
Guyuran air shower sore itu membantu Galen mendinginkan suhu tubuh nya yang panas akibat gelora yang terlanjur menguasai Galen dan tak tersalurkan.
Setelah hampir satu jam pria bertubuh kekar itu baru keluar dari kamar mandi. Pakaian yang hanya tertutup kaos oblong dan celana boxer itu keluar sambil menggosok rambut yang masih basah dengan handuk di tangannya agar cepat kering.
Di dekatnya sang istri yang duduk sambil termenung di ujung tempat tidur.
"Hei ... Kenapa melamun, Sayang? Mandi dulu sana?" tegur Galen membuyarkan lamunan Aline.
"Hah..., Iya Mas!" Aline terkesigap lekas ia beranjak dari duduknya dan langsung memasuki kamar mandi.
Galen tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah gugup istrinya. Galen berinisiatip untuk memasak makanan sederhana. Ia ingat ada bahan masakan di lemari pendingin nya.
Beruntung saat ia berniat ingin tidur di apartement waktu itu, ia memerintahkan asisten rumah tangga yang biasa membersihkan apartement nya untuk menyiapkan pakaian wanita beserta semua keperluannya. Jadi Galen tidak perlu khawatir saat mendadak membawa Aline ke tempat ini.
Beberapa saat berlalu. Usai membersihkan diri, Aline terdiam di dalam kamar mandi. saat ini ia hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Ia bingung sendiri, saat ini dirinya sedang berada di apartement suaminya. Pakaiannya pun tidak ada di sana.
"Aku lupa baju gantiku?" gumam Aline. "Kenapa tidk berpikiran sebelum mandi tadi. Mana baju yang tadi sedikit basah." Ia bingung sendiri.
Dengan terpaksa ia memanggil Galen, barang kali ada pakaian yang bisa ia gunakan saat ini. Daripada ia tidak memakai apapun.
"Mas ... Mas Galen!" panggil Aline tapi tidak di dengar oleh si pemilik nama.
"Mas ... "Aline mengulang panggilannya. Masih saja tidak ada jawaban.
Karena si pemilik nama tak kunjung membalas sahutannya. Aline terpaksa keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi dada sampai atas pahanya.
Matanya mengedar ke setiap sudut kamar. Tak ada Galen di sana, tetapi wangi masakan menguar memasuki celah kamarnya dan Aline tahu siapa pelaku yang sedang memasak itu.
Aline berjalan menuju pintu kamar. kepalanya menyembul keluar pintu kamar. Tatapannya mengarah ke arah dapur. Suami yang sangat ia cintai terlihat sedang memasak sesuatu. Senyum mengembang saat melihatnya.
Tidak mau menganggunya, Aline berinisiatif mencari pakaian yang bisa ia pakai sementara saat ini. Ia memasuki walk in closed, membuka lemari yang dekat dengannya saat itu.
Aline mencari baju yang sekiranya muat untuk tubuhnya. Belum menemukan baju yang sekiranya cocok, Aline kembali membuka satu lemari di sebelahnya. Hal yang sangat mengejutkan untuknya. Ia kira tak ada pakaian ganti untuk dirinya. Tapi saat membuka lemari kedua, lemari itu penuh dengan pakaian wanita. Dan ia lihat semuanya masih baru.
"Kenapa ada pakaian wanita di sini? Apa Mas Galen yang menyiapkan semuanya?" pikir Aline, ia pun membuka laci yang berukuran panjang di dalam lemari itu, ternyata pakaian berbentuk segitiga dan penutup gunung kembar pun sudah disediakan di sana. Bahkan pembalut dan beberapa keperluan wanita tersedia di sana.
Sejenak ia termenung menatap banyaknya pakaian di hadapannya.
"Kapan Mas Galen mempersiapkan ini semua?" gumam Aline. Ia bergegas memilih satu baju, lekas memakainya.
Dress panjang bermotif bunga kecil jadi pilihannya.
__ADS_1
Setelah rapi Aline menyusul Galen yang masih sibuk di dapur.
"Mas ... " Aline berjalan mendekati Galen yang terlihat gagah menurut Aline dengan celemek yang ia pakai. "Masak apa?" matanya mendelik ke arah penggorengan yang di pegang Galen.
"Hai, Sayang!" Galen berbalik langsung mencium pipi Aline, membuat wajah istrinya merona merah.
Galen meneruskan kegiatan yang ia lakukan. Satu tangannya memegang penggorengan yang berisi masakan buatannya, satu lagi memegang sodet. Pria tampan itu sedang mengaduk-ngaduk masakan yang dibuatnya. "Masakan sederhana, lumayan untuk mengganjal perut kita yang lapar sore ini. Kamu duduk di sana, Yang!" Tunjuk Galen dengan dagunya. Aline pun menuruti perintah suaminya. Duduk di meja makan minimalis berhadapan dengan dapur tempat suaminya memasak saat ini.
Mata Aline terus memperhatikan setiap gerakan suaminya. Seulas senyum mengembang di wajahnya melihat gerakan suaminya memasak.
"Selesai ... Pasta mie sederhaan buatan suamimu yang paling tampan," ucap Galen seraya membusungkan dada.
Aline tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang membanggakan diri sambil menepuk dadanya.
"Aku berhasil menahan keinginanku terhadapmu, tapi aku tak bisa menahan rasa lapar. "Galen tersenyum kaku. menunjukan deretan giginya. "Hanya ini yang ada di sini, jadi aku masak seadanya saja, ya?" Galen menaruh dua piring pasta mie di hadapan Aline.
"Maaf, Mas! Harusnya aku yang menyiapkan ini semua. Maaf juga untuk yang tadi." Wajah Aline berubah sendu.
"Hei, aku tidak suka kamu menunjukkan wajah sedih itu, lagi. Mulai saat ini, di wajah ini hanya akan ada senyum dan kebahagiaan." Galen menyentuh wajah Aline dengan telunjuk nya. Ciuman singkat Galen berikan kepada Aline. "Senyumlah, berikan suamimu ini senyuman yang selalu membuat ku candu!"
Tatapan mereka saling bertemu, senyum pun mengembang si wajah Aline. Senyum dengan lesung pipi yang sangat di sukai Galen.
"Nah, begini. Sekarang biar aku yang melayanimu. Nanti setelah tamu bulanan mu pergi, kamu harus melayaniku," goda Galen sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Genit sama istri sendiri tak masalah kan?" Galen malah menciumi jemari Aline yang ia tangkap lalu melepaskannya.
"Kita makan dulu, setelah ini kita pergi ke Rumah Asuh!" sambung Galen.
"Malam ini, Mas?" Galen mengangguk.
"Sudah lama tidak bertemu mereka," ucap Galen seraya menggulung mie yang ia buat dengan garpu. Disuapkannya pasta mie kepada Aline. "Buka mulutmu!" titahnya.
"Aku bisa sendiri, Mas."
Galen mengelengkan kepala, menatap Aline agar mengikuti perintahnya. Akhirnya Aline membuka mulut menerima pasta mie yang disodorkan suaminya itu.
Pasangan pengantin baru itu saling menyuapi pasta mie yang dibuat Galen. Tawa canda menghiasi kebersamaan mereka. Menghabiskan makanan yang di buat dengan penuh cinta. Sampai tiba waktunya Galen dan Aline untuk pergi berkunjung ke Rumah Asuh. Tempat di mana anak-anak jalanan yang di selamatkn oleh Galen dari jeratan Ferdi. Preman pemalak yang berkuasa terhadap anak jalanan pada masanya.
Kini preman itu harus menerima ganjaran atas apa yang ia perbuat terhadap Aline dan bisnis haram yang ia jalani.
.
__ADS_1
.
Rumah Sakit Soedibyo
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Derald saat dokter yang menangani Chyntia keluar dari ruang operasi masih dengan Seragam scrubnya.
Seragam ruang operasi yang dikenakan oleh dokter, bidan, maupun perawat sebelum memasuki ruang operasi.
Dokter Rina, dokter obgyn yang menangani Chyntia menarik napas berat. "Seperti yang saya sudah katakan sebelumnya. Akibat obat-obatan penggugur kandungan dan tindakan aborsi yang sempat istri Anda lakukan pada janinnya membuat anak dalam kandungannya harus lahir lebih awal. Maaf, dengan kondisi bayi yang sudah Anda ketahui sebelumnya." Dokter Rina menjelaskan. "Kondisi Nyonya Chyntia saat ini belum sadarkan diri dan mengalami koma. Putri kecil Anda juga harus berada dalam inkubator untuk beberapa minggu kedepan karena usianya belum cukup untuk di lahirkan. Sabar ya Pak Derald," sambung Dokter Rina lalu menepuk pelan bahu Derald kemudian berlalu dari hadapan pria yang kini telah menjadi seorang ayah itu untuk membersihkan diri.
Derald mendaratkan tubuhnya yang berasa runtuh saat mendengar penuturan dokter. Rasanya tak kuasa mendengarnya.
Hal yang paling ia takutin akhirnya terjadi juga. Siska adik kandungnya ikut duduk di sampingnya memberikan usapan lembut di pundak sang kakak agar tegar dan kuat dengan keadaan yang terjadi.
"Sabar, ya, Kak! Kakak harus bersyukur kita membawa Kak Chyntia tepat waktu ke rumah sakit," ujar Siska.
Chyntia kembali melakukan usaha untuk menggugurkan kandungannya. Meminum obat keras untuk melemahkan janin yang ia kandung. Setelah mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungannya saat usia kehamilan menginjak empat bulan, ia berusaha mengugurkannya. Karena Papanya, Tuan Baskoro, ayah dari Chyntia hanya menginginkan cucu laki-laki untuk saat ini, agar bisa menjadu penerusnya kelak.
Sempat Chyntia mengalami pendarahan hebat akibat obat-obatan keras yang ia minum tapi kandungannya semakin kuat. Di bulan ke enam, Chyntia mengetahui akibat obat-obatan yang ia minum mengakibatkan kondisi si cabang bayi mengalami kelainan pada bagian kakinya. Satu kaki dari bayi itu mengalami cacat, tidak mempunyai telapak kaki. Semua terlihat saat Chyntia dan Derald melakukan USG.
Hasil itu semakin membuat Chyntia semakin ingin mengugurkan bayi dalam kandungannya. Karena berpikir malu mempunyai anak yang lahir dalam keadaan cacat.
Deral sudah melarang Chyntia tapi ia tidak punya kuasa. Setelah menikah dengan Chyntia, hidup Derald seakan di atur. Berhenti menjadi artis dengan bekerja di perusahaan keluarga Chyntia. Ia akui kehidupan Ibunya dan Siska adiknya terjamin setelah menikah dengan Chyntia. Tapi harga dirinya sebagai suami kadang terinjak-injak, oleh sikap mertuanya.
"Apakah ini karma untukku, Sis? Karena pernah mempermainkan seorang wanita yang tulus mencintaiku dan baik kepada kita," ucap Derald sedih.
"Kak, jangan bicara seperti itu! ini sudah takdir. Kita berdoa semoga Kak Chyntia bisa melewati masa kritisnya."
"Kakak pernah menyakiti seseorang, kamu tahu siapa orang itu 'kan?"
.
.
.
.
BERSAMBUNG>>>>>
Mendekati akhir aku masukan orang-orang di masa lalu Aline. Maunya terus melanjutkan, mau lanjutin kisah si janda lesung pipi sama si Duren kaya.
Tapi waktu masih belum memihakku. Intinya kisah Aline dan Galen akan berakhir. Terima kasih buat kalian yang setia membaca karyaku.
__ADS_1
Entah kisah Janda dan Duren mau ku masukin novel ini apa buat cerita baru.
tapi bakalan seru kalau buat Duren kaya berpetulang di pedesaan. Bagaimana ya reaksi ema ema kampung??? ☺☺