
"Gal ... Aku merindukanmu, tolong biarkan seperti ini sebentar saja. Aku mohon!" Aline memeluk erat tubuh Galen. Menumpahkan rasa rindunya kepada pria yang kini bisa ia peluk raganya. Tapi entah dengan hati dan pikirannya.
Aline masih memeluk erat tubuh pria yang kini berada di dekapannya. Aline membenamkan wajahnya di dada bidang Galen. Kehangatan yang tercipta dari pelukan itu membuat Galen merasa nyaman. Ada perasaan tenang dan damai dalam pelukan Aline. Rasa gelisah yang ia rasakan pasca sadarnya dari operasi seakan hilang begitu saja.
Galen yang tadinya diam terpaku karena Aline memeluknya erat, kini mulai membalas pelukan itu. Dan Aline pun merasakannya.
Aline mendongak menatap Galen saat ia merasakan pria balas memeluk dirinya. Aline tersenyum lalu kembali memeluk erat tubuh Galen.
Air matanya terus mengalir membasahi pipi antara bahagia dan sedih ia rasakan saat ini. Bahagia karena Galen tidak menolak kehadirannya. Sedih, kenangan yang pernah mereka rangkai bersama tak tersisa dalam ingatan Galen. Aline akan berusaha membantu Galen mengingat semua tentang kisah mereka.
Mereka berdua saling memeluk erat, Galen lantas mendaratkan ciuman singkat di kepala Aline sesuai kata hatinya.
“Maaf, meskipun Aku belum mengingatmu, tapi Aku merasa nyaman berada di pelukanmu saat ini. Oma sudah menceritakan sebagian cerita tentang dirimu dan Aku pun sudah berusaha mengingatnya, tapi maaf... tetap saja tak ada sedikit pun bayanganmu dalam benakku!” tutur Galen.
Aline lantas menunduk saat mendengar penuturan Galen dengan air mata yang membasahi pipi.
Galen mengusap pelan air mata di pipi Aline. Di sentuhnya dagu gadis yang ada di hadapannya itu agar melihat ke arahnya. “Bantu Aku untuk kembali pada kenangan indah bersamamu,” ucap Galen saat pelukan mereka meregang seraya tersenyum manis kepadanya.
Aline mengangguk dan tersenyum bahagia. Hatinya menghangat mendengar penuturan Galen. Mereka saling melempar senyum kebahagiaan.
*
*
*
Suasana kesedihan yang mengharukan, kini berganti tawa. Aline duduk bersama Galen di sofa dalam ruangan itu. Gadis itu menceritakan awal pertemuan mereka. Penampilan Aline sebelum mengenal Galen. Sampai perjalanan karier nya yang sukses dan harus ia relakan berakhir demi tujuan nya bersama Galen. Ingin menjadi istri dan ibu rumah tangga seutuhnya untuk Galen kelak.
“Apa kamu tidak menyayangkan kariermu yang tengah beranjak itu.” Galen terus melihat satu persatu foto album di ponsel Aline.
“Aku ‘kan sudah bilang menjadi artis bukanlah impianku. Semua berawal karena Aku hanya ingin membalas dendam perbuatan Derald dan Chyntia.”
Galen mengerutkan alis. “Derald, Chyntia?” Galen masih belum mengingat beberapa orang yang Aline ceritakan kepadanya.
“Dia mantanku, yang sudah berkhianat dan memperalatku untuk kesuksesannya sendiri. Sudahlah! Ga usah mikirin dia! perlahan kamu pasti ingat semuanya ko. Oh, ya.... Aku ada video dari teman-teman nongkrongmu. Mereka begitu antusias saat aku bilang akan menyusulmu ke sini. Sini ponselku!” Galen mengembalikan ponsel yang di pegang olehnya kepada Aline. Lantas Aline segera mencari rekaman video dari teman-teman
Galen yang sudah di rekam olehnya.
__ADS_1
Setelah menemukan video itu dengan segera Aline menunjukkannya kepada Galen.
“Yang ini Pras.” Aline memulai memutar video itu.
“Hai... Bang! Pa kabar? Ini gue Pras, temen yang biasa lu suruh beli nasi padang berbungkus-bungkus sama lu. Parah lu, Bang. Kagak ngomong kalau lu anak orang tajir. Pantes aja lu royal sama kita. Emang? bener ya, lu amnesia? Jangan kelamaan lu, amnesianya, Bang. Bocah pada nanyain lu, Terakhir gue liat lu, di rumah sakit jakarta! Lu masih belum sadar. Lah sekarang sekalinya sadar. Gak inget sama gue.” Pras berbicara dengan gaya selengeannya. Galen tersenyum menanggapinya.
“Udah belum? gantian dong gue!” video itu sedikit bergoyang karena ponsel yang sedang merekam tiba-tiba di rebut Wendi. Video itu menunjukkan wajah Wendi dan Pras yang terlihat berebut ponsel.
“Dia siapa?” tanya Galen kepada Aline seraya menunjuk orang kedua yang hadir dalam video itu.
Aline melirik ke layar ponsel miliknya. “Dia Wendi.” Aline memberitahu, lalu Galen fokus kembali melihat video tersebut.
“Sabar,Dul! Gue belum kelar ngomong, maen serobot aja lu” ucap Pras dengan kesal.
Video itu pun sekarang mengarah pada Wendi.
“Woy, Bang. Lu pasti inget sama gue mah! Lu ngapain sih pake hilang ingatan segala. Cepetan balik, tau gak si Ferdi gak ada lu makin berkuasa. Sama Cewek lu kasian, Bang. Gue liat melow banget mukanya.” Wendi mengarahkan videonya kepada Aline waktu itu. Tapi Aline menutupinya.
Video itu terus berlangsung, beberapa orang yang kenal dengan Galen dimintai sedikit ucapan atau sapaan oleh Pras dan Wendi. Berharap Galen bisa mengingat mereka.
“Sepertinya bakalan seru jika bertemu langsung dengan mereka,” celetuk Galen.
Kecanggungan di awal pertemuan kini mulai mencair. Ketulusan Aline dan banyaknya ia bercerita membuat Galen sedikit banyaknya mengetahui sikap dan kebiasaannya yang sudah berubah menurut Oma.
Makin lama saling menatap Aline malah tertawa geli.
“Kamu kenapa dari tadi kaya nahan ketawa liat, Aku. Kenapa?” tanya Galen curiga.
Aline menggelengkan kepala seraya menutup mulutnya menahan tawa.
“Kamu bilang akan memberitahuku apa pun itu, sekarang bilang?” desak Galen.
“Tapi janji, jangan marah!”
“hm”
“Rambut kamu lucu, kaya landak,” ejek Aline lalu tertawa renyah.
__ADS_1
Galen merasa tidak rela di tertawakan seperti itu, lantas ia membalas Aline dengan menarik Aline lalu merangkul leher gadis itu dengan tangannya dengan membuat posisi mereka menjadi dekat.
“Gal... ampun! Lepasin ih.” Teriak Aline.
“Kamu menertawakanku!”sahut Galen.
Aline mencubit pinggang Galen. Sehingga rangkulan itu terlepas karena Galen merasakan perih di bagian perut.
“Tapi memang kelihatannya seperti landak” ejek Aline lagi.
Tawa Aline sampai terdengar oleh Oma dan yang lain. Mereka baru saja tiba dari kantin. Sayangnya Tuan Wijaya tak bisa ikut kembali menemui Galen. Ia harus menemui orang kepercayaannya yang ia perintahkan untuk presentasi dalam perebutan tender di Negeri Singa ini. Kabar yang di dengar Aksara grup memenangkan tender lagi untuk kali ini.
Oma tersenyum melihat keceriaan Aline dan senyum yang terukir di wajah cucunya itu. Mereka sedang bercanda dengan kejahilan Galen yang mencoba ingin menggelitiki nya.
“Ampun, Gal... Cukup!”
“EEkhmm” Deheman dari Oma membuat Aline dan Galen langsung terdiam.
“Loh, kok malam diam! teruskan lagi bercandanya. Jangan terganggu dari kehadiran Kami.”
“Oma... Galen, jahil,” adu Aline.
Oma Ratih hanya menanggapi dengan senyuman. Ia merasa bersyukur kelihatannya Aline dan Galen sudah mulai beradaptasi lagi dengan keadaan. Mereka harus memulai lagi kisah mereka dari awal lagi. Sedangkan Kartika merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk penunggu pasien.
“N-nona, ini makanan nya mau di makan sekarang? Saya akan siapkan!” Sandra berkata ragu.
“Panggil Aline aja, sepertinya kita sseumuran,” sahut Aline.
Sandra tersenyum getir lalu menunduk. "Inget Sandra, Tuan Galen enggak akan punya perasaan sama kamu, kamu tuh bagai upik abu jika mengharapkan dia," batin Sandra
.
.
.
.
__ADS_1
Beri dukungan agar Author semangat Up lagi. 😘😘😘