Fake Love

Fake Love
Kehangatan Keluarga Zaki


__ADS_3

"Selesai, Tuan," ucap Jainab mengolesi salep di pipi Tuan Wijaya. Wajahnya langsung menunduk, segera ia merapikan baskom kecil berisi handuk dan salep yang ia bawa tadi.


Tak lama Ayah Zaki kembali ke teras belakang. "Sudah selesai, Nab?" tanyanya kepada Jainab yang terlihat hendak meninggalkan teras.


"Sudah, Mas! Saya permisi dulu, mau bantuin Winda di depan!" pamit Jainab pada Ayah Zaki lalu menoleh seraya sedikit menunduk kepada pria yang baru saja ia bantu obati luka lebamnya.


"Terima kasih," ucap Tuan Wijaya saat Jainab hendak melewatinya.


"Sama-sama," sahut Jainab seraya tersenyum simpul kearah Tuan Wijaya. Lesung pipi itu kembali terukir di wajah manis wanita keturunan Sunda itu membuat Tuan Wijaya tak berkedip memandanginya.


"Hmm... sepertinya ayah dan anak ini kecantol gadis berlesung pipi!" sindir Ayah Zaki.


Tuan Wijaya lekas mengalihkan pandangannya dari Jainab. Merasa tertohok oleh ucapan Ayah Zaki. "Jangan bicara sembarangan. Di sini masih setia dengan Indira Pratiwi." Tuan Wijaya menunjuk dadanya sendiri. Membuat Ayah Zaki menggelengkan kepala.


"Aku kira setelah sekian lama, Mariska sudah mengisi sebagian hatimu. Ternyata posisi Indira masih setia mengisi relung hatimu, Jay! cobalah menerima kehadiran orang lain, jangan selalu hidup dalam masa lalumu," Ayah Zaki menasehati sahabatnya itu. Karena masih terlihat raut penyesalan dan kesedihan saat mereka membahas Indira dan Galen.


"Tidak semudah itu melakukannya, Zak! sering Aku mencoba menerima Mariska karena dia adalah ibu dari anak perempuanku. Tapi tidak bisa, rasa bersalah pada Indira masih terpatri di hati." ucap Tuan Wijaya denagn nada sumbang.


"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, sudah menjadi jalan kehidupan Indira seperti itu, kita hanya bisa mendoakannya. Kamu berhak bahagia, Jay. Begitu juga Galen." Ayah Zaki memperingatinya.


"Doakan saja, Zak! Aku bisa keluar dari masa lalu yang selalu membelengku ku dalam penyesalan," lirihnya.


Saat berbagi cerita seperti inilah hal yang di rindukan Tuan Wijaya. Sebelum kesalahpahaman puluhan tahun itu terjadi. Hanya kepada Ayah Zaki lah, Tuan Wijaya berbagi cerita.


Banyak yang mereka ceritakan. Ayah Zaki juga menceritakan kecurigaannya terhadap Mariska. Wanita itu adalah dalang dari semua kesalahpahaman ini. Salah satu karyawan yang dulu bekerja dengan Nyonya Indira, yang kebetulan Ayah Zaki mengenalnya pernah mengungkapkan bahwa sempat melihat Mariska memotret kebersamaan Ayah Zaki dengan mendingan istri dari Tuan Wijaya. Kemudian mengancamnya agar tidak membuka mulut pada siapapun. Hingga sampai keinginannya menjadi Nyonya Wijaya ia dapatkan. Karyawan yang dulu setia bekerja di Rumah Beautiq dengan Nyonya Indira di pecat secara tidak hormat karena di fitnah sudah menyelewengkan dana Yayasan.


"Aku akan menyelidiki semua ini, kalau sampai benar terbukti semua ulah Mariska. Tidak akan Aku beri ampun wanita itu." Tuan Wijaya mengepalkan tangan dengan tatapan penuh kebencian.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat mereka berdua menghabiskan waktu hingga menjelang sore hari. Tuan Wijaya merutuki dirinya sendiri karena sudah bodoh termakan omongan Mariska. Sesampainya di rumah ia akan membuat perhitungan dengannya.

__ADS_1


Tuan Zaki sudah memberi tahu Tomy sebelumnya agar tidak menunggunya. Asistennya itu diperintahkan untuk mengurusi Istrinya Nyonya Mariska yang sudah dipulangkan ke rumahnya karena Kartika terus saja menanyakan keberadaan mamanya tersebut.


Sebelum kembali ke rumahnya. Tuan Wijaya di ajak untuk merasakan Soto Betawi dan beberapa hidangan yang Ayah Zaki jual di Warung Soto miliknya itu.


Kehangatan keluarga di rasakan Tuan Wijaya saat berkumpul dengan Keluarga Zaki. Kebersaman saat makan seperti ini tidak pernah ia rasakan.


Bisa berkumpul dengan Kartika, Galen dan Bara dalam satu meja sangat sulit ia dapatkan. Tuan Wijaya lebih sering memanjakan anak-anaknya dengan kemewahan tanpa memberikan kasih sayangnya secara langsung. Itu yang membuat Galen lebih memilih pindah ke rumah Oma daripada terus tinggal di rumahnya yang dingin tanpa kehangatan orang tua.


Sesekali kebersamaan itu di iringi tawa dan berbagi cerita dari Bu Winda, Aline dan Ayah Zaki.


Tuan Wijaya memperhatikan interaksi antara mereka. Sungguh hal yang pernah ia impikan dulu bersama Indira. kebersamaan bersama keluarga. Lagi-lagi pil pahit harus ia terima, menerima kenyataan bahwa impiannya hancur karena keegoisan dirinya sendiri.


Aline seketika diam melihat kesedihan Tuan Wijaya. "Om, kenapa? mau nambah Soto nya?" pertanyaan Aline membuat Ayah Zaki dan Bu Winda ikut mengalihkan perhatiannya kepada pria yang penuh tatapan sendu.


"Tidak, sudah cukup, terima kasih! Om, iri dengan kebersamaan kalian. Tak pernah Om, merasakan kehangatan seperti ini dalam keluarga, Om!" Tuan Wijaya tertawa miris.


"Sekarang kita keluarga, Jay! kamu akan selalu merasakan kebersamaan bersama kami," Ayah Zaki.


Mata Aline sudah berkaca-kaca mendengarnya. Rasa bahagia ia rasakan saat ini. Tapi mengapa kisah cintanya masih saja ada rintangannya. Setelah semua merestui kini Galen yang tak mengingat dirinya. Ingatanya hanya berputar pada masa lalu. Apakah Aline bisa membantu Galen mengembalikan ingatannya.


Aline menatap Ayah Zaki dan Bu Winda berharap kedua orang tuanya itu mengijinkannya ikut dengan Tuan Wijaya menemui Galen.


Kedua orang tua gadis itu saling menatap dan tersenyum. Mereka mengangguk bersamaan. Membuat Aline yang tengah berharap itu seketika mendekat ke arah mereka dan memeluknya ketika menerima persetujuan mereka.


...🌴🌴🌴...


Hampir menjelang malam Tuan Wijaya meminta Tomy untuk menjemputnya. Ternyata benar kebersamaan dengan keluarga Zaki sahabatnya membuat hati Tuan Wijaya yang dingin dan hampa itu seakan hidup kembali. Kehangatan keluarga itu sungguh menumbuhkan rasa rindu kepada anak-anaknya.


Tuan Wijaya merasa gagal menjadi seorang Ayah. Ia sadar selama ini kurang peka terhadap perasaan anak-anaknya. Galen, Kartika dan Bara harus tumbuh mandiri. Tuan Wijaya memberi dukungan materi dan hanya sesekali memberi perhatian saat berada di rumah. Ia lebih banyak sibuk di kantor dan urusan bisnisnya.

__ADS_1


Kini, Tuan Wijaya tiba di kediaman mewahnya. Baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah, panggilan manja dari putri kesayangannya terdengar menggema di ruang tamu.


"Papa ...," panggil Kartika yang baru saja dari dapur seraya membawa segelas susu putih hangat. Ia letakkan gelas yang berisi susu di atas meja lalu berlari kecil kearah Tuan Wijaya.


"Hai... Sayang!" Sambut Tuan Wijaya pada Kartika. Gadis berambut pirang bermata sipit itu meraih tangan lalu menyalaminya kemudian di peluknya tubuh tegap milik papanya itu.


Tuan Wijaya teringat kehangatan yang ia dapat dari keluarga sahabatnya. Ia merasa bersalah saat tubuh putri yang di peluknya saat ini baru ia rasakan kembali.


Di peluknya erat tubuh Kartika seakan memberikan kehangatan yang selama ini jarang ia berikan. kemudian bertubi-tubi ia daratkan ciuman di pucuk kepala Kartika.


Tuan Wijaya meregangkan pelukannya teringat satu masalah yang harus ia selesaikan dengan Mariska.


"Dimana, Mamamu?" tanya Tuan Wijaya saat pelukan itu meregang.


"Mama di kamar deh, Pah? semenjak kepulangannya kemarin ada yang aneh deh dari Mama. Tadi pagi Mama memaksa mau keluar rumah, tapi anak buah Papa melarangnya. Emang ada apa sih, sampai harus ada orang yang berjaga, Pah?" Kartika bertanya seraya bergelayut manja di tangan Papanya.


Tuan Wijaya memutar tubuh Kartika agar menghadap ke arahnya.


"Dengarkan Papa, apapun yang akan terjadi nanti, Kamu akan tetap bersama Papa. Maaf kalau sekarang Papa tidak bisa menjelaskannya kepadamu. Kamu akan tau sendiri nanti!" Tuan Wijaya mengelus pelan pipi putih putrinya lalu meninggalkannya menuju kamar di mana Mariska berada.


Dengan tangan mengepal dan kilatan amarah Tuan Wijaya berjalan tegal dan cepat menaiki anak tangga. berharap semua akan terungkap dan berakhir malam ini juga.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Beri dukungan kalian untuk karyaku ini..


__ADS_2