
Apa aku berbuat salah sama Galen. Kenapa sikap dia semakin dingin sama aku, bahkan sekarang seakan tidak perduli. Padahal aku hanya ingin sekali cerita kalau ibu akan mendapatkan pendonor jantung yang cocok untuknya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sama kamu, Gal. Tapi kenapa begitu sulit untuk kita berbicara bahkan membalas sapa aku saja kamu tidak mau.
Batin Sandra seraya menatap Aline dan Galen yang sudah hilang dari pandangannya. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
Sandra hanya menatap sedih melihatnya. lalu tersenyum miris pada dirinya sendiri.
Apa peduli dia kepadaku, Galen adalah orang yang memang bersikap baik sama semua orang. Jangan berharap lebih Sandra. Ingat perbedaanmu dengan Aline sangat jauh. Siapa dirimu, mulai sekarang jalani hidupmu. Ingat Ibu membutuhkan kerja kerasmu.
Sandra menyemangati dirinya sendiri. Membuang rasa yang tak pernah tergapai. Terlalu jauh untuk ia kejar.
Sesampainya di ruangan. Galen lekas berjalan mendekati kursi singasana nya.
"Akhirnya... Kelar juga pemotretannya," ucap Galen seraya melempar tubuhnya ke kursi empuk miliknya.
"Mas... Apa kamu selalu bersikap acuh seperi itu kepada Sandra?" tanya Aline menyadari sikap suaminya kepada Sandra
Sangat terlihat jelas menurutnya.
Galen bergeming ia malah melonggarkan dasi lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil mengoyang-goyangkan kursi tersebut ke kanan dan kiri.
"Mas... Kamu dengar nggak sih?" sewot Aline merasa diacuhkan.
"Hmm..." jawabnya singkat.
"Apa aku terlalu membatasi dirimu, Mas?" Aline kembali bertanya.
Hanya gelengan kepala dari Galen untuk Aline.
"Apa Mas marah aku melarang Mas dekat-dekat dengan Sandra?" Lagi-lagi Aline bertanya membuat Galen bingung untuk menjawabnya.
Entah mengapa perasaan Aline kali ini begitu sensitif, sedikit saja kesalahan yang dilakukannya. Wanita itu langsung menangis karena merasa bersalah.
"Maaf ya Mas!" celetuk Aline sambil menundukkan wajahnya.
Galen yang melihat perubahan sikap Aline langsung berdiri menghampirinya.
"Kamu minta maaf kenapa, Yang? Namun tidak bersalah loh?" Galen bingung dengan sikap Aline akhir-akhir ini. Ia pegang kedua bahu Aline lalu menatapnya serius.
__ADS_1
"Maaf, aku minta kamu menjauh dari Sandra. Padahal kan dia satu kantor dan kalian harus sering berkomunikasi. Aku terlalu egois untuk itu. Maaf... Ya, Mas." Ucap Aline sendu.
"Alhamdulillah, kalau kamu sadar!" cetus Galen dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Aline, membuat wanita itu terdiam. Matanya sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Galen.
Aline terisak mengeluarkan air matanya tanpa suara.
"Loh, yang ko malah nangis?" tanya Galen merangkup wajah Aline yang sudah berlinang air mata.
"Mas, jujur selama ini aku terlalu ngekang kamu, Ya?" tanya Aline dengan suara sedihnya.
Galen tahu Aline tengah mempertanyakan sikapnya kepada Sandra.
"Dengar, Sayang! Mas tidak pernah merasa di kekang oleh sikap kamu. Mas malah senang, kamu melarang Mas berarti sudah mengingatkan Mas, bahwa seorang lelaki tidak baik jika berhubungan dengan seorang wanita. Jika masing-masing jenis, antara lelaki dan perempuan itu sudah ada pernikahan."
"Kamu tidak marah?"
Galen menggeleng kepalanya pelan. Seketika wajah Aline langsung berbinar cerah. "hahah.... Beneran Mas tidak marah?" Galen mengangguk pelan.
Aline lekas memeluk Galen.
Tiba-tiba Galen merasakan perutnya sperti diaduk. Lekas ia meminta Aline melepaskannya. Dengan sedikit mendorong tubuh Aline, Galen segera berlari pelan menuju toilet yang ada diruangannya. Pria itu mengeluarkan semuab isi dalam perutnya.
"Huek ... huek..." Galen terus menuntahkan isi dalam perutnya sampai cairan warna kuning yang membuat lidahnya pahit keluar dari mulutnya.
"Mas, kenapa?" tanya Aline seraya memijat pelan tengkuk leher suaminya
Setelah dirasa puas, Galen membasuh bibirnya. Aline meraih tisu yang tak jauh dari sisinya. Lekas ia membantu Galen mengeringkan bibirnya yang basah.
"Mas pusing menghirup aroma di dalam ruangan," tutur Galen lalu kembali keluar ruangan. Ia hendak menelpon bagian kebersihan untuk mengganti pewangi ruangan yang yang ada di ruangannya.
Saat keluar dari toilet, Aldo baru saja masuk ke dalam ruangan. Membuat Galen segera memberi perintabh kepadanya.
"Do, tolong bagian kebersihan suruh ganti deh pewangi ruangan sama aroma jeruk biar seger menghirup udaranya," cetus Galen membuat Aldo bingung.
Asistennya itu sedikit mengerutkan dahi merasa sikap Galen akhir-akhir ini sedikit aneh. Dari kemarin semua karyawan yang berada dekat dengannya langsung mendapat teguran. Mereka di perintahkan untuk mengganti parfum yang mereka pakai dengan wangi beraroma jeruk.
"Do, kamu dengar tidak?" tegur Galen membuat Aldo terkesiap untuk melaksanakan perintahnya. Aldo pun keluar ruangan memanggil bagian kebersihan untuk segera mengganti pewangi ruangan.
__ADS_1
Satu orang datang dengan membawa pewangi ruangan sesuai dengan keinginan bos mereka.
Galen menanggalkan jas yang di pakainya di sandaran kursi. Aline membantunya mengoleskan minyak kayu putih pada tengkuk leher Galen dan sekitar hidung. Setelah itu dia menyodorkan air hangat jahe agar suaminya tidak mual, Galen menerimanya lalu perlahan menyeruput air hangat tersebut.
"Tadi pagi Mas makan sedikit sekali, kemari juga! Akhir-akhir ini Mas makan tidak teratur loh." Aline memperingati Galen.
Galen mengembalikan gelas berisi air hangat itu kepada Aline.
Setelah satu orang petugas kebersihan selesai mengganti pewangi ruangan. Ia lekas keluar dari sana.
"Ada-ada aja si bos, masa semua karyawan yang dekat sama dia harus ganti parfum. semua diharuskan memakai parfum berarkka jeruk. Sampai-sampai di lift juga harus ada aroma jeruk." Petugas itu menggelengkan kepala menyadari perubahan sikap Galen yang beda dari biasanya. Ia lekas meninggalkan ruangan bos sesegera mungkin karena takut ia menjadi sasaran teguran berikutnya oleh Galen.
Aline menyodorkan saporong kue brownis cokelat yang biasanya ia makan bersama Galen saat berada di kantor kepala Galen.
"Mas kurang berselera sama makan, Yang! layaknya gak enak di mulut," balas Galen lalu menggelengkan kepalanya.
"Makan sedikit saja, untuk menggantikan makanan yang tadi terkuras habis, Mas muntahkan!" Aline hendak menyuapi Galen. Lagi-lagi Galen menolaknya.
"Do...," panggil Galen.
"Iya, Tuan."
"Tolong belikan makanan yang isinya sayuran yang di campur pake bumbu kacang dong?" titah Galen. Membuat Aldo mengerutkan Alis tidak mengerti apa maksud dari Galen.
Aline tidak fokus dengan apa yang Galen ucapkan. istri dari Galen itu sedang asik menikmati brownis cokelat campur keju.
Jika Galen tidak berselera makan beda halnya dengan Aline. Semua makanan yang ada habis ia makan. Sampai-sampai perubahan pada tubuh Aline sangat terlihat. Pipi dan tubuh Aline terlihat montok. Semakin terlihat menggemaskan.
Bahkan ketika Galen tidak berselera makan. Berbeda saat bersama Aline di rumah. Galen sangat berselera dengan Aline. Dua benda kenyal kesayangannya menjadi hal yang paling ia sukai, karena ukurannya kini makin membuat Galen berselera untuk selalu memainkanya. bahkan menempelkan kepalanya di tempat empuk nan kenyal itu.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya...
__ADS_1