Fake Love

Fake Love
Seringai Licik


__ADS_3

"Bu, kenapa melamun?" tanya Aline yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Bu Winda termenung.


"Ah, tidak. Ibu tidak melamun, cuma lagi liat bunga ini, bagus ya?" elak Bu Winda.


Kertas ucapan yang ia pegang di simpan ketempatnya semula.


Aline tersenyum. "Iya Bu, itu kan bunga kesukaan kita!" Aline melanjutkan kegiatannya. Gadis itu melangkah mendekati lemari, memilih baju apa yang akan ia pakai saat ini.


"Jam berapa Galen jemput kamu?" tanya Bu Winda mengalihkan dengan pertanyaan.


"Aku diantar Pak Joko aja, Bu! Sore itu merupakan jam sibuk, Galen pasti lama sampai sini. Lebih baik ketemu di tempat tujuan aja," ucap Akine sambil memilah milih beberapa baju dan meminta pendapat ibunya. "Bu, baju yang ini cocok gak ya, buat aku!" Aline mencoba baju yang masih tergantung di gantungan baju lalu menempelkannya di depan badan.


Bu Winda terlihat berpikir untuk memberikan pendapat. "Itu terlalu terbuka di bagian dada, cari yang agak tertutup. Jika hanya makan saja, tak apa kalau memakai gaun. Kalau setelah makan kkian pergi jalan, ibu sarankan pakai dress saja, tapi cari yang nyaman untuk leluasa bergerak."


"Gak tau juga sih, Bu! tapi benar juga takutnya Galen ngajak main dulu. Iya, deh. Cari dress aja." Aline mendengarkan saran dari ibunya. Setelah mendapatkan dress yang ia rasa nyaman untuk dipakai, Aline lekas memakainya.


Bu Winda duduk di tepi kasur, memperhatikan tingkah putrinya. Seulas senyuman tertarik di kedua sudut bibirnya. Rasanya ikut bahagia melihat Aline. Putrinya itu sebentar lagi akan menikah.


"Kalau yang ini, bagaimana, Bu?" Aline memperlihatkan baju yang ia pilih sambil memutar tubuhnya di hadapan Bu Winda.


Penampilan yang membuat Bu Winda tersenyum sambil menautkan ujung ibu jari dan telunjuk untuk penampilannya.


"Cantiknya putri ibu." Bu Winda kagum dengan penampilan Aline.



"Beneran bagus bu?" Aline mengamati penampilannya sendiri dari atas sampai bawah tubuhnya seraya berbalik ke hadapan cermin untuk berkaca.


"Apapun yang kita pakai asalkan masih dalam batas wajar dan sopan akan menjadi bagus dan pantas bagi orang yang memakainya," dalih Bu Winda berdiri lalu memegang kedua pundak Aline dari belakang.


"Terima kasih, Bu!" Aline menoleh ke arah Bu Winda.


"Ya, sudah sekarang kamu siap-siap dandan yang cantik, biar Ibu panggilan Pak Joko juga untuk bersiap,"


"Siap, kanjeng ratu!" ucap Aline menggoda.


Bu Winda mengelus pelan pipi putih Aline. terpancar kebahagiaan di wajah cantik putrinya itu. "Ibu sangat senang melihat senyuman ini terus berada di wajah cantik ini."


"Ah, Ibu, Jangan bikin terharu deh! jangan tatap aku kaya gitu! Aline jadi pengen nangis." Aline serasa ingin menumpahkan tangis bahagia saat itu.


Bu Winda langsung mencubit pipi Aline yang terlihat sedikit tembem. "Ih, gemes banget deh sama kamu, Nak! udah ah, cepetan siap-siap kelamaan nanti telat loh ketemu calon imamnya."


Setelah memberikan cubitan gemasnya, Bu Winda meninggalkan Aline agar segera bersiap.

__ADS_1


"Ibu! sakit loh, ibu pipi anaknya. Tega!"


"Biarin, kapan lagi coba ibu cubitin kamu, bentar lagi 'kan mau dinikahin Galen." Bu Winda berbicara sambil berlalu dari kamar Aline.


Ada rasa sedih di hati Aline. Dia bahagia sebentar lagi akan menikah dengan Galen. Tapi ia juga sedih, pasti Aline akan meninggalkan rumah ini. Rumah yang menjadi saksi hidupnya.


Aline mengembuskan napas berat, itu adalah resiko menjadi seorang istri. Harus siap dan ikut dengan perintah suami, toh ia bisa sering menginap dan mengunjungi Ibu dan Ayah nya ke rumah ini setelah menikah nanti. Gadis cantik dengan dress putih yang di pakainya saat ini sudah siap untuk pergi sore ini.


"Semangat Aline, ingat kebahagiaan mu sudah ada di depan mata. Kali ini bukan cinta palsu lagi yang akan kamu dapat. Cinta sejati lah yang akan kamu raih." Aline menyemangati diri sendiri di depan cermin.


Gadis itu menutup mulutnya sendiri, ia terkekeh kecil merasa lucu dengan tingkahnya sendiri.


...***...


"Aku berangkat dulu, ya, Bu!" Aline menyalami Bu Winda yang mengantarkannya sampai di depan rumah.


"Eh, sebentar." Alien memutar tubuhnya lagi di hadapan Bu Winda. "Udah, Ok, 'kan Bu?"


Gelengan kepala dan senyum di tunjukkan Bu Winda saat melihat tingkah Aline. "Ok, banget. Cantik!" Bu Winda memberi acungan jempol kepada Aline.


"Ah, ibu makasih," Aline memeluk Bu Winda singkat dan memberikan kecupan di pipinya sekilas.


"Aline berangkat, ya Bu! bilangin sama ayah, Aline berangkat diantar Pak Joko," ucap Aline.


Aline masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggunya dari tadi. Mobil itu melaju meninggalkan Bu Winda di depan ruamhnya. Ia lambaiankan tangan melepaskan kepergian Aline dengan Pak Joko.


Sesampainya di tempat tujuan, Aline mengerutkan alis dengan tempat tersebut.


"Jauh sekali Pak, tempatnya? ini benar alamatnya?" tanya Aline kepada Pak Joko.


Tempat itu terlihat agak sepi. Hanya ada beberapa toko dan restaurant yang masih buka. Di seberang bangunan itu terdapat bangunan tua yang sudah tak berfungsi lagi. Tempat itu kerap kali dijadikan tempat nongkrong oleh para preman, di sana.


"Benar, Neng! nih foto alamat yang Neng Aline kirim ke Bapa dari kartu ucapan itu.


Aline melihat foto dari ponsel Pak Joko. " Benar juga ya, Pak! kenapa Galen mencari tempat makan yang jauh begini sih, sepi lagi." Aline sudah mulai merasa ada yang aneh.


Aline turun dari mobilnya.


"Coba aku hubungi Galen dulu, Pak Joko boleh pulang duluan, biar Aline nunggu Galen di dalam restoran aja." ucap Aline mendekat ke arah Pak Joko yang masih duduk di bangku kemudinya.


"Gak pa-pa Bapak tinggal, Neng?"


"Iya, Pak! gak pa-pa!"

__ADS_1


"Kalau begitu Bapak permisi, kalau ada apa-apa segera hubungi bapak, ya!"


"Iya, Pak. Terima kasih"


Pak Joko pun melajukan mobilnya meninggalkan Aline sendiri di sana.


Aline merogok ponsel miliknya di dalam tas selempangnya, lekas ia menghubungi Gaken. Tapi hanya ada suara yang mirip dengan kereta api saja.


"tut ... tut... tut... tut... "


"Kok gak di angkat sih? aku chat aja deh!"


Tanpa basa basi Aline dengan cepat mengirim pesan padanya.


📩 "Gal, aku sudah sampai ke alamat yang kamu kasih, jangan lama-lama ya, aku tunggu." pesan Aline terkirim menampilkan tanda centang dua tak berwarna.


Tak lama ponsel milik Aline bergetar, panggilan dari Galen tak sempat diangkat olehnya. tapi tanda centang sudah berubah menjadi warna biru.


📩"Ya, tunggu aku! tunggu di dalam restaurant yang ada di hadapan kamu. Sebentar lagi aku sampai, Yang!" Galen membalas pesan untuk Aline saat berada di pertigaan lampu merah.


Senyum mengembang di wajah Galen. Pria itu melirik ke bangku sampingnya. Satu tangkai bunga mawar merah ada di sana. Kejutan manis akan ia beri pada calon istrinya itu.


Galen belum mengetahui kalau Aline berada di tempat yang salah. Alamat yang sudah di ganti oleh seseorang. Ada perasaan aneh yang Aline rasakan. Tapi Aline berusaha menangkis semua rasa itu.


Dua pasangan mata telah mengintai keberadaan Aline.


"Lu siap-siap bekap gadis itu saat keadaan sepi, gue tunggu di dalam mobil. ingat jangan sampai ada yang curiga!" titah Fredi kepada salah satu anak buahnya.


Seringai licik dan tatapan jahat diarahkan kepada Aline. "Aku akan balas sakit hatiku smaa kamu, Galen! kita lihat sekuat apa kamu." Ferdi terkekeh jahat sambil menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan aksinya.


.


.


.


.


.


Udah mulai tegang nih....


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2