Fake Love

Fake Love
Pergi Dari Kediaman Baskoro


__ADS_3

"Ehm..." Derald berdeham saat memasuki kamarnya.


Kamar yang ia tempati hampir setahun lebih itu. Kamar yang menjadi saksi bagaimana tiap malam ia bergadang sendiri mengurus Zara, putri kecilnya.


Karena rasa bersalah, Derald ingin menjaga sendiri Zara, setiap habis pulang bekerja. Ia sendiri yang memenuhi kebutuhan bayi kecilnya, dari ganti popok, sampainharus bergadang tengah malam karena Zara menangis minta susu.


Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Derald.


Cita-cita yang ia impian dulu adalah menjadi seseorang pria yang sukses dan terkenal. Derald menyadari ia memulai dengan kesalahan jadi Sang Pemberi Kehidupan tidak merestuinya.


Saat ini impian Derald hanya ingin melihat putri kecilnya tumbuh menjadi gadis cantik pintar dan sukses. Meskipun ada rasa sesak yang Derald rasakan. Zara, putri cantiknya akan tumbuh berbeda dengan anak-anak yang lain. Putrinya cacat, ia tidak sanggup jika Zara harus mendapat perundingan dari anak seusianya nanti. Ketakutan sudah ia rasakan saat ini.


Mendengar Derald memasuki kamar. Jasmin dengan pelan memindahkan Zara dari gendongannya ke atas tempat tidur.


"Aku kira dia masih menangis." Derald duduk di tepi kasur lalu membelai wajah Zara.


"Selalu bacakan solawat saat Zara menangis. InsyaAllah dia akan merasa tenang saat kita melantunkannya," ucap Jasmin sambil tersenyum melihat gaya tidur Zara yang terlentang dengan tubuh Zara terlihat montok sehingga bayi kecil itu makin menggemaskan."Dia sangat lucu sekali," ucapnya kemudian.


"Ya, lucu dan cantik seperti almarhumah ibunya," sahut Derald sedih. " Tapi sayang... Kaki nya tidak sempurna. Ini pasti akan menyulitkannya beraktivitas saat besar nanti." Derald menyentuh satu kaki Zara yang tidak sempurna.


Kaki yang tidak lengkap itu hanya sampai di bawah lutut.


"Kalupun berjalan nanti dia harus menggunakan tongkat. Aku takut dia akan merasa insecure pada dirinya sendiri, nanti." Derald mengungkapkan kegundahan hatinya pada Jasmin.


"Sekarang jaman sudah modern dan banyak cara untuk mengatasi itu. Aku pernah melihat seseorang yang mempunyai kondisi seperti Zara, Mas!" Derald mendongak menatap Jasmin, penasaran dengan ucapan gadis itu.


"Kemarin saat ada seminar di kampusku narasumber yang mengisi acara mempunyai kondisi yang sama dengan Zara. Lebih parahnya lagi ia kehilangan kedua kakinya. Tapi berkat inisiatif dan penelitianya, orang itu meluncurkan kaki palsu khusus untuk orang cacat yang tidak mempunyai kaki. Dia sudah memakai sendiri hasil penelitiannya itu. Kemarin saat narasumber itu memakainya, MasyaAllah cacatnya tertutup oleh kaki palsu itu. Dan mereka yang mengalami cacat bisa merasakan seperti orang lain yang bisa berjalan dengan kakinya sendiri," tutur Jasmin membuat Derald tertarik untuk mendengarkannya.


"Tapi ada kekurangan dalam alat itu," keluh Jasmin.


"Kenapa?"


"Harus di bongkar pasang karena tidak bisa terkena basah," ujar Jasmin.


"Setidaknya mereka yang cacat bisa terbantu dengan adanya alat tersebut." balas Derald.


"Hmm..." Jasmin mengangguk. "Aku berpikir, Zara bisa menggunakan alat itu jika dia sekolah nanti, ya meski ruang geraknya agak terbatasi nantinya."


Derald mengangguk sambil berpikir, ide Jasmin bisa ia terapkan kepada Zara nanti. Saat ini putrinya masih kecil. Ia akan memikirkan itu nanti.


"Terima kasih kamu sudah ikut memikirkan kehidupan Zara." Derald bangkit dari duduknya hendak menggendong Zara yang masih tertidur.


"Dia keponakanku juga, Mas!"


Derald mengangguk lalu tersenyum kepada Jasmin.

__ADS_1


"Apa Mas mau pergi sekarang?" tanya Jasmin karena melihat Zara diangkat oleh Derald dari tempat tidur.


"Ya," jawab Derald singkat.


"Aku boleh ikut mengantarkan? Biar nanti aku langsung pulang ke tempat kos, setelah dari tempat Mas Derlad." Jasmin memohon.


Mulai minggu depan tak ada lagi penyemangat Jasmin dirumah. Biasanya Mamanya yang selalu meminta dia pulang ke rumah. Itupun hanya sebulan sekali Jasmin pulang. Berbeda saat ada Zara, Jasmin akan selalu cepat pulang, setelah kuliahnya libur. Bayi montok itu sangat menggemaskan baginya. Karena Jasmin sangat menyukai anak kecil.


"Boleh saja, asal tidak menganggu waktumu." balas Derald.


"Yeay.... Tante masih bisa sama kamu, cantik! Sini biar aku yang gendong Zara, Mas!" Jasmin menyodorkan tangannya untuk meraih Zara yang masih tertidur lelap.


Derald tersenyum melihat keceriaan Jasmin. Senyumnya mirip almarhum Chyntia. Derald menyadari sikap Chyntia selama ini salah. Karena Chyntia selalu mendapatkan apa yang dia mau asal menuruti perintah papanya, Tuan Baskoro.


Tapi ada hal yang Derald rindu dari Chyntia. sikap manja istrinya yang selalu membuat Derald tersenyum.


Derald dan Jasmin berjalan ber-iringan menuju teras rumah, mobil yang akan derald pakai sudah siap di sana.


"Apa kamu tidak punya sopan santun setelah numpang tinggal dan makan di rumah ini dengan gratis, sekarang pergi tanpa pamit sampai tidak bisa berpamitan pada pemilik rumah ini!" Suara bariton keras dari lantai dua rumah mewah itu terdengar begitu jelas, membuat Derald dan Jasmin berbalik badan lalu sedikit mendongak menatap Tuan Baskoro.


"Papa," ucap Jasmin pelan sambil menepuk pelan pundak Zara yang terusik akibat teriakan Tuan Baskoro.


"Maaf... Pah! Saya sudah bilang sama Papa kemarin. Saya akan kembali ke rumah lama saya hari ini," balas Derlad santai dan biasa dengan bentakkan Tuan Baskoro.


"PAPA.... ," sergah Jasmin cepat. "Rasanya tidak pantas papa berbicara seperti itu, Zara adalah cucu Papa, darah daging Papa."


"Heh... Papa tidak merasa pernah punya cucu dari dia!" Tuan Baskoro mengangkat tangan dan menunjuk dengan jari telunjuk ke arah Derald.


Jasmin menggelengkan kepala pelan melihat sikap Papanya kepada Derald. Sampai sebegitu bencinya Tuan Baskoro kepada pria yang pernah menjadi menantunya itu.


"Papa tidak perlu khawatir, saya akan membayar semua uang yang sudah Papa keluarkan untuk Zara. Mungkin saat ini saya belum bisa membayar semuanya. Tapi berjanji akan membayarnya." balas Derald tegas kepada Tuan Baskoro.


"Mas, tidak perlu lakukan itu." sela Jasmin.


"Kamu, mau kemana, Jasmin? Bukannya menemani ibumu di Singapore, kamu malah di sini dengan pria itu. Apa jangan-jangan sekarang kamu juga terkena rayuan manis dia!" tuduh Tuan Baskoro.


"Maksud Papa apa?" tanya Derald. "Papa menuduhku!"


"Jangan pernah panggil namaku dengan sebutan Papa lagi, kamu bukan siapa-siapa bagiku!" ucap Tuan Baskoro sambil berjalan menuruni anak tangga, berjalan pelan mendekati Derald sampai mereka saling berhadapan dengan jarak satu meter saja.


Sikap Tuan Baskoro masih saja angkuh, keras kepala dan sombong. Beliau tidak terima putri yang sangat penurut kepadanya, meninggal dunia. Menurut Tuan Baskoro Derlad adalah pembawa sial untuk Chyntia. Dan Kelahiran Zara adalah aib untuk keluarganya. Bu Mirna sebagai istrinya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya tekanan batin yang ia rasakan. Banyak pikiran yang membuatnya sakit, dan harus menjalani pengobatan. Tuan Baskoro mengiriminya ke rumah sakit luar negeri agar mendapat perawatan terbaik di sana. Meskipun keras kepala dan sombong, ia tidak mau kehilangan lagi orang yang selalu menuruti perintahnya.


Kelahiran Zara yang begitu cepat membuat orang lain mengira Chyntia hamil lebih dulu, adalah sebuah aib untuk Tuan Baskoro. Padahal kenyataannya memang benar seperti itu.


Rencana menggugurkan janin Chyntia pun mendapat dukungan papanya. Setelah tahu bayi itu perempuan.Chyntia berencana akan menggugurkan Zara. Tuan Baskoro lah yang menyetujuinya, dan berucap akan mengalihkan semua harta tas nama Chyntia jika bisa memberikan cucu laki-laki untuknya.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Saya sebagai benalu di rumah ini meminta maaf kepada Tuan Baskoro yang terhormat. Ini uang yang saya kumpulkan selama bekerja di tempat Anda saya serahkan kembali untuk membayar hutang pengobatan Zara... Putriku." Derald menekankan kalimat terakhirnya seraya merogoh tas ranselnya. Dikeluarkannya buku tabungan beserta ATM dari dalam sana.


"Di dalamnya ada uang sejumlah dua ratus juta lebih. Mungkin belum bisa melunasinya tapi saya berjanji akan membayar, Anda tidak perlu khawatir. Nomer pin nya akan saya kirim lewat pesan pribadi Anda." Derald meletakkan dua benda tersebut di atas meja tepat di samping Tuan Baskoro.


Tuan Baskoro tersenyum kecut. "Baguslah kalau kamu mampu bertanggung jawab." cetusnya.


"Saya permisi, Tuan Baskoro yang terhormat." Derald membungkukan badannya sopan, lalu menghadap Jasmin.


"Kemarikan Zara, biar saya yang gendong! Maaf... Jasmin saya bisa sendiri pergi dari sini, saya tidak mau Tuan Baskoro kembali menuduh saya sudah memperdaya putrinya yang lain."


Derald mengambil Zara yang tidur terlelap dalam gendongan Jasmin.


"Tapi, Mas..." Zara sudah beralih dalam gendongan Derald.


Tanpa ingin membalikkan badan. Derald melanjutkan langkahnya keluar dari kediaman Tuan Baskoro.


Terdengar omongan sengit dari Jasmin dan Tuan Baskoro yang saling melempar argumennya masing-masing tentang kejadian ini. Itu semua tidak menghentikan langkah Derald. Ia tidak perduli apa yang sedang mereka ributkan. Yang terpenting sekarang ini adalah pergi jauh dari tempat yang sudah membuat derajatnya seperti sampah di sini.


Dadanya terasa sesak dengan semua hinaan Tuan Baskoro, mantan mertuanya.


Sudah cukup ia diperlakukan tidak baik. Derald menutup mata sejenak seraya menepuk pelan pundak Zara yang sedang ia gendong.


Kita akan mulai hidup baru, Nak.


Maafkan Ayah bila kehidupanmu kelak akan penuh dengan perjuangan.


Uang yang Ayah sisihkan untukmu dan modal hidup kita sudah Ayah berikan kepada Kakekmu.


Tapi Ayah janji, hidupmu tidak akan kekurangan selama bersama Ayah!


Batin Derald kemudian membuka mata lalu membuang napas berat. Dengan langkah pasti Derald berjalan menuju mobilnya berada.


.


.


.


.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya.


Maaf beberapa bab akan Author masukkan cerita Derald ya. biar tidak terlupakan.


.

__ADS_1


__ADS_2