
Pagi ini, Lagi-lagi Aldo kena sasaran oleh Galen. Karena datang terlambat. Aldo diperintahkan mencari sarapan untuk Galen. Ia minta di belikan bubur ayam yang rasanya sama persis dengan buatan Aline. Istrinya hanya memberi Galen dua suapan saja, selebihnya ia makan sendiri.
"Sayang... Aku mau lagi!" pinta Galen manja.
"Habis..." Aline menunjukkan mangkok yang ia pegang bersih tak bersisa.
"Terus, Mas sarapan apa dong?" tanya Galen dengan tatapan melasnya.
"Tunggu Aldo balik lagi, Mas 'kan nyuruh dia nyari bubur ayam, bukan?" ucap Aline cuek lalu mengambil paper bag yang di bawa Aldo tadi, isinya ternyata baju baru. Sebuah dress berwarna purple warna soft yang Aline suka.
"Tapi aku lapar, Yang! Aku maunya makan masakan kamu." Galen masih merajuk.
Aline benar-benar mengacuhkan Galen. Sepertinya ia sengaja melakukan itu. Dihatinya masih ada rasa kesal kepada Galen.
Aline berjalan santai menuju kamar sambil membawa paper bag berisi dress, Aline berencana untuk memakainya. Sayang sudah di beli tidak dipakai. Anggap saja sebagai pengganti baju miliknya yang di bawa Sandra.
Tingtong...
Galen berdiri dari duduknya lekas berjalan kearah pintu saat mendengar bel berbunyi, ia tahu siapa yang kembali datang.
"Lama sekali, sih!" Galen berbicara dengan nada kesal. entah karena lapar atau karena diacuhkan oleh Aline dari tadi.
Aldo yang sama sekali tidak tahu apa-apa hanya bisa menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh malang nasib menjadi asisten pribadi. Sudah di perintah, tak mengenal waktu, sudah menjalankan tugasnya masih saja salah dan dimarahi.
"Sabar... sabar..." ucap Aldo dalam hati sambil menyerahkan bubur ayam yang Galen minta.
Padahal Aldo kembali mengorbankan uang dua ratus ribu untuk seporsi bubur ayam yang Galen minta. Pengalamannya saat membeli gado-gado ia terapkan. Menyogok di penjual bubur agar Aldo terbebas dari antrian. Aldo membeli bubur di tempat langganan Rima, istrinya sangat senang jika makan bubur di tempat itu. menurut pembeli rasanya enak dan bikin nagih.
"Penjual bubur ini jauh, Tuan! Rasanya enak pasti tidak kalah sama buatan Nona Aline." ujar Aldo.
"Masuk, Do!" ajak Galen kepada asistennya itu.
Galen melangkah menuju dapur, menuangkan sendiri bubur yang dibelikan Aldo ke dalam mangkok tanpa memanggil Aline. Karena Galen tahu istrinya masih dalam mode marah sampai sikapnya cuek dari tadi.
"Hm.... Enak juga!" ucap Galen setelah merasakan satu suapan buburnya. "Kmaj sudah sarapan, Do?" tanya Galen.
Aldo menggeleng lemah. Jangankan sarapan. minum kopi aja dia belum sempat. Tidur nyenyak nya pun harus terpaksa ia abaikan karena langusng menjalankan tugas dari Galen. Pergi bolak balik ke setiap toko baju, pagi hari maan ada yang buka. Sedangkan perintah Tuannya itu seakan harus tidak boleh terbantah atau terlewat.
Makanya Aldo datang terlambat ke apartement itu.
"Kenapa tidak beli sekalian tadi, kita bisa sarapan bareng di sini!" Galen kembali menyendok bubur lalu memasukannya ke dalam mulut. Ia benar-benar menikmati sarapan paginya. Rasa bubur itu sama enaknya dengan bubur buatan istrinya.ocehannya Membuat Aldo menelan ludah, bos nya itu tidak tahu kalau Adlo sedang menahan lapar. Ia belum sempat sarapan tadi.
"Kamu tahu istriku sedang dalam mode marah. Beruntung ada kamu, ada teman buat bercerita. Daritadi dia mengacuhkanku!" bisik Galen takut Aline mendengar ocehannya.
Galen kembali menikmati bubur ayam dengan nikmatnya.
Akh.... Tuan muda kenapa aku jadi ikutan lapar melihat dia makan!
Aldo membatin bersamaan dengan perutnya yang minta di isi.
"E-eh, ada Aldo. Oh ya, bagaimana, pantas tidak dress ini aku pakai?" tanya Aline sambil memutar tubuhnya di hadapan Galen dan Aldo.
__ADS_1
Aldo merasa canggung terhadap Galen.
Kenapa Nona malah bertanya kepadaku, kenapa tidak sama Tuan saja? Sebenarnya apa sih yang terjadi, Tuan sama sekali belum cerita apapun. Aku seperti orang bodoh, disini!
Aldo masih belum menjawab, ia tidak enak hati dengan Galen yang menatapnya.
"Kenapa kamu diam saja? Apa Mas Galen memang berniat beli dress cantik ini untuk Sandra?" Aline merasa curiga, ia menoleh cepat kepada Galen.
Galen menggeleng kepala pelan, Ia memang memerintahkan Aldo membeli baju untuk Sandra karena ia tidak rela pakaian Aline harus dipakai oleh wanita itu.
Perasaan Aline gampang sekali berubah, kadang sensitif, gampang marah, gampang menangis, kadang dengan cepat bersikap santai dan cuek. Galen sungguh di buat bingung olehnya.
Aldo semakin bingung untuk menjawab.
"E-emmm... Itu... "
"Aku sudah jelaskan sama kamu tadi, Yank! sudahlah, kemarilah... Mau tidak?" Galen menarik bangku yang ada di sebelahnya, berharap Aline sedikit luluh.
"Kamu makan apa?" tanya Alin ketus kepada Galen.
"Bubur," jawabnya singkat.
"Enak?"
"Hmm..." Galen mengangguk. "Sini, cobalah!"
Sebenarnya Alin malas untuk mendekati suaminya. Saat ini ia masih dalam mode marah. Tapi melihat Galen yang sangat menikmati bubur itu Aline jadi ngiler, mau minta tapi gengsi.
"Nih, coba!" Galen menyuapinya satu sendok bubur ayam yang sedang dinikmatinya. "Enak 'kan?"
Aline mengangguk pelan sambil tersenyum malu.
"Mau lagi?" tanya Galen.
Aline malu untuk menjawab. Anggukan kepala menjadi jawabannya.
Galek tersenyum, perlahan Aline luluh kepadanya. "Biar aku suapin."
"Tapi, Mas 'kan lagi sarapan, nanti tidak kenyang kalau buburnya disuapin ke aku!" ujar Aline.
"Nggak pa-pa, Mas sudah kenyang. Kalau kebanyakan takutnya malah keluar lagi. masih berasa mual soalnya." Galen berdalih.
Melihat kemesraan yang mulai menghangat membuat Aldo seperti obat nyamuk di sana.
Ia lebih memilih pamit dan kembali bersama istri tercintanya. Berencana memanfaatkan waktu libur akhir pekannya. karena kebetulan hari ini adalah hari libur.
"Tuan... Nona... Saya pamit undur diri." Aldo berdiri lalu membungkukkan badannya.
"Aku belum sempat buatkan kopi untukmu, Do!" ucap Aline merasa tidak enak kepada Aldo.
"Tidak perlu, Nona! Nanti saja ngopinya di rumah saja bareng istri." balas Aldo.
__ADS_1
Aline mengangguk pelan.
"Ya, cepat pulang kasihan istrimu menunggu lama. Selamat berlibur, Do!" cetus Galen tanpa rasa bersalah. Padahal dia yang meminta Aldo datang menemuinya dengan segala perintahnya.
"I-iya, Tuan... Terima kasih." balas Aldo kemudian aistennya itu segera meninggalkan apartement.
Aldo menggelengkan kepala dengan sikap bosnya itu. Memang kekuasaan dan derajat bisa membuat orang bawah tunduk dan manut saja seperti Aldo.
Seteleh sampai nanti Aldo benar-benar ingin menonaktifkan ponselnya. Agar hari libur ini tidak ada gangguan kembali dari bosnya itu. Biarlah kali ini Aldo mangkir dari pekerjaannya. Sudah beberapa bulan ini ia terlalu sibuk dengan urusan kantor. Ia tidak mau melewatkan masa kehamilan istrinya. Kebahagiaan yang Aldo rasakan karena selama ini ia tidak mempunyai keluarga.
"Mas lain kali kita ke tempat penjual bubur ini, Ya?" Pinta Aline dengan semangatnya. Wanita itu lupa kalau saat ini ia dalam mode marah.
"Iya, Sayang! Kapanpun kamu mau ke sana kita berangkat!" Galen memegang pucuk kepala Aline, mengacak rambutnya pelan lalu mendaratkan ciuman singkat di sana.
Galen menaikkan alisnya. Merasa lega karena Aline tidak mengacuhkannya kali ini. Hari libur ini akan ia habiskan seharian di dalam apartement, mumpung Aline sudah jinak.
Syukurlah salah paham ini tidak berlanjut. Terima kasih atas rasa percayamu padaku, Sayang.
Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku janji, Sayang...
Besok aku akan bersikap tegas kepada Sandra. Dan memberikan suatu keputusan kepadanya.
Galen kembali mendararkan ciuman, kali ini beda tempat, pipi Aline yang cuby jadi tempat mendaratnya ciuman itu.
"Mas... ih, geli... kamu belum cukuran!" Alne sedikit menghindar dari Galen.
"Geli... geli.. itu yang membuat nikmat Sayang..." bisik Galen membuat Aline membulatkan mata. Ia tahu kode ucapan itu di tambah tatapan Galen yang mendamba diarahkan kepadanya.
Pagi ini menjadi pagi bergelora untuk Aline dan Galen. Setelah perseteruan panas terlewatkan. Permainan seru kali ini mereka mainkan di meja makan menjadi cerita bagi kedua pasangan itu.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya...
Hari ini hari senin waktunya vote muncul....
jangan lupa kirim vote dan gifts nya.
* Dalam hubungan suami istri haruslah mempunyai sikap saling percaya, saling terbuka.
Ceritakanlah dan berdiskusi lah kepada pasangan dalam hal apapun agar tidak menimbulkan rasa curiga terhadap pasangan.
Membangun kehidupan ruang tangga akan sangat sulit jika tidak ada rasa saling percaya dan saling terbuka. Menerima dan memaafkan kesalahan pasangan tanpa mengungkitnya di masa mendatang menjadi pelajaran yang sangat berharga memulai kebahagiaan bersama pasangan.
Buat kalian yang masa pernikahannya masih baru, biasanya akan saling ego dalam bersikap. Saling mengalah dengan menurunkan ego adalah sikap yang bijaksana dalam memulai kehidupan berumah tangga.
Selamat berbahagia semoga kalian semua dan keluarga bahagia selalu. Amin.
__ADS_1