
Sandra akhirnya kembali ke ruang perawatannya. Niat ingin mengakhiri hidupnya tidak sempat terlaksana. Sepanjang perjalanan gadis itu berpikir masih beruntung ia tak mengakhiri hidupnya. Kalau gitu sampai terjadi bagaimana nasib ibunya nanti.
Antara ingin meneruskan langkah atau tidak. Sandra jadi dilema. Kembali ke ruang perawatan sudah pasti Ayah dari Johan sudah menunggunya untuk uang ganti rugi atas barang yang sudah ia curi. Tidak kembali ia akan jadi buronan di negara orang.
"Arrghh... gimana ini?" Sandra mengacak rambutnya. Ia bingung harus berbuat apa.
Dengan langkah gontai Sandra memilih kembali ke ruang perawatan. Hari ini sebenarnya Sandra sudah di perbokehkan pulang ke rumah. Tapi ia sudah tidak dipekerjakan lagi oleh Keluarga Liaw.
Sandra harus mendatangi yayasan penyalur TKW agar bisa dipulangkan ke negara asalnya. Sedangkan menuju ke tempat itu memerlukan biaya.
"Kamu mau melarikan diri dari tanggung jawab?" sindir seorang wanita berumur berdiri di dekat pintu ruang perawatan Sandra.
Sandra menoleh ke sumber suara lalu menghela napas berat. Pemikiran yang tepat sasaran. Pasti Ibu dari Johan akan mendatanginya.
"Tidak Nyah, Saya akan bertanggung jawab. tapi tidak dengan mengganti dengan uang sebesar itu, saya tidak punya!" Sandra menunduk pasrah.
Di sudut ruangan seseorang yang hendak berjalan melewati mereka, ia memundurkan langkahnya karena mengenali sosok wanita yang tersudutkan itu. Joni yang mengikutinya dari belakang pun ikut terhenti.
Galen mendengarkan obrolan Sandra dan Bu Rosa.
Bu Rosa yang kini menjadi mantan majikannya pun tersenyum sinis. "Kalau begitu siap-siap kamu akan saya masukan ke penjara," ancamnya.
"Saya yang di lecehkan, kenapa harus Saya yang di penjara, itu salah anak Anda!" sahut Sandra geram.
Kali ini ia berani memberontak karena tidak tau harus berbuat apa melawan Bu Rosa.
"Semua tidak terjadi 'kan? dirimu masih tersegel. Sekarang anak saya masih terbaring lemah karena ulahmu!" bentar Bu Rosa.
"Itu salahnya, Nyah! Saya hanya membela diri," sergah Sandra.
"Jadi kamu tidak bisa membayar ganti rugi barang yang sudah kamu curi?" Bu Rosa kembali menegaskan pertanyaannya. "Won, bawa gadis ini, serahkan dia kepolisi.
Sandra yang tertunduk langusng menegakkan wajahnya karena terkejut. Dua orang suruhan Bu Rosa akan membawanya paksa.
"Maafkan Saya, Nyah! Saya rela bekerja tidak di bayar untuk mengganti kerugian Anda!" Sandra menangis meminta maaf, saat tubuhnya di pegang paksa oleh orang suruhan Bu Rosa. Jeritannya sama sekali tak di dengar oleh Bu Rosa.
__ADS_1
Kedua orang suruhanBu Rosa menarik paksa Sandra, tapi seseorang menahannya.
"Lepaskan dia! Saya yang akan membayar semua ganti ruginha kepada Anda." Galen berjalan mendekati Bu Rosa dan Sandra.
Reflek Sandra melepaskan tanganya dari jeratan kedua orang suruhan Bu Rosa dan berlari ke belakang tubuh Galen. Seakan meminta perlindungan kepadanya.
"Terima kasih sudah menolong! Saya terpaksa melukai anak ibu itu, karena dia mencoba melecehkanku," bisik Sandra di belakang Galen.
Galen melirik ke arah Joni. "Selesaikan masalah gadis ini, masukan pengeluaran biayanya ke perusahaanku!" titahnya tegas. Tanpa pamit ataupun banyak bicara Galen meninggalkan Bu Rosa yang ternganga melihat Galen sampai kepalanya ikut memutar seiring langkah Pria itu.
Sandra mengikuti langkah Galen. Gadis itu dengan tergesa mengikutinya.
"Hei ... tunggu!" Panggil Sandra tapi tak dipedulikan Galen. Pria itu malah terus berjalan menuju lift.
"Saya harus berbuat apa supaya bisa balas kebaikan kamu?" tanya Sandra hendak memasuki lift tapi Galen merentangkan satu tangannya menghalangi gadis itu agar tidak bisa melewatinya.
"Lewat tangga darurat! lantai 3, kalau kamu bisa mendahului Saya. Kamu bisa ikut bekerja di perusahaanku," ujar Galen. lift pun otomatis tertutup dengan sendirinya.
Sandra manatap lift yang tertutup. Di lihatnya layar yang menampilkan angka di atas lift. Menandakan lift turun perlahan.
"Masih mending, berlari turun dari pada naik. copot deh, nih kaki!" gerutu Sandra seraya menuruni anak tangga dengan cepat. Ia tiba di lantai 7 melihat di depan lift. lift yang beroperasi menuju lantai di atasnya karena ada orang lain yang akan memasuki lift tersebut.
"Nih cowok siapa sih dia sebenernya. Cuek tapi baik juga!" celoteh Sandra.
Langkah kakinya terus menurunk anak tangga. Berharap ja sampai lebih dulu dari Galen.
Hilang ingatan sementara yang di alami Galen tak menghilangkan sifat jahilnya. Sikap dinginnya sama persis ketika ia masih tinggal di kediaman Papanya yang satu atap dengan Nyonya Mariska.
Tuan Wijaya
Tekadnya untuk menemui Zaki begitu antusias. Apalagi saat mendengar Sahabatnya itu sedang menunggu dirinya datang untuk meminta maaf.
Selepas mendarat di Bandara Soekarno-hatta. Tanpa mengulur waktu, Tuan Wijaya bergegas menuju kediaman Ayah Zaki. informasi dari Aline kepada Oma Ratih memudahkannya mencari tempat tinggal sahabat lamanya itu.
"Maaf, Pak Zakinya sedang ada di kedai. biasanya sore atau habis magrib dia baru pulang kerumah!" ujar Pak Jokowi kepada Tomy.
__ADS_1
"Nona Aline nya ada?" tanya Tomy lagi.
"Nona Aline juga tidak ada di rumah, Tuan!" Pak Joko kembali memberi tahu. Sesekali ka melirik ke arah mobil yang terparkir di depan gerbang, merasa penasaran dengan orang yang mencari majikannya.
Tomy lalu meminta alamat kedai Ayah Zaki. Mereka akan mendatanginya ke sana. Pak Joko terlihat ragu saat akan memberitahukannya.
"Orang yang mencari majikannya Anda adalah sahabat lamanya. Jadi Anda tidak perlu khawatir," seru Tomy saat melihat raut keraguan pada Pak Joko.
"Oh, ya. Maaf Tuan! Saya hanya berhati-hati saja, " ucap Pak Joko seraya membungkuk sopan. Ia merasa tak enak hati sudah bersikap tidak sopan.
"Ini kartu nama Saya." Tomy mengambil kartu nama dari selioan dompetnya lalu menyerahkannya kepada Pak Joko yang masih terlihat ragu.
Pak Joko menerima kartu nama tersebut, saat menerimanya pria paruh baya itu lekas membaca tulisan yang berada di kertas kecil itu.
"Tomy Pradipta, Aksara corporation grup," Pak Joko membacanya dalam seraya mengerutkan Alis lalu melihat sekilas ke arah Tomy. "Ini kan perusahaan besar!" ucapnya lagi.
Pak Joko lekas menuliskan beberapa alamat kedak Ayah Zaki. Ia berpikir kalaupun ada apa-apa nanti kartu nama yang ia pegang akan ia jadikan bukti.
"Terimakasih informasinya!" ucap Tomy saat menerima kertas berisi alamat tempat usaha sahabat dari bosnya itu.
"Sama-sama, Tuan! mohon maaf jika sudah mencurigai Anda," seru Pak Joko seraya menunduk sopan.
Tomy lantas meninggalkan Pak Joko dengan kecanggungannya.
"Maaf Tuan, mereka sedang tidak berada di rumah, Tuan Zaki sedang berada di kedainya. Tapi Saya sudah mendapatkan beberapa alamat tempat usaha beliau, " ucap Tomy seraha menyerahkan kertas berisi alamat itu.
Tuan Wijaya membacanya. "Kamu sudah sukses, Zak! syukurlah," gumamnya pelan. "Datangi semua tempat yang ada di alamat itu," titahnya pada Tomy.
Tomy mengangguk lalu bersiap meluncur ke beberapa alamat itu. Dalam hatinya tidak bisalah ia beristirahat sebentar saja setelah perjalanan yang melelahkan.
.
.
.
__ADS_1
😣 Memang jadi bawahan harus manut apa kata boss tom, sabar ea...