
Aline di sambut hangat oleh orang-orang yang ia sayangi.
"Ibu... Ayah... Kalian ada di sini?" Aline berjalan sedikit cepat menghampiri mereka.
Ada Mbok yem, Oma Ratih, Bu Winda dan Ayah Zaki di sana, tak ketinggalan Tuan besar yang baru saja datang ikut bergabung dengan mereka. Ya Tuan Wijaya. Pria tua yang beberapa bulan ini kembali disibukkan dengan bisnis dan yayasannya.
"Pelan-pelan, Sayang!" teriak Galen langsung membuat Aline berjalan pelan.
"Maaf aku lupa!" Aline menyengir ke arah Galen lalu melanjutkan langkahnya.
Oma Ratih orang pertama yang Anna hampiri. Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya. Dengan tongkat besi yang membantunya.
"Cucu menantuku... Akhirnya... Oma akan punya cicit," ucap Oma Ratih dengan bahagia.
Oma Ratih lekas memeluk Aline. Menciumi pipi cucu menantunya yang sedikit berisi.
"Iya, Oma! Aline senang sekali. Dan ini, foto hasil pemeriksaa tadi!" Aline mengambil foto tersebut di dalam tas selempangnya.
"Oma sudah melihatnya tadi, Galen mengirimkan nya kepada Oma!"
Semuanya bergantian memberi selamat kepada Aline. Hanya sebentar Aline menyapa dan berbincang dengan mereka.
Aline dan Galen belum sempat membersihkan diri. Mereka berdua pamit kepada semuanya.
"Sayang, kita bersih-bersih dulu. Setelah itu kembali lagi ke sini," bisik Galen.
Aline menganguk pelan.
Memang setelah dari mall dan rumah sakit, Aline dan Galen belum sempat mandi.
"Semuanya aku dan Aline permisi dulu, mau mandi. hanya sebentar! " pamit Galen dengan sopan sambil membungkukkan badannya.
"Sebentarnya kamu berapa jam? Jangan sampai kami kelaparan nunggu kalian yang asik mandi berdua," celetuk Tuan Wijaya dan mendapat balasan dari Ayah Zaki.
"Wajar mereka lama karena ada lawan mainnya. Saya juga kalau di temani mandi rasanya ingin berlama-lama. Kecuali hidup sendiri, mandi dan melakukan apapun rasanya ingin cepat selesai," balas Ayah Zaki secara tidak langsung menyindir Tuan Wijaya yang masih sendiri.
Ayah Zaki melihat ekspresi sahabatnya, Tuan Wijaya yang menahan kesal karena ucapan darinya.
"Saya juga masih sendiri, Om!" celetuk Bara, membuat Tuan Wijaya tidak merasa sendiri. Ia tersenyum mengejek kepada Ayah Zaki. Sebab sudah mendapat teman untuk menyerangnya.
Bu Winda dan Oma hanya mengelengkan kepala melihat dia makhluk berumur itu. Kelakuannya ada saja.
Aline dan Galen terbiasa melihatnya. Mereka berdua segera naik ke lantai dua untuk mandi.
"Belanjaannya, Mas!" tanya Aline saat Galen menggandeng tangannya
"Sudah dibawa sama Mbak Ira tadi!" sahut Galen.
"Oh..." Aline beralih ke Bu Winda dan Ayahnya.
"Ibu... Ayah... Aline ke atas dulu, ya!"
"Hati-hati, Nak!" ucap Bu Winda pada Aline kalau beralih kepada Galen. " Sebaiknya kalian pindah kamar ke lantai satu saja, ibu ngeri lihat Kamu naik dan turun tangga nantinya." lanjut Bu Winda membuat Galen mendadak mengurungkan langkahnya.
"Saya juga berpikir seperti itu, Bu!" Bara menimpali.
"Jangan sok perhatian pada istriku!" sinis Galen. ia tidak terima ada yang lebih perhatian kepada Aline selain dirinya.
Bara menggelengkan kepala dengan sikap Galen.
__ADS_1
Sedangkan Ayah Zaki melihat jiwa muda Tuan Wijaya pada diri Galen. Tuan Wijaya akan sangat marah dan posesif jika wanita yang ia cintai ada yang menggoda apalagi ada yang mendekati. bisa senggol bacok atau bisa tersingkir sehingga hidupnya sengsara. Karena Ayah Zaki pernah mengalaminya meski itu hanya salah paham semata.
Tidak memerlukan waktu lama untuk Aline dan Galen membersihkan diri. Kini mereka semua berkumpul di meja makan, untuk makan malam bersama sebagai ungkapan rasa syukur karena kehamilan Aline. Kebersamaan yang jarang sekali mereka dapatkan, saat ini hanya Kartika yang tidak ada bersama mereka. Sebab kartika sedang menlanjutkan study nya di Amerika.
Malam ini makan malam yang membuat Aline begitu bahagia.
Seperti biasa Aline begitu lahap menyantap makanan yang ada. Berbeda dengan Galen, ada beberapa makanan yang ia hindari. Galen tidak bisa berlama-lama di sana. Sebab ia tidak kuat menghirup aroma masakan.
Apalagi saat Aline Aline memaksa Galen mencoba cumi saus tiram. Rasanya sangat berbeda. Biasanya Mbak Ira memasaknya dengan saus Padang, kali ini berbeda.
Galen langsung menggelengkan kepala saat Aline hendak memberikan suapan terakhirnya. Suaminya itu pamit tanpa bicara. Aline mengikutinya dari belakang, dan pamit kepada semuanya untuk menemani Galen.
Mereka semua memahami kondisinya karena Galen mengalami Sindrom Couvade.
"Kasihan sekali cucuku!" Oma Ratih memberikan tatapan tak tega kepada Galen yang berjalan ke arah lift menuju kamarnya. "Zaki... Apa akan lama Galen mengalami sindrom seperti itu?" tanya Oma Ratih kepada Ayah Zaki karena Oma tahu Zaki pernah megalaminya.
"Tergantung, Bu! Ada yang sampai trimester ke-dua ada juga sampai istri mereka melahirkan," Bu Winda yang menjawabnya.
Oma Ratih terlihat sangat khawatir.
"Tidak usah cemas, Bu! Galen akan baik-baik saja kok!"
"Apa tidak di bawa ke dokter saja." tanya Tuan Wijaya, Papa dari Galen juga khawatir dengan sindrom yang dialami Galen.
Bu Winda menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, hanya istirahat yang cukup dan minum vitamin pasti akan membaik nantinya."
"Syukurlah kalau begitu." ucap Oma Ratih lega. "Semoga kelak jika kamu menikah dan istrimu mengandung, kamu harus sayang dia, berikan kasih sayang yang lebih dan perhatian yang besar nantinya."
"Calon saja Bara belum punya, Oma!" celetuk pria yang duduk di hadapan Oma.
"Jangan menutupi, Oma tahu banyak wanita yang berusaha mendekatimu, Bara!" sanggah Oma Ratih.
"Jangan terlalu pemilih."
"Bara bukan pemilih tapi belum ada yang pas saja," elak Bara.
"Kalian sama saja, Bara dan Anggara sama-sama bilang belum ada yang pas, memangnya seorang perempuan itu baju. Cari yang pas!" gerutu Oma Ratih sampai ia lupa rasa khawatirnya kepada Galen.
Semua terkekeh pelan mendengar gerutuan Oma.
Dan orang yang disebut namanya hanya bergeming tak berkomentar apapun.
Makan malam pun usai, masing-masing bangun dari duduknya setelah selesai makan. Bu Winda pamit akan membawakan sedikit makanan untuk Galen.
Oma Ratih bersama Mbok Yem kembali ke kamarnya. Duo wanita paruh baya itu selalu bersama akhir-akhir ini karena Oma Ratih merasa kesepian di rumah, sehingga saat Mbok Yem berkunjung, ia di tahan tidak diberi ijin pulang.
Bara, Tuan Wijaya dan Ayah Zaki, mereka berkumpul di gazebo yang dikelilingi kolam renang, tempat favorit Aline akhir-akhir ini.
Mereka bertiga berbincang masalah para lelaki, hanya Galen yang tidak ikut di sana.
Di dalam kamar.
"Mas... aku tidak tega lihat kamu begini terus." lirih Aline sedih saat menemani Galen yang kembali mengeluarkan makanan yang baru saja ia makan. Susah payah Galen menahannya agar tidak muntah, tapi apa daya. Rasanya begitu mual. Sehingga semua makanan kembali ia muntahkan
"Maafin Aku, Mas!" Mata Aline sudah berkaca-kaca melihat Galen yang memuntahkan cairan terakhirnya, cairan berwarna kuning yang terasa pahit di tenggorokan.
Aline menyodorkan teh manis hangat campur madu yang ia minta ke mbak ira agar meredakan rasa pahit. Kejadian ini membuat Aline semakin merasa bersalah.
Galen menerima air hangat itu. Lalu meneguknya perlahan.
__ADS_1
"Mas tidak pa-pa, Sayang! Jangan khawatir asal ada kamu yang nemenin Mas, hilang seketika rasa memabukkan ini." ucap Galen berusaha membuat Aline tenang.
Lalu menarik Aline ke dalam pelukannya.
"Yang penting buat Mas, kamu dan bayi kita sehat.
Tok... tok... tok....
Bu Winda mengetuk pintu kamar.
"Nak, Ibu bawakan makanan untuk suamimu!" ucap bu Winda dari luar.
"Aku ambil makanan dari Ibu dulu, Mas!" Galen melepaskan pelukannya.
Aline membuka pintu dan meraih nampan yang berisi makanan diatasnya.
"Terima kasi, Bu! Maaf jadi tidak bisa ikut bergabung."
"Tidak pa-pa, suami mu lebih penting. Ibu dan Ayah juga kan pamit setelah ini, jadi ibu bilang dulu sama kamu."
"Oma?" tanya Aline baru teringat Oma Ratih.
"Oma sudah ke kamar bersama Mbok Yem." balas Bu Winda.
"Syukurlah. Beliau masih ada di sini. Biar Oma nggak kesepian juga."
"Ya sudah, setelah ini Ibu pamit pulang, ya?"
Aline mengangguk dan mencium kedua pipi Ibu nya itu. "Hati-hati ya bu, sampaikan salam maaf Akine buat Ayah!"
"Iya, Nak!"
"Ibu pulang, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah Bu Winda turun. Aline kembali ke kamar, mencari sosok suaminya, saat muncul Galen sudah rapi dengan baju santainya.
"Makan dulu, Mas!" ajak Aline karena ia tahu pasti Galen akan merasa lapar setelah memuntahkan makanan.
Galen memeluk Aline dari belakang. Saat istrinya sedang memisahkan bawang bombay yang ada di dalam campuran ayam kecap. Galen sedikit pemilih makanan saat ini.
"Mas maunya makan kamu dulu, Mas mau ketemu sama dede bayi," bisik Galen di telinga Aline, membuat sebuah aliran sengatan pada sendi Aline.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya.
sambil nunggu up. Mampir ke cerita sesama Author yuk ini karya ka. Merpati_Manis
.
.
__ADS_1