Fake Love

Fake Love
Ngambeknya Tuan Wijaya


__ADS_3

"Tom," panggil Tuan Wijaya dengan sedikit berteriak. Pandangannya berkeliling ke sekitar ruang tamu mencari keberadaan asistennya itu.


Tomy yang selalu siap siaga akan perintah tuannya dengan cepat muncul dari arah luar rumah Aline.


"Ya, Tuan!" jawab Tomy yang datang sedikit berlari menghampiri tuannya.


"Kita pulang sekarang!" titah Tuan Wijaya tak ingin di bantah. "Panggil Galen suruh dia cepat keluar!" titahnya lagi seraya melangkah menuju mobil, di ikuti Tomy yang langsung membukakan pintu tengah mobil yang terparkir di bagasi rumah Ayah Zaki.


Tomy lekas bergegas menuju ke dalam rumah Ayah Zaki guna menemui Tuan Muda Alex yang masih berada di dalam.


"Awas kamu, Zak! Lihat saja nanti. Aku akan buktikan kalau tongkat saktiku masih berguna," gerutu Tuan Wijaya dengan nada kesal.


"Tapi ... apa Aku bisa berpaling dari Indira?" batin Tuan Wijaya.


Selama ini Tuan Wijaya selalu menutup hatinya untuk orang lain termasuk Mariska yang sudah sah menjadi istrinya setelah kepergian Indira. Tapi karena rasa bersalahnya pada mendiang istri pertamanya itu, Tuan Wijaya tak pernah membuka hatinya.


Ia akui selama menikah dengan Mariska. Wanita itu selalu melayani semua keperluannya dengan baik. Bahkan di hadapan publik dan di hadapan rekan bisnisnya. Sampai Mariska harus memberikan obat perangsang kepadanya karena haus akan sentuhan suaminya itu.


Tuan Wijaya tak bisa mengelak untuk menyentuh tubuh mariska sampai Kartika hadir diantara mereka.


Sempat Tuan Wijaya mencoba membuka hati untuk Mariska. Tapi bayang-bayang Indira semakin membuatnya merasa bersalah.


Tuan Wijaya menyadari dirinya tidak bisa memberikan nafkah batin kepada Mariska. Beliau membiarkan Mariska menggunakan uang semaunya tanpa batas. Yang terpenting wanita itu tidak menuntut sentuhan darinya.


***


"Mas, kau apakan sih sahabatmu sampai ngambek begitu?" tanya Bu Winda pada suaminya.


"Gak di apa-apain,ko! dia aja yang ngambekkan padahal omongan yang Ayah ucapin itu benar. Tongkat saktinya dianggurin selama ini, jadi gak pernah berkelana ke hutan rimba," ucap Ayah Zaki yang mendudukan tubuhnya pada kursi di ruang keluarga.


Bu Winda langsung mencubit lengan Ayah Zaki.


"Aduh ... Bu, sakit!" Ayah Zaki mengelus tangannya yang terkena cubitan dari istrinya.


"Pantesan aja ngambek, omongan Ayah gak bisa di jaga!"


"Yank!" panggil Galen pelan lalu melambaikan tangan ke arah Aline agar mendekat padanya. Setelah posisi Aline tak jauh dari Galen. Pria tampan itu berbisik. "Ternyata kamu sama ibumu gak jauh beda. Sama-sama suka nyubit!" ledek Galen.


Aline mendelik menatap Galen. Sebelum mendapat serangan balasan dari calon istrinya itu, Galen sudah lebih dulu menghindar dengan mendekat ke Bu Winda dan Ayah Zaki untuk pamit pulang.


Galen memberikan senyum mengejek kepada Aline. Gadis itu memutar bola malas menanggapinya.


"Kalian ini gak ada romantis romantisnya sih?" Zainab memperhatikan tingkah Aline dan Galen. "Biasanya tuh calon pengantin itu mesra, rangkul-rangkulan, sayang-sayangan. Kalian malah kaya Tom and Jerry aja," cibir Zainab.


"Aku romantis kalau lagi berdua, Teh!" Ucap Galen pada Zainab.


Zainab tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Bu, Om! Saya pamit pulang dulu." Galen menyalami keduanya. Kemudian beralih menyalami Zainab.


"Kamu ini gimana sih, Gal? Masa ke ibunya Aline kamu panggil ibu. Sedangkan sama Saya, kamu panggil Om!" Protes Ayah Zaki membuat Galen tersenyum kaku lalu menggaruk tengkuknya.


"Itu, juga baru tadi panggilannya berubah, Om. E-eh... Yah!" akunya.


"Mulai sekarang anggap kami sebagai orang tuamu, Gal. Jangan pernah sungkan kepada kami. Dan jangan lupa besok kalian harus menemui IO yang akan mengurus semua persiapan pernikahan kalian." Ayah Zaki mengingatkan.


Galen mengangguk setuju. "Siap, Yah! "


"Permisi, Tuan!" sapa Tomy yang muncul dari arah ruang tamu. "Tuan besar sudah menunggu Anda di mobil!" ucap Tomy sopan dan penuh hormat.


"Ya, Terima kasih pak Tomy sudah memberitahu."


"Terima kasih untuk malam ini. Bu, Ayah, Teh Zainab." Galen sedikit membungkukan badannya. "Maaf sudah merepotkan kalian."


"Sama-sama, tidak perlu sungkan seperti itu," balas Bu Winda.


"Yank, besok Aku jemput setelah urusanku di kantor selesai!" Galen beralih menatap Aline.


"Loh, emang kamu sudah mulai kerja?" Aline bertanya heran karena setahunya Galen belum mulai bekerja sampai acara lamaran malam ini selesai.


"Sudah beberapa hari kemarin! hanya memeriksa file sama tanda tangan doang!" Galen mengacak rambut Aline pelan. "Aku pulang dulu, jangan rindu. Besok kita ketemu lagi, ko." Galen kembali menggoda Aline.


Gadis itu mengerucurkan bibirnya seraya merapikan rambut yang di acak pelan oleh Galen.


Tomy masih menunggu Tuan Muda Alex di depan mobil. Sedangkan Tuan Wijaya terlihat sibuk memainkan ponselnya tanpa menatap ke teras rumah Ayah Zaki.


"Woy, yang masih mode ngambek!Jangan lupa kalau udah ketemu hutan rimba langsung segel." teriak Ayah Zaki agar bisa di dengar Tuan Wijaya.


"Yah!" Bu Winda menyenggol lengan suaminya agar menyudahi terus meledek Tuan Wijaya.


Istri dari Ayah Zaki itu bingung melihat tingkah suaminya dan sahabatnya itu. Semenjak mereka berdua berbaikan, ada saja tingkah kekanakan yang di lakukan merka berdua. Tapi ketika berbicara serius keduanya akan berubah tegas.


Tuan Wijaya sama sekali tak menoleh ke arah Ayah Zaki. Beliau malah menutup kaca mobilnya.


Ayah Zaki tersenyum kecut dibuatnya.


Aline dan Galen sudah mulai terbiasa dengan sikap kedua orang tuanya itu.


"Hati-hati di jalan, sampaikan salam maaf sama Papamu, Gal!" ujar Bu Winda.


"Ya, Bu! Mari, Yah, Teh" Galen menunduk hormat lalu beralih kepada Aline. "Aku pulang dulu, Yank. " Dengan senyum manis ia lemaprkan kepada Aline.


Aline balas dengan senyuman manisnya. Lesung pipi yang selalu membuat Galen gemas itu terukir di wajah cantik nya.


"Hati-hati," balas Aline.

__ADS_1


Galen mengangguk lalu berucap salam. "Assalamu'alaikum," ucap Galen.


"Wa'alaikumussalam," jawab mereka kompak.


Setelah mendapat jawaban salam. Galen berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menuju mobil. Tomy yang sudah menunggu Tuan muda Alex lantas memutari mobil guna membukakan pintu untuk tuan mudanya itu.


Sebelum memasuki mobil, Galen melambaikan tangan sebentar ke arah Aline yang masih berdiri di teras melepas kepulangannya.


"Terima kasih, pak Tomy!" Galen masuk ke dalam mobil, duduk berdampingan dengan Papanya yang tengah memandang ke luar jendela.


"Sama-sama tuan muda." balas Tomy kemudian memasuki mobil untuk melajukannya.


Aline, Bu Winda dan Ayah Zaki melambaikan tangan ke arah mobil yang bergerak pelan meninggalkan pekarangan rumah.


Tatapan Tuan Wijaya tengah menatap wanita yang tengah tersenyum entah kepadanya atau bukan yang pasti pandangan dan senyuman itu mengarah ke arah mobil yang Tuan Wijaya naiki sekarang.


Dari luar mobil tak ada yang melihat kalau pria yang tengah risau akan perasaan nya itu lama menatap wajah ayu wanita keturunan sunda tersebut.


"Hanya pada dia, aku bisa mengalihkan rasa bersalah dari Indira. Apa perasaan ini juga bisa berpaling padanya?" tanya Tuan Wijaya dalam hati.


.


.


.


.


Readers : ko bertele-tele sih Thor? kapan Aline sama Galen nikahnya. ๐Ÿค”๐Ÿคจ๐Ÿคจ


Author : Sabar, sayang... nikah itu bukan kaya kawin yang buka baju langsung uh ah ih uh. Banyak persiapan yang harus di lakukan. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Readers : Terserah kamu aja deh Thor! toh nasib Aline dan Galen ada di tanganmu. ๐Ÿคช๐Ÿคช


Author : Nah itu tau, jadi nikmatin aje ye, alurnya. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿค—โœŒ


Jangan lupa dukungannya.


Yang sudah terlanjur baca tak ada salahnya kan kasih like dan komen dikit dikit ke, biar Author semangat nulisnya. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Mampir juga ke karya temanku yuk.


kisah cinta dari murid kepada gurunya. ikuti kisah mereka.



.

__ADS_1


.


__ADS_2