
Esok harinya Aline dan Galen sudah rapi dengan pakaian santainya. Lalu pamit kepada Oma Ratih dan Tuan Wijaya yang sedang berada di ruang keluarga. Mereka berencana menengok Rima yang sudah melahirkan.
"Kami tidak pergi kerja, Gal?" tanya Oma Ratih.
"Habis dari rumah sakit, aku langsung ke kantor!" balas Galen.
"Lalu Aline mau kamu ajak ke kantor?"
"Kalau dia mau!" Galen berucap sambil menatap Aline.
"Aku mau di rumah sakit dulu saja. Nanti bisa minta diantar Aldo pulangnya. Dia masih cuti 'kan?" tanya Aline kepada suaminya.
"Hari ini dia masih cuti, besok harus masuk, akan ada pertemuan penting," balas Galen.
"Titip salam oma kepada istrinya Aldo. Maaf Oma tidak bisa ikut dengan kalian. Kaki Oma sakit kalau di bawa jalan." tutur Oma.
"Bisa pakai kursi roda, Oma!" saran Tuan Wijaya.
"Pasti repot kalau Galen harus menjaga Aline dan Oma."
"Benar juga bisa bingung sendiri dia, Oma tahu sendiri sikap Galen sekarang ini. Suka repot sendiri." celetuk Tuan Wijaya.
Galen yang disinggung acuh saja.
"Kalian hati-hati jalan." ucap Oma Ratih.
"Iya, Oma. Kami pamit dulu," balas Aline kemudian menyalami Oma Ratih dan Papa mertuanya, Diikuti oleh Galen setelahnya.
Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Galen menemui Aldo lebih dulu.
Krek...
Pintu tangan terbuka oleh Galen yang mempersilakan Aline masuk lebih dulu.
"Wah... Bayinya lucu sekali!" sapa Aline yang tiba-tiba masuk dan langsung mendekati Rima.
Aldo sedikit menggeser membiarkan Aline berdiri di dekat istrinya yang sedang berusaha memberi Asi kepada bayi mereka.
Aldo berbalik menghadap Aldo, mencegah bosnya itu terus mengikuti istrinya.
"Maaf, Tuan. Istri saya sedang memberi asi anak kami!" Aldo sedikit membungkuk memberitahunya.
Galen mengerti apa maksud Aldo mencegahnya.
Aldo sama seperti dirinya tidak mau ada pria lain melihat sesuatu miliknya.
"Ikut saya!" Galen berbalik untuk keluar ruangan. Aldo pun mengikutinya. Dan di saat bersamaan Ustad Arifin dan Istri barunya tiba di rumah sakit.
"Apa kabar Ustadz, sudah lama kita tidak bertemu." sapa Galen kemudian berjabat tangan dengan Ustad Arifin lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada menyapa wanita di sebelahnya Ustad.
"Kabar saya, baik Tuan! Bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Aline," balas Ustadz Arifin mertua Aldo.
"Kabar kami baik, Aline ada di dalam bersama Rima," tutur Galen. "Rima sedang memberi Asi pad bayinya, jadi kami keluar."
"Oh, kalau begitu kita tunggu di luar saja." ucap Ustadz Arifin.
Istri baru Ustad Arifin sering dipanggil Umi oleh Rima. Dan wanita itu pun pamit untuk masuk lebih dulu ke dalam ruangan.
"Abi... Umi masuk duluan!" bisiknya pada Ustadz Arifin dan mendapat anggukan dari suaminya itu.
__ADS_1
Akhirnya ketiga pria itu menunggu di luar.
"Assalamualaikum," sapa Umi ketika masuk ke dalam ruangan.
"Waalaikumussalam," jawab Rima dan Aline kompak.
"Nyonya Aline apa kabar? Wah sudah besar ya, kandungannya," sapanya kepada Aline dengan sopan.
"Kabarku baik, Umi. Alhamdulilah usia kandungannya sudah 7 bulan," balas Aline.
Aline kembali memandangi bayi mungil yang ada di pangkuan Rima.
Wanita yang telah menjadi seorang ibu terlihat sedikit meringis karena bayinya yang terus menyedot asupan gizinya itu.
"Kamu tidak sakit duduk seperti itu, Rim?" Aline menatap heran kepada Rima sambil berasa ngilu sendiri melihat perut Rima karena Aline tahu Rima menjalani operasi secar untuk kehamilannya.
"Sakit sih ada, cuman tidak begitu kerasa. Mas Aldo ambil persalinan Eracs untuk operasinya."
Aline hanya mengangguk paham. Sebab ia juga sudah pernah dijelaskan mengenai persalinan itu.
Metode persalinan ini dinilai lebih aman dengan proses pemulihan lebih cepat dibandingkan proses persalinan caesar pada umumnya.
Rima bisa melakukan pergerakan tubuh lebih cepat. Yakni, sekitar dua jam pasca operasi caesar dengan nyeri yang minimal. Agar proses pemulihan berjalan semulus mungkin.
Pendekatan ERACS melibatkan kolaborasi tim dokter yang handal terdiri dari dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis anak, beserta para perawat. Karena itulah persalinan dengan metode ini banyak para ibu yang memilihnya saat persalinan mereka.
"Doakan aku agar persalinan bisa normal," ucap Aline penuh harap.
"Amin..." jawab keduanya kompak.
Ketiganya bercengkrama sambil memperhatikan bayi gembul yang sudah tertidur karena kekenyangan mimi asi.
"Terima kasih, Umi!"
"Sama-sama, Nak!"
Aline yang melihat mereka seperti ibu dengan anak kandungnya sendiri. Begitu baik dan cekatan saat membantu Rima.
Terlintas bayangan Tuan Wijaya dibenaknya. Sebersit harapan ia lanjutkan untuk Papa mertuanya itu.
Semoga Papa juga bisa mendapatkan pasangan yang baik untuknya.
Batin Aline lalu kembali memandang bayi mungil yang menggeliat digendongan Umi.
"Siapa nama jagoan mu ini, Rim?" tanya Aline sambil mengelus pelan pipi mulus bayi Rima.
"Hafuza Isham." balas Rima yang mencoba bersandar di brankar.
"Nama yang bagus. Artinya apa?" lanjutnya lagi.
"Lelaki yang kuat dan pemberi semangat," balas Aldo yang menjawab pertanyaan Aline untuk Rima.
Galen mendekati Aline yang masih asik mengelus pipi mungil Isham. Ya, panggilan untuk bayi Aldo adalah Isham.
Tak lupa Galen membawa bangku untuk Aline. "Duduk dulu sayang, kakimu pasti pegal!" Aline tersenyum membalas Galen. Suaminya itu begitu siaga dan mengerti apa yang di butuhkan Aline.
"Terima kasih, Mas!"
"Nama yang bagus. Kelak saat baby boy lahir, dia akan menjadi teman putraku!" ucap Galen membuat Aldo dan yang lainnya mengangguk.
__ADS_1
Pagi ini ruangan Perawatan Rina begitu ramai oleh tawa canda mereka. Isham bayi mungil itu sama sekali tidak terusik dengan suara obrolan orang-orang dewasa itu.
Galen melihat waktu dipergelangan tanganya. Waktunya Galen berangkat ke kantor. ia tidak boleh telat, karena saat ini Aldo masih dalam cuti.
Tapi Galen tetap mengingatkan Aldo untuk pertemuan besok. Karena Galen tidak bisa jika Aldo tidak menemaninya.
"Sayang... Aku harus segera ke kantor," bisik Galen kepada Aline. Aline sedikit mendongak menatap suaminya sambil tersenyum.
"Aku di sini dulu, boleh?" pinta Aline penuh harap karena ia senang berada di sini. Melihat bayi mungil yang baru lahir itu membuat Aline semakin tidak sabar ingin bertemu dengan bayinya.
"Boleh, tapi ingat jangan sampai kamu kecapean. Nanti minta antar Aldo jika kamu ingin pulang. Mas tekankan jangan pergi kemana-mana!" Galen memperingatinya.
"Iya, Mas."
Galen pun pamit kepada semuanya, ia juga berbicara kepada Aldo agar mengantarkan istrinya nanti.
"Siap Tuan!"
Saat Aline ingin mengantarkan Galen. Suaminya itu menolak.
"Aku keluar sendiri saja, jangan lupa susu ibu hamil kemasan kotaknya di minum!"
"Iya, Mas." kecupan singkat Galen berikan kepada Aline. Semua yang melihat keromantisan Galen tersenyum, sangat jelas terlihat kalau Galen begitu mencintai Aline.
Aldo mengantarkan bosnya itu sampai di lobi rumah sakit. Galen pun menerima telepon entah dari siapa. Sehingga ia tidak fokus dengan sekitar. Dan saat Galen berbelok, seorang wanita cantik menabraknya.
Brukk...
Berkas berkas yang dibawa wanita itu jatuh berantakan. Galen refleks berjongkok membantu si wanita yang sedang mengumpulkan berkasnya yang terjatuh.
"Maaf, Mba saya tidak sengaja!" ucap Galen kepada wanita itu.
"Saya juga minta maaf---," Bila mata wanita itu membulat saat tahu siapa yang ia tabrak.
"Galen..."
"Kamu..."
Keduanya terkejut setelah hampir setengah tahun keduanya tidak bertemu setelah pengunduran dirinya secara mendadak.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya..
Wah siapa tuh wanitanya???
Mampir lagi yuk bestie ke karya temenku.
seru loh ceritanya.
.
.
.
__ADS_1