
"Mama siapa?"
"Mama Mariska, mungkin?" cetus Galen dengen kekehan pelan seakan meledek Tuan Wijaya.
Padahal Galen sangat tahu bagaimana sikap Papanya kepada Nyonya Mariska jika di belakang umum. Sangat berbeda dengan di hadapan banyak orang.
Sampai perselingkuhan Nyonya Mariska yang di harapkan Tuan Wijaya terbongkar agar mempermudahnya lepas pengadilan.
"Dia tidak pernah mendapatkan tempat di sini." Tuan Wijaya menunjuk dadanya dengan telunjuknya.
"Mama mu masih pemilik dari hati Papa sampai sekarang ini. Papa tidak pernah sedikitpun lepas dari bayang-bayang Mamamu." lirih Tuan Wijaya.
Malam ini Tuan Wijaya pertama kalinya mencurahkan semua isi hatinya kepada putra kandungnya. Selama ini ia berusaha sendiri menahan dan tak pernah ada teman berbagi.
Galen sempat berpikir apa papanya mati rasa dengan hal ehem ehem dengan seorang wanita. Pasalnya setelah Galen menikah dan merasakan nikmat pertempurannya dengan Aline.
Hal itu menjadi candu untuknya. Bagaimana Papa nya yang sudah menikah bertahun-tahun, apakah tiap merasa ingin pelepasan, papanya itu terus bermain solo. Atau jajan di tempat lain. Tapi tidak mungkin papanya termasuk pria yang sulit dekat dengan seorang wanita, ia pemain wanita yang bersih. Tidak akan melakukannya tanpa ada perasaan.
Aline datang mendekati Galen dan Tuan Wijaya. Dua cangkir kopi Aline bawa untuk menemani obrolan mereka. Tadi, setelah tapi dan selesai membersihkan diri. Aline sempat mencari Galen, saat keluar kamar hendak turun ke lantai bawah. Aline mendengar suara suaminya berada di ruang santai di sudut ruangan tepatnya di balkon depan.
Aline berniat membawakan minuman utnuk mereka berdua.
"Mas..." panggil Aline pelan. Lalu beralih ke Tuan Wijaya. "Pah... Ini kopi untuk menemani obrolan kalian." Aline meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.
"Terima kasih, Nak!" ucap Tuan Wijaya.
Aline sedikit mengibaskan tangan di depan hidungnya. Merasa sedikit terganggu dengan bau asap di sana.
"Uhuk ... uhuk ... " Aline sedikit terbatuk karena asap rokok. "Maaf, aku tidak terbiasa dengan asap." Aline sedikit menjauh dari hadapan mertua dan suaminya.
Galen yang melihat istrinya terganggu karena asap rokok lekas mematikannya. Lalu berdiri menghampiri Aline.
"Kamu tidak pa-pa, Sayang?"
Aline mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maaf, Ya! Aku hanya menemani Papa di sini." Galen terlihat cemas.
"Nggak pa-pa, Mas. lanjutkan saja! Aku nemenin Oma dulu, ya? Mas juga nemenin Papa dulu. Sepertinya dia butuh teman bicara." ucap Aline pelan lalu hendak pergi dari sana.
Sebelum pergi, Aline pamit kepada mertuanya. "Pah, Aline permisi dulu. Mau nemenin Oma di bawah!"
"Oh, Iya. Terima kasih, kopinya, Nak!" ucap Tuan Wijaya masih terus meneruskan isapan pada sebatang rokoknya.
"Sama-sama, Pah." Aline melangkah menjauh meninggalkan Galen dan Tuan Wijaya.
Saat melangkah pergi, Aline memberi isyarat pada Galen agar tidak usah mengantarnya.
Lama Galen dan Tuan Wijaya terdiam dalam pemikiran masing-masing.
"Buang perasaan bersalah Papa sama Mama. Aku yakin dia lebih bahagia, jika Papa melepaanya dengan ikhlas. Daripada terus menyimpan bayang-bayang Mama dalam benak Papa. Cobalah membuka hati, aku juga sudah ikhlas dengan kepergiannya. Maaf... jika aku pernah menyalahkan Papa atas meninggalnya Mama!" Galen berbicara dari hati ke hati dengan papanya.
Tuan Wijaya tertawa masam. Ia mematikan rokok yang ada di tangannya. Beralih menatap langit malam yang indah dengan si pemilik malam yang menguasainya. Bulan dan bintang bersinar terang menghiasi indahnya malam ini.
"Papa memang bersalah kepada Mama mu, entah... Setiap perasaan baru muncul pasti perasaan bersalah pun ikut menghampiri." lirih Tuan Wijaya dengan tatapan lurus yang kosong.
"Mulai sekarang Papa harus bisa belajar mengikhlaskan Mama. Galen yakin, Mama sangat bahagia jika papa bisa menemukan pendamping yang baru. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi, Galen tahu meski Mama Mariska bersalah dalam hal ini, tapi untuk sekarang kita harus lihat dan pikirkan perasaan Kartika, Pah." ucap Galen bijaksana.
Tuan Wijaya menggeleng pelan, seakan mengusir bayangan wanita berlesung pipi itu.
Zainab... entah di mana dia sekarang berada, tapi apakah aku mampu menggantikan posisi Indira dengan wanita lain. Kenapa hanya wajah Zainab yang terlintas. Ah... entahlah jika memang kami ditakdirkan bersama, dari mana saja pasti akan ada jalan untuk kami bertemu kembali. Karena memang dia wanita yang sempat mengusik hati ini.
Duda kaya itu sedikit tersenyum dalam lamuannya.
Obrolan terus berlanjut. Banyak yang Tuan Wijaya sampaikan kepada Galen, bukan hanya tentang masing-masing perasaan. Soal perusahaan bahkan soal wanita pun mereka ceritakan. Malam ini kedua pria yang umurnya berbeda jauh itu, berbicara layaknya seorang teman. Benar-benar kejadian yang sangat langka, bahkan tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka sebelumnya.
.
.
Kartika pamit lebih dulu, kepada Oma Ratih. Gadis itu sudah sangat mengantuk.
__ADS_1
Beruntung Aline membantunya menyusun proposal untuk persiapan sekolahnya ke luar negeri. Untuk masalah proposal dan dokumen, Aline sangat bisa diandalkan. Karena itu adalah tugasnya saat bekerja dulu.
"Terima kasih, Kak Aline. Coba dari kemarin minta bantui Kakak, nggak akan ribet kaya gini deh kayaknya," ucap Kartika.
"Kenapa tidak mencari universitas di dalam negeri saja, Kar? Di Indonesia masih banyak universitas yang bagus, kok!"
Kartika mengangkat bahu pelan. Bingung harus menjawab apa pada Aline. "Entahlah, Kak, dulu aku juga merasa begitu. Di Indonesia juga banyak universitas terbaik. Mungkin aku hanya ingin mencoba tinggal lebih jauh, agar bisa mandiri," ujar Kartika.
"Kak Aline, Oma. Kartika ke kamar duluan, ya!" pamit Kartika lalu menutup laptopnya. " Oma Tidak pa-pa kan di temani Kak Aline doang?"
"Tidak pa-pa! Kamu istirahaah."titahnya pada Kartika.
" Ya, Oma. Selamat malam, Oma, Kak Aline!" setelah berpamitan Kartika melangkah menaiki anak tangga. Karena kamar gadis itu berada di lantai dua. Dimana semua kamar pemilik rumah berada di sana. Hanya dua kamar di lantai bawah.
Setelah pamitnya Kartika Aline begitu leluasa bercerita kepada Oma Ratih. Tak terasa waktu sudah mulai larut. Oma Ratih juga sudah merasa mengantuk.
"Aline antar ke kamar ya, Oma!" tanya Aline lalu mendapat anggukan dari wanita paruh baya itu.
Oma Ratih masih bisa berdiri dan pindah sendiri dari kursi roda ke tempat tidur. Aline malah ikut naik ke tempat tidur Oma Ratih. Tempat tidur yang cukup untuk tiga orang dewasa.
"Apa Galen tidak mencarimu?" tanya Oma Ratih saat Aline memijit kaki Oma Ratih dengan pelan dan hati-hati.
"Mas Galen sedang bersama Papa di balkon."
"Tumben sekali."
"Makanya, Aline tidak mau mengganggu mereka, Oma! Memberi waktu untuk keduanya saling dekat," ujar Aline.
Tak terasa Aline dan Oma Ratih mengobrol lama. Oma Ratih yang nyaman karena pijatan lembut dari Aline membuat matanya terpejam. Aline juga ikut tertidur di samping Oma Ratih.
Malam ini sepertinya Galen gagal kembali mendapat jatah ehem ehem nya. Karena Aline lelap tertidur bersama Oma Ratih. Baru malam ini Galen dan Aline tidur terpisah.
.
.
__ADS_1
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya...🥰🥰