!" ucap Aline dengan lembut dan sopan.
"Gue juga makasih banget Mbak cantik. Ternyata emang bener artis satu ini sopan dan baik. Lain kali gue mau ajakin Lila ketemu sama Mbak cantik, Boleh?" tanya Boy penuh harap.
Aline tersenyum seraya mengangguk. "Kalau lagi gak ada jadwal pemotretan, Aku sering pergi ke taman kota. Ponselmu mana?"
Boy merogoh kantung celana, merogoh ponsel di dalamnya lalu memberikannya kepada Aline. "Nih!"
Aline segera memasukan nomer kontaknya ke ponsel milik Boy. Setelah selesai gadis itu menyerahkan kembali ponsel kepemiliknya.
"Itu nomerku, cuma sekarang ini ponselku tertinggal. Besok pagi Aku libur! ajak adikmu ke taman kota. Kita bertemu di sana!" titah Aline.
"Wah... beneran Mbak cantik. Siap deh. Thanks banget buat semuanya, " ucap Boy seraya mengangkat paper bag yang di terimanya.
"Sama-sama. Hati-hati Boy!" ucap Aline saat Boy hendak pergi setelah mengantarnya."
Pemuda itu hanya memberikan acungan jempol ke arah Aline lalu melakukan motor nya dengan cepat.
"E-eh topinya!" ucap Aline baru sadar topi milik Boy masih dipakainya. Sayang motor yang dikendarai pemuda itu sudah tak terlihat.
Aline memandangi gedung rumah sakit dengan hati yang tak menentu antara takut dan senang.
Kehadiran para penjaga suruhan Tuan Wijaya sudah tak ada lagi di sana. Ingin menghubungi Aldo tapi ia lupa membawa ponsel miliknya.
"Sudah tanggung ada di sini juga, gak usah ngehubungi Aldo, deh!" gumam Aline seraya melangkah dengan semangat menuju lift.
...๐๐๐...
Di ruang perawatan
Galen terlihat tertidur setelah meminum obat. Oma Ratih membiarkannya beristirahat sejenak.
Wanita yang berumur setengah abad itu memandangi cucu satu-satunya yang kini mulai berangsur pulih kesehatannya. setiap harinya ia lihat semangat Galen untuk sembuh begitu besar.
__ADS_1
Oma Ratih penasaran dengan wanita yang sering di hubunginya akhir-akhir ini. Wajahnya selalu terlihat ceria setelah berkomunikasi dengan gadis itu. Sebelum tidur Galen berbicara akan mengenalkannya dengan gadis itu malam ini.
"Indi, Andai kamu masih hidup. Kamu akan melihat senyum dan cerianha Galen saat ini!" gumam Oma Ratih seraya merapikan selimut yang menutupi tubuh Galen.
Flashback on
Kejadian 28 tahun yang lalu telah membuat Galen kehilangan Mama yang sudah melahirkannya.
Indira pratiwi adalah Mama dari Galen dan istri pertama dari Tuan Wijaya.
Selama kehamilan pertamanya Nyonya Indira mengira mual dan muntah serta sering merasa pusing adalah hal yang wajar untuk kehamilannya saat itu.
Sampai usia kandungannya menginjak umur tujuh bulan, Beliau merasa curiga dengan hal yang dialaminya tak kunjung usai. Malah pusing yang dideritanya semakin sering ia rasakan.
Suatu hari, wanita cantik yang yang tengah mengandung itu memeriksakan dirinya ke dokter spesialis obygyn di Rumah Sakit Soedibyo milik keluarga Tuan Wijaya.
Kesibukan Tuan Wijaya kalau itu yang jarang sekali pulang kerumah membuat Nyonya Indira selalu memeriksakan kehamilannya tanpa suami. Hanya asisten yang selalu menemaninua kemanapun ia pergi.
Perjalanan bisnis dan pengembangan perusahaan di beberapa wilayah dan luar negeri membuat Tuan Wijaya sangat sulit bertemu istrinya yang tengah mengandung anak pertama hasil buah cinta mereka.
"Maaf, sebentar lagi meting di mulai. Mas tidak bisa menemanimu video call saat ini!" tolak Tuan Wijaya saat Nyonya Indira menawarkannya untuk melakukan Video call dengannya.
Ada rasa kecewa di hati Nyonya Indira kala itu. Padahal dirinya sangat berharap suaminya itu menemaninya meski hanya melalui sambungan telpon.
Nyonya Indira datang ke Rumah Sakit di temani asisten pribadinya yang ikut bekerja dengannya di Rumah Beautiq.
Mariska Rahmat-- Asisten kepercayaan yang sudah satu tahun ini bekerja untuknya. Janda anak satu itu baru saja bercerai dari suaminya.
Nyonya Indira menerimanya karena merasa kasihan dengan janda anak satu itu. Bara anak lelaki yang masih berumur tiga tahun itu harus mendapatkan perawatan karena perlakuan mantan suami yang menyiksa Mariska dan Bara saat itu.
Wanita cantik yang tengah bersedih itu berbaring seraya melihat layar monitor yang menunjukan bentuk dan wajah bayi yang di kandungnya melalui USG 4 dimensi.
Hatinya kembali ceria dan bersemangat saat melihat bayi kecilnya dalam layar monitor. Rasa kecewa hilang begitu saja dari benaknya.
"Wah, jagoannya bunda pintar, nih! sudah bisa nyedot jempol jarinya," ucap Dokter Amira saat sebuah alat terus memutari perut Nyonya Indira yang sebelumnya di lapisi gel untuk mempermudah gerakan alat tersebut.
Senyuman bahagia terlancar di wajah cantiknya. Setelah puas dengan hasil USG nya hari ini. Nyonya Indira menyampaikan keluhannya selama kehamilannya beberapa bulan ini.
__ADS_1
"Dok, kenapa selama kehamilan, merasakan pusing yang tak kunjung reda. Semakin hari malah makin terasa yang Saya rasakan, " ungkap Nyonya Indira.
"Baiklah Kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut ya, Bun!"
Dokter Amira pun melakukan pemeriksaan lanjutan kepada Nyonya Indira. Kaki dan tangan yang sedikit membengkak dan sesak nafas yang kadang dialami serta Nyeri kepala yang tak kunjung sembuh selama kehamilannya. semua menunjuk pada ciri-ciri gejala preeklamsia.
"Setelah memeriksa beberapa tes kesehatan, Saya terpaksa harus menyampaikan berita tidak baik saat ini. Bunda mengalami gejala preeklamsia pada kehamilan bunda saat ini!"
Deg.
Penuturan dari Dokter Amira membuat Nyonya Indira terkejut saat itu. Dirinya sempat terdiam sesaat setelah mendengar berita itu.
"Bunda tidak perlu khawatir, kalau Bunda bisa menjaga dan lebih berhati-hati semua akan terlewati dengan baik. Bunda harus menjalani pemeriksaan rutin saat ini, agar tumbuh kembang dan kesehatan bunda bisa terkontrol," sambung Nyonya Indira.
Tok tok tok!
Suara ketukan itu membuat perhatian mereka tertuju pada sumber suara.
Asisten pribadinya Nyonya Indira itu melangkah masuk setelah kembali dari ruang perawatan anak lelakinya yang masih kecil itu. Nyonya Indira memberikan perawatan kepada Bara di Rumah Sakit Soedibyo.
"Bagaimana Nyonya apa sudah selesai pemeriksaannya," tanya Mariska sopan kepada Nyonya Indira.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa dukungan untuk karya teteh ๐๐
Rekomendasi karya untukmu ni. mampir baca ya. seru loh ceritanya.
__ADS_1