Fake Love

Fake Love
OTW Honeymoon


__ADS_3

Hasil bergadang semalam dengan Ayah mertua berakhir dengan tidur sampai siang hari. Tak ada rasa tak enak hati pada pemilik rumah maupun istrinya. Ia tetap bersikap cuek berasa di rumah sendiri dengan prilakunya. Tiga hari sudah Ia berada di pondok mertua indah. Mengerjakan tugas kantor dari rumah, sesekali melakukan meeting dengan beberapa staf perusahaan pun melalui zoom meeting.


Sudah beberapa hari Ayah Zaki mengajaknya mengobrol sampai malam bahkan mengajaknya untuk bermain catur dan bermain kartu. Hal yang tidak pernah ia lakukan.


Kebiasan baru yang membuat Galen betah. Sebelum menguasai permainan yang baru di lakukannya.Ia terus mencobanya berulang kali, meminta Ayah Zaki untuk mengajarkannya. seakan Galen lupa ingin berduaan dengan Aline.


Sungguh saat ini Galen menjadi orang rumahan. Sayangnya tak ada ronda, Jika ronda di lakukan oleh para pemilik rumah mewah akan lebih seru menurutnya seperti di kampung. Itu yang Galen tahu.


Di perumahan elite itu hanya ada para satpam yang bertugas berkeliling komplek untuk memantau keadaan sekitar. tidak seperti di kampung yang melibatkan warga untuk ikut menjaga keamanan tempat tinggalnya.


Kegiatan sehari-hari di lakukan selalu bersama Aline. Hubungan yang semakin erat. Tak malu untuk saling mencurahkan kasih dan sayang dengan ciuman, saling peluk. Ingin minta lebih, tapi Galen takut berakhir dengan bermain sendiri di kamar mandi.


Selama palang merah belum berakhir sempurna. Selama itu pula Galen belum merasakan manisnya cinta yang bersatu karena gelora asmara.


Oma Ratih selalu menanyakan keadaan mereka berdua menagih pengantin baru itu untuk mengunjunginya.


"Kalian lupa sama Oma?" rengek wanita paruh baya yang duduk di kursi roda saat ini. Karena kakinya sudah tak kuat berjalan.


Ada suster yang mengurusnya saat ini.


"Tidak Oma, Aline ingat kok sama Oma! Mas Galen yang bangun siang terus mentang-mentang libur kerja. Sekalinya bangun kerjaannya mantengin laptop terus. Katanya kerjaan kantor di kirim lewat email sama Aldo," adu Aline pada Oma Ratih.


"Dasar anak itu, awas saja kalau mementingkan pekerjaan daripada keluarga." omel Oma Ratih sampai terdengar oleh Galen yang sedang melakukan Zoom meeting dengan staff karyawannya.


Galen berada di sofa tepat di seberang Aline yang tengkurap sambil video call bersama Oma Ratih di tempat tidur.


Sesekali Aline tertawa geli tanpa suara. Melihat Galen di hadapannya. "Apa sih yang kamu lihat, Nak? kenapa ketawa geli begitu," tegur Oma Ratih pada Aline di sela obrolannya.


"Beneran Oma mau lihat aku ngetawain apa?" Aline langsung membalikkan kamera depannya kepada Galen. Oma pun ikut tertawa melihat kondisi Galen saat ini.


"Hahaha...." Tawa renyah terdengar jelas dari seberang telepon Aline. Aline dan Oma Ratih masih tertawa tanpa memperdulkkan Galen sedang melakukan rapat.


"Lanjutkan rapatnya saya akan mendengarkan kalian dari sini. Kalau ada yang memerlukan tanggapan dari Saya saya akan kembali bersuara," ucap Galen tegas lalu mensilent suara dalam siaran videonya. Pria itu berdiri lalu berjalan mendekati Aline yang masih sama dengan posisinya.


Para karyawan yang sedang rapat mungkin heran dengan apa yang terjadi. Mereka terlihat tersenyum melihat bosnya bangkit dari duduknya.


Aldo yang ikut dalam rapat itu pun menggelengkan kepala. Mentang-mentang pengantin bar, pikirnya. Tak terlihat setengah pakaian dari bagian pinggang ke bawah. Kalau saja mereka lihat secara jelas mungkin para staff yang ikut rapat pun akan ikut tertawa.


Galen terlihat sangat rapi dengan kemeja, dasi dan jas yang ia kenakan. Rambut yang tersisir rapi dan wajah yang tegas dan tampan. Tapi itu hanya di bagian atas saja, bagian bawah Galen hanya memakai celana boxer saja. Itu yang membuat Aline dan Oma menertawakannya.


"Apa tiap dia zoom meeting selalu seperti itu, Nak" Oma Ratih bertanya sambil di selingkuh tawa.


Aline mengangguk cepat. Ia lekas terbangun bersiap-siap kabur karena melihat Galen yang mendekatinya seperti hendak menerkamnya.


"Kamu berani mengadu sama Oma." Galen menangkap Aline yang mencoba menghindarinya.


"Enggak, aku tidak mengadu, Oma bertanya aku jawab.Benar 'kan Oma." teriak Aline agar Oma Ratih mendengar ucapanya. Aline sama seperti Galen. Kalau Galen sedang melakukan rapat dengan karyawannya. Aline sedang video call dengan Oma Ratih pakai laptop miliknya.

__ADS_1


"Ampun mas, Aww... Oma, tolong aku!" jerit Aline karena Galen menggelitiki pingangnya.


"Aku gak akan kasih ampun."


Oma Ratih hanya bisa mendengar ucapan merka dari sambungna video callnya karena posisi laptop Aline di putar arah oleh Galen menghadap langit kamar.


"Hai, Jangan bergelut asik siang hari, setidaknya matikan dulu rapatmu, anak nakal. Dasar cucu gak ada akhlak, berani seperti itu di depan Oma mu," omel Oma Ratih. tapi tak di pedulikan oleh Galen.Ia terus menggelitiki Aline.


"Mas ... Udah, Ampun, sana ih! gak sopan meninggalkan rapat gitu, ada Oma juga." gerutu Aline sambil menahan dada Galen yang sudah berada di atas tubuh istrinya itu. Napas Aline tersengal karena tertawa menahan geli.


"Sana, Ih!" Dengan sekali dorongan tubuh Galen tersingkir darinya. Hampir saja terjatuh, tapi Galen langsung berdiri lalu merapikan pakaian yang agak lusuh akibat ulahnya sendiri.


Galen kembali mendekati Aline.Tapi bukan untuk menerkamnya lagi. ciuman singkat di bibir ia berikan. "Awas kalau saatnya tiba aku tidak akan kasih ampun!" ucapnya sambil berlalu kembali lagi ke hadapan laptop untuk melanjutkan rapat.


"Cucu laknat, Oma dengar Galen," Omel Oka Ratih mendengar bisikan nya ternyata laptop milik Aline berada sangat dekat dengan pemiliknya.


Mendengar suara Oma Ratih Aline mengembalikan layar laptop ke hadapan. "Oma ... Maaf, ya, Oma harus dengar omongan mesumnya, Mas Galen." Wajah Aline merona mengingat kecupan singkat tadi.


"Oma senang sekali kembali melihat wajah ceria mu, cucu menantuku! Ya sudah, maaf ya Oma sudah mengganggu kalian. Pokoknya besok kalian harus ke sini! Jangan sampai tidak." Oka Ratih memberi ultimatum.


"Siap Oma, tapi habis Aline cek up ke rumah sakit ya?" ujarnya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Oma Ratih khawatir.


"Aku hanya kontrol ke psikiater, Oma! melaporkan perkembangan yang ada dalam diri Aline. Aku sangat bersyukur, bisa melewati trauma dan ketakutanku karena Mas Galen." ucap Aline dengan senyum bahagia.


"Iya, Oma."


"Ya, sudah. Oma tutup ya teleponnya."


"Ya, Oma. Sehat selalu Oma."


Sambungna video call itu pun berakhir.


Aline bangun dari tempat tidur. Hendak keluar kamar untuk mengambilkam camilan makanan untuk suaminya.


***


Selagi Aline keluar kamar Galen telah selesai dengan rapat online nya. Ia sempat berbicara dengan Aldo, asisten pribadinya yang menggantikan tugasnya saat ini di kantor.


Galen pun menanyakan keadaan Bu Rahma kepadanya. Bersyukur istri dari Ustad Arifin sudah dirawat inap di rumah sakit.


Dan kabar yang ia dengar Aldo sudah mendapat restu dari kedua orang tua Rima.Tapi syaratnya Aldo harus menikahi Rima sesegera mungkin. Ustad Arifin tidak mau niat baik harus tertunda. Orang tua Rima tidak meminta pesta mewah ataupun hal yang berlebihan, begitu juga dengan Rima. Ia hanya meminta Aldo membacakan surah Ar-Rahman sebagai mas kawin untuknya.


Aldo pun menyanggupinya hanya ia harus memiinta ijin lebih dulu kepada Galen.


"Kamu ini kelihatannya tidak ingin kalah denganku, Do!" cebik Galen dengan nada bercanda. "Tunggu sampai aku masuk kantor." ucapnya kemudian lalu menutup teleponnya sepihak.

__ADS_1


"Tapi,Tuan--" ucapannya terputus saat mendengar teleponnya di putus secara sepihak.


Aline kembali ke kamarnya. Wanita cantik dengan baju rumahan yang sederhana itu, menghampiri suaminya yang tengah melepaskan pakaian kerja setengah badannya.


"Kenapa, Mas?" tanya Aline karena melihat wajah Galen yang di tekuk seperti menahan kesal.


"Aldo minta ijin buat nikah secepatnya." sungut Galen lalu melepaskan kemejanya lalu di serahkan kepada Aline. Ia raih kaos yang di sodorkan Aline kepadanya.


"Alhamdulillah ... syukurlah kalau begitu. Semiga lancar niatan baiknya" Aline melangkah medekati pintu kamar mandi, memasukkan baju kotor Galen ke dalam keranjang kotor. "Oh, iya, Mas. Tadi Bi Kesih ngasih amplop putih sama aku,"


"Amplop putih?" Galen terlihat bingung.


Aline berjalan ke arah nakas, meraih amplop putih yang ia simpan di atas sana.


"Ini...." Aline menyerahkannya kepada Galen. "Kata Bi Kesih dapet dari jas hitam yang Mas pakai saat akad. Dia lupa mau ngasih tau, aku. Baru tadi ia ingat. Emang isinya apa?" tanya Aline ikut penasaran.


Galen ingat amplop itu isinya tiket hiburan honeymoon untuknya dan Aline.


"Hadiah dari Bara!"


Aline mengerutkan dahi. "Bara?"


"Ya, tiket honeymoon ke Maldives nya indonesia!" ungkap Galen.


"Dimana itu, Mas" tanya Aline penasaran. Tubuhnya sampai menempel dekat dengan Galen.


"Ora Beach Resort, Maluku."


"Aku mau ke sana, Mas!" rengek Aline manja sambil menggoyangkan tangan Galen pelan.


"Bukannya besok ada jadwal cek up ke Dokter Fitri? kita juga belum ketemu Oma?" Galen mengingatkan membuat Aline cemberut mendengarnya.


Melihat istrinya sedih karena dikerjai oleh Galen. Membuat kesenangan sendiri untuknya. Padahal Galen sangat senang mendengar Aline ingin pergi ke sana. Itu artinya ia akan pergi otw honeymoon.


"Setelah cek up, kita ketemu Oma dulu, setelah itu kita berangkat ke sana!"


"Benar, Mas?" Air wajah Aline berubah senang. Ia berjinjit mencium pipi Galen untuk berterima kasih. Tapi Galen menahan tubuhnya saat Aline hendak melepaskan ciuman singkatnya.


Galen malah menarik wajah Aline lalu menyambar bibir dengan bibirnya.


merengkuh tekuk leher istrinya agar ia semakin mudah memperdalam ciumannya.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2