
Setelah membaca pesan dari Galen. Aline bergegas ke dalam restoran. Ia mengedarkan pandangannya dalam restoran itu, salah satu pelayan menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" sapa pelayan itu.
"Apakah ada pemesanan meja atas nama Gal ..., maaf, Tuan Alex?" tanya Aline ragu.
"Apa sudah melakukan reservasi sebelumnya, Nona?" Pelayan itu bertanya balik.
"Sepertinya sudah, barusan saya di suruh nunggu di dalam sini!"
"Sebentar, Nona saya tanya ke kasir yang menangani pemesanan tempat dulu." Pelayan itu berbalik meninggalkan Aline menuju tempat kasir.
Aline mengangguk pelan. "Baiklah." Gadis itu menunggu kejelasan dari pelayan. Ada perasaan khawatir yang Aline rasakan saat ini.
Tak lama pelayan itu kembali. "Mohon maaf, nona! di sini tidak ada pemesanan tempat atas nama Tuan Alex, mungkin anda salah tempat!"
Aline mengerutkan alisnya saat mendengar penjelasan pelayan itu.
"Yang benar, Mas?" tanya Aline meyakinkan.
"Benar, Nona!"
"Tapi alamatnya benar di sini! coba Mas lihat ini alamatnya. Benar 'kan?" Aline menunjukan foto kertas yang sempat ia abadikan saat mengirimkannya kepada Pak Joko.
"Ya, benar Nona. Ini benar alamat restoran kami. Tapi, lebih baik coba hubungi orang yang membuat janji dengan Anda di tempat ini, mungkin saja dia belum memesan tempat," usul pelayan restoran itu.
"Ok, baiklah. Saya coba hubungi orangnya. Saya ikut duduk dulu di kursi sebelah sana ya, Mas?" Aline menunjuk satu tempat di luar posisinya tepat di pojok restoran itu.
"Silakan, Nona. Apa Anda mau pesan minuman dulu?"
"Ya boleh, orange jus aja,"
"Baik, mohon di tunggu!" pelayan itu berbalik meninggalkan Aline untuk membuatkan pesanan minumannya.
Aline keluar dari dalam restoran ia melangkah menuju tempat duduk di luar restoran, sambil mencoba menghubungi Galen.
Beberapa kali panggilan tersambung tapi tidak di angkat. "Gal, angkat dong. Kamu sudah sampai mana? kenapa perasaanku jadi takut begini," gumam Aline lalu duduk di bangku pojok yang ia pilih.
Aline masih sibuk dengan ponselnya. Deretan pesan Aline kirimkan untuk Galen.
__ADS_1
"Hmppt"
Dari belakang seseorang membekap mulut Aline dengan obat bius. Tak butuh lama untuk Aline jadi tak sadarkan diri. Dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Aline menuju mobil yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Kebetulan saat itu keadaan restoran sepi. Semua pelayan masih sibuk berada di dalam restoran.
"Kerja bagus, cepat masukkan gadis itu, kita harus segera pergi dari sini!" Ucap Ferdi dengan senyum bahagianya.
Pria itu langsung tancap gas membawa Aline pergi meninggalkan restoran.
Di tempat lain.
"Kita akan segera bertemu, Yang!" Galen meraih setangkai bunga merah yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Pria itu keluar dari mobil mewahnya. Tak sabar ingin segera bertemu dengan calon istri cantiknya itu. Ia memerintahkan pelayan restoran yang agar membawa Aline ke tempat berbeda dengan ruangan yang ia pesan sebelumnya.
Pria tampan itu ingin memberikan kejutan untuk Aline. Sebuah ruangan yang dirancang indah sedemikian rupa dengan banyak bunga lily putih di dalamnya. Ia ingin Aline melihat kejutan itu bersama dirinya nanti.
Dengan langkah tegap Galen berjalan memasuki restoran. Senyuman terpancar di wajahnya, membuat ketampanannya bertambah berkali lipat.
Beberapa pelayan yang mengenal Galen berjalan mendekatinya, menunduk hormat saat pria tampan itu berjalan masuk ke restoran.
"Dimana calon istri saya?" tanya Galen ramah masih dengan senyumannya.
"Jangan bercanda, Dia sudah memberi pesan kepada saya, kalau dia sudah ada di sini?" elak Galen.
"Sungguh, Tuan. Belum ada seorang wanita yang menanyakan Anda!"
Galen menggelengkan kepala. Pria itu lekas meraba celananya, hendak merogok ponsel di dalam kantong celananya. Ia ingin menghubungi Aline menanyakan di mana keberadaannya saat ini.
Galen panik, ponsel yang ia cari tak ada. Ingat terakhir berkabar dengan Aline ia memasukannya ke dalam kantong celananya. Galen tidak menyadari ponselnya terjatuh ke bawah kursi kemudinya.
Ponsel Galen berada dalam mode senyap, jadi tak terasa getaran ataupun dering dari ponselnya. Ketika sedang meeting Ia selalu melakukan itu, tak mau jika kerjanya terganggu, atau biasanya lebih sering mematikan ponsel saat meeting berlangsung. Galen lupa merubah mode ponselnya seperti semula.
Ada kekhawatiran muncul saat mendengar penuturan pelayan itu. Dengan setengah berlari Galen kembali ke mobil, mencari ponsel yang terjatuh di dalamnya.
"Syukurlah ada di sini."
Alangkah terkejutnya saat melihat deretan panggilan masuk dari nomer Aline.
__ADS_1
Segera Galen balik menghubunginya. teleponnya tersambung tapi tak ada yang mengangkatnya.
"Yang, kamu dimana? katanya sudah sampai!" berkali-kali ia mengubungi Aline.
Karena sudah beberapa kali tak di jawab. Galen membuka pesan chat dari Aline.
๐ฉ"Gal, aku sudah sampai, tapi kenapa kata pelayannya tak ada pemesanan tempat atas nama kamu?"
๐ฉ"Kamu dimana aku tunggu di sini, kenapa harus memilih tempat yang begitu jauh gini, sih?"
๐ฉ"Angkat dong teleponnya, jangan buat aku takut!"
๐ฉ"Kamu baik-baik saja kan? sudah sampai mana?"
Lagi-lagi beberapa pesan Aline kirimkan untuk Galen. Ada nada marah, takut, dan khawatir dalam pesan tersebut.
Galen membulatkan matanya membaca semua pesan dari Aline. Ada yang tidak beres menurutnya. Kenapa tadi pagi Aline juga mengatakan tempatnya jauh, padahal Ia memilih tempat yang tak jauh dari kediaman Aline.
Kecemasan mulai menyerang Galen.
"Arghh ... Dimana kamu, Sayang?" Galen menyugar rambutnya kasar.
Lekas ia segera menghubungi Aldo dan menceritakan singkat kejadiannya hari ini. Aldo dengan sigap akan menyusul dan memecahkan apa yang terjadi sebenarnya.
Dengan cepat Galen masuk ke dalam mobilnya, Pria yang wajahnya kini berubah cemas itu melajukan mobilnya menuju rumah Aline, karena jaraknya tak begitu jauh dari restoran yang sudah di bookingnya.
Sepanjang perjalanan Galen mencoba menghubungi Aline. Tapi sayang, setelah bebrapa kali di hubungi nomernya malah tidak aktif. Semua itu semakin membuat Galen khawatir.
.
.
.
.
.
Bersambung>>>
__ADS_1
Hai ... Aku ajak bertegang ria sedikit ya, dari kemarin melow romantis terus...
selamat menikmati pembaca setia.