
Merasa tubuh lebih baik setelah sarapan pagi. Sandra kembali beraktivitas seperti biasa menakar susu perah higienis hasil perahan. Lalu mencatatnya. Ia juga ikut bergabung dengan ibu-ibu yang lain di kandang perah, tempat untuk memerah sapi. Seraya menjelaskan program baru yang akan diterapkan di peternakan ini.
“Kedepannnya akan ada alat khusus yang akan di gunakan di peternakan sapi ini. Tidak manual lagi pakai tangan. Mesin pemerah susu sapi akan di gunakan nantinya.” Sandra memberi penjelasan.
Ada rasa kecewa di hati para pekerja mereka saling berbisik jika pekerjaan yang mereka lakukan di gantikan oleh mesin berarti mereka yang selama ini bekerja akan diberhentikan.
“Kalau perkerjaan kita digantikan oleh mesin berarti kita kerja apa nantinya, Sand? Apa kami akan di pecat?” tanya salah seorang ibu yang ikut mendengarkan penjelasan Sandra.
Sandra menggeleng cepat takut para pekerja salah paham dengan ucpannya.
“Tidak, Bu. Tuan Braja tidak akan memecat kalian semua. Sebab kalau bukan karena kalian peternakan ini bisa tidak terus berkembang dan sukses sampai sekarang. Kalian akan tetap bekerja seperti biasa hanya mengawasi dan menunggu mesin perah susu sapi yang bekerja saat menyedot susu sapi. Peternakan kita akan menambah ratusan sapi agar memproduksi susu sapi yang higienis dan berkualitas dalam jumlah yang banyak. Jadi, tidak mungkin hanya mengandalkan perahan memakai manual saja. Memakai mesin perah sangat efesien untuk memerah susu sapi, mudah di gunakan dan hasil perahan akan lebih banyak dibanding dengan manual.”
Panjang lebar Sandra menjelaskan secara rinci dan hati-hati kepada mereka agar para ibu-ibu bisa mencerna dengan baik penjelasannya.
Para pekerja menghentikan pekerjaannya sebentar saat mendengarkan penjelasan Sandra, mereka semua mengangguk paham dan setuju.
“Semoga saja benar ya kita akan terus bekerja di sini, kalau kita diberhentikan akan kerja apa kita nantinya?” ujar salah seorang ibu menambahkan.
“Saya yakinkan kepada kalian semua, itu tidak akan terjadi,” ucap Sandra tegas dan meyakinkan.
Mereka semua merasa lega mendengar pernyataan Sandra.
Interaksi Sandra dengan para pekerja menjadi perhatian Bara dan Tuan Braja. Bara pun menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya. Tuan Braja tampak tersenyum ketika memandangi Sandra.
“Apakah dia wanita istimewa Anda, Tuan Braja?” tanya Bara penasaran.
“Ya,” jawabnya singkat. Tuan Braja lekas menoleh ke arah Bara. “Dia wanita yang patut aku perjuangkan!” Tuan Braja kemudian berlalu meninggalkan Bara yang berdiri mematung mendengarnya.
Tuan Braja kembali mengajak Bara untuk berkeliling peternakan memperlihatkan tempat yang lain di sana. Dan menunjukkan tempat yang sedang dibangun gedung untuk kandang, karena sapi akan datang sekitar dua minggu lagi. Sekitar hampir dua ratus sapi yang akan datang.
Usai bersosialisasi dan menjelaskan sistem kerja baru untuk ke depannya dengan para pekerja. Seperti biasa Sandra membantu mereka. Membawa hasil perahan susu untuk ditimbang.
Tiba-tiba Rara datang menghampiri Sandra. Dengan penampilan berbeda dari tadi pagi. Bersama dengan Joni, asisten Bara.
“Rara... Kamu ngapain ke sini?” tanya Sandra seraya memperhatikan penampilan putri dari Bu Mirna yang berbeda.
“Maaf, Nona! Pak Bara ada di mana ya?” tanya Joni seraya memperhatikan sekitar, mencari keberadaan Bara.
“Pak Bara ada di gedung belakang!” jawabnya sopan kemudian menatap Rara dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
Joni lekas pamit tanpa kepada keduanya untuk menghampiri bosnya.
Ia tahu pakaian yang Rara kenakan bukan pakaian merek biasa.
‘Pakai pakaian siapa dia? Jangan sampai anak itu melakukan hal yang salah' pikir Sandra sambil terus memperhatikan gadis yang berjalan menghampirinya dengan sudut bibir yang ditarik.
“Kamu habis dari mana?” Tanya Sandra penuh selidik.
“Abis senang-senang ‘lah sama si Mas tampan!” jawabnya singkat.
Sandra mengerutkan alis mendengar ucapan Rara. “Mas tampan... Yang tadi pagi?” tanyanya ragu.
“Hmm...” Rara mengangguk pelan.
Mendengar ucapan Rara membuat Sandra berpikir negatif tentang mereka berdua. Ia berpikir Rara telah melakukan hal yang sama dengan yang Sandra lakukan tempo hari bersama Bara.
Ternyata dia melakukan hal yang sama juga dengan Rara. Heh... Kamu ini terlalu berharap kepada Bara, Sandra.
Sandra merasa kesal tanpa banyak bicara, dia meninggalkan Rara yang tersenyum penuh kemenangan kepada Sandra.
“Aku juga akan kasih liat sama kamu, Teh. Kalau aku juga bisa dapat lelaki kaya seperti Tuan Braja. Lihat saja kita bersaing!” gumam Rara menatap sinis Sandra.
Untuk melampiaskan kekesalannya. Sandra memilih melampiaskan dengan bekerja. Ia tidak memikirkan kandungannya.
Kesal, marah dan kecewa yang ia rasakan saat ini. Salah paham kembali terjadi. Sandra berpikiran negatif kepada Bara kalau pria itu memang sering bermain satu malam dengan setiap wanita. Sama seperti yang mereka lakukan.
Ingin menangis tapi rasanya tidak bisa ia tumpahkan. Siapa dia, rasanya percuma menangisi pria yang acuh itu, pikir Sandra.
“Teh Sandra biar saya saja yang bawa susunya. Si teteh lagi sakit bukan?” Salah seorang ibu mencegah Sandra membawa drum tempat penyimpanan susu sapi yang sudah diperah.
“Gak pa-pa, Bu! Kalau diam saja malah tambah sakit,” sahut Sandra.
Sandra terus membantu para ibu-ibu yang sudah selesai memerah susu sapi. Tanpa peduli dengan rasa lelahnya.
Bara dan Tuan Braja baru saja selesai memantau gedung yang tengah dalam proses pembangunan itu.
Ketika melewati tempat pemerahan susu, Bara melihat Sandra bolak balik membawa susu dalam drum kecil meskipun menggunakan troli tapi sangat terlihat wajah lelah dari wanita itu.
“Apa seperti ini cara Anda memperlakukan wanita istimewa Anda, Tuan Braja? Membiarkan ia lelah bekerja!” tanya Bara sinis tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
__ADS_1
Bara merasa kesal melihat Sandra bekerja keras seperti itu. Seperti orang yang tidak mendapatkan perlakuan baik oleh Tuan Braja.
Dengan cepat ia berjalan mendekati Sandra.
Dan hal yang tidak diduga terjadi pada wanita itu, Sandra hampir saja terjatuh Kalau saja tidak ada Bara yang menangkap tubuhnya.
Saat tubuh Sandra berasa dalam rangkulan Bara, sesaat mereka terdiam saling memandang dalam. Seakan rasa rindu mereka ungkapan dalam tatapan mata saja.
Sandra mengulurkan tangannya ke wajah Bara. Hendak membelai rahang tegas pria itu. Tapi ucapan Rara kembali terngiang di telinganya. Lekas Sandra menarik tangannya kembali.
Sandra mencoba berdiri tegak melepas rangkulan Bara pada tubuhnya.
“Kenapa kamu masih bekerja! Apa kamu tidak peduli dengan kandunganmu? Kamu lihat wajahmu pucat karena lelah, apa Tuan Braja tidak memperlakukanmu dengan baik? Kenapa kamu mau menjalin hubungan dengan pria seperti itu!” cecar Bara dengan banyak tuduhan kepada Sandra.
“Apa maksudmu? Menjalin hubungan?” Sandra balik bertanya kepada Bara.
“Ya, kalian memiliki hubungan bukan? Atau sudah menikah?” Bara tersenyum menyeringai setelah bertanya.
Sandra menggelengkan kepala mendengar tuduhan Bara kepadanya.
“Punya hubungan atau tidak, menikah ataupun sudah, Apa hubungannya denganmu?”
“Memang tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya mau tau, apakah anak yang kamu kandung adalah hasil perbuatan kita malam itu atau hasil perbuatanmu dengan pria lain?”
Plakkk....
Tamparan keras Sandra layangkan di pipi Bara. Sangat sakit mendengar kata-kata terakhir yang Bara ucapkan kepadanya.
“Apa aku serendah itu di matamu? Apa kamu pikir aku melakukan hal yang sama dengan pria lain seperti yang kita lakukan.” Sandra miris mengucapkannya. Ia tidak menyangka dengan tuduhan Bara.
Tanpa ingin memperpanjang perdebatan, Sandra memilih pergi dari hadapan Bara yang masih belum puas dengan jawaban Sandra.
Sandra pergi begitu saja, melangkah meninggalkan Bara yang diam mematung sambil menatapnya, seketika tangan Sandra diraih oleh seseorang.
Tuan Braja melihat wajah sedih di wajah Sandra. Tanpa menjelaskan Tuan Braja sudah mengerti bahwa pria yang ada di hadapan mereka ini adalah ayah dari bayi yang ada dalam kandungan Sandra.
“Kami memang belum menikah, tapi akan terlaksana segera. Dan aku akan bertanggung jawab pada bayi yang ada dalam kandungannya. Rasanya bayi ini juga tidak butuh ayah seperti Anda Pak Bara. Pria yang hanya bisa menuduh seorang wanita yang berusaha hidup seorang diri si tempat ini.” Tuan Braja berbalik badan hendak meninggalkan Bara.
“Apa bayi itu anakku? Jawab Sandra?”
__ADS_1