
"Aku sudah memaafkan mu dari dulu, Derald. Sekarang bebaslah jalani hidupmu tanpa beban. Jadilah ayah yang bisa melindungi putrimu!" balas Aline dengan jiwa yang rendah hati. "Dia cantik, seperti ... Mamanya!" puji Aline sambil tersenyum setelahnya.
Mata indah dari bayi mungil itu, mengarah pada Aline. Lucu, sangat lucu sekali menurut Aline, bayi itu menguap lalu kembali menyesapi jemarinya.
"Apa dia sudah di beri nama?" Aline menatap Derald yang kedapatan sedang memandangi dirinya.
Segera Derald mengalihkan pandangannya kembali menatap putrinya." Zahera Zara, gadis cantik yang kuat," ucap Derald bangga.
"Hai Zahera Zara, nama yang cantik. Semoga hidupmu kuat seperti nama yang di berikan ayahmu. Salam kenal dari Tante, Sayang!" ucap Aline seakan tengah berbicara padanya.
"Terima kasih, Aline. Terima kasih kamu sudah memaafkan kami." Derald kembali menatap Aline.
Aline tersenyum manis membalasnya.
"Permisi ... Tuan Derald!" ucap suster yangbdatang tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Ada apa, Suster?" Tanya Derald sedikit terkejut.
"Kondisi istri Anda semakin menurun. Detak jantungnya--"
Tanpa mendengar kelanjutan ucapan suster, Derald lekas berjalan cepat, ia berlari menuju ruangan ICU di mana Chyntia berada. Aline mengikutinya dari belakang. Sesampainya di depan ruangan ICU, Aline menghubungi Galen.
Beberapa suster terlihat sangat sibuk masuk kedalam ruangan tersebut. Melihat itu Derald sangat khawatir, Dokter yang menangani Chyntia pun datang hendak masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter...," panggil Derald mencekal langkah sang dokter.
Dokter itu pun berhenti sejenak.
"Apa yang terjadi pada istri saya?" tanyanya cemas dan khawatir.
"Karena tindakan berbahaya yang istri anda lakukan, mengakibatkan beliau kehilangan banyak darah. Kinerja jantungnya semakin lemah. "Dokter membuang napas berat. " Saya akan menolong istri bapak sebisa mungkin. Doakan yang terbaik untuk kesembuhannya. Maaf, saya harus segera menangani istri anda." Dokter itu pun masuk ke dalam ruang ICU untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Hancur sudah pertahanan Derald. Ia mendudukkan tubuhnya di bangku besi yang berderet di sepanjang ruangan. Kedua tangan yang berada di atas paha sembari memegangi kepalanya yang tertunduk.
Aline makin tidak tega melihat keadaan Derald. Ia tahu saat ini perasaan pria yang itu pasti sedih dan bingung.
Satu persatu keluarga dari Chyntia dan Derald pun datang.
Bu Leli bersama dengan Siska. sedangkan Bu Mirna datang bersama suaminya, Tuan Baskoro.
__ADS_1
Aline sedikit menjauh dari Derald takut ia dicurigai oleh Bu Leli ataupun orang tua Chyntia.
Tak lama Galen pun datang ke sana. Di dekatnya Aline, yang terlihat bingung.
"Sayang...!" Galen berjalan mendekat. Ia menyelipkan tanganya ke samping pinggang Aline. Merengkuh wanita itu ke dalam rangkulannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, ini bukan ranah kita untuk ikut berkumpul bersama mereka," bisik Galen lalu mendapatkan anggukan dari Aline.
Saat Aline hendak melangkah meninggalkan tempat itu. Bu Leli menhentikannya.
"Aline ...," panggil Bu Leli ramah. "Apa kabar?" tanya nya kemudian.
Bisa-bisanya Beliau menyapa Aline lebih dulu di bandingkan menanyakan keadaan menantunya. Aline hapal sifat ibu dari Derald.
Aline berbalik sembari tersenyum ke arah Bu leli. "Baik, Bu!" Aline masih tetap bersikap ramah dan sopan. Tak lupa ia menyalami Bu Leli.
Aline juga terlanjur menyapa Bi Mirna dan Siska hanya dengan senyuman dan anggukan pelan saja. Karena mereka tengah berdiri di dekat Derald. Tetapi tidak dengan Tuan Baskoro. Pria tua itu bahkan tidak melirik ke sepertinya sedang bertanya kepada Derald mengenai kondisi Chyntia saat ini.
"Apa kabar, Bu Leli?" tanya Aline dengan bahasa yang sangat sopan dan anggun. "Oh, iya ini kenalkan suami, saya!" Galen mengulurkan tangan ke hadapan Bu Leli, mereka berjabat tangan sejenak.
Bu Leli tampak terkejut mendengarnya. "Kamu sudah menikah?" tanya bu Leli.
Hanya anggukan yang di balas Bu Leli. Aline pun kembali bersikap sopan dengan pamit dan menyalami beliau, di susul Galen sambil berucap sesuatu kepada Bu Leli. "Seharusnya Anda menanyakan kabar menantu Anda terlebih dulu, dari pada menyapa wanita yang dulu pernah anda hina bahkan sampai kalian manfaatkan!" ucap Galen setengah berbisik dengan nada sindiran.
Bu Leli terlihat malu bahkan sampai mendapat lirikan dari Bu Mirna, besannya.
Tanpa banyak bicara lagi, Galen menggandeng Aline meninggalkan tempat itu. Galen merasa sudah cukup berada dalam lingkup masa lalu. Setelah memaafkan dan saling mengikhlaskan perjalanan hidup harus kembali dengan harapan baru. Harapan yang pastinya menjemput kebahagiaan.
"Apa tidak masalah kita pergi begitu saja, Mas!" Aline tampak tidak enak hati. "Bahkan aku belum sempat pamitan kepada Derald. Kasihan sekali dia!" ucap Aline berempati.
"Tidak masalah, Sayang! Perasaan mu terlalu banyak mempunyai rasa kasihan terhadap orang lain. Makanya gampang tertindas," ucap Galen terus menggandeng Aline sampai di depan lobi rumah sakit. Istrinya sedikit cemberut dengan ucapan Galen.
Hingga akhirnya mobil mereka datang menghampiri, itu terlihat di depan pintu keluar masuk rumah sakit tersebut. Security yang membawa mobil Galen ke sana.
"Bukankah memang harus seperti itu! Apa aku harus bersikap cuek dan tidak berperasaan terhadap sekitar terhadap orang yang kita kenal?" tanya Aline sambil melirik Galen yang membukakan pintu depan mobil untuknya, lekas Aline masuk ke dalamnya.
Galen berjalan memutar, Security telah menunggunya di depan pintu kemudi. Security itu membungkuk sopan kepada Galen. Ia saat mengenali anak dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
"Terima kasih, Pak!" ucap Galen sambil berjabat tangan tak lupa ia menyelipkan sedikit uang kepada bapak security.
__ADS_1
"Saya juga berterima kasih, Tuan!" balasnya lalu mendapat tepukan pelan dari Galen.
"Bekerjalah yang benar!" ucap Galen tegas.
"Siap, Tuan!" hormat security pada Galen.
Galen tersenyum mendapat penghormatan.
"Perasaanmu yang selalu baik untuk semua orang, sangatlah bagus. Tidak perlu cuek. Hanya kita harus lebih bisa menunjukan sikap tegas kita agar tidak selalu di anggap lemah dan gampang di tindas."
Aline mengangguk membenarkan ucapan suaminya. "Terima kasih, Mas, sudah mengingatkan aku!" Aline tersenyum sambil menarik seltbelt di samping tempat duduk. "Sekarang kita kemana?" Aline bertanya dengan semangat.
"Ke rumah, Oma. Setelah itu kita langsung meluncur ke tempat yang kamu inginkan semalam!"
Aline menoleh cepat. "Benarkah?" Wajahnya Aline terlihat senang.
Galen mengangguk, tangannya mengacak sedikit rambut Aline. Merasa gemas dengan reaksi istrinya yang seperti baru mendapatkan mainan baru.
"Tapi aku belum siapkan pakaian kita, Mas!" serah Aline.
"Semuanya sudah siap. Kita tinggal berangkat saja!" Galen melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Wijaya karena Oma Ratih masih tinggal di sana sebelum Kartika berangkat keluar negeri untuk sekolah.
"Benar? aku tidak perlu membawa apapun, gitu? keperluanku bagaimana? Apa di sana juga ada?" cecar Aline dengan banyak pertanyaan.
"Kamu cukup membawa diri bersamaku. Buat apa bawa baju ganti, kita bisa beli di sana. Bahkan tempatnya pun aku beli. Lagian, baju tidak akan kita perlukan di sana?" celetuk Galen sambil fokus mengendarai mobilnya.
"Hah..., ko bisa?" Aline terlihat bingung.
"Karena kita akan sering produksi agar cepat menghasilkan anak, jadi ribet kalau harus pake baju. Ditutup selimut aja! Seharian kita di kamar dan di kasur!" cetus Galen lalu mendapat serangan cubitan dari Aline.
"Mas Galen ... Mesum!" Aline mendaratkan cubitanya pada perut sambil diplintir. Membuat pria yang tengah mengemudi itu memohon ampun dan berteriak kesakitan.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1