
Kediaman Tuan Wijaya.
Baru tadi malam Galen sampai di Surabaya. Rencananya pria itu akan berada di kota itu selama dua hari. Tapi rencana hanya rencana. Usai peninjauan pembangunan gedung yang ia kerjakan di sana selesai, Galen langsung menelepon Aline. Mengabarkan kalau sore ini ia kan kembali ke Jakarta.
Galen baru saja selesai ngobrol santai bersama Abbas setelah peninjauan itu. Pengusaha muda sukses yang saat ini sedang membangun kantor cabang perusahaan jasa pengiriman miliknya di Surabaya.
Pertemanan yang berawal dari rekan bisnis itu sepertinya akan terjalin lebih lanjut. Mereka berdua bahkan berencana memperkenalkan istri mereka agar bisa saling mengenal dan dekat.
Abbas pamit pulang ke rumah mertua indah tempat ia tinggal saat ini. Sedangkan Galen masih belum ada tujuan yang baru.
Di perjalanan menuju hotel Galen menghubungi Aline, istrinya.
Percakapan yang tidak pernah ada kata bosan bagi Galen jika sudah mendengar suara sangat istri.
“Cepat sekali kembalinya? Apa sudah selesai pekerjaan di sana?” tanya Aline setelah beberapa menit mereka berbicara dari seberang telepon.
“Sudah, hanya meninjau ulang pekerjaan saja. Sesuai atau tidak dengan prosedur perusahaan. Di sini juga ada yang bertanggungjawab mengawasinya.”
“Kalau begitu, aku boleh titip oleh-oleh, Mas?” tanya Aline ragu.
“Apapun yang kamu minta akan pasti kuberi! Sebutkan saja apa yang kamu inginkan biar Aldo yang mencatatnya.” Seru Galen.
Galen pun mengubah mode panggilan menjadi loudspeaker. Memerintah Aldo mencatat setiap permintaan yang Aline sebutkan. Setelah semuanya tercatat, Galen kembali mengubah sambungan teleponnya menjadi video call.
Memerintah Aldo agar langsung melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan oleh-oleh yang ada di kota Surabaya.
Wajah cantik Aline adalah hal pertama yang Galen lihat. Senyuman yang selalu membuatnya candu.
“Sayang ... Baru saja sehari, tapi rasanya aku tidak sanggup kalau harus lama-lama berpisah sama kamu!” ucap Galen membuat Aline memutar bola mata malas.
“Gombal!” balas Aline cepat sambil mengoleskan lipstik pada bibirnya.
“Kamu mau ke mana? Berpakaian rapi, dandan juga?” tanya Galen penuh selidik ke arah Aline sambil memperhatikan penampilan Aline yang berbeda dari biasanya.
Di rumah Aline lebih sering memakai dress dan make up tipis. Tapi kali ini Galen melihat istrinya itu memakai pakaian rapi, begitu juga dengan baby Zayn. Jagoannya itu juga sedang tidur terlentang di atas tempat tidur sambil memainkan mainan kincringannya.
“Aku mau pergi sama Kartika! Baby Zayn juga ikut!” Aline mengarahkan kamera ponselnya ke arah baby Zayn yang asik bermain sendiri.
Kartika masuk ke dalam kamar Aline. Kebetulan pintu kamar terbuka lebar. Jadi, Kartika tidak perlu mengetik pintu terlebih dulu.
“Eh, yang baru saja diomongin datang!” ucap Aline. Sambungan video call dengan Galen masih tersambung.
“Kalian mau ke mana, Dek!” tanya Galen kepada Kartika.
“Jalan-jalan dong! Kasian kakak ipar, cakep gini di simpen di rumah terus. Mau aku ajak keluar kali aja banyak yang naksir,” celetuk Kartika dan mendapat tatapan tajam dari Galen.
Adiknya hanya bisa menyengir kemudian menghindar dari Galen. Gadis itu lebih memilih mengajak baby Zayn bercanda. Sebab bayi montok itu sudah mulai akrab denganya.
“Ganti pakaianmu atau aku tidak akan mengizinkan kalian pergi!” ucap Galen memberi ultimatum pada Aline.
Aline mengerutkan alisnya sambil melihat ke tubuhnya sendiri.
“Kenapa harus ganti baju, memangnya kenapa dengan baju ini?” Tanya Aline heran.
“Pokoknya Ganti, kamu terlalu cantik pakai itu!”
Galen menyuruh Aline kembali ke walk in closed untuk mengganti bajunya, kali ini Galen yang akan memilihkannya. Ia tidak mau Aline menjadi daya tarik para pria yang memandangnya.
Aline menuruti saja perintah dari suami.
Beberapa kali ganti pakaian membuat Aline menyerah karna lelah.
__ADS_1
“Cukup Mas, aku lelah. Kalau harus ganti terus baju seperti ini. Kamu sebenarnya ngijinin aku pergi gak, Mas?” Aline mulai merasa kesal. Sambil menyipitkan matanya ke kamera agar Galen melihat bawahan ia sedang dalam model kesal.
Galen terlihat sebagai salah dalam video call nya. “Habisnya kamu cantik pakai apa saja jadi aku takut kamu ada yang naksir seperti kata Kartika.
“Yang ampun, Mas! Aku bawa baby Zayn loh! Mana mungkin mereka memperhatikanku, sama Kartika sih, mungkin? Sudah Ah ... Aku pergi dulu! Gak akan lama hanya menemani Kartika saja, kok!” ucap Aline kembali meminta ini.
“Ok, tapi jangan lupa kabari aku terus.”
Aline menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
“Mas, tenang saja. Meskipun banyak pria tampan di luar sana. Bagiku, kamu adalah satu satunya pria tampan di mataku. Bye... Aku pamit ya, muach ....” Aline langsung menutup sambungan video call nya. Daripada Galen kembali berkoar.
“Sayang---,” ucapannya terputus sebab layar ponselnya sudah menampilkan gambar hitam menandakan video call dengan istrinya sudah berakhir.
“Akh... Kalian buatku ingin cepat pulang saja!” gumamnya sendiri seraya memandang wallpaper yang menyala pada ponselnya.
Gambar foto dua orang yang ia sayangi. Aline dan baby Zayn.
Galen tidak sadar kalau mobil yang ia tumpangi sudah sampai tepat di depan pusat perbelanjaan oleh-oleh.
“Kenapa berhenti, Do?” tanya Galen kepada asistennya.
“Kita sudah sampai di pusat perbelanjaan, Tuan!” Aldo dengan sigap turun dari mobil lalu membuka pintu belakang.
Galen keluar dari dalam mobil. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Benar di sini tempatnya, Do! Memang apa yang istriku minta?”
“Istri Anda meminta di belikan makanan ringan, camilan dan banyak lagi yang ia minta. Semua saya catat tidak ada yang terlewat dari ucapannya,” Jelas Aldo seraya sedikit membungkuk hormat. “Mari, Tuan!” ajak Aldo untuk segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
Galen bisa saja menyuruh Aldo untuk berbelanja tapi Aline pasti akan banyak bertanya kepadanya dan ujung-ujungnya istrinya itu tidak akan mau makan jika bukan Galen sendiri yang membelinya. Pengalaman saat ngidam baby Zayn sangat ia ingat.
Saat masuk ke dalam toko, Galen terlihat bingung ada banyak rasa dan jenis dari makanan yang Aline pinta. Itu semakin membuatnya bingung.
Daripada salah, Galen memerintahkan pelayan toko memasukkan semua barang yang ada di catatan dengan berbagai rasa.
Pelayan toko begitu bersemangat kali ini dagangannya akan habis terjual karena pelayan itu hampir memasukkan semua ke dalam keranjang belajaan Galen.
Galen hanya tinggal menunggu pembayaran. Setelah selesai pelayan toko kembali dengan membawa struk belanjaan.
Galen sempat tercengang melihat harga makanan itu.
“harganya lumayan mahal?” pikir Galen.
Saat ia hendak keluar dari toko. Para pegawai toko tersebut terlihat sibuk menyusun barang belanjaan.
“Do, bawa belanjaannya!” titah Galen tanpa peduli dengan kesibukan para pelayan toko yang tiba-tiba.
“Maaf ... Tuan, sepertinya saya tidak bisa membawanya, sebab berang belanjaan pesanan Anda pasti tidak muat di mobil!” ucap Aldo seraya menoleh ke arah kasir. Galen mengikuti arah pandangan Aldo.
Galen memundurkan kepala seraya mengerutkan dahi.
“Belanjaan siapa itu?” tanya Galen kepada Aldo.
“Milik Anda, Tuan! Bukankah Anda yang memerintahkan pelayan toko untuk memilihkan semua sesuai tulisan dan menahan masing-masing sesuai rasa.
Dan itu semua sesuai perintah Anda.
“Panhtas saja, pembayaran nya sedikit mahal ternyata barangnya sebanyak tadi. Ini sih bukan oleh-oleh tapi buka toko,” Cetus Galen.
Melihat barang bawaan oleh-oleh yang begitu banyak. Galen memerintahkan untuk mengirimnya lewat jasa pengiriman express.
__ADS_1
“Hubungi Rio, suruh anak buahnya untuk mengambil makanan ini dan cepat kirim ke Jakarta. Aku mau ketika kita sampai di Jakarta oleh-oleh ini juga sampai.
Aldo mengangguk saja, mengiyakan. Ucapan Galen tidak bisa dibantah, sekali iya tetap harus tepat terlaksana.
Pukul 7 malam, Galen tiba di kediaman Wijaya. Diruang tamu ia berpapasan dengan Kartika dan Oma Ratih mereka sedang menunggu Aline untuk makan malam bersama.
“Cuman sehari aja di Surabaya?” tanya Oma Ratih ketika Galen masuk ke dalam rumah.
“Hanya peninjauan tempat saja, Oma!” Galen menyalami wanita paruh baya itu. Lalu menyapa Kartika.
Oma menyuruhnya segera mandi lalu ikut bergabung untuk makan malam.
Galen mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.
Aline begitu terkejut mendapat pelukan suaminya dari belakang.
“Loh ... Mas, kok sudah sampai?” tanya Aline heran. Ia baru saja menidurkan baby Zayn di tempat tidurnya.
“Kenapa apa kamu berharap Mas perginya lama?” bisik Galen. Pria itu malah makin mengeratkan pelukannya sambil menciumi kepala dan menyusuri tengkuk Aline.
Seketika gelenyar aneh menyambar tubuh Aline. Ia tahu kalau sudah begini, pasti Galen meminta jatah singkatnya.
“Mas ... Mandi dulu, gih!” titah Aline. “Kamu habis perjalanan jauh, pasti banyak bakteri. Kalau Zayn terkena bakterinya, bagaimana?” Aline menakuti, lekas Galen melepaskannya pelukannya. Tapi tiba-tiba Galen malah mengangkat tubuh Aline.
“Aowhh ... Mas!” pekik Laine terkejut dengan kelakuan Galen.
“Jangan berisik! Nanti Zayn bangun,” bisiknya di telinga Aline.
“Ih ... Lagian, Mas mau ngapain, sih?” ucap Aline dengan pelan takut tidur Zayn terusik.
Perlahan Galen menggendong tubuh Aline menuju kamar mereka.
Galen tidak membiarkan Galen turun saat mereka sampai di kamar. Pria itu membawa Aline masuk ke dalam kamar mandi.
“Mas ... Jangan aneh-aneh, deh! Aku di tunggu Oma, loh di bawah! Aku juga sudah mandi!” tutur Aline tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Galen.
“Bantu aku gosok punggung!” kilah Galen dengan seringai jahilnya.
“Mana mungkin hanya menggosok punggung!” cebik Aline yang paham dengan kelakuan suaminya. Awalnya hanya menggosok tapi berlajut bermain-main nikmat.
Lagi-lagi Aline tidak bisa berbuat apa-apa, ketika keinginan suaminya yang di tidak bisa ditunda.
Di saat Oma dan Kartika sedang menunggu mereka. Aline dan Galen bermain singkat di kamar mandi.
.
.
.
.
...Bersambung...
Jangan lupa beri aprseiasi untuk Author bair makin semangat buat up.
di tunggu
Hadiah... Like.. komen... vote juga. kasih rating bintang juga ya.
thangkyu para readers 😘😘😘
__ADS_1