Fake Love

Fake Love
TOLONG ...


__ADS_3

“Ko, makin sepi sih jalannya. Mana bengkelnya?” Aline menajamkan penglihatannya ke arah depan tetap saja meskipun memakai kacamata besar, tapi ia sedikit kesulitan saat melihat dalam kondisi pencahayaan yang kurang.


Akhirnya Aline tiba di bengkel tambal ban. Rasanya lelah mendorong sepeda motor dengan jarak yang lumayan jauh. Ketika tiba di depan bengkel, si Abang tukang bengkel terlihat sedang membereskan peralatan bengkelnya sepertinya bengkel tersebut akan tutup.


“Assalamualaikum,” sapa Aline saat tiba di depan bengkel tambal ban tersebut.


“Waalaikumsalam, loh kenapa, Neng?” Abang tukang bengkel itu menghampiri karena melihat Aline langsung mendaratkan bokongnya di bangku tak jauh dari pinggir jalan saat terakhir menurunkan standar pada motornya.


Aline terlihat sangat kelelahan. Lumayan berat mendorong motor dalam keadaan ban kempes. Dadanya kembang kempis mengatur nafas kelelahan.


“Abang jangan tutup dulu, bantuin Aku. Tolong tambalin ban motorku, Bang!” Aline berbicara sambil terengah-engah mengatur nafas.


“Ya Ampun, kasian banget, si Neng! Cape banget ya? dorong dari mana emang, Neng?” tanya Abang bengkel seraya memarkirkan motor milik Aline ke dalam bengkelnya. Lalu memberi Aline sebotol air putih yang diambilnya dari kulkas minuman yang ada di bengkelnya itu.


“Dari depan warung martabak pinggir jalan sana, Bang!” Aline menunjuk ke arah pengkolan arah warung tenda martabak itu berada lalu membuka helm yang dipakainya kemudian menerima air botol yang disodorkan kepadanya.


“Wah ... lumayan jauh juga, Ya. Pantesan si Neng sampe ngos-ngosan gitu!” Abang bengkel itu ngajak Aline ngobrol, tangannya sambil membuka ban untuk mengecek seberapa parah kebocoran ban pada motor Aline.


Aline hanya mengangguk seraya meneguk air mineral yang diberikan si Abang bengkel tadi.


“Neng ini mah enggak bisa di tambal, harus ganti ban dalem. Lubangnya gede begini.” Abang bengkel menunjukan ban dalam yang sudah di bongkarnya kepada Aline.


“Ya udah, ganti aja, Bang! Biar cepet juga," titah Aline kepada Abang bengkel itu.


“Siap ...,” jawab Abang bengkel tegas.


Abang bengkel itu dengan sigap mengambik ban dalam untuk mengganti ban dalam motor yang robek karena terkena paku. Dia juga menyarankan Aline agar memakai ban tubles lebih praktis menurut si Abangnya.


Sambil menunggu motornya selesai di ganti dalam, Aline iseng membuka ponselnya. Melihat berita terkini di media online. Aline melihat berita kabar terkini.


Di halaman beranda terdapat berita tentang Chyntia. Menurut berita yang beredar. Chyntia harus membayar denda kepada pihak pengelola acara pameran karena tidak profesional dalam bekerja.


Ketidakhadirannya hampir saja membuat sebuah acara perhelatan akbar gaun pengantin yang digelar oleh desainer ternama di Indonesia berantakan karena ulahnya.


Di halaman berikutnya, ada satu buah foto yang mengejutkan Aline. Sepasang model menggunakan busana pengantin saling melempar senyum terlihat seperti adegan pernikahan sesungguhnya.


Aline pun ikut tersenyum melihat foto dirinya dan Vino Bramasta ada di berita cepat malam ini. Esok pasti akan lebih ramai lagi berita yang tersebar.


“Selesai, Neng!” ucap Abang bengkel tapi Aline tak menanggapinya.


Aline masih terpesona seraya senyum sendiri melihat ponsel yang terdapat gambar dirinya dan Vino terlihat seperti pengantin bahagia.


“Lah ... Malah senyam-senyum sendiri.” Abang bengkel lantas mengibaskan tangannya di depan wajah Aline, membuat gadis itu tersadar akan keasyikannya berselancar di dunia maya.


“E-eh iya, Bang. Udah selesai ya?”


Abang bengkel itu tersenyum.


"Bang lihat deh foto ini! cantik 'kan?" Abang bengkel melihat ke arah layar ponsel milik Aline kemudian mengangguk untuk mengiyakan.


"Itu saya, Bang!" Aline Kemabli tersenyum seraya memasukan ponsel miliknya kedalam tas. Lalu meraih dompet dari dalam tas tersebut kemudian mengambil dua lembar uang seratus ribu lalu menyerahkannya kepada si Abang bengkel. Sisa kembalian uang pun diberikannya sebagai ucapan terima kasih telah membantunya.


Pandangan Abang bengkel itu menatap Aline dari atas ke bawah lalu tersenyum mengejeknya seakan tak percaya bahwa foto wanita cantik di berita hotnews malam ini adalah gadis yang ada di hadapannya itu.


Aline sudah bisa menebak saat melihat ekspresi wajah si Abang bengkel. Pasti dia akan berpikiran Aline ngadi-ngadi dengan ucapannya. Tapi Ia tak pernah mempermasalahkan itu. Baginya Aline sudah berbicara jujur, percaya tau tidak semua kembali pada diri sendiri yang menilainya.


“Bang, satu lagi ni? Mau enggak?” Aline mengambil satu kotak martabak kacang cokelat miliknya lalu memberikannya kepada si Abang bengkel.


“Alhamdulillah, rejeki dede utun. Pas banget, tadi saya mau tutup bengkel. bini telpon, minta dibawain martabak. Rejeki emang engga pernah salah orang ya, Neng. Terima kasih, Neng!” ucap Abang bengkel senang.


“Istrinya lagi hamil, Bang?”


“Iya, Neng! Udah masuk delapan bulan.”


“Selamet ya, Bang. Semoga kelahirannya nanti lungsur, langsar. Sehat ibu sama bayinya!"


“Amin,” jawab Abang bengkel penuh syukur.

__ADS_1


Aline sudah siap meninggalkan bengkel tersebut. Motor maticnya sudah siap diajak berkendara tengah hiruk pikuknya kota Jakarta malam ini.


“Saya juga terima kasih sama Abang karena sudah dibantu!”


“Lah itu emang kerjaan saya, Neng!” Abang bengkel tersenyum.


“Hati-hati, Neng. Kalau malam begini banyak orang jahat berkeliaran. Mending cari jalan yang rame aja meskipun jauh. Daripada jalan cepet tapi sepi. Lebih takut orang sekarang mah dari pada hantu,” ucap Abang bengkel memberitahu Aline.


“Saya takut keduanya, Bang”


Abang bengkel tertawa mendengarnya.


“Saya permisi ya, Bang. Assalamualaikum.” Aline langsung melajukan motor maticnya membelah keramaian kota Jakarta.


“Waalaikumsalam,” jawab Abang bengkel pelan.


.


.


Aline terus melajukan motornya santai. Sambil sesekali melirik kanan dan kiri pemandangan kota yang dilintasinya. Sesekali ia melirik ke arah spion kaca motornya. Aline merasa aneh dengan dua motor yang berada di samping kiri dan kanannya.


“Perasaan motor dua ini ngikutin terus, ya? Apa hanya perasaan Aku saja?” batin Aline kemudian kembali fokus ke depan melajukan motornya. Ia mencoba mengacuhkan perasan negatifnya.


Perjalanan menuju rumahnya harus melewati perjalanan panjang. Karena Aline harus memutar arah kembali ke jalan tempatnya bekerja lebih dulu baru melanjutkan lagi ke arah rumahnya.


“Bener ‘kan. Mereka ngikutin terus. Duh gimana, nih? Coba cari jalan lain deh” gumam Aline sambil berpikir kemudian mencari jalan yang ada di hadapannya. Dengan cepat ia berbelok ke arah gang.


Aline terus menjalankan motornya ke arah jalan sepi. Makin jauh ia melajukan motornya makin membingungkan untuknya. Jalan yang ia tuju semakin sepi. Bukan lagi jalanan ramai atau jalan kampung yang ia lintasi, melainkan jalan menuju gedung gedung kosong yang sepertinya sudah lama tak terpakai.


Perasaan Aline tak menentu saat itu. Dia makin merasa takut. Apalagi kedua motor yang tadi mengikuti semakin mendekat ke arahnya.


“Duh gimana nih? Kayaknya salah jalan deh!” Aline mencoba melajukan motornya pelan. Sampai ia tiba diujung jalan yang tertutup tembok.


Aline semakin panik saat itu, entah harus melakukan apa. Diraihnya ponsel dari dalam tas. Aline mencoba melepas helm agar lebih leluasa menghubungi seseorang. Ia menghubungi nomer Riri, ia berpikir semoga saja Riri masih bersama Doni. Nada sambung terus tersambung tapi tak diangkat. Beberapa kali ia terus mencoba menghubungi nya kembali, tetap sama tak ada jawaban yang berarti dari Riri.


Aline seperti di kejar waktu. Satu motor hampir sampai ke arahnya. Jumlah mereka ada tiga orang. Satu motor berhenti tak jauh jaraknya dari Aline.


Aline bangun dari duduknya di atas motor, berjalan sedikit menjauh karena ketiga orang bertampang preman itu mendekat kearahnya.


Jari jempol Aline terus menscroll layar ponsel untuk mencari nama kontak yang bisa membantunya. Saat hendak menekan tombol hijau untuk menghubungi. Ponselnya terjatuh begitu saja karena tangannya terus gemetar karena takut. Beruntung tidak sampai pecah. Entah panggilan itu sudah terhubung apa tidak Aline tidak menyadari itu.


Ponsel itu tepat berada di hadapan satu preman bertubuh tinggi besar. Aline tak berani mendekat untuk mengambil ponsel miliknya. Dengan keberanian yang ia punya ia mencoba berinteraksi dengan para preman itu.


“Mau apa kalian, ngapain ngikutin Saya terus?”Aline berbicara dengan nada takut.


Satu preman berbaju merah tanpa lengan tertawa renyah. “Jangan takut, kita cuman mau ngajak kamu main-main sebentar,” ucapnya dengan nada menggoda seraya meraih ponsel yang terjatuh di hadapannya. Lalu menonaktifkan ponsel tersebut.


“E-eh, siniin itu ponsel saya! Kenapa di matiin? Lagian kalian mau main apa? Saya lagi enggak mau main, udah cape pengen pulang! Kalian minggir! Cepetan kemarikan ponsel saya.” Aline semakin berjalan mundur saat para preman itu mendekat ke arahnya.


Aline semakin takut dan gemetar. Ingin berteriak tapi ia melihat sekelilingnya adalah gudang kosong yang jauh dari perumahan warga.


“S*ial, kenapa harus masuk kesini sih?” gumamnya kesal.


Aline membalikan tubuhnya 180° siap untuk berlari tapi langkahnya kalah cepat oleh satu preman di belakangnya. Preman itu menarik kardigan dari belakang, dengan cepat Aline melepas kardigannya sehingga preman itu hanya mendapatkan kardigan ya saja, sedangkan Aline berlari cepat masuk ke dalam salah satu gedung.


Aline di kejar ketiga preman itu ke dalam gedung. Dengan pencahayaan lampu yang sedikit temaram. Membuat Aline sedikit kesusahan untuk melihat kemana dia harus berlari.


Rasanya ingin berhenti, kakinya nyeri dan cape. Beberapa kali ia terjatuh karena tersandung benda yang mengalangi langkahnya. Ingin menangis saat itu tapi Aline harus bisa keluar dari tempat ini agar segera mencari pertolongan.


Aline melirik ke arah kiri dan kanan, malam ini begitu berat untuknya. Lagi-lagi Aline mengambil arah yang salah. Dia malah masuk ke dalam ruangan besar yang tak berjendela. Lebih tepatnya tempat ini seperti gudang, banyak barang yang tidak terpakai di sana.


Aline mengambil kayu untuk melindungi diri. Mereka bertiga makin mendekat kearahnya.


“Kalian jangan berbuat macam-macam ya, atau Saya pukul menggunakan ini.” Aline menunjukan benda yang dipegangnya.


Mereka tertawa renyah melihatnya. Seakan tak takut sama sekali dengan perkataan Aline. Satu dari mereka maju ingin menangkap Aline. Dan dua diantanya Seperti mengepung dari arah kiri dan kanannya.

__ADS_1


Saat ini Aline tak bisa berkutik di kelilingi tiga orang yang memutari dirinya.


“Kalian mau apa? Ambil yang kalian mau, atau kalian mau uang. Saya akan berikan, tapi tolong jangan sakiti saya!” Aline hampir menyerah dengan keadaan. Tangannya semakin gemetar memegangi kayu.


“Kita hanya mau memberikan kenangan yang tak pernah terlupakan olehmu, gadis. Tenang saja kita hanya akan melukis wajahmu sedikit menggunakan ini.” Preman yang berada di sebelah kiri mengeluarkan pisau belati yang di mainkannya di hadapan Aline.


Aline bergidik ngeri dibuatnya. “Maksud kalian apa?” Aline semakin takut mendengarnya.


“Padahal tak usah melukai wajahnya biar jelek. Penampilannya saat ini pun udah keliatan tak menarik ya?” ucap preman yang berada di sebelah kanannya.


Aline mengerutkan alis semakin tak mengerti dengan ucapan para preman itu. Dengan cepat ia memukul preman yang sedang mengobrol asik itu.


“Aww ... Si*al*an, cepet tangkap tuh cewek! Main-main dia sama kita?” salah satu preman terkena pukulan keras dari kayu yang di pegang Aline.


Aline berlari ke pojok ruangan. Kayu yang dipegangnya harus terlepas karena hempasan dari preman yang kena pukulan olehnya. Kacamata besarnya pun terjatuh saat ia mencoba merebut kayu itu.Sekarang dua preman mendekati Aline, dengan nafas yang terengah-engah ia mencoba berteriak.


“TOLONG ...” Aline mengeluarkan suara kerasnya. Suara itu menggema di dalam sana.


“Wah ... ternyata di balik kacamata besarnya ada wajah cantik di balik itu. Sayang sekali kita harus merusak kecantikannya ya, Bro,” ucapnya kepada Preman yang terus menggesek hidungnya.


“Pergi Kalian. Saya mohon! Kalian minta apapun akan saya berikan asalkan jangan sakiti, Saya.” Aline berucap sedih. Kini air matanya jatuh begitu saja, pertahanannya runtuh saat itu. Ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan mereka.


“Kita bakalan bebasin Kamu cantik, kita senang-senang dulu sebentar!” salah satu preman langsung menangkap Aline dari depan.


Aline memberontak mencoba melepaskan jeratan preman itu. “lepaskan ... lepaskan Saya! Sambil menangis kencang Aline mencoba kabur.” Aline terus memberontak tangannya memukul dada preman tersebut, Aline pun mendapat satu kali tamparan membuat pipinya memerah dan sobek di sudut bibirnya sehingga darah segar mengalir setetes dari sana.


Aline berhasil lepas dari jeratan preman itu. Tapi dua kancing baju dari atas terlepas dan ikatan pada rambutnya pun terbuka. Membuat wajah dan tubuh bagian atasnya sedikit terlihat dengan rambut panjang yang tergerai indah. Pemandangan itu semakin membuat para preman membulatkan mata mereka melihat keindahan wajah cantik dan kulit tubuh bagian depan yang putih seputih susu.


Satu preman berhasil menangkap Aline. Membekuk kedua tangannya ke belakang tubuhnya.


Aline semakin menangis histeris dibuatnya. Sedangkan dua preman di hadapannya tertawa senang karena gadis di hadapannya sudah berhasil ditaklukan.


“TOLONG ....”


.


.


.


.


Duh tolongin dong, enggak ada orang apa? Please help, Aline...


Beri dukungan kalian untuk karya ku ini ya..


Kasih like👍


Komen ✍️


Tap ❤️ buat yang belum agar bisa dapat pemberitahuan update terbaru.


Kasih dukungan 🌷🌷🌷 atau ☕☕☕ bisa juga vote yang kalian punya.😘😁😁


Dukungan kalian tuh sangat berarti untuk teteh ..😘😘


Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha.


.


.


.


.


.

__ADS_1


rekomendasi karya untuk kalian



__ADS_2