
Mendapatkan serangan manis dari Aline, tentu saja membuat Galen terkejut senang. Pria tampan itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan manis yang diberikan Aline.
Niat Aline hanya ingin memberikan kecupan singkat. Tapi Galen malah menyambut dan mengunci bibirnya dengan semangat. Suaminya itu mendorong Aline ke dinding lift, menyesap bibir itu lebih dalam. Sayangnya ciuman itu tak bisa berlangsung lama. Suara dentingan lift yang menandakan mereka telah sampai di tujuan. Galen terpaksa melepas tautan bibirnya yang enggan terlepas, seakan ingin menuntut lebih.
"Kita lanjutkan di rumah!" Galen menyentuh bibir Aline yang sedikit bengkak akibat ulahnya.
Aline tersipu malu dibuatnya. Ia mengangguk pelan menjawab ajakan Galen. Ada rasa lega di hatinya, ternyata benar nasihat dari Dokter Fitri yang baru saja ia temui. Rasa takut harus di lawan dengan keberanian dan mencoba. Terbukti ia bisa melewatinya.
Keduanya keluar dari lift, berjalan ber-iringan melewati lobi rumah sakit. Saling melempar senyum kebahagiaan. Galen semakin erat menggenggam tangan Aline. Menuntun istrinya untuk segera meninggalkan rumah sakit.
Hingga sampai di pintu utama rumah sakit, Aline menghentikan langkahnya. Matanya memicing melihat sesosok pria yang dulu pernah mengisi hatinya tengah keluar dari mobil yang berhenti di depan ruangan khusus UGD. Bersama dengan seorang gadis yang ia ketahui adalah adik dari Derald.
Wajahnya keduanya terlihat panik dan cemas.
"Mas ... Tunggu!" pinta Aline, Galen pun menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Sayang?"
Aline menatap Galen, lalu tatapannya beralih ke arah di mana Derald dan Siska berada. Galen pun mengikuti arahan tatapan Aline.
Terlihat Derald sedang menggendong wanita dengan perut besar ala bridal style. Di ikuti Siska dibelakangnya. Tatapan Aline dan Derald sempat bertemu. Tapi Pria itu lekas menghindar karena terburu-buru masuk ke ruangan UGD.
"Apa yang terjadi kepada Chyntia ya, Mas?" tanya Aline penasaran. Tatapannya masih mengarah kepada tiga orang yang tergesa memasuki ruang UGD itu, Karena ia melihat jelas raut kesakitan dari Chyntia yang memegangi perutnya.
"Itu bukan urusan kita, Sayang." Galen melepas genggamannya beralih merangkul tubuh istrinya untuk melanjutkan perjalanannya.
Aline mengikuti langkah Galen. Sesekali ia menoleh ke belakang, di mana tiga orang yang ia kenal masuk ruangan UGD. Berbagai pikiran muncul dalam benaknya.
"Apa yang terjadi dengan Chyntia? Apa dia akan melahirkan sekarang?" Aline berpikir dalam diam, kakinya melangkah pelan mengikuti langkah Galen.
Galen dan Aline masuk ke dalam Mobil sedan BMW Seri 8 Gran Coupe yang sudah menunggu mereka.
Satu anak buah Galen membuktikan pintu untuk Tuan dan Nona muda. Galen mempersilakan Aline untuk memasuki mobil terlebih dulu, setelah itu barulah dirinya.
Mobil mewah itu bergerak meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Bagaimana perasaanmu setelah berkonsultasi dengan Dokter Fitri?" tanya Galen seraya meraih tangan Aline laku menciumnya.
Di perlakukan bak ratu, Aline tersenyum bahagia menatap Galen. "Lebih lega, banyak hak yang beliau ajarkan untukku untuk melawan rasa takutku. Termasuk mencium, Mas kaya tadi!" Aline menunduk malu mengingat tindakannya.
"Kamu tidak takut lagi saat aku sentuh? Seperti ini!" Galen menyentuh pipi Aline lalu mengelusnya pelan.
Aline terpejam oleh sentuhan Galen, seakan meresapi tiap sentuhan di pipinya. Perlahan Galen mendekatkan wajahnya. Setelah semakin dekat, Aline sadar akan keberadaan dua anak buah Galen di depan mereka.
"Mas .... " Aline mengelengkan kepalanya. "Ada mereka," ucap Aline dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tatapannya mengarah ke bangku di depannya
Galen membuang napas berat. Tak sabar rasanya ingin segera pergi dari hadapan semua orang. Ia hanya ingin berdua saja dengan Aline. Pria bertubuh kekar dengan pakaian casual itu menyandarkan tubuhnya, tangannya tak lepas menggenggam tangan Aline.
Aline bukannya tidak mengerti akan keinginan suaminya. Meskipun sudah bisa mengendalikan diri dari rasa takutnya tapi masih ada perasaan was was dalam dirinya. Di tambah ia sadar saat ini tubuhnya sedang mengalami siklus bulanan bagi seorang wanita. Ada rasa syukur karena hal itu, jadi Aline bisa menjadikan itu alasan agar menunda kewajibannya melayani Galen.
Aline merasa arah perjalanan yang mereka lalui tidak menuju rumahnya. Melainkan ke tempat lain.
"Mas, kita mau kemana?"
"Kita ke apartement ku!"
__ADS_1
"Tapi, aku belum bilang sama Ibu."
"Setelah sampai, kita kabari Ayah sama Ibu. Malam ini kita menginap di apartement."
Aline mengangguk paham. Saat ini ikut saja kemanapun suaminya membawanya pergi.
***
"Kamu sering ke sini, Mas?" tanya Aline saat mereka memasuki apartement milik Galen.
"Sesekali." Galen berjalan menuju dapur bersih tak jauh dari ruang tamu. Mengambil minuman dari lemari pendingin yang ada di sana, meraih satu gelas lalu menuangkan air kedalamnya. Perlahan ia meneguknya.
"Apa ada orang yang membersihkan apartement mu sela kami tidak ke sini, Mas?" tanya Aline.
"Ada, tiap dia hari sekali ada yang ke tempat ini untuk bersih-bersih," ujar Galen di letakkannya gelas yang sudah kosong di atas meja makan minimalis tak jauh dari dapur bersih.
Ruang tamu dan dapur bersih saling terhubung tanpa sekat dinding, hanya terhalang oleh lemari hias yang menutupi sebagiannya. Tapi dari ruang tamu masih bisa melihat jelas ke arah dapur bersih itu.
Sungguh tempat tinggal yang cocok untuk pasangan pengantin baru. Ada dua kamar di sana. Satu kamar tak terpakai, digunakan untuk barang-barang Galen yang tak terpakai di simpan di sana. Hanya satu kamar yang dijadikan tempat untuk tidur jika Galen berada di sana.
"Oh, pantes. Bersih dan terawat." ucap Aline seraya berjalan pelan menuju jendela kaca yang masih tertutup rapat.
Aline mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak ada yang berubah dari ruangan tersebut. Dulu sebelum menjadi artis dan sempat di tolong oleh Galen saat mereka berdua belum ada perasaan seperti sekarang. Galen pernah membawanya ke sini. Jadi Aline sedikit ingat dengan suasana apartement Pria tampan yang kini menjadi suaminya itu.
Sesampainya dekat jendela disingkirkannya tirai yang menutupi jendela kaca itu. Cahaya merah dari matahari senja menerobos masuk menyinari ruangan berukuran suite itu. Pemandangan Jakarta dari tempat Aline berdiri saat ini juga terlihat jelas.
Nampak kepadatan ibu kota saat itu. Lampu dari gedung yang mengulang tinggi sudah menyala. Beruntung Aline dan Galen tidak terkena macet saat perjalanan ke apartement.
Galen berjalan mendekati Aline yang masih betah berdiri di jendela. Tangannya menyusup di antara pinggang Aline merengkuh tubuh istrirnya itu dari belakang.
"Ya, kalau tidak kita tidak akan bisa berdua sekarang ini di sini." Galen meletakkan kepalanya di atas bahu kanan Aline.
Keduanya menikmati keindahan kota Jakarta sore itu dari gedung apartement yang letaknya di lantai 18.
Setelah puas memanjakan mata dengan sedikit obrolan dan canda kecil sambil berpelukan dari belakang. Galen membalikkan tubuh Aline agar menghadap ke arahnya.
"Mas," pekik Aline terkejut saat tubuhnya di tarik mendekat bahakan tanpa jarak menempel dengan dada bidang Galen. Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Tidak akan ada yang mengganggu kita kali ini. Aku sangat merindukan mu." lirih Galen dengan suara parau. seakan menahan kerinduan yang selama ini ia rasakan.
Aline menunduk mendengar ucapan Galen. Ada rasa bahagia, bercampur rasa bersalah. Tapi ia tidak mau membahas yang sudah berlalu seperti arahan psikiater tadi siang. Jadikan kejadian yang ia jalani ke depan sebagai acuan mengalahkan ketakutan. Kalau bukan diri sendiri yang melawan, ketakutan akan terus menguasai diri.
"Sayang ... !" panggil Galen lembut. Tangannya merangkul pipi Aline lalu membelainya, beralih ke dagu lalu mendongakkannya agar saling menatap.
Kedua netra mereka bertemu. Aline bisa melihat tatapan mendamba tersirat di kedua netra milik suaminya itu. Senyuman dan pancaran cinta penuh ia rasakan.
Mata Aline terpejam perlahan, seakan memberi isyarat untuk Galen.
Keduanya meluapkan kerinduan yang tertunda. Melewati kesedihan dan kejadian yang menguras jiwa. Rasa takut menguar berganti dengan rasa nyaman.
Galen meraih tengkuk istirnya agar lebih leluasa mengekspor ciumannya. Aline mulai menyeimbangkan sentuhan dari suaminya. Rasa nyaman menghilangkan rasa takutnya. Ia pasrah menyerahkan semuanya yang ada dalam dirinya saat ini. Meski ada rasa bersalah karena tak bisa mempertahankan sesuatinyang berharga bagi seorang gadis.
Permainan bibir keduanya semakin berdecak. Lidah mereka saling membelit, saling menyesap manisnya rasa yang tersalurkan dari permainan itu.
__ADS_1
Galen tak melepaskan pungutannya terhadap Aline. Pria tampan yang kini berubah status menjadi suaminya itu, dengan cepat mengangkat tubuh Aline ala bridal style menuju kamar tidur.
Refleks Aline menyadari kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya berujung ke arah mana. Masih ada rasa takut di rasa, meskipun masih bisa ia tahan. Tapi kali ini, ia benar-benar harus menolak.
"Mas ... " lirih Aline seraya menarik wajahnya dan otomatis kedua bibir itu terlepas paksa. Ia menggelengkan kepalanya.
Napas keduanya saling memburu. Terlebih Galen, pria itu sangat mendambakan Aline.
Dengan pelan Galen menurunkan tubuh Aline di tempat tidur berukuran king size.
Kini tubuh kekar itu berada di atas Aline. mengukung tubuh Aline.
"Sayang, Aku tidak akan menyakitimu." Galen kembali menyambar bibir Aline yang hendak berbicara sesuatu.
Aline ikut terbuai kembali dengan perlakuan lembut dan manis itu.
Bibir Galen beralih menggigit kecil daun telinga Aline sehingga menimbulkan gelenyar aneh yang menyambar syaraf ketahanan Aline. Tapi kesadarannya masih terjaga dari gelora yang makin merasuki jiwanya. l
Perlakuan manis itu sangat berbeda dengan yang ia terima di malam naas itu. Sangat berbeda, jika malam itu keganasan, kasar dan paksaan yang ia terima. Kali ini kelembutan, saling menginginkan dan suka rela yang membuat ketakutan itu menghilang.
"Mas ..., Akhhh... " suara merdu lolos keluar dari bibir Aline, itu semakin membuat jiwa lelaki Galen terpacu untuk berbuat lebih.
Aline menahan dada bidang Galen. Mereka saling menatap. Gelengan kepala dari Aline membuat aksi Galen terhenti.
Galen berpikir Aline mengalami ketakutan kembali, saat ia menyentuhnya. Kesadarannya pulih, pria itu lupa akan nasihat dokter yang pernah menasehatinya. Agar tidak memaksa Aline.
"Sayang ... Maaf ... Maaf, aku tidak bisa mengendalikan napsu ku." Galen membelai pipi Aline, merapikan rambut yang menutupi keningnya lekas mendaratkan kecupan singkat di sana.
Ia mengira trauma Aline datang lagi. karena Aline menahan aksinya.
"Aku yang minta maaf, Mas! Maaf belum bisa melayani mu malam ini"
Keduanya saling menatap dalam. Galen berusaha tenang dan tersenyum, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak yang ia rasa.
"Aku menunggu mu sampai kamu siap,"
Galen hendak berdiri dai kukungannya terhadap tubuh Aline.
"Aku sudah siap, Mas. Rasa takutku hilang begitu saja saat bersamamu! Tapi ... Aku sedang datang bulan, jadi ... tidak bisa melayani mu saat ini. Maaf, Mas!"
"Hah ... Datang bulan?"
Aline mengangguk pelan.
.
.
.
.
BERSAMBUNG>>>
Sabar Galen..... ada aja halangan menuju surga dunia mu... kasian!!! pertempuran mu harus tertunda kali ini. sabar ye.. ๐ ๐
__ADS_1