Fake Love

Fake Love
Jangan tinggalkan Aku


__ADS_3

Hai... Kakak semua, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..


...🍁🍁🍁...


Kini Aline bediri di dalam ruangan ICU yang penuh dengan suara alat pendeteksi jantung terdengar beriramna di telinganya, tetapi membuat perasaan cemas buat si pendengar.


Matanya langsung berpusat pada tubuh kekar yang terlihat lemah saat ini. Hatinya terenyuh melihat kondisi orang yang selalu memberinya semangat itu. Lilitan perban di kepala dan beberapa luka lebam dan goresan luka terlihat jelas di bagian pundak tanpa busana itu.


Selimut tipis hanya menutupi sampai setengah badannya. Posisi tubuh Galen kini sudah bisa telentang, tidak harus tengkurap lagi. Dokter sudah memastikan luka di bagian punggungnya sudah mengering. Hanya terdapat lebam yang masih terlihat membiru.


Hati Aline begitu sakit melihatnya. Perih bagaikan luka tersiram air garam. Air mata pun tak kuasa di tahannya. Butiran air menetres di kedua pipi, tanpa bisa di cegah.


Tubuhnya seakan kehilangan tenaga melihat secara jelas dengan kedua matanya, pria yang selalu memberiakan senyum, sikap jahil, sering berdebat dan selalu mengejeknya, kini diam tak berdaya.


Aline menenangkan hatinya yang hancur melihat kondisi Galen, dengan langkah pelan dan tubuh gemetar di dekatinya ranjang pasien itu. Tangan putihnya mencoba menggapai tangan Galen. Aline menautkan jemarinya di sela jemari Galen yang lemas tak bertenaga.


“Hai ... apa kabar, Gal?” sapa Aline dengan suara lirihnya, seakan ia berbicara dengan Galen.


“Kamu tuh, jelek banget tau! tanpa rambut begini. Botak! mirip tukang cilok yang ada di pengkolan rumahku,” ejek Aline seraya menyentuh kepala Galen lembut, lalu terkekeh pelan, kemudian menangis sedu mengeluarkan rasa sedihnya.


Dengan napas tersengal karena menangis, Aline terus mengajak Galen berbicara.


“Gal ..., maafkan Aku! bagaimanapun karena Aku kamu jadi seperti ini. Akku tahu tujuan Chyntia pasti mengarah padaku. Kamu tau ..., Chyntia bisa terbebas dari perbuatan jahatnya. Heh .. ternyata uang dan kekuasaan orang tuanya yang membantu wanita licik itu.” Aline semakin memegang erat tangan Galen, ditempelkannya punggung tangan Galen ke pipinya, seakan memberikan sentuhan sayang di sana. Aline terus menceritakan kejadian dan kesehariannya beberapa hari ini.

__ADS_1


“Pantas saja Tuan wijaya sangat marah padaku, Gal! sampai penjagaan ketat di sini, Kamu tau kalau Aku sama sekali tidak diperbolehkan menjengukmu. Tapi mereka tak mengenali Aline yang dulu, norak dengan kacamata besar. Lihatlah! Aku sampai harus menyamar begini.” Aline berdiri ingin menunjukkan penyamarannya. Lalu kembali bercerita, “Ternyata kamu pewaris dari perusahaan Tuan Wijaya. Ih .. jahat banget sih! selama kita kenal, sama sekali Kamu tak bercerita. Kamu harus mentraktirku! uang Kamu pasti banyak. Cepatlah sadar, Gal!” Aline mengelus pelan pipi Galen yang pucat pasi.


Aline diam tak bersuara. Rasanya lega sudah bercerita kepada Galen, meskipun tak mendapat respon apapun dari Galen. Ia sudah merasa senang sudah melihat pria yang sudah membuat hati dan pikirannya beberapa hari ini kacau karenanya.


Rasanya terasa lama jika tak ada perdebatan. Aline terlihat khawatir dengan Ayahnya, Ia tak tahu bagaimana situasi di depan ruangan ICU, merasa takut penyamarannya terbongkar, dan Ayahnya bisa terkena masalah.


Aline mengecup singkat kening Galen yang masih tak sadarkan diri, beralih ke punggung tangan pria tersebut. Dibiarkannya bibir merah muda yang pernah disesap pria tak sadarkan diri itu menempel dipungggung tangannya berlama-lama di sana.


“Cepat sembuh, ya, Gal! Aku janji akan menemuimu lagi, bagaimanapun caranya.” Aline melepas genggaman jemarinya dari tangan Galen.


Berat rasanya melepas genggaman tangat itu. Tapi Aline tak mau egois, jika ia terus nekad ingin berlama-lama bersama Galen akan bahaya untuk Ayahnya. Aline berjalan meninggalkan Galen. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara pelan terdengar di belakangnya.


“Pol ...” panggil Galen dengan suara yang sangat pelan nyaris tak terdengar. Panggilan kesayangan Galen untuk Aline, Pol atau Cepol.


Aline terkejut mendengarnya, Ia menoleh ke sumber suara yang sangat dikenalinya, meskipun dengan nada yang sangat pelan. Dengan cepat Aline berbalik dan kembali mendekati ranjang pasien itu.


Aline senang sekali, Galen sadar saat itu, namun ia harus segera memberi tahu dokter kondisi Galen. Saat ingin memenggil dokter di luar ruangan, tangannya digenggam erat oleh Galen. Seakan tidak ingin melepaskannya.


Aline menuruti Galen, tetap membiarkan pria yang belum sepenuhnya membuka mata itu terus menggenggam tangannya. Hatinya senang berada di sana tapi ia terus kepikiran Ayahnya di luar sana.


Ceklek..


Mata Aline melebar, merasa terkejut dengan suara pintu yang terbuka dari luar.

__ADS_1


Gadis itu takut kalau yang datang adalah Tuan Wijaya.


“Nona Aline,” panggil aldo saat tatapan mata mereka bertemu.


Aline membuang napas lega. ternyata bukam Tuan Wijaya. Sungguh keberuntungan untuknya, melihat kedatangan Aldo, jadi ia bisa menanyakan Ayahnya yang tadi ada di depan ruangan.


“Bos, sudah sadar,” tanya Aldo saat asisten Galen melihat gerakan pada tangan Galen. lalu mendekat ke arahnya.


Aline mengangguk pelan, kemudian fokus kembali kepada Galen. Gadis itu pun bertanya kepada Aldo, apakah aisten Galen itu melihat ayahnya di depan ruangan bersama asisten Tuan Wijaya. Jawaban yang didapat dari pria itu membuat Aline semakin khawatir, Aldo bilang sama seklai tidak melihat keberadaan siapapun di sana. Aldo malah mengungkapkan kedatangannya kemari karena Tuan Wijaya dan Oma ratih sudah berada di loby rumah sakit.


Aline semakin panik mendengarnya. Ia tidak mau Tuan Wijaya mengetahui keberadaannnya. Dipastikan penjagan Galen akan semakin ketat dan Aline ajan semakin sulit bertemu Galen.


“Aku harus pergi!” ucap Aline seraya melepas genggaman tangannya dengan Galen, tetepi terhenti saat Galen meresponnya kembali.


“Jangan pergi,” balas Galen dengan suara pelannya. Pria itu mengerutkan Alis dengan mata terpejam, seperti merasakan kesakitan di bagian kepala.


“Tolong jaga Galen, kabari Aku segera kalau ada apa-apa,” titah Aline kepada Aldo dengan suara memohon.


“Baik,” jawabnya singkat.


“Aku benar-benar harus pergi, Aku harap Kamu segera pulih,” Aline dengan terpaksa melepas genggaman tangannya. Lalu mencium kening Galen singkat. kemudian berjalan pelan meninggalkan Galen. Dengan berat hati Aline keluar dari ruangan ICU itu.


bersambunh.

__ADS_1


dukung terus karya ku ya...


Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha.


__ADS_2