Fake Love

Fake Love
Gombal Galen


__ADS_3

Aktifitas sebagai artis dan model, Aline jalani seperti sebelumnya. Beberapa hari ini perasaannya sedikit lega mengingat pertemuan terakhirnya bersama Galen hanya sebentar.


Aline dan Galen sudah berkomunikasi kembali semenjak Galen sadar dari koma-nya. Candaan dan ejekan masih terlontar dari pria yang sudah menyatakan perasaannya itu. Siang ini Aline terlihat bersantai menikmati kopi latte favoritnya di balkon lantai dua gedung butik Cantikka milik Bu Syahrani.


Drtttt.... drtttt...


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Bersujud dan lalu aku meminta


Semoga kita bersama


Dengarkanlah


Di sepanjang malam, aku berdoa


Cintaku untukmu s'lalu terjaga


Dan aku pasti setia


Lagu yang sedang banyak di putar di media sosial itu menjadi nada dering kesukaan Aline. Seakan mewakili perasaanya.


"Assalamualaikum," sapa Aline dari sebrang telpon.


"Waalaikumusalam, Pol... kapan Kamu ke sini lagi? masa tega banget pangerannya gak di tengokin!" balas Galen lalu mengubah pangilan telponnya menjadi video call.


"Dih... pangeran apanya, masa pangeran botak begitu, geli Aku liatnya juga. Kayak tukang cilok di pengkolan dekat rumah!" ledek Aline seraya menyeruput kopi di tangannya.


"Berani ngeledek... awas aja kalau deket, Aku balas nanti!" seru Galen yang mengalihkan pandangannya ke arah suster yang baru saja datang ke kamar perawatan membawakan obat.


"Di minum obatnya ya, Tuan," ucap suster.


"Ya, terima kasih sus, nanti saya minum," balas Galen. Tak lama suster itu pun keluar dari ruang perawatan. Lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah layar ponsel yang masih terhubung dengan Aline.


"Aku tuh males harus nyamar dulu kalau ke sana, Gal. Anak buah Papa mu pasti akan menghadang ku!" adu Aline.


"Aku akan menyuruh Aldo untuk menjemputmu! mau, Yah? Kali ini tidak akan ada yang menghalangi" Galen memohon dengan wajah mengiba di hadapan kamera.


Aline tersenyum melihat tingkah manja Galen. Sisi premannya hilang berganti seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya.


Ia mengangguk pelan sembari tersenyum ke arah ponselnya.


"Tapi nanti, Ya. Setelah Aku hadir ke undangan pernikahan Chyntia dan Derald. jemout Aku di sana saja!"


"Kamu masih mau aja datang ke sana, makin besar kepala mereka nanti!" ucap Galen.


"Mau gimana lagi, Aku berangkat bareng ko sama beberapa artis yang lain juga!" jelas Aline.


Aline dengan berat hati datang ke acara pernikahan Derald. Karena menghormati Produser Smile Films yang merupakan PH produksi yang menaunginya selama ini. Berkat bergabung dengan PH produksi itu, bakat Aline di dunia akting pun terasah dan sudah membintangi beberapa film layar lebar.


"Apa perlu Aku ke sana menemani mu?" sela Galen.

__ADS_1


Aline memicingkan mata berbulu lentik itu ke arah kameranya mendengar ucapan Galen. "Jangan macam-macam deh, Gal. Kondisi Kamu belum pulih benar untuk keluar dari rumah sakit," omel Aline dengan wajah cemberut.


"Bosan tau gak, Pol! pengen cepet keluar dari sini." keluah Galen.


Gaya bahasa dua orang yang saling mencintai ini tak seperti sepasang kekasih yang berucap romantis kepada pasangannya. Mereka sudah terbiasa mencela dan mengejek. Terkadang saat bersama malah sering ada perdebatan. Tapi sikap itulah yang membuat mereka semakin dekat dan tergantung satu sama lain.


Aline dan Galen belum merasakan berbicara langsung semenjak kecelakaan itu. Kondisi Galen yang mengalami koma dan saat sadar pun belum sempat berinterkasi berdua. Mungkin lebih sering melalui telpon, tetapi akan beda rasanya jika mereka berbicara langsung secara berhadapan, entah akan seperti apa sikap kedua pasangan itu.


"Ayah juga melarang keras Aku nemuin Kamu, Gal!" ungkap Aline.


"Kenapa?"


Aline mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin Ayah takut terjadi sesuatu lagi padaku."


"Mbak Aline, Kita bersiap, yuk! masih ada satu jam untuk prepare." Risa datang dari arah belakang Aline sontak membuatnya terkejut melihat orang yang ada di layar ponsel Aline.


"Ok. Gal... Aku bersiap dulu. Nanti kalau sudah selesai dari acara itu, Aku hubungi Aldo atau nanti Risa antar ke sana," pamit Aline.


"Wah... Tuan Galen sudah sadar, ya? Alhamdulillah, pantesan aja Mbak Aline sekarang lebih ceria. Gak galau lagi, kaya baju kusut!" ungkap Risa. Gadis itu mendapat pelototan tajam dari Aline. memberi kode agar tidak berbicara kondisinya saat tak bisa bertemu Galen.


"Alhamdulillah, Sa! berkat si Cepol nih, yang membawa jimat penyembuhan ke sini! Apa benar seperti itu si Cepol, Sa?" tanya Galen kepada Risa. Aline mengeleng pelan membantah ucapan Risa, lalu meletakkan ponselnya di tengah meja, membiarkan sambungan video call nya tetap berlangsung. Galen melihat atap balkon yang jadi pemandangan ponselnya.


"Bener, Tuan! Mbak Aline kaya gak ada semangat saat Tuan Alex belum sadar," ungkap Risa.


"Panggil seperti biasa aja, Sa! jangan pakai embel-embel Tuan."


"Apa boleh? emang iya sih, jadi Aku, gimana gitu manggilnya, Mas Galen ya," usul Risa lalu mendapat anggukan dari Galen.


"Rese deh, kalian ini!" udah ah... males ngomong sama Kamu!" ucap Aline dengan suara ngambeknya membiarkan Galen berbicara melihat atap balkon.


"Aku gak jadi ke rumah sakit malam ini!" seru Aline merasa kesal mendengar penuturan Galen melalui sambungan Video call nya.


"E-eh... jangan Pol, Aku udah kangen!"


"Bodo amat," sahut Aline.


"Kalian ini pacaran apa musuhan sih? gak ada romantisnya sama sekali? panggilan aja engak ada istimewanya sama sekali!" sambung Risa di sela perdebatan Aline dan Galen, lalu meraih ponsel Aline yang sengaja diletakkan sembarang di atas meja. Di sodorkannya ke si empunya ponsel tersebut.


Aline menerima ponsel seraya cemberut menghadap ponsel yang masih menampakkan wajah Galen berkepala botak itu.


"Cepetan kelarin obrolannya, kita harus segera siap-siap, atau Mbak Aline akan pergi sendiri ke acara pernikahan sang mantan," ejek Risa seraya pergi meninggalkan Aline yang mendelik ke arahnya.


"Hehe.. piss!" Risa menunjukan jari tengah dan telunjuk sebagai kode perdamaian.


"Pol...," panggil Galen.


"Apa sih?" Aline masih dalam mode cemberut tanpa memandang ke arah kamera di ponselnya.


"Dengerin Aku!"


"Hm."


"Kalau nanti Kamu dateng ke acara sang mantan, tetep pasang wajah cemberut kaya gini ya, jangan senyum," ucap Galen sontak membuat Aline menautkan kedua alisnya lalu menghadap ke arah ponselnya.

__ADS_1


"Banyak wartawan lah, masa iya Aku enggak pasang wajah senyum. Gimana sih?" Aline masih dengan wajah cemberutnya.


"Abisnya senyum Kamu 'kan bikin orang tak bisa berpaling dari Kamu, jangan buat Aku punya saingan banyak, Pol!" gombal Galen.


Aline tersenyum mendengar gombalan ria yang duduk di tempat tidur pasien lengkap dengan baju pasien dan selang infus yang masih terpasang di tangan kanannya.


"Ishh... gombal!"


"Tuh, 'kan kalau senyum kaya tadi malah bikin Aku gak rela Kamu pergi ke sana tanpa Aku, Pol!" seru Galen.


"Udah ah, dari tadi pol... pol... mulu! Aku siap - siap dulu ya, yang lain udah pada rapi! males banget kalau harus ke sana sendiri. Kamu istirahat, biar cepet sembuh!" Aline menatap Galen serius lalu tersenyum hangat ke arahnya.


"Pol..., " panggil Galen lagi.


"Hmm."


"Sun jauh ya?" goda Galen.


"Ih, kepalamu terlalu keras apa ya kebenturnya? ko jadi mesum gini! udah ya. aku tutup telponnya. Assalamualaikum." Aline menutup sambungan telponnya seraya memberikan senyum manis dengan lesung pipi andalannya.


"Waalaikumsalam," jawab Galen dengan senyum sumringahnya.


Berbicara dengan Aline dan menggoda gadis itu menjadi kebiasaannya. Pasti akan ada perdebatan setelahnya, tapi keduanya akan berbaikan kembali setelah itu.


Galen tersenyum sendiri memandangi ponsel miliknya, memandangi wallpaper yang terpasang di sana.


Wajah Aline dengan kacamata besarnya dengan senyum berlesung pipi membuat orang yang melihat foto itu ikut tersenyum melihatnya.


"Kamu, kenapa sih? dari tadi senyum - senyum sendiri?" tanya Oma Ratih yang baru saja masuk ke ruang perawatan. Melihat cucunya tersenyum seperti tadi membuat Nenek dari pria berbaju pasien itu merasa khawatir.


"Aduh, jangan sampe benturan di kepala cucuku, malah bikin dia gak waras. Dokter mana ya? harus ada pemeriksaan lanjutan ini!" celoteh Oma Ratih.


.


.


.


.


bersambung


2 bab hari ini.


Doakan kerjaan bongkar -membongkar istana teteh kelar... riyeut kayaknya enggak beres - beres.


Kalian para readers juga pada sehat semua ya.


Jangan lupa dukungn buat karya ini.


like


komen yang banyak

__ADS_1


vote juga seminggu sekali,,


Salam hangat dari Teteh author Mayya_zha ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2