
“Saya rasa kurang sopan, Nona!” sergah Sandra.
Lantas Aline tersenyum seraya menghampiri Sandra lalu meraih makanan yang di bawanya sambil berkata, “Aku lebih nyaman di panggil Aline tanpa kata Nona di depannya. Sini! Biar Aku aja yang menyiapkan makanannya. Terima kasih ya!” Aline tersenyum ramah kepada Sandra.
Sandra merasa tersentuh mendapat perlakuan lembut dari Aline. Pantas saja Galen begitu mencintai gadis yang ada di hadapannya ini. Ternyata sikapnya ramah dan santun meski mereka baru pertama bertemu.
Selagi Aline menyiapkan makanan untuk Galen yang beberapa hari ini rewel karena merasa bosan ingin kembali ke rumah dan mengeluh soal makanan yang tidak sesuai dengan selera lidahnya. Galen terlihat begitu bersemangat dengan makanan yang kini dihidangkan di hadapannya.
“Tadi sebelum Papamu pergi, Oma dan Papamu menemui Dokter Saragih!” ucap Oma seraya mendaratkan bokongnya di sofa. “Rasanya badan Oma letih sekali .”
Oma Ratih memegangi pinggang lalu menyandarkan punggung serta kepalanya di sofa tersebut, seakan melepaskan rasa lelah.
“Lalu, apa kata dokter, Oma? Aku bisa pulang ‘kan?” Galen meraih air mineral yang di suguhkan oleh Sandra sebelumnya.
“Tunggu hasil pemeriksaan hari ini! Baru boleh pulang.” Suara Oma terdengar samar.
Galen kembali meminta Aline menyuapinya. Aline begitu bersemangat menyuapkan satu persatu suapan makanan kepada Galen.
Dalam hatinya ia bersyukur Galen menerima kehadirannya, sempat ia berpikir Galen tidak akan menganggapnya ada. Beruntung tak lama setelah sadar, Oma Ratih menceritakan kejadian yang membuatnya seperti sekarang ini. Oma pun tak lupa menceritakan Aline kepada Galen, karena Galen bisa sadar berkat usaha Aline yang tak pernah bosan memberinya semangat melalui sambungan telepon tempo hari.
Sesekali terdengar candaan yang Aline lemparkan kepada Galen, Karena Galen seperti orang yang baru menemukan makanan, saat Aline menyuapinya. Keseruan dan keceriaan mereka berdua tak lepas dari tatapan Sandra.
Beberapa hari sebelum kedatangan Aline, dia-lah yang membantu Galen di rumah sakit ini ketika Oma beristirahat, ada rasa iri di hatinya. Rasa bahagia saat bersama Galen hanya ia rasakan sesaat. Ia menyadari hatinya telah terpaut kepada pria yang sudah menolongnya itu.
*
*
*
“Beritahu Oma kalau ada perkembangan apapun!” ucapnya saat hendak menginggalkan ruangan.
“Iya Oma,” balas Aline yang mengantar Oma sampai pintu ruangan. Dipeluknya tubuh wanita tua itu dengan sayang. Oma pun memberikan usapan lembut di bahu Aline beberapa kali, seakan memberikannya semangat.
“Sabar ya, Nak! Suatu saat, Oma yakin Galen pasti akan mengingat semuanya, bantu dia seperti kamu membantunya tersadar saat koma!”
Aline mengangguk pelan. “Aku akan selalu sabar untuk Galen, Oma!”
“Terima kasih Aline, semoga kesabaranmu berbuah manis. Oma kembali ke hotel dulu.” Aline memeluk kembali Oma Ratih setelah itu meyaliminya.
“Hati-hati, Oma! Tolong jaga Oma ya, San?” Aline beralih mentap Sandra.
__ADS_1
Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua kembali ke penginapan di antar Boni salah satu anak buah Tuan Wijaya yang selalu berjaga di depan ruang perawatan Galen.
Aline kembali ke dalam ruangan, di lihatnya Galen sudah berbaring di brankar. Aline mnghampiri Galen, gadis itu hendak memberikan obat yang harus di minum sebelum istirahat.
“Jangan langsung tidur! Minum obat dulu.” Aline meraih botol obat yang berada di atas nakas lalu berjalan mengisi air minum.
Aline menyodorkan beberapa butir obat kepada Galen. pria itu lantas menerimanya lalu sekaligus memasukkannya ke dalam mulut.
“Satu-satu, Gal!” titah Alilne. Ia merasa terkejut saat Galem mengambil semua obat itu.
“Kelamaan.” Galen meraih gelas berisi air putih di tangan Aline lalu meneguknya sampai habis.
Galen meraih tangan Alien menariknya agar ikut duduk di atas brankar bersamanya.
“Gal ... kamu harus istirahat,” ucap Aline tetapi gadis itu kini sudah saling berhadapan dengan Galen.
“Ayo, ceritakan lagi hal yang Aku tak ingat saat bersamamu?” Galen duduk bersila di hadapan Aline, dia siap mendengarkan semua cerita dari akan gadis yang kini tersipu malu karena mendapat tatapan memohon dari Galen.
Aline menghela napas pelan. “Baiklah ... kamu mau mendengar kisah yang mana?”
“Semua,” sela Galen.
“Apa benar sikapku seperti itu? rasanya itu bukanlah diriku!” Galen seakan menyangkal cerita Aline.
“Yang Aku tahu perubahan sikapmu itu, setelah Kamu memutuskan keluar dari kediaman Wijaya, berpisah tempat tinggal dengan ibu tirimu,” sambung Aline.
Galen mengangguk pelan membenarkan ucapan Aline.
Sesekali Aline melirik kepada Kartika yang terlihat terlelap di ranjang sebelah mereka, takut obrolan merkea berdua menganggu istirahat gadis itu.
“Ada banyak kejadian yang kamu tidak tahu selama kamu tidak sadar, Gal!”
“Apa?”
“Ayah sudah merestui hubungan kita, Om Wijaya dan Papa sudah kembali berbaikkan setelah puluhan tahun mereka berselisih paham. Ada lagi, Papamu akan segera bercerai dengan Mama tirimu.” Tatapan Aline kembali mengarah kepada Gadis yang baru saja merubah posisi tidurnya.
“Kasihan dia, sepertinya semalaman habis menangis?” Aline kembali menatap Galen.
Galen terdiam mendengar penuturan Aline.
“Entah Aku harus senang atau bersedih. Aku memang tidak menyukai Mama tiriku, dia pandai bersandiwara di hadapan Papa. Tapi bagaimana perasaan Kartika dan Papa? Bara ... apa kamu pernah bertemu lagi dengannya?” Galen balik bertanya kepada Aline.
__ADS_1
Aline menggeleng pelan. “Papamu bilang Bara sedang melakuakan pejalanan bisnis ke luar kota.”
“Heh ... Dia pasti sangat sibuk setelah satu perusahaan di serahkan kepadanya,” Galen tersenyum sinis mengucapkannya.
“Apa hubungan kalian tidak baik selama ini?” tanya Aline ragu.
“Hubunganku dengannya baik-baik saja, tapi Mama Mariska selalu menomersatukan dia. Semua harus Bara lebih dulu, tapi sikap itu sangat bertolak belakang saat bersama Papa. Karena itulah Aku tidak suka padanya dan memilih hidup bersama Oma dan melanjutkan perusahaan Almarhumah Mamaku.” Jawab Galen dengan wajah sendu.
Mendengar Galen menyebut Almarhumah mamanya, Aline teringat dengan kalung yang Galen berikan kepadanya. Di dalam liontin itu terdapat dua foto mamanya Galen.
“Kamu ingat dengan ini?” Aline mengeluarkan kalung berliontin love dari balik bajunya.
“Itu kalungku! Kenapa ada padamu?” Galen meraih liontin tersebut.
Aline melepas kalung tersebut lalu memberikannya kepada Galen.
Galen menerimanya lalu membuka kaitan liontin hingga liontin tersebut terbelah menjadi dua.
“Kamu yang menitipkan kalung itu kepada Aldo agar memberikannya padaku, sebelum pergi ke rumah sakit ini untuk operasi. Kamu bilang jika terjadi sesuatu, kalung ini yang akan menyatukan kita.”
Galen mendongak menatap Aline. “Kamu tahu benda ini sangat berarti untukku!”
Aline mengangguk pelan.
Keduanya diam sesaat. Galen masih memandangi lalu membelai foto wanita yang berada dalam liontin tersebut. Sedangakan Aline berharap ingatan Galen cepat kembali.
.
.
.
.
.
Hai ... thanks masih setia di karya ku ini. jangan lupa like komen dan vote nya.
Mampir ke karya temen ku yuk.. seru loh ceritanya.
__ADS_1