
Maaf, Om! Aline sepertinya ke Rumah Sakit Soedibyo? sebelum kabur, Kami sudah memperingatinya agar pulang dan ijin dulu sama, Om!" ucap Risa menegaskan.
Risa dan Pak Mulyo terpaksa pulang ke rumah tanpa Aline. Hampir satu jam mereka menunggu di mobil, tapi gadis itu tak kunjung kembali. Risa sudah menebak apa yang di lakukan Aline.
Kain gaun yang tertinggal di toilet umum itu adalah bukti kalau Aline mencoba menyamar. Risa tidak habis pikir, Aline bisa melakukan itu. Padahal dia adalah gadis yang sangat menuruti perintah Ayahnya. Tapi kali ini Aline berani membantahnya.
Meskipun sudah mendengar suara Galen dari komunikasi nya beberapa hari lalu. Tak lantas membuat gadis itu puas. Aline masih penasaran ingin bertemu.
"Anak itu, kenapa jadi membangkang seperti ini? " geram Ayah Zaki. "Pak Mulyo tolong antar saya ke Rumah sakit itu! kita harus jemput anak itu." Ayah Zaki terlihat marah saat itu.
Aline sudah diperingati sang ayah agar tidak menemui Galen lagi. Ayah Zaki sempat berbicara tidak baik seorang wanita menemui laki-laki. Tapi ini beda persepsi, Aline datang ke sana untuk menjenguk bukan untuk bermain.
Akhirnya Ayah Zaki menyusul Aline ke rumah sakit itu bersama Pak Mulyo. Ia tidak mau Aline bertemu dengan Tuan Wijaya.
Padahal dalam lubuk hati Ayah Zaki, ia juga merasa rindu, ingin bertemu sapa dengan Tuan Wijaya sahabat baiknya itu. Tapi rasa sakit hatinya mengalahkan segalanya.
Egois memang, Ayah Zaki sudah melarang Aline agar tidak bertemu Galen. Kepahitan di masa lalu yang membuat ayah dari bersikeras melarang putrinya tak dihiaukan Aline karena penjelasan yang tidak jelas dari ayahnya itu.
Di Rumah sakit.
Beberapa saat lalu Risa menghubungi Aldo, menanyakan keberadaan Aline dirumah sakit.
Aldo yang tidak tahu karena posisinya saat ini berada dalam perjalanan menjemput Galen pun berjanji akan memberitahu Risa sesampainya di rumah sakit. Karena Oma Ratih sudah mengabarinya bahwa malam ini Galen diperbolehkan untuk pulang.
Galen masih harus melakukan kontrol rutin untuk memeriksakan perkembangan keretakan tengkorak di bagian belakang kepalanya.
"Kabari Aku segera ya, Mas Aldo! jangan sampai tidak. Aku takut akan ada perang dunia di sana," ucap Risa dengan suara pelannya padahal Ayah Zaki sudah memasuki mobil untuk segera meluncur menyusul Aline.
"Perang dunia! maksudnya?" Aldo mengerutkan alisnya heran, mendengar ucapan Risa dari sebrang telpon.
"Ayah Zaki kelihatan marah banget tadi. Aku jadi takut mereka kenapa-napa."
__ADS_1
"Meraka akan baik-baik saja! Saya pastikan itu!" ungkap Aldo tegas.
Sambungan telpon pun berakhir begitu saja
Aldo yang tiba di rumah sakit tepat bersamaan dengan kedatangan Tuan Wijaya dan Nyonya Mariska.
Sebelum ke ruang perawatan Galen. Tuan Wijaya dan Nyonya Mariska harus menjenguk salah satu kolega bisnis nya yang dirawat di rumah sakit itu, barulah mereka menemui Oma Ratih dan Galen, sedangkan Aldo pamit sopan kepada mereka agar segera sampai di ruang perawatan Galen.
Aldo beralasan ada pekerjaan yang harus segera disampaikan kepada Galen.
๐๐๐
Aline akhirnya menghampiri Galen. Duduk di sampingnya lalu tersenyum lembut padanya.
Oma Ratih yang mengerti tatapan kedua anak muda yang ada di hadapannya itu. lebih memilih mengalah lalu menjauh dari mereka. Memberikan waktu kepada Aline dan Galen untuk menghabiskan waktu berdua sampai Aldo datang menjemput mereka.
"Asisten-mu itu lama sekali sih, masa belum sampai juga! Oma hubungi dia dulu ga, kayaknya di sini sinyalnya mendem. Oma harus keluar sebentar," pamit Oma kepada mereka berdua.
Tatapan Galen beralih kepada Aline. Mereka berdua saling melempar senyum. Galen meraih tangan Aline lalu mendaratkan ciuman lembut di punggung tangannya.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktumu menemuiku," ucap Galen.
"Sama-sama. Maaf, baru bisa menemuimu. Aku harus mengejar keterlambatan pekerjaanku karena kecelakaan kemarin membuat semuanya tertunda."
Galen setia mendengarkan Aline bercerita.
"Oh, ya! apa kamu tahu, kalau Chyntia menikah dengan Derald karena wanita itu sudah--,
"Hamil," sambung Galen.
"Kamu tau?" Aline merubah posisinya duduk menghadap Galen
__ADS_1
"Aku sudah menduganya. Mana mungkin Pak Baskoro mendadak menyewa hotel bintang lima dan menyiapkan semuanya secara mendadak. Beliau hanya ingin menutupi aib putrinya. Dia tidak mau publik tau anak pertamanya itu hamil di luar nikah," ungkap Galen.
"Pantas saja mereka mendadak melangsungkan pernikahan. Aku juga sempat bertemu dengan Bu Leli di sana. Kamu tau, Gal. Aku ingat betul bagaimana Bu Leli merendahkanku. Tapi itu dulu, tadi dia memuji kecantikanku," Aline tersenyum saat menceritakannya.
Aline masih asik bercerita kepada Galen. Rasanya tak cukup waktu sehari untuknya menceritakan panjang lebar kejadian yang sudah dia lewati tanpa Galen.
Galen sesekali menyela meledeknya. Mereka tertawa bersama.
Aline juga mengungkapkan sudah mulai mengurangi kontrak kerja dengan beberapa tabloit. Gadis itu juga tidak menerima tawaran bermain film lagi.
Aline ingin fokus membuka usaha baru. Rasanya lelah kerja seperti ini. Meski ia rasakan pendapatan yang di dapatnya menggiurkan bekerja di dunia entertaiment.
"Ya, baguslah kurangi jadwal kerjamu. Kalau perlu berhenti saja sekaligus. Itung - itung bersiap jadi Nyonya Alexander, " ucap Galen bangga.
Aline tersenyum malu mendengarnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, lesung pipi terlihat seketika karena gerakan bibirnya.
Galen yang melihatnya pun memancarkan kehangatan gejolak dari matanya. Wajahnya kembali mendekati Aline. bibir langsung membungkam bibir Aline.
Aline meolot mendapat serangan mendadak seperti itu, tapi sentuhan Galen yang menarik tengkuk leher Aline memperdalam permainannya membuat gadis itu kembali terbuai.
Bibir candu itu membuat Galen ingin terus menyentuhnya. Beberapa kali melakukan permainan itu, Aline semakin pintar mengimbanginya. Mereka saling bertukar saliva di sana. Rasa manis bibir Aline membuat Galen enggan melepasnya.
Suasana ruang perawatan mendadak panas akan kegiatan mereka. Sayangnya Permainan itu terpaksa mereka lepaskan saat mendengar pintu kamar terbuka.
.
.
.
Yah... siapa sih yang ganggu ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
__ADS_1