Fake Love

Fake Love
Malam Indah


__ADS_3

“Selamat atas pernikahan Anda Pak Bara. Maaf saya terlambat datang. Sebab sapi perah baru saja datang seluruhnya. Terima kasih juga, Anda tidak membatalkan perjanjian kerja sama kita,” ucap Tuan Braja kepada Bara.


“Terima kasih atas ucapannya Tuan Braja. Tenang saja saya tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan,” balas Bara dengan nada santai.


Pak Budi dan Bu Mirna datang menghampiri Tuan Braja dan Bara.


“Permisi Tuan, kami sudah siap,” ucap Pak Budi.


Bu Mirna hanya menunduk sopan kepada Bara.


“Kalian mau pulang sekarang? Bukannya mau menginap di sini? Sandra sudah memesankan kamar buat di tempati,” ujar Bara.


“Terima kasih, Tuan. Tadinya kami setuju untuk menginap semalam di sini. Tetapi kami kepikiran sama Rara,” ungkap Bu Mirna sambil tertunduk pilu.


“Dia sudah besar tidak perlu kalian khawatirkan. Biarkan dia mandiri,” ketus Bara.


“Begini, Pak!” sela Tuan Braja.


Bara beralih menatap Tuan Braja. Perlahan Tuan Braja pun menceritakan kejadian tadi sore di peternakannya. Rara datang ke peternakan karena semua pekerja sedang sibuk oleh kedatangan sapi- sapi perah sama halnya dengan Tuan Braja. Gadis itu memilih menunggu di kantor Tuan Braja itupun atas ijin pemilik peternakan.


Tuan Braja sangat menyesalkan perbuatan Rara. Tingkahnya tertangkap mata oleh Tuan Braja sendiri. Rara memasukkan serbuk perangsang ke dalam cangkir kopi milik Tuan Braja.


Tuan Braja marah dan mengusir Rara dari peternakan. Ia mencoba menghubungi Pak Budi tapi ayah dari Rara sedang ada di Jakarta bersama istrinya.


Alangkah terkejutnya Pak Budi saat mendengar berita itu langsung dari Tuan Braja sendiri. Pak Budi pun menghubungi kakak dari Rara. Mendengar Rara tidak ada di rumah. Beliau semakin khawatir.


Beruntung Tuan Braja datang ke pernikahan Bara. Tuan Braja menawarkan untuk pulang bersama sebab ia akan langsung kembali ke Bandung malam itu juga.


“Kalian tidak pamit ke Sandra dulu?”


Bu Mirna menggelengkan kepala. “Tolong sampaikan saja maaf saya kepada dia, Pak Bara. Mohon maaf, ibu tidak bisa mengikuti keinginannya. InsyaAllah nanti Ibu dan Bapak akan berkunjung ke rumah Nak Bara.”


“Ya sudah nanti saya sampaikan kepada Sandra. Tuan Braja, terima kasih atas waktu Anda.” Bara sedikit menundukkan kepala.


“Sama-sama, Pak Bara. Kalau begitu kami permisi.” Tuan Braja menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Pak Bara. Tak lupa juga Bara dengan sopan menyalami Pak Budi dan Bu Mirna.


Bara menghembuskan napas berat saat ia masuk ke dalam kamar hotel. Rasa lelah begitu terasa. Bara mengendurkan dasinya sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Melihat Sandra tidur dalam balutan selimut putih membuatnya tersenyum.


Lekas ia mendekat, duduk di samping tempat tidur. Di amatinya wajah cantik wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu. Tangannya terulur untuk menyibakkan surai menutupi wajahnya.


Rasa lelah rasanya hilang begitu saja. Diciumnya kening Sandra dengan lembut.


Sentuhan Bara membuat tidurnya terusik perlahan Sandra mengerjapkan mata. Ia tersenyum mendapati sang suami sedang menatapnya.


Perlahan Sandra bangun dari tidurnya. “Apa sudah selesai acaranya?” tanya Sandra seraya bangun dari tidurnya.


“Sudah satu jam yang lalu,” Jawab Bara. Tatapannya masih belum beranjak menatap Sandra.


Sandra hanya bisa tersenyum mau terus di tatap seperti itu oleh suaminya.

__ADS_1


“Mas belum mandi?” tanya Sandra.


Bara menggeleng. “Aku masih betah menatap dirimu.”


“Ih... Jangan liatin terus kayak gitu, aku nya malu!” Sandra tertunduk.


Bara terkekeh melihatnya. Wajah merona itu semakin membuat Bara menyukainya.


Sandra sedikit memundurkan wajahnya saat mengendus aroma yang sedikit menyengat.


“Mas habis minum, ya?” tanya Sandra.


“Kenapa apa tercium aroma alkoholnya?”


Sandra mengangguk pelan. “Ya.”


Bara berdiri dari duduknya. “Maaf... Padahal tadi hanya minum sedikit. Aku mandi dulu sebentar.” Bara berlalu dari hadapan Sandra.


Bara memang minum alkohol tadi. Itu hanya untuk menghargai rekan bisnisnya yang mengajaknya bersulang minuman kepadanya. Tidak menyangka minuman beralkohol itu begitu menyengat.


Sandra menyiapkan minuman hangat untuk Bara selagi suaminya itu berada di kamar mandi.


“Pakaiannya sudah aku siapkan di atas tempat tidur, Mas!” ucap Sandra saat melihat Bara keluar dari kamar mandi.


Sandra tengah membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Wanita itu terkelinjat kaget saat dia tangan kekar melingkar di pingggangnya.


“Sedang apa?” bisik Bara di telinga Sandra. Embusan hangat napas Bara begitu terasa menyalurkan gelenyar aneh yang memabukkan di seluruh tubuh Sandra.


Cup...


Kecupan pelan mendarat tepat di pipi Sandra saat wanita itu menoleh ke arah Bara.


Sandra tersenyum malu.


Happ...


Seketika tubuh Sandra berbalik menghadap Bara. Wanita itu melotot tajam menatap suaminya.


“Mas... Kamu mengejutkan ku!” ucap Sandra.


“Maaf!” sahut Bara seiring gerakan tangannya yang tak bisa di hindari oleh Sandra.


Bara makin mengeratkan pelukannya membuat keduanya tak berjarak. Sandra meletakkan keduanya tangan di depan dada Bara. Menahannya agar tidak terlalu menempel padanya.


Kedua netra itu bertemu. Saling menatap dalam.


“Pakai bajumu, Mas!” ucap Sandra.


“Aku tidak perlu baju untuk saat ini, tapi aku butuh kamu!” balas Bara dengan suara mendalam seakan menahan gejolak yang membara di tubuhnya.

__ADS_1


Sandra tersenyum simpul mendengar balasan Bara. Sebagai seorang wanita dewasa, Sandra mengerti apa yang Bara inginkan saat ini.


Kedua tangan Sandra beralih posisi, melingkar di leher Bara.


Sama-sama sudah dewasa. Tak butuh basa basi bagi mereka.


Tatapan membara penuh rasa gejolak terpancar di wajah suaminya. Sandra memejamkan mata seakan memberi keleluasaan pada Bara untuk berbuat lebih.


Benda kenyal terasa menempel di bibirnya. Bara menjulurkan lidah agar Sandra sedikit membuka mulutnya.


Perlahan tapi pasti Sandra mengikuti permainan Bara.


Bara makin mengeratkan pelukannya. Permainan semakin memanas. Saling menyesap, saling tarik menarik lidah, mengabsen seluruh isi rongga mulut.


Perlahan sentuhan itu terus menurun. Bara memperlakukan Sandra dengan begitu lembut.


“Aku akan melakukannya pelan, agar bayi kita tidak terganggu,” bisik Bara yang langsung mengangkat tubuh Sandra.


Langkah pelan menapak di lantai putih hotel tersebut. Sandra mengeratkan tangan yang melingkar di leher Bara.


Pelan dan sangat hati-hati, Bara membaringkan tubuh Sandra di pembaringan.


Bara kembali bermain lidah, saat ini Sandra ada di bawah kukungan Bara. Sentuhan lembut itu terus menelusuri telinga menurun ke leher putih tak henti sampai di situ. Suara merdu yang lolos dari bibir Sandra semakin membuat gejolak semakin membara. Tangan terampil Bara begitu gesit melepas pakaian yang menutupi tubuh Bara.


Gunung kembar indah terpampang di depan mata. Tak mau melewatkan waktu Ia meraup satu gundukan itu, satu tangan lagi bermain sambil memijat nikmat hingga suara indah kembali menggema di ruangan itu.


Dalam satu hentakan pelan dan hati-hati, Bara melakukan penyatuan nikmat. Bermain pelan tidak ingin calon bayi mereka terluka.


Malam ini adalah malam terindah untuk keduanya.


Sandra memejamkan mata dalam pelukan Bara. Kening yang di penuhi peluh keringat diusap pelan oleh Bara.


“Terima kasih untuk malam ini,” ucap Bara pelan.


Hanya anggukan pelan yang diberikan Sandra. Keduanya kembali tertidur saling berpelukan.


Keduanya sungguh tidak menyangka malam telarang itu berbuah manis. Perasaan yang muncul begitu saja di hati masing-masing. Kesalahpahaman yang sempat terjadi menjadi pelajaran bagi Sandra dan Bara.


Keduanya berkomitmen akan berusaha menjadi orang tua yang baik untuk bayi mereka. Sebab pengalaman kurang baik dari orang tua Sandra dan Bara dijadikan pelajaran untuk mereka agar belajar menjadi orang tua yang baik untuk bayi mereka kelak.


.


.


.


...Bersambung


...

__ADS_1


__ADS_2