Fake Love

Fake Love
Ora Beach Resort 3


__ADS_3

Aline tertidur berbantalkan lengan Galen. Rasa lelah siang itu membuat mereka berdua tertidur setelah aktivitas yang menguras tenaga itu. Tubuh polos mereka tertutup selimut putih yang menghangatkan tubuh tanpa busana itu.


Hampir tiga jam mereka bergelut dalam aktivitas yang membakar gelora. Memang sedikit sulit saat pertama kali melakukannya karena memang aktivitas itu menjadi pengalaman pertama mereka berdua. Aktivitas yang menghabiskan energj dan tenaga.


Aline membuka matanya saat ia merasakan perih pada lambungnya. Sampai ia harus terbangun karena suara demo dari cacing yang ada di perutnya, cacing itu seakan telah memberontak meminta asupan makanan.


Kruk... kruk...


Suara perut lapar itu membuat Galen yang sedang terlelap itu bangun. Meski berat saat membuka mata, Galen tetap berusaha untuk bangun. Duduk menghadap Aline yang sudah bangun lebih dulu darinya.


Aline sadar tubuhnya polos tanpa busana. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Aline berusaha menutupi Gunung Himalaya yang mempunyai bercak merah keunguan tanda kepemilikan yang Galen tinggalan di sana.


"Tak perlu di tutupi, aku sudah melihat semuanya!" Galen menatap Aline memainkan pandangannya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum jahil kepada nya.


"Mas ...!" Aline hendak melayangkan cubitan pada Galen, karena posisi mereka berjarak. Aline harus mengangkat sedikit tubuhnya. "Aww...," keluh Aline. Ia merasakan sakit pada bagian inti tubuhnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Galen khawatir melihat raut wajah Aline yang nampak kesakitan.


"Mas ...!"


"Hm...! kamu kenapa?" tanya Galen lagi.


"Mmm... kenapa sakit sekali ya setelah melakukan itu...!" ucap Aline malu-malu lalu tertunduk setelah bertanya.


Galen tersenyum, ia tahu apa yang di maksud Aline.


Galen menyentuh dagu Aline agar kembali menatapnya. Pria itu menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Aline.


"Karena akulah, orang pertama yang mengambil kesucianmu, Sayang!"


Mata Aline membulat saat mendengar ucapan Galen. "Tapi, bukankah... waktu itu...," Aline bingung untuk melanjutkan ucapannya.


"Ferdi belum sempat merenggut kesucianmu. Aku pun baru tahu belum lama dari Ayah Zaki, hasil visum tempo hari baru beliau tunjukkan padaku."


Ada rasa lega dan senang dalam hati Aline. Ternyata ia menyerahkan kehormatan yang paling berharga kepada orang yang tepat.


Aline tersenyum malu kepada Galen. Ternyata pengetahuannya soal hal itu belum ia ketahui, ternyata Aline baru sadar perbedaanya dengan kejadian itu.


Saat itu Aline sama sekali tidak merasakan sakit pada bagian inti tubuhnya hanya linu di beberapa bagian karena sentuhan paksa dari Ferdi. Tapi saat ini perih, linu dan sakit pada bagian inti ia rasakan bahkan saat menggerakan kaki pun terasa. Pantas saja waktu itu Aline masih bisa berjalan biasa tanpa rasa sakit setelah kejadian itu. Ternyata si vivi masih belum tersentuh.


"Tadi aku dengar ada perut keroncongan minta di isi? Kamu lapar, Yang?" tanya Galen.


Aline mengangguk pelan menjawabnya.


"Makanan itu sudah dingin, kita pesan makanan yang baru saja. Aku hubungi pusat hotel untuk memesan makanan yang baru." Galen mengelus pelan pipi Aline, lalu beranjak dari tempat tidur. Tanpa malu di hadapan Aline, Galen berdiri tanpa busana. seperti manusia purba jaman dulu.


Aline sampai tidak berkedip memandangi Galen yang berdiri gagah di hadapannya sambil memegangi telepon. Suaminya itu sedang meminta makanan baru kepada penyedia layanan hotel tersebut.


Ketahuan sedang memandangi suaminya, Aline mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.Galen tersenyum melihatnya. Ia pun berjalan mendekati Aline. Menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Aline.


"Mas...! pekik Aline saat tubuhnya tanpa ijin diangkat oleh Galen. Ala bridal style Galen membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aku akan membantu mu mbersihkan diri, pasti masih sakit 'kan kalau harus berjalan?"


Aline mengangguk sambil tersenyum malu. Memang benar saat ini linu dan sedikit perih masih ia rasakan.


"Kita mandi dulu, sambil menunggu makanan baru datang!" Dengan sekali dorongan Galen membuka pintu kamar mandi. Ada bathub di dalam sana.


Galen mendudukan Aline di sisi bathtub. Menyuruhnya menunggu sebentar, Galen akan menyiapkan air hangat untuk mereka berendam.


Setelah air hangat memenuhi bathtub, Galen meraba kadar kehangatan air tersebut. "Terlalu panas tidak? Apa kurang hangat?" tanya Galen memastikan. Ia ingin Aline merasa nyaman saat membersihkan diri.


"Ini sudah cukup, Mas!" Aline ikut meraba air itu.


Tak lupa Galen memasukan beberapa cairan untuk merilekskan tubuh.


Bubble bath cairan pertama yang ia masukan ke dalam bakal mandi itu, ini akan menjadikan suasana mandi lebih menyenangkan, produk ini dapat melembutkan kulit, melalui busa yang melimpah.


Bubble bath memiliki banyak manfaat seperti membersihkan pori-pori, melancarkan sirkulasi, mencerahkan hingga meredakan stres bahkan membuat berendam menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Galen juga menuangkan sedikit bath oil agar kulit istrinya itu tampak lebih sehat.


Melihat begitu istimewa nya Galen memperlakukannya seperti seorang ratu, membuat Aline begitu tersanjung. Senyuman tak hentinya Aline kembangkan.


"Mas ... cukup! Kapan mandinya kalau mas terus mengecek berapa tetes cairan yang harus di masukkan ke dalamnya. Aku bisa masuk angin kalau terlalu lama." cetus Aline.


Galen nyengir sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Sebenarnya ia tidak tahu takaran yang harus di pakai. Tapi melihat produk itu berada tak jauh dari bathtub Galen yakin itu adalah cairan yang biasa di pakai untuk berendam. Karena biasanya Galen hanya tinggal berendam saja. Tanpa ribet seperti ini.


"Maaf, Sayang!" Galen segera mengangkat kembali tubuh Aline.


Sebenarnya Aline masih kuat dan tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan. Tapi Galen terlalu lebah menanggapinya.


"Loh, Mas. ko ikut berendam juga?" Aline terkejut saat Galen ikut masuk ke dalam Barhtub.


"Aku mau bantuin kamu bersihin punggungmu!" Galen mengerlinglan mata kepada Aline.


Padahal itu hanya alasannya saja ingin membantu Aline mandi. Dan aktivitas pasangan yang saling memancarkan gelora kembali terjadi. Setelah merobohkan pertahanan pertama yang agak sulit siang tadi. Kini, Galen lebih lancar melakukannya. Suara merdu yang lolos dari bibir Aline makin membuat gairah Galen semakin memuncak.


Bermain di dalam air hangat menjadi permainan baru untuk mereka berdua. Rasanya begitu nyaman dan rileks setelah pelepasan terjadi. Aroma terapi makin menambah nyaman saat terhirup oleh indra penciuman mereka.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Galen kemudian mencium pipi Aline dari samping. Posisi Aline berada di depan Galen.


"Hmm...," satu ucapan yang terucap dari Aline. Ia memejamkan mata setelah mencapai puncak nirwana bersama suaminya tercinta.


***


"Uhuk ... uhuk ..." Aline tersedak saat mencicipi satu masakan yang terasa begitu pedas.


"Pelan-pelan, Yang!" tegur Galen seraya menyodorkan air putih kepada Aline.


Aline langsung menerima air putih lalu meneguknya perlahan. "Terima kasih," Aline terihat lega setelah minum air.


Galen menyingkirkan makanan yang membuat istrinya sampai tersedak dan menahan perih di tenggorokannya.


"Lain kali jangan pesan makanan yang pedas seperti ini!" oceh Galen lalu mengganti cumi pedas dengan ayam suwir kecap untuk di santap Aline. "Makan ini saja!" titahnya sambil menyendokkan ayam suwir kecap ke dalam piring milik Aline.

__ADS_1


Aline memanyunkan bibir mendengar ocehan suaminya. Baru dua kali dia menyantap cumi pedas itu sudah tersedak. Padahal ia sudah membayangkan makan makanan itu, saling bersemangatnya karena merasa lapar, Aline sampai tersedak memakannya. Tapi memang benar rasa cumi itu terlalu pedas, berbeda dengan masakan Zainab yang menunjukan warna merah tapi rasanya luar biasa.


"Aku kira tidak sepedas itu, Mas! Teh Zainab memasak cumi seperti itu tapi nikmat rasanya pas meski warnanya merah tapi untuk rasa sesuai dengan lidahku!" Aline melanjutkan makannya. Rasa perih di tenggorokan masih terasa meski makannya sudah berganti menu. Sesekali Aline terus minum air agar mengurangi rasa perihnya.


"Nanti minta buatkan saja sama dia kalau mau makanan pedas seperti itu lagi!" Galen selesai dengan makanan miliknya.


"Teh Zainab 'kan sudah pulang ke Cianjur, Mas!"


"Memang Tante Zainab saja yang bisa buat masakan itu, Ibu juga bisa kan?"


Aline mengangguk membenarkan. "Tapi aku kan mau nya makan itu sekarang bukan nanti!" Aline masih cemberut sambil terus melanjutkan makannya.


"Yang...,"


"Hm..." Aline kesulitan berucap karena makanan yang memenuhi mulutnya.


"Apa kami ngidam mau makan cumi pedas itu." celetuk Galen malah membuat Aline kembali tersedak makanannya.


"Uhuk....uhuk...." Aline meraih gelasnya sendiri perlahan meminumnya mendorong makanan yang terlanjur ia kunyah.


"Mas...," Aline memberikan tatapan tajam kepada Galen.


"Hati-hati dong, Yang, makannya! pelan-pelan saja." Galen mendekati Aline lalu mengelus pundaknya pelan berusaha memberikan sentuhan agar batuk Aline mereda. "Bisa saja, usaha kita kerja keras bergelut tadi, langsung jadi, Yang!"Galen melempar cengiran kepada Aline.


"Ngadi-ngadi kamu, Mas. Mana ada baru masuk sudah jadi! pasti ada prosesnya." Aline menggelengkan kepala kemudian menyudahi makannya.


Aline merapikan piring kotor dan memisahkan makanan yang masih tersisa. Ia letakkan kembali ke atas troli agar petugas hotel bisa membawanya.


Aline menyomot cumi pedas yang berada di piring lalu memasukkan satu buah babycumi berbumbu pedas itu ke dalam mulutnya. Sayang sekali kalau tidak di makan. Ia hanya ingin merasakan sedikit lagi sebelum petugas hotel mengambil piring-piring kotor itu.


Meskipun sangat ingin memakan cumi pedas itu, tapi Aline menuruti perintah suaminya agar tidak melanjutkan makan makanan pedas tersebut.


Usai makan, Aline dan Galen bersantai di depan kamar hotel. Tiduran santai di bangku panjang yang ada sandarannya. Ora Beach resort itu sangatlah cocok untuk pasangan yang berbulan madu.


Selain nyaman, suasana tenang tanpa gangguan. Udara di sana sangatlah sejuk. pemandangan pegunungan dan laut tenang yang terpampang di depan mata membuat semua pengunjung takjub karenanya.


.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya....


Mohon maaf di bab bulan madu ini harus tertuliskan sedikit adegan adegan hareudang. Jika tidak suka skip aja ya. Aku pun yang menulis agak bingung. Gak di tulis kayaknya kurang gereget. Masa ku tulis singkat, buka jos, ah... 🤣 kurang ngena kayaknya.


pokonya mah nikmatin aja ya alurnya.


jangan lupa buat kalian yang tinggalkan komentar dong. se Hai... kalian saja. ngeramein kome komentar. sedih beuddd. di sana sangat sepi....

__ADS_1


__ADS_2